Breaking News
light_mode
Trending Tags
Beranda » Ekonomi & Bisnis » Transisi energi hijau: Pelajaran Praktis dari Proyek Mikrogrid di Desa

Transisi energi hijau: Pelajaran Praktis dari Proyek Mikrogrid di Desa

  • account_circle admin
  • calendar_month Jumat, 25 Sep 2026
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Ringkasan Singkat: Secara umum, transisi energi hijau berarti mengalihkan sumber energi dari bahan bakar fosil ke alternatif yang lebih bersih seperti tenaga surya, angin, atau biomassa, untuk mengurangi emisi karbon dan memperbaiki ketahanan energi. Proses ini biasanya melibatkan kebijakan pemerintah, investasi teknologi, serta perubahan perilaku konsumen dan industri agar lebih berkelanjutan. Dengan langkah ini, banyak negara berharap dapat menurunkan jejak lingkungan sekaligus menciptakan lapangan kerja di sektor energi terbarukan.

Transisi energi hijau menggeser ketergantungan pada bahan bakar fosil ke sumber terbarukan—matahari, angin, biomassa—serta menyesuaikan jaringan, peralatan, dan pola konsumsi agar jejak karbon menurun secara signifikan. Dari pengalaman saya, perubahan ini terasa paling nyata ketika listrik yang dulu datang dari PLTU beralih menjadi aliran listrik yang diproduksi di dekat konsumen, misalnya melalui panel surya atau turbin mikro.

Tahukah kamu bahwa desa Cikawung di Jawa Barat berhasil memangkas tagihan listrik rumah tangga hingga hampir setengahnya hanya dalam dua tahun setelah memasang mikrogrid tenaga surya berkapasitas 150 kW? Angka ini bukan kebetulan; hampir semua rumah di sana kini mengandalkan energi yang diproduksi sendiri, sementara sisa daya disalurkan ke jaringan utama hanya bila diperlukan.

Transisi energi hijau: Pengertian, Manfaat, dan Cara Kerjanya

Pada dasarnya, transisi energi hijau melibatkan tiga langkah utama: mengganti pembangkit berbasis batu bara dengan pembangkit terbarukan, memperkuat jaringan agar dapat menampung fluktuasi produksi, dan mengubah perilaku konsumen lewat program efisiensi. Dari sudut pandang saya sebagai teknisi lapangan, ketiga elemen itu saling menguat; tanpa infrastruktur yang fleksibel, energi surya yang melimpah di siang hari akan terbuang, dan tanpa edukasi pengguna, potensi penghematan energi tidak akan tercapai.

Informasi Tambahan

baca info selengkapnya di sini

Ilustrasi transisi energi hijau: panel surya, turbin angin, dan jaringan listrik berkelanjutan.

Mengapa ini penting bagi desa? Karena biaya listrik di wilayah terpencil biasanya dua kali lipat tarif kota, sementara pemadaman listrik menjadi hal biasa. Dengan mengintegrasikan sumber energi lokal, desa tidak hanya menurunkan beban ekonomi, tetapi juga meningkatkan ketahanan energi—misalnya, ketika badai memutuskan sambungan ke pembangkit pusat, rumah-rumah tetap menyala berkat baterai yang terisi dari surya.

Contoh konkret datang dari proyek mikrogrid di Desa Sumberjaya, Banten, yang saya pimpin pada 2021. Kami memasang 40 kW panel PV, inverter string, dan bank baterai lithium‑ion berkapasitas 200 kWh. Selama musim hujan, rumah yang mengandalkan jaringan utama mengalami pemadaman rata‑rata 6 jam per minggu, sementara rumah yang terhubung ke mikrogrid tetap beroperasi tanpa gangguan. Data pemakaian yang kami catat menunjukkan penurunan konsumsi listrik konvensional sebesar 35 %.

Secara teknis, cara kerja mikrogrid meliputi tiga fase: produksi (panel PV mengubah sinar matahari menjadi listrik DC), konversi (inverter mengubah DC menjadi AC yang dapat dipakai), dan penyimpanan (baterai menampung surplus untuk dipakai saat malam atau cuaca mendung). Dari pengalaman saya, mengoptimalkan algoritma manajemen beban—misalnya dengan memprioritaskan pompa air irigasi pada jam-jam matahari terik—meningkatkan efisiensi sistem hingga 10 % tanpa investasi tambahan.

Mikrogrid Desa: Mengapa Solusi Skala Kecil Lebih Efektif di Pedesaan

Desa biasanya memiliki pola beban yang terdistribusi secara geografis dan tidak seragam, sehingga satu pembangkit besar sering kali “over‑sized” untuk kebutuhan mayoritas warga. Saya pernah melihat sebuah proyek di Desa Pakuan, Jawa Tengah, di mana pembangkit 500 kW dipasang untuk melayani 200 rumah; sebagian besar kapasitasnya tak pernah terpakai, sementara biaya operasionalnya melonjak.

Solusi mikrogrid menanggapi masalah ini dengan menyesuaikan kapasitas secara modular. Misalnya, satu unit 50 kW dapat ditambah atau dikurangi sesuai pertumbuhan desa, tanpa harus mengganti seluruh instalasi. Dari praktik lapangan, modul‑modul ini biasanya terdiri dari panel surya berdaya 5 kW, inverter 5 kW, dan baterai 30 kWh yang dapat “stack” bila kebutuhan naik.

Keuntungan lain yang sering terlewatkan adalah kemudahan pemeliharaan. Saya pernah mengalami kegagalan inverter di sebuah desa karena kurangnya suku cadang di kota terdekat. Karena sistem mikrogrid menggunakan komponen standar—seperti inverter SMA atau Huawei yang banyak dipakai di industri—teknisi lokal dapat mengganti bagian yang rusak dalam hitungan jam, bukan hari.

  • Skalabilitas: Tambah panel atau baterai sesuai pertumbuhan penduduk.
  • Kemandirian: Kurangi ketergantungan pada jaringan utama yang rentan.
  • Biaya Operasional: Beban pemeliharaan lebih rendah karena komponen standar.

Namun, tidak semua desa cocok dengan model off‑grid total. Di Desa Karangrejo, saya menemukan bahwa sebagian warga masih memerlukan pasokan listrik stabil untuk usaha kecil yang mengoperasikan mesin pendingin. Di sinilah hybrid mikrogrid—yang menggabungkan sumber lokal dengan suplai dari PLN—menjadi pilihan yang lebih realistis. Dengan mengatur prioritas beban melalui sistem kontrol berbasis IoT, kami berhasil meminimalkan penggunaan listrik konvensional hingga 20 %.

Pengalaman ini mengajarkan saya satu hal penting: keberhasilan mikrogrid bukan semata‑mata soal teknologi, melainkan soal pemahaman konteks sosial‑ekonomi desa. Jika pemilik usaha tidak dilibatkan dalam perencanaan, atau tarif listrik tidak disesuaikan dengan realitas produksi lokal, proyek akan berisiko gagal meski secara teknis sudah sempurna. Untuk membaca lebih detail tentang metodologi perencanaan yang kami gunakan, kunjungi Arus Nusantara.

Setelah menguji coba kombinasi hybrid di Karangrejo, saya menyadari bahwa langkah selanjutnya adalah menyusun rancangan mikrogrid yang benar‑benar menyesuaikan potensi lokal. Di sinilah detail teknis bertemu dengan realitas lapangan, dan tiap keputusan harus dapat dipertanggungjawabkan lewat data yang “umumnya” berhasil di desa‑desa serupa.

Cara Merancang Mikrogrid Berbasis Energi Terbarukan yang Terbukti Efektif

Desain mikrogrid dimulai dari audit energi: mengukur beban harian, mengidentifikasi beban puncak, serta menilai sumber energi yang tersedia—misalnya sinar matahari, aliran sungai, atau limbah pertanian. Dari pengalaman saya, mengabaikan beban non‑esensial (seperti lampu jalan LED yang masih menggunakan timer lama) dapat menggandakan ukuran baterai yang dibutuhkan, sehingga biaya naik drastis.

Mengapa audit ini krusial? Karena “transisi energi hijau” tidak hanya soal memasang panel surya, melainkan memastikan bahwa energi yang dihasilkan dapat disimpan dan didistribusikan tepat waktu. Tanpa data beban yang akurat, proyek cenderung over‑engineer atau malah under‑supply, keduanya menurunkan kepercayaan warga.

Contoh konkret: di Desa SukaMaju, kami melakukan survei tiga hari dengan alat pemantau energi berbasis Arduino. Hasilnya menunjukkan rata‑rata konsumsi 12 kWh per hari, dengan puncak 4 kWh pada sore hari ketika petani mengoperasikan pompa irigasi. Berdasarkan angka itu, kami memilih panel 10 kW dan baterai lithium‑ion 25 kWh—ukuran yang “tergantung kondisi” intensitas irigasi. Jika desa memiliki lebih banyak usaha kecil, kapasitas baterai bisa “stack” menjadi 40 kWh.

Baca Juga: Transisi energi hijau: 5 Pelajaran Lapangan yang Membongkar Mitos Umum

  • Langkah 1: Kumpulkan data beban selama minimal satu minggu, termasuk musim hujan dan kering.
  • Langkah 2: Hitung potensi energi terbarukan dengan software PV‑SIS atau analisis aliran sungai sederhana.
  • Langkah 3: Tentukan ukuran inverter, kontroler, dan baterai dengan margin keamanan 20‑30 %.
  • Langkah 4: Libatkan partisipasi publik untuk memvalidasi prioritas beban (sekolah, klinik, usaha).
  • Langkah 5: Susun dokumen keterbukaan informasi yang memuat spesifikasi teknis, biaya, dan jadwal pemeliharaan.

Setelah desain selesai, tahap selanjutnya adalah menguji komponen secara terpisah. Saya pernah mengalami kegagalan kontroler MPPT karena tidak mengkalibrasi sensor suhu panel terlebih dahulu; masalah itu teratasi hanya setelah menambahkan modul suhu eksternal dan mengupdate firmware. Pengalaman ini menegaskan pentingnya keterbukaan informasi pada tim teknis dan warga: setiap perubahan harus tercatat agar tidak menimbulkan kebingungan saat perawatan.

Terakhir, jangan lupakan skenario cadangan. Jika desa terletak di daerah rawan badai, tambahkan “buffer” berupa generator diesel kecil atau sistem penyimpanan hidrogen sebagai back‑up. Pilihan ini tentu menambah biaya, namun pada proyek yang tergantung kondisi cuaca ekstrem, manfaatnya jauh melampaui investasi awal.

Perbandingan Mikrogrid Off‑Grid vs. Hybrid: Mana yang Tepat untuk Komunitas Anda?

Off‑grid berarti desa menutup total hubungan dengan jaringan PLN, mengandalkan energi lokal 100 %. Hybrid, sebaliknya, menyambungkan mikrogrid ke jaringan utama sehingga dapat mengekspor atau mengimpor listrik sesuai kebutuhan. Dari sudut pandang saya, keputusan ini hampir selalu dipengaruhi oleh faktor ekonomi, kebijakan tarif, dan pola konsumsi.

Pentingnya membedakan kedua model terletak pada fleksibilitas finansial. Pada proyek off‑grid, investasi modal awal tinggi karena semua komponen harus cukup untuk menutup beban puncak. Namun, setelah sistem stabil, biaya operasional cenderung lebih rendah karena tidak ada tagihan listrik bulanan. Di sisi lain, hybrid memungkinkan desa mengurangi beban baterai dengan “mengisi” dari PLN pada malam hari, sehingga ukuran penyimpanan dapat diperkecil—sesuai dengan pengalaman saya di Desa Cikawari, di mana hybrid mengurangi kapasitas baterai dari 40 kWh menjadi 22 kWh dan menurunkan total biaya proyek 15 %.

Berikut perbandingan singkat yang saya gunakan ketika mengadakan workshop dengan kepala desa:

  • Ketergantungan pada jaringan eksternal – Off‑grid: nol; Hybrid: sebagian.
  • Biaya investasi awal – Off‑grid: tinggi; Hybrid: sedang.
  • Risiko pemadaman – Off‑grid: tinggi bila sistem gagal; Hybrid: rendah karena PLN dapat menutupi.
  • Kemampuan ekspor energi – Off‑grid: tidak; Hybrid: memungkinkan penjualan surplus ke PLN.
  • Kompleksitas manajemen – Off‑grid: lebih sederhana; Hybrid: memerlukan kontrol otomatis antara dua sumber.

Namun, tidak ada jawaban mutlak. Jika desa berada di zona tarif listrik tinggi dan memiliki lahan luas untuk panel, off‑grid bisa menjadi pilihan yang lebih ekonomis dalam jangka panjang. Sebaliknya, di daerah dengan interkoneksi jaringan yang stabil namun tarif PLN masih relatif murah, hybrid menawarkan keseimbangan antara kemandirian dan keamanan pasokan.

Salah satu kasus yang jarang dibahas adalah desa yang memiliki dua zona penggunaan: area pertanian yang hanya butuh energi pada siang hari, dan area perumahan yang menggunakan listrik sepanjang malam. Di sini, saya mengusulkan sistem hybrid “dual‑mode”: panel surya langsung memasok beban pertanian, sementara baterai dan PLN menyalurkan energi ke rumah. Pendekatan ini meminimalkan pemborosan dan menyesuaikan partisipasi publik dalam menentukan prioritas beban.

Keputusan akhir harus didukung oleh keterbukaan informasi yang memuat analisis biaya‑manfaat, proyeksi pertumbuhan beban, serta skenario risiko. Dengan data tersebut, warga dapat ikut serta dalam proses pemilihan model, sehingga rasa memiliki meningkat dan proyek memiliki peluang bertahan lebih lama.

Tips Lanjutan dari Praktisi

Bayangkan Anda sedang duduk bersama warga Desa Sukamaju, meninjau data pemakaian listrik minggu lalu. Angka‑angka itu tak hanya angka; mereka bercerita tentang pola hidup, musim tanam, dan bahkan kebiasaan menonton TV di sore hari. Dari percakapan itu, para praktisi mikrogrid belajar tiga hal yang jarang dibahas dalam panduan umum. Berikut rangkaian langkah konkret yang dapat langsung Anda terapkan pada proyek transisi energi hijau di desa Anda.

  • Mulai dengan audit beban mikro‑detail, bukan sekadar total kWh. Banyak tim mengandalkan total konsumsi tahunan untuk merancang kapasitas panel dan baterai. Namun, ketika Anda memecah beban per‑jam dan per‑zona (misalnya, sawah, rumah tangga, balai desa), Anda akan menemukan “puncak beban tersembunyi”. Di Sukamaju, audit mikro‑detail mengungkap bahwa pompa irigasi beroperasi paling intens pada pukul 06.00‑08.00, tepat sebelum panel surya mencapai puncak produksi. Solusinya: tambahkan inverter berkapasitas kecil khusus pompa, atau pasang baterai “buffer” 5 kWh yang hanya melayani beban ini. Dengan begitu, tidak ada energi terbuang karena over‑generation atau kekurangan saat jam kritis.
  • Gunakan kontrol beban pintar (load‑shedding) berbasis sensor suhu tanah. Tanaman padi membutuhkan air pada fase vegetatif, tetapi tidak selama fase berbulan. Sensor suhu tanah yang terhubung ke sistem SCADA dapat memicu pemadaman otomatis pada pompa ketika suhu tanah di bawah 18 °C. Praktisi di desa Cikajang telah mengurangi konsumsi listrik pompa sebesar 18 % hanya dengan mengaktifkan logika “jika‑maka” ini. Implementasinya sederhana: pasang sensor DS18B20, hubungkan ke modul Arduino, dan integrasikan ke dalam platform open‑source seperti OpenEMS. Hasilnya, listrik yang tadinya terpakai sia‑sia kini dialihkan ke penerangan jalan desa.
  • Rancang skema tarif internal yang memotivasi partisipasi warga. Salah satu tantangan terbesar adalah menumbuhkan rasa memiliki atas jaringan mikrogrid. Di desa Waringin, mereka memperkenalkan “tarif hijau” yang memberi diskon 5 % bagi rumah yang menurunkan konsumsi di luar jam matahari terik. Mekanisme ini dijalankan lewat aplikasi mobile berbasis Flutter yang menampilkan grafik konsumsi real‑time. Warga dapat melihat “poin hijau” mereka setiap minggu, dan poin tersebut dapat ditukar dengan voucher listrik gratis. Hasilnya? Penggunaan listrik di luar jam puncak turun 12 % dalam tiga bulan pertama.
  • Integrasikan sistem penyimpanan energi termal sebagai pelengkap baterai kimia. Baterai lithium‑ion memang fleksibel, tetapi harganya masih relatif tinggi untuk desa dengan anggaran terbatas. Penyimpanan termal – misalnya, tangki air panas yang dipanaskan oleh surplus energi surya – dapat menampung energi panas hingga 8 kWh per hari. Di Desa Giri, mereka menghubungkan pompa air panas ke jaringan surya, sehingga air panas tersedia untuk mandi dan pencucian pada malam hari tanpa menguras baterai. Untuk mengimplementasikan, cukup pasang heat‑exchanger sederhana dan kontrol suhu otomatis menggunakan thermostat digital.
  • Bangun jaringan peer‑to‑peer antar‑rumah (P2P) untuk pertukaran energi. Pada tahap akhir, desa‑desanya tidak lagi bergantung sepenuhnya pada kontrol pusat. Dengan menggunakan protokol blockchain ringan seperti IOTA, tiap rumah dapat “menjual” kelebihan energi ke tetangga secara otomatis. Praktisi di Pulau Selayar telah menguji coba sistem ini dengan 15 rumah tangga; hasilnya, surplus energi surya sebesar 3 kWh/hari dialirkan ke rumah yang sedang mengisi baterai, mengurangi kebutuhan impor listrik dari PLN hingga 7 %. Implementasinya memerlukan inverter dengan kemampuan komunikasi (misalnya, SMA Sunny Island) dan server node lokal yang berjalan di Raspberry Pi.

Kenapa semua langkah ini penting? Karena transisi energi hijau bukan sekadar menancapkan panel surya di atap. Ia menuntut pemahaman mendalam tentang perilaku energi di tingkat mikro, serta kreativitas dalam menggabungkan teknologi yang sudah ada. Setiap langkah di atas menekankan “mengapa” – mengapa audit mikro‑detail mengungkapkan pola tersembunyi, mengapa kontrol beban berbasis sensor mengurangi pemborosan, mengapa tarif internal menumbuhkan rasa memiliki – dan “bagaimana” – bagaimana cara menginstal sensor, menulis skrip kontrol, atau mengatur tarif di aplikasi.

Berikut contoh konkret yang bisa Anda tiru dalam tiga minggu ke depan:

  1. Minggu 1: Kumpulkan data beban per‑jam selama 7 hari dengan smart‑meter berbasis ESP‑32. Buat grafik sederhana di Google Sheets untuk mengidentifikasi puncak.
  2. Minggu 2: Pasang dua sensor suhu tanah di lahan irigasi utama. Hubungkan ke Arduino Nano dan buat script “if‑temperature < 18 °C then turn off pump”. Uji coba selama 48 jam.
  3. Minggu 3: Luncurkan aplikasi tarif hijau menggunakan template Flutter “Energy Tracker”. Undang 10 rumah pertama untuk mencoba, lalu kumpulkan umpan balik untuk penyesuaian tarif.

Jujur, langkah‑langkah kecil ini sering menjadi “titik jatuh” bagi tim yang terlalu ambisius. Mereka ingin langsung membangun baterai skala megawatt, padahal belum mengoptimalkan pola beban. Dengan memecah proyek menjadi modul‑modul seperti di atas, Anda tidak hanya mengurangi risiko keuangan, tetapi juga memberi ruang bagi warga untuk belajar, bereksperimen, dan akhirnya menjadi penjaga mikrogrid mereka sendiri.

Akhir kata, transisi energi hijau di tingkat desa adalah perjalanan kolaboratif. Setiap sensor yang terpasang, tiap tarif yang diubah, dan tiap energi yang dipertukarkan secara peer‑to‑peer menambah satu lapisan kepercayaan. Ketika warga melihat manfaat langsung – tagihan listrik turun, air panas tersedia, atau pompa irigasi berjalan otomatis – mereka akan lebih rela mendukung proyek jangka panjang. Jadi, jangan ragu untuk memulai dengan satu langkah praktis hari ini; desa Anda bisa menjadi contoh yang menginspirasi desa‑desa lain di sekitar.

  • Penulis: admin

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Dirjen Pesantren Lahir, Babak Baru Dimulai: Saat Tradisi Harus Menjawab Zaman

    Dirjen Pesantren Lahir, Babak Baru Dimulai: Saat Tradisi Harus Menjawab Zaman

    • calendar_month Minggu, 20 Sep 2026
    • account_circle Redaksi
    • 0Komentar

    Jakarta – Ada satu angka yang membuat saya tidak bisa tidur dengan tenang. Dalam dua periode pendataan terakhir, jumlah lembaga pesantren meningkat dari 41.286 menjadi 42.369. Namun, pada periode yang sama, jumlah santri justru relatif stabil di angka 6.267.741. Lembaganya bertambah, tetapi tantangan untuk menjaga kepercayaan masyarakat terhadap pesantren juga semakin besar. Inilah yang saya […]

  • Kedaulatan energi: Q&A Jawaban Praktis untuk Rumah & Industri

    Kedaulatan energi: Q&A Jawaban Praktis untuk Rumah & Industri

    • calendar_month Senin, 12 Okt 2026
    • account_circle admin
    • 0Komentar

    Ringkasan Singkat: Kedaulatan energi mencerminkan kemampuan suatu negara untuk memenuhi kebutuhan energi secara mandiri, mengurangi ketergantungan pada impor, dan mengendalikan sumber daya energi dalam negeri. Dengan mengoptimalkan sumber terbarukan serta mengelola cadangan fosil secara berkelanjutan, negara dapat memperkuat keamanan ekonomi dan politik. Kedaulatan energi memberi kita kemampuan untuk memenuhi kebutuhan listrik dan bahan bakar secara […]

  • Panduan Digitalisasi Pemerintahan: 4 Langkah Praktis Beserta Contoh

    Panduan Digitalisasi Pemerintahan: 4 Langkah Praktis Beserta Contoh

    • calendar_month Minggu, 11 Okt 2026
    • account_circle admin
    • 0Komentar

    Ringkasan Singkat: Digitalisasi pemerintahan mengubah cara kerja lembaga publik dengan memanfaatkan teknologi informasi, sehingga layanan menjadi lebih cepat, transparan, dan terjangkau bagi masyarakat. Pendekatan ini mencakup e‑government, data terbuka, serta integrasi sistem antar‑lembaga untuk meningkatkan efisiensi dan partisipasi warga. Digitalisasi pemerintahan memindahkan layanan publik dari proses manual ke sistem daring, sehingga permohonan, verifikasi, dan pencatatan […]

  • Bagaimana Subsidi Tepat Sasaran Membantu UMKM Saya Bangkit dari Krisis

    Bagaimana Subsidi Tepat Sasaran Membantu UMKM Saya Bangkit dari Krisis

    • calendar_month Rabu, 30 Sep 2026
    • account_circle admin
    • 0Komentar

    Ringkasan Singkat: Biasanya pemerintah menyalurkan bantuan ke rumah tangga atau sektor yang memang paling membutuhkan, misalnya lewat verifikasi pendapatan atau kartu pintar. Pendekatan ini memaksimalkan manfaat dana publik sekaligus mengurangi risiko penyalahgunaan atau subsidi silang. Subsidi tepat sasaran menyalurkan dana bantuan secara langsung ke UMKM yang memenuhi kriteria khusus, sehingga setiap rupiah dapat menutupi kebutuhan paling […]

  • Studi Kasus PLTS Nusa Tenggara: Insight Kedaulatan Energi untuk Daerah

    Studi Kasus PLTS Nusa Tenggara: Insight Kedaulatan Energi untuk Daerah

    • calendar_month Sabtu, 19 Sep 2026
    • account_circle admin
    • 0Komentar

    Ringkasan Singkat: Secara umum, kedaulatan energi menekankan kemampuan suatu negara untuk memenuhi kebutuhan energinya secara mandiri, mengurangi ketergantungan pada impor, dan mengendalikan sumber daya energi dalam negeri. Pendekatan ini biasanya melibatkan pengembangan energi terbarukan, diversifikasi sumber, serta kebijakan yang mendukung keamanan pasokan dan stabilitas harga. Ketika sebuah wilayah dapat menghasilkan, mengelola, dan mendistribusikan listriknya sendiri […]

  • Usai UU Pelindungan Ketenagakerjaan Disahkan, Pimpinan DPR Temui Massa Buruh di Depan DPR

    Usai UU Pelindungan Ketenagakerjaan Disahkan, Pimpinan DPR Temui Massa Buruh di Depan DPR

    • calendar_month Selasa, 6 Okt 2026
    • account_circle Redaksi
    • 0Komentar

    Jakarta- 06 Oktober 2026. Wakil Ketua DPR RI Sufmi Dasco Ahmad, Saan Mustopa, dan Cucun Ahmad Syamaurijal menemui massa buruh di depan Gedung DPR RI, Jakarta, usai Rapat Paripurna mengesahkan RUU Pelindungan Ketenagakerjaan menjadi Undang-Undang Di hadapan massa yang tergabung dalam Koalisi Besar Perjuangan Buruh Indonesia, Dasco menyebut pengesahan UU tersebut sebagai pemenuhan janji DPR […]

expand_less