Mentan pastikan stok beras kuat, pasokan aman hingga panen Maret 2027
- account_circle Redaksi
- calendar_month Minggu, 20 Sep 2026
- print Cetak

Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman (Dok. Istimewa)
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Jakarta – Pemerintah memastikan ketersediaan beras nasional berada dalam kondisi kuat untuk memenuhi kebutuhan masyarakat hingga memasuki periode panen berikutnya pada Maret 2027. Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman menyebut kekuatan pasokan saat ini memberikan bantalan yang cukup untuk menghadapi periode antarmusim, termasuk potensi tekanan produksi akibat musim kering dan dampak El Nino.
” Pemerintah memastikan ketahanan pangan nasional semakin kuat menghadapi musim kering dampak El Nino,” kata Amran di Jakarta, Sabtu (19/9/2026).
Amran menjelaskan, kekuatan pasokan beras tidak hanya berasal dari cadangan pemerintah, tetapi juga dari produksi yang masih berlangsung dan stok yang berada di berbagai rantai pasok. Ia menyebut terdapat sekitar 10 juta ton standing crop atau tanaman yang siap memasuki masa panen, sementara stok beras di sektor hotel, restoran, dan katering (Horeka) diperkirakan mencapai sekitar 10 juta ton.
Di sisi lain, cadangan beras pemerintah (CBP) yang dikelola Perum Bulog berada di kisaran 5 juta ton. Jika seluruh komponen tersebut dihitung secara kasar, total pasokan yang disebut pemerintah berada di kisaran 25–26 juta ton.
Angka tersebut menjadi penting jika dibandingkan dengan kebutuhan beras nasional yang diperkirakan sekitar 2,5–2,6 juta ton per bulan. Dengan bantalan pasokan tersebut, pemerintah menilai kebutuhan masyarakat dapat tetap dipenuhi ketika Indonesia memasuki periode sebelum panen raya berikutnya.
“Yang di Horeka, hotel, rumah-rumah, restoran itu 10 juta ton. Di Bulog kurang lebih 5 juta ton, berarti (stok beras secara keseluruhan sekitar) 25–26 juta ton. Sementara kebutuhan per bulan 2,5–2,6 juta ton,” ujar Amran.
Mentan menggambarkan periode September hingga memasuki puncak panen pada Maret sebagai fase yang harus dilalui dengan menjaga kesinambungan pasokan. “Sekarang September, Oktober, November, Desember, Januari sampai Mei. Pada yang puncak, Maret. Overlap,” ujarnya.
Meski demikian, ketahanan pangan tidak cukup hanya mengandalkan stok yang tersedia saat ini. Pemerintah tetap harus memastikan produksi berjalan agar cadangan terus diperbarui dan tidak terkikis selama periode antarmusim.
Karena itu, penguatan sektor hulu menjadi salah satu fokus pemerintah. Pembangunan dan perbaikan irigasi terus didorong untuk menjaga ketersediaan air bagi lahan pertanian, terutama ketika produksi harus menghadapi tekanan musim kering.
Presiden Prabowo Subianto sebelumnya menyampaikan bahwa pemerintah telah membangun lebih dari 1.000 kilometer jaringan irigasi. Infrastruktur tersebut diharapkan mendukung peningkatan produktivitas serta menjaga kesinambungan produksi pertanian.
“Lebih dari 1.000 kilometer irigasi terbangun,” kata Prabowo.
Selain air, pupuk menjadi faktor penting dalam menjaga keberlanjutan produksi. Pemerintah menyatakan harga pupuk telah diturunkan sekaligus meningkatkan jumlah ketersediaannya bagi petani.
“Pertama kali dalam sejarah Indonesia, kita bisa turunkan harga pupuk. Harga pupuk turun, tapi jumlah pupuk tambah,” ujar Prabowo.
Kombinasi antara ketersediaan air, pupuk, produksi yang terus berjalan, serta cadangan pemerintah menjadi instrumen untuk menjaga agar pasokan tidak terganggu ketika memasuki periode paceklik.
Bagi pemerintah, ketahanan pangan tidak hanya berarti mampu menghasilkan pangan ketika musim panen tiba. Tantangan yang lebih besar adalah memastikan pangan tetap tersedia di antara satu musim panen dan musim berikutnya.
Dengan posisi stok yang disebut mencapai 25–26 juta ton, pemerintah melihat Indonesia memiliki ruang yang cukup untuk menjaga kebutuhan domestik sekaligus mulai mengembangkan surplus produksi.
Amran bahkan menyebut Indonesia telah mulai melakukan ekspor beras. Menurutnya, ketika kebutuhan dalam negeri telah terpenuhi dan produksi menghasilkan surplus, pasar ekspor dapat menjadi tujuan berikutnya.
“Kita kan sudah ekspor. Coba sekali bertanya, kapan lagi ekspor?” ujar Amran.
Pemerintah juga menyebut penguatan produksi telah menghasilkan capaian pada sejumlah komoditas pangan. Presiden Prabowo mengatakan Indonesia telah mencapai swasembada untuk delapan komoditas pangan dalam satu tahun.
Capaian tersebut menjadi bagian dari agenda pemerintah untuk memperkuat ketahanan pangan nasional, bukan hanya melalui peningkatan produksi, tetapi juga dengan membangun infrastruktur pertanian, menjaga keterjangkauan input produksi, memperkuat cadangan pangan, serta memastikan distribusi tetap berjalan.
Dengan demikian, periode menuju panen raya 2027 menjadi salah satu fase penting untuk menguji seberapa kuat sistem pangan nasional mampu menjaga keseimbangan antara stok, produksi, distribusi, dan kebutuhan masyarakat.
- Penulis: Redaksi

Saat ini belum ada komentar