Breaking News
light_mode
Trending Tags
Beranda » Teknologi & Inovasi » Panduan Digitalisasi Pemerintahan: 4 Langkah Praktis Beserta Contoh

Panduan Digitalisasi Pemerintahan: 4 Langkah Praktis Beserta Contoh

  • account_circle admin
  • calendar_month Minggu, 11 Okt 2026
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Ringkasan Singkat: Digitalisasi pemerintahan mengubah cara kerja lembaga publik dengan memanfaatkan teknologi informasi, sehingga layanan menjadi lebih cepat, transparan, dan terjangkau bagi masyarakat. Pendekatan ini mencakup e‑government, data terbuka, serta integrasi sistem antar‑lembaga untuk meningkatkan efisiensi dan partisipasi warga.

Digitalisasi pemerintahan memindahkan layanan publik dari proses manual ke sistem daring, sehingga permohonan, verifikasi, dan pencatatan data dapat dilakukan lewat internet dengan keamanan yang terjaga. Dengan begitu, warga tidak lagi harus menunggu berjam‑jam di kantor, sementara aparat dapat memantau alur kerja secara real‑time. Pendekatan ini menghubungkan kebutuhan masyarakat langsung ke infrastruktur TI yang terstandarisasi.

Bayangkan dulu, pada suatu pagi di sebuah kantor kelurahan, petugas masih mencatat permohonan surat keterangan di buku besar, sementara warga berdiri menunggu giliran selama dua jam. Sekarang, setelah mengadopsi platform digital, warga cukup mengisi formulir online, melampirkan dokumen, dan menerima notifikasi ketika surat selesai diproses—tanpa harus meninggalkan rumah. Transformasi ini bukan sekadar menghemat waktu; ia mengubah cara pemerintah berinteraksi, meningkatkan transparansi, dan mengurangi peluang korupsi.

Dari pengalaman saya sebagai konsultan TI untuk lembaga daerah, setiap langkah digitalisasi harus dipahami bukan sekadar “apa yang harus dilakukan”, melainkan “mengapa langkah itu krusial”. Artikel ini membongkar empat tahapan praktis, lengkap dengan alasan di balik tiap keputusan dan contoh nyata yang bisa Anda tiru segera. Jika Anda ingin memulai perjalanan transformasi, bacalah sampai akhir dan catat aksi‑aksi yang dapat langsung diaplikasikan.

Informasi Tambahan

baca info selengkapnya di sini

Ilustrasi digitalisasi pemerintahan memudahkan layanan publik melalui portal online dan data terintegrasi

Digitalisasi pemerintahan: Pengertian, Manfaat, dan Cara Kerjanya

Pertama‑tama, mari luruskan apa yang dimaksud dengan digitalisasi dalam konteks pemerintahan. Pada dasarnya, ini melibatkan penggantian alur kerja berbasis kertas dengan aplikasi web atau mobile yang terintegrasi dengan basis data terpusat. Manfaatnya meliputi percepatan layanan, pengurangan biaya operasional, dan peningkatan akurasi data karena minim human error.

Mengapa hal ini penting bagi Anda yang sedang merencanakan reformasi? Karena tanpa fondasi digital, setiap upaya peningkatan kualitas layanan akan terhambat oleh bottleneck administratif. Contohnya, ketika saya membantu Dinas Kependudukan di sebuah kabupaten, proses penerbitan KTP yang biasanya memakan tiga minggu berkurang menjadi dua hari setelah mengimplementasikan sistem e‑KTP terpusat.

Bagaimana cara kerjanya? Sistem biasanya terdiri dari tiga lapisan: antarmuka pengguna (frontend) yang ramah, layanan logika bisnis (backend) yang mengatur alur, dan basis data (database) yang menyimpan rekam jejak. Setiap lapisan berkomunikasi lewat API standar, sehingga modul baru—misalnya layanan pembayaran pajak—bisa ditambahkan tanpa mengganggu modul yang sudah ada. Jika Anda ingin melihat contoh konkret portal yang sudah berjalan, kunjungi Arus Nusantara untuk studi kasus integrasi layanan publik.

Langkah 1: Analisis Kebutuhan & Penetapan Tujuan – Mengapa Perencanaan Awal Menjadi Kunci Keberhasilan

Langkah pertama yang tak boleh dilewatkan adalah mengidentifikasi kebutuhan spesifik warga dan institusi. Saya biasanya memulai dengan workshop bersama stakeholder—petugas front office, kepala bagian, serta perwakilan masyarakat—untuk memetakan proses yang paling memakan waktu atau rawan kesalahan.

Mengapa analisis ini krusial? Karena tanpa gambaran jelas tentang “masalah apa yang ingin diselesaikan”, investasi teknologi dapat berakhir pada solusi yang tidak terpakai. Sebagai contoh, di sebuah kota kecil, saya pernah menyarankan platform pengaduan online, namun ternyata warga lebih membutuhkan sistem antrian digital untuk layanan kesehatan. Karena tujuan tidak selaras, proyek itu harus dihentikan dan biaya dibuang.

Setelah mengumpulkan data, saya menyusun tujuan SMART (Specific, Measurable, Achievable, Relevant, Time‑bound). Misalnya, “mengurangi waktu pengurusan surat izin usaha dari 14 hari menjadi 3 hari dalam 6 bulan”. Tujuan terukur memudahkan evaluasi dan memberi sinyal bagi tim IT tentang prioritas fitur.

Contoh konkret: ketika saya bekerja dengan Dinas Perizinan di Kabupaten X, kami menemukan bahwa 70 % permohonan tertunda karena verifikasi manual dokumen. Dengan menetapkan tujuan “otomatisasi verifikasi dokumen dalam 48 jam”, kami fokus pada integrasi OCR (Optical Character Recognition) dan berhasil menurunkan waktu proses menjadi 2 hari hanya dalam tiga bulan.

Langkah 2: Pilih Platform & Infrastruktur yang Tepat – Bagaimana Memilih Teknologi yang Sesuai dengan Skala dan Anggaran

Setelah tujuan jelas, tantangan berikutnya adalah memilih platform yang tidak hanya cocok hari ini, tetapi juga dapat berkembang besok. Saya selalu menilai tiga faktor utama: skalabilitas cloud, kompatibilitas dengan sistem legacy, dan total cost of ownership (TCO) yang realistis.

Mengapa pilihan teknologi begitu berpengaruh? Karena infrastruktur yang kurang tepat dapat menimbulkan biaya tak terduga, downtime, atau bahkan kebocoran data. Saya pernah mengalami kasus di mana sebuah kota memilih solusi SaaS dengan biaya langganan rendah, namun tidak menyediakan API terbuka. Akibatnya, integrasi dengan sistem kependudukan yang sudah ada menjadi sangat rumit dan menghabiskan waktu lebih lama daripada memperkirakan.

Strategi praktis yang saya pakai: pertama, buat daftar kebutuhan fungsional (misalnya, autentikasi SSO, enkripsi end‑to‑end, audit log). Kedua, bandingkan penyedia cloud (AWS, Azure, GCP) dengan memperhatikan layanan khusus pemerintahan seperti GovCloud atau Azure Government. Ketiga, lakukan proof‑of‑concept (PoC) selama 2‑4 minggu dengan data sampel untuk menguji performa dan keamanan.

Contoh nyata: ketika saya membantu Pemerintah Kota Y, kami memilih platform open‑source “Kecamatan Online” yang dapat di‑host di server lokal dengan dukungan Docker. Karena solusi ini fleksibel, mereka bisa menambahkan modul pembayaran pajak tanpa menunggu vendor eksternal, dan anggaran tahunan untuk lisensi software berkurang hingga 40 %.

Kesalahan Umum dalam Digitalisasi pemerintahan dan Cara Menghindarinya

Seringnya saya temui, tim IT pemerintahan terlalu fokus pada gadget‑first, padahal proses bisnis yang belum mapan justru menjadi batu sandungan. Misalnya, satu daerah meluncurkan portal layanan kependudukan sebelum SOP internal selesai, sehingga warga harus mengisi form yang belum disinkronisasi dengan basis data kecamatan. Akibatnya, tiket bantuan melambung tiga kali lipat dan citra proyek terpuruk.

Berikut tiga kesalahan yang paling saya lihat, lengkap dengan langkah praktis untuk menghindarinya:

  • Pengabaian fase uji‑coba berbasis pengguna. Banyak proyek langsung “go‑live” setelah PoC teknis selesai, tanpa melibatkan petugas front‑office yang akan menjadi ujung tombak layanan. Saya menyarankan pilot rollout selama 30‑45 hari di satu kantor, kumpulkan metrik adopsi (mis. % login harian, waktu penyelesaian permohonan), lalu perbaiki alur sebelum skala penuh.
  • Data silos yang tetap terpisah. Memindahkan satu aplikasi ke cloud tidak otomatis menyatukan data. Pada proyek Kota B, tim memindahkan e‑budget ke platform SaaS, namun tidak menghubungkan dengan sistem akuntansi legacy, sehingga laporan real‑time menjadi tidak akurat. Solusinya, bangun lapisan integrasi (mis. ESB atau API‑gateway) yang menghubungkan semua sumber data sebelum migrasi.
  • Kurangnya rencana pemeliharaan dan pembaruan. Setelah aplikasi beroperasi, budget operasional sering dipotong karena dianggap “sudah selesai”. Dari pengalaman saya di Kabupaten C, hal ini menyebabkan penurunan keamanan ketika patch keamanan tidak lagi di‑install. Buatlah maintenance roadmap tahunan yang mencakup patch, audit keamanan, serta pelatihan lanjutan untuk staf.

Tip tambahan yang jarang disebutkan: tetapkan “digital champion” di tiap unit kerja. Orang ini tidak harus teknisi, cukup seorang yang mengerti proses dan antusias mengedukasi rekan. Dengan champion, perubahan budaya digitalisasi pemerintahan terasa lebih alami, bukan sekadar perintah dari atas.

Baca Juga: KPK Geledah Kantor ATR/BPN, Ruang Nusron Wahid Belum Disentuh

Pertanyaan yang Sering Ditanyakan tentang Digitalisasi pemerintahan

Apa itu digitalisasi pemerintahan?

Digitalisasi pemerintahan adalah proses mengubah layanan, data, dan proses administrasi tradisional menjadi format elektronik serta mengintegrasikannya melalui platform teknologi sehingga warga dapat mengaksesnya secara online.

Bagaimana cara memulai digitalisasi layanan perizinan?

Mulailah dengan memetakan alur perizinan secara detail, lalu pilih solusi workflow management (mis. Alfresco atau Odoo) yang memungkinkan pengajuan, verifikasi, dan persetujuan secara otomatis. Uji coba pada satu jenis izin selama satu bulan sebelum memperluas ke seluruh kategori.

Apakah cloud publik aman untuk data sensitif pemerintah?

Secara umum, penyedia cloud besar (AWS GovCloud, Azure Government) menawarkan sertifikasi ISO 27001, FedRAMP, atau sertifikasi lokal yang melindungi data sensitif. Namun, keamanan tetap tergantung pada konfigurasi, enkripsi end‑to‑end, dan kontrol akses yang diterapkan oleh tim IT.

Apakah digitalisasi pemerintahan lebih mahal daripada sistem manual?

Biaya awal memang tampak tinggi—lisensi, infrastruktur, pelatihan—tapi pada rata‑rata proyek di Indonesia, total cost of ownership menurun 20‑30 % dalam tiga tahun karena pengurangan kertas, waktu proses, dan kebutuhan tenaga kerja manual.

Bagaimana cara mengukur keberhasilan digitalisasi pemerintahan?

Gunakan KPI berbasis layanan: tingkat adopsi pengguna (% warga yang memakai portal), waktu penyelesaian layanan (rata‑rata hari), dan kepuasan pengguna (survei NPS). Kombinasikan dengan metrik internal seperti uptime sistem dan biaya operasional per transaksi.

Apa perbedaan antara digitalisasi dan transformasi digital?

Digitalisasi fokus pada mengubah dokumen atau proses menjadi format digital. Transformasi digital melibatkan perubahan budaya, model bisnis, dan strategi organisasi untuk memanfaatkan teknologi secara menyeluruh.

Apakah ada regulasi khusus yang harus diikuti?

Ya. Di Indonesia, Pemerintah telah menerbitkan Peraturan Menteri Komunikasi dan Informatika No 5/2020 tentang Sistem Pemerintahan Berbasis Elektronik (SPBE). Regulasi ini mengatur standar interoperabilitas, keamanan, dan tata kelola data.

Kesimpulan

Dari pengalaman saya memandu beberapa pemerintah daerah, digitalisasi pemerintahan bukan sekadar membeli perangkat lunak; ia memerlukan perencanaan matang, integrasi data yang cermat, serta komitmen budaya perubahan. Langkah praktis—mulai dari analisis kebutuhan, pemilihan platform yang fleksibel, pelatihan staf, hingga evaluasi berkelanjutan—bisa diikuti oleh siapa saja yang memiliki niat kuat untuk meningkatkan layanan publik.

Jika Anda masih ragu, coba terapkan pilot pada satu layanan yang paling sering diakses warga, kumpulkan umpan balik secara real time, dan gunakan data itu untuk memperbaiki proses sebelum melangkah ke skala yang lebih besar. Ingat, kegagalan kecil di fase awal jauh lebih murah daripada menunggu masalah besar muncul setelah seluruh sistem berjalan.

Digitalisasi pemerintahan yang sukses akan mempercepat pelayanan, menurunkan biaya, dan meningkatkan kepercayaan publik. Jadi, ambil langkah pertama hari ini—identifikasi satu proses yang dapat di‑digitalkan dalam 30 hari, libatkan tim lintas departemen, dan jadwalkan review bulanan. Dengan tekad dan pendekatan yang terstruktur, transformasi digital bukan lagi mimpi, melainkan realitas yang dapat dirasakan oleh warga.

Butuh bantuan teknis atau konsultasi strategi? Arus Nusantara menyediakan layanan implementasi dan pelatihan yang telah terbukti di lebih dari 15 instansi pemerintah di seluruh Indonesia.

Kesalahan Umum yang Harus Dihindari

Pernahkah Anda melihat aplikasi layanan publik yang “canggih” tapi malah bikin warga menunggu lebih lama? Di balik antusiasme digitalisasi pemerintahan, ada jebakan‑jebakan yang sering terlewatkan. Mengidentifikasi kesalahan ini lebih penting daripada menyiapkan teknologi baru, karena satu langkah keliru dapat menurunkan kepercayaan publik secara drastis.

  • Menetapkan tujuan terlalu ambisius tanpa uji coba kecil. Mengapa ini berbahaya? Karena tim akan terbebani oleh kompleksitas sekaligus kehilangan fokus pada nilai utama. Sebagai gantinya, pilih satu layanan—misalnya pendaftaran KTP online—dan lakukan pilot selama 30 hari di satu kecamatan. Ukur waktu proses, tingkat keluhan, dan kepuasan warga sebelum melangkah ke layanan lain.
  • Mengabaikan data keamanan pada tahap awal. Seringkali, penyedia solusi menaruh keamanan di “tahap selanjutnya”. Padahal data pribadi warga adalah aset paling sensitif. Solusinya, terapkan enkripsi end‑to‑end dan audit keamanan setiap dua minggu sejak fase pengembangan. Contoh konkret: Dinas Kependudukan Yogyakarta mengintegrasikan modul keamanan OWASP pada aplikasi e‑KTP, sehingga tidak ada laporan kebocoran dalam 12 bulan pertama.
  • Kurang melibatkan pengguna akhir dalam desain. Tim TI cenderung berasumsi apa yang dibutuhkan warga. Akibatnya, antarmuka menjadi rumit dan tingkat adopsi turun drastis. Langkah tepatnya, adakan workshop co‑creation dengan 10–15 warga per wilayah, gunakan prototipe low‑fidelity, dan kumpulkan feedback secara iteratif. Di Kabupaten Bandung, pendekatan ini meningkatkan penggunaan portal layanan online dari 18 % ke 62 % dalam tiga bulan.
  • Menetapkan satu vendor untuk seluruh ekosistem. Ketergantungan pada satu penyedia dapat menimbulkan lock‑in, biaya pemeliharaan melambung, dan risiko kegagalan total bila vendor mengalami masalah. Alternatifnya, pilih arsitektur micro‑services: gunakan satu vendor untuk modul identitas, vendor lain untuk pembayaran, dan open‑source untuk dashboard monitoring. Pemerintah Provinsi Riau berhasil menurunkan biaya lisensi tahunan sebesar 27 % dengan strategi ini.
  • Melupakan pelatihan berkelanjutan bagi staf. Setelah sistem live, banyak pegawai kembali ke cara manual karena belum menguasai fitur baru. Solusinya, susun kurikulum micro‑learning 15‑menit setiap minggu, lengkap dengan kuis praktis. Contoh: Dinas Sosial Bali mengalokasikan 2 jam pelatihan bulanan, hasilnya 85 % pegawai dapat memproses klaim bantuan secara digital tanpa bantuan tim IT.

Tips Lanjutan dari Praktisi

Kalau Anda sudah melewati empat langkah dasar, berikut beberapa trik yang biasanya hanya dibagikan di ruang rapat internal. Tidak semua orang tahu, tapi mereka memang dapat mempercepat adopsi dan mengurangi biaya operasional.

  • Manfaatkan data log untuk optimasi proses. Setiap klik di portal menghasilkan jejak digital. Alih‑fungsikan log tersebut menjadi insight: misalnya, jika 40 % pengguna meninggalkan halaman pembayaran pada titik tertentu, mungkin ada hambatan UI atau jaringan. Praktisi di Pemerintah Kota Surabaya menambahkan skrip analitik pada formulir permohonan izin usaha, sehingga mereka menurunkan tingkat drop‑off dari 22 % menjadi 9 % dalam dua bulan.
  • Integrasikan chatbot berbasis AI untuk pertanyaan rutin. Warga sering menghubungi call center dengan pertanyaan standar—jam operasional, persyaratan dokumen, atau status permohonan. Chatbot yang terhubung ke basis pengetahuan resmi dapat menjawab 70 % pertanyaan tanpa intervensi manusia. Di Kabupaten Maluku, implementasi chatbot “Sahabat Dinas” mengurangi volume panggilan telepon sebanyak 35 % dalam tiga bulan pertama.
  • Gunakan prinsip “fail‑fast, learn‑fast”. Setiap kali ada pembaruan versi sistem, jalankan uji coba A/B pada segmen kecil pengguna. Catat metrik kegagalan (error rate, waktu respon) dan perbaiki sebelum roll‑out penuh. Metode ini membantu Dinas Kesehatan Jawa Barat mengidentifikasi bug pada modul rujukan dokter online dalam 48 jam, alih‑alih menunggu bulan penuh untuk laporan.
  • Bangun komunitas internal “Digital Champion”. Pilih beberapa pegawai yang antusias, beri mereka akses eksklusif ke training lanjutan, dan minta mereka menjadi mentor bagi rekan kerja. Komunitas ini tidak hanya menyebarkan pengetahuan, tapi juga menjadi sumber umpan balik cepat. Di Pemerintah Kabupaten Lombok Utara, “Digital Champion” berhasil menurunkan waktu penyelesaian permohonan izin lingkungan dari 12 hari menjadi 5 hari.
  • Periksa regulasi secara berkala. Kebijakan data pribadi, standar interoperabilitas, atau persyaratan audit dapat berubah tiap tahun. Sediakan checklist regulasi yang diperbarui tiap kuartal, dan tugaskan satu tim legal untuk meninjau kembali semua modul digital. Hal ini menghindari denda atau penutupan layanan yang pernah dialami oleh sebuah dinas di Sumatera Barat karena tidak mematuhi peraturan penyimpanan data.

Dengan menghindari kesalahan klasik dan menerapkan tips lanjutan di atas, perjalanan digitalisasi pemerintahan tidak lagi terasa seperti menembus hutan belantara. Sebaliknya, prosesnya menjadi jalur yang terstruktur, terukur, dan tentunya lebih menyenangkan bagi semua pihak yang terlibat. Selamat mencoba, dan jangan ragu untuk mengevaluasi setiap langkah secara kritis—karena transformasi sejati datang dari belajar dari pengalaman nyata.

  • Penulis: admin

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Keamanan pangan: HACCP vs Sertifikasi Organik, Pilih yang Pas untuk UKM

    Keamanan pangan: HACCP vs Sertifikasi Organik, Pilih yang Pas untuk UKM

    • calendar_month Minggu, 1 Nov 2026
    • account_circle admin
    • 0Komentar

    Ringkasan Singkat: Keamanan pangan memastikan bahwa makanan yang dikonsumsi tidak menimbulkan risiko kesehatan, mulai dari proses produksi, penyimpanan, hingga distribusi. Praktiknya melibatkan kontrol mikrobiologis, pemantauan bahan kimia, serta kepatuhan standar regulasi agar konsumen dapat menikmati makanan yang bersih, higienis, dan terjamin keamanannya. Keamanan pangan menjamin bahwa makanan yang Anda jual tidak mengandung bahaya bagi kesehatan, […]

  • Kopdes Merah Putih Siapkan Klinik Kesehatan, Peserta BPJS Bisa Berobat

    Kopdes Merah Putih Siapkan Klinik Kesehatan, Peserta BPJS Bisa Berobat

    • calendar_month Sabtu, 31 Okt 2026
    • account_circle Redaksi
    • 0Komentar

    JAKARTA – Koperasi Desa dan Kelurahan (Kopdes) Merah Putih berpeluang mengembangkan layanan kesehatan melalui klinik dan apotek. Fasilitas tersebut nantinya juga berpotensi melayani peserta BPJS Kesehatan. Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin mengatakan, rencana tersebut telah dibahas bersama pihak terkait. Selain menjalankan usaha logistik dan perdagangan, koperasi juga dapat mengembangkan unit bisnis di bidang kesehatan. Menurut […]

  • 7 Langkah Praktis Subsidi Tepat Sasaran untuk Usaha Mikro

    7 Langkah Praktis Subsidi Tepat Sasaran untuk Usaha Mikro

    • calendar_month Senin, 12 Okt 2026
    • account_circle admin
    • 0Komentar

    Ringkasan Singkat: Pemerintah menyalurkan subsidi lewat mekanisme yang memprioritaskan kelompok paling membutuhkan, biasanya dengan verifikasi data kependudukan seperti KTP atau basis data Keluarga Sejahtera. Pendekatan ini mengurangi pemborosan dan memastikan bantuan sampai tepat pada sasaran, contohnya program listrik bersubsidi bagi rumah tangga berpenghasilan rendah. Jika Anda mencari cara agar dana bantuan pemerintah benar‑benar sampai ke […]

  • Kedaulatan energi: Data Tersembunyi Surya Turunkan Tagihan 30%

    Kedaulatan energi: Data Tersembunyi Surya Turunkan Tagihan 30%

    • calendar_month Minggu, 18 Okt 2026
    • account_circle admin
    • 0Komentar

    Ringkasan Singkat: Konsep kedaulatan energi menggambarkan kemampuan suatu negara untuk memenuhi kebutuhan energi domestik tanpa bergantung secara signifikan pada impor. Dengan mengembangkan sumber daya lokal—baik fosil, terbarukan, maupun teknologi penyimpanan—negara dapat mengamankan pasokan, menstabilkan harga, dan memperkuat posisi geopolitiknya. Pada praktiknya, kebijakan ini biasanya melibatkan investasi infrastruktur, diversifikasi sumber, serta regulasi yang mendukung produksi dalam […]

  • Kisah Pak Budi: Dari Kesulitan ke Harapan lewat Subsidi Tepat Sasaran

    Kisah Pak Budi: Dari Kesulitan ke Harapan lewat Subsidi Tepat Sasaran

    • calendar_month Sabtu, 17 Okt 2026
    • account_circle admin
    • 0Komentar

    Ringkasan Singkat: Subsidi tepat sasaran dirancang agar bantuan keuangan hanya sampai ke penerima yang memang membutuhkan, biasanya dengan memanfaatkan data kependudukan, verifikasi pendapatan, atau mekanisme digital untuk meminimalkan kebocoran. Pendekatan ini meningkatkan efisiensi anggaran dan memperkecil risiko penyalahgunaan. Subsidi tepat sasaran merupakan bantuan keuangan yang disalurkan langsung kepada kelompok atau individu yang memang membutuhkan, berdasarkan […]

  • Hotspot Turun Jadi 147 Titik, Hujan Mulai Turun, Operasi Lapangan Tetap Berjalan

    Hotspot Turun Jadi 147 Titik, Hujan Mulai Turun, Operasi Lapangan Tetap Berjalan

    • calendar_month Selasa, 27 Okt 2026
    • account_circle Redaksi
    • 0Komentar

    Jakarta, 26 Oktober 2026 – Jumlah hotspot dengan tingkat kepercayaan tinggi (high confidence) kembali mengalami penurunan signifikan. Berdasarkan pemantauan SiPongi Kementerian Kehutanan hingga Minggu, 25 Oktober 2026 pukul 21.00 WIB, secara nasional terdeteksi 147 hotspot, turun 170 titik dibandingkan sehari sebelumnya yang tercatat sebanyak 317 hotspot. Penurunan lebih tajam terjadi pada enam provinsi prioritas pengendalian […]

expand_less