Perang Iran Kuras Anggaran AS Rp671 Triliun, Biaya Bisa Bertambah Rp53 Triliun per Bulan
- account_circle Redaksi
- calendar_month 3 jam yang lalu
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
JAKARTA – Konflik bersenjata Amerika Serikat (AS) dan Iran terus memberikan dampak besar terhadap anggaran Washington. Hingga 1 Agustus 2026, biaya yang telah dikeluarkan Departemen Pertahanan AS untuk konflik tersebut diperkirakan mencapai US$38 miliar atau sekitar Rp671,9 triliun.
Angka tersebut terungkap dalam laporan Congressional Budget Office (CBO), lembaga nonpartisan yang berada di bawah Kongres AS. CBO memperkirakan biaya konflik masih dapat bertambah sekitar US$2 miliar hingga US$3 miliar atau Rp35,3 triliun-Rp53 triliun setiap bulan, tergantung pada intensitas pertempuran.
“Per 1 Agustus 2026, konflik bersenjata dengan Iran telah menelan biaya sekitar US$38 miliar bagi Departemen Pertahanan AS,” demikian laporan CBO yang dikutip AFP, Rabu (16/9/2026).
Konflik tersebut bermula dari serangan gabungan AS dan Israel terhadap Iran pada 28 Februari lalu. Hingga kini, ketegangan antara kedua negara masih berlangsung.
Iran Tolak Pembicaraan dengan AS
Di tengah meningkatnya biaya perang, Iran masih menolak membuka pembicaraan dengan AS untuk mengakhiri konflik.
Sekretaris Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran, Mohsen Rezaei, menyampaikan sikap tersebut melalui media sosial X pada Selasa (15/9/2026).
Rezaei meminta masyarakat tidak terpengaruh oleh pernyataan Presiden AS Donald Trump yang dinilai berubah-ubah terkait kemungkinan dilakukannya negosiasi.
Menurut Rezaei, Iran belum bersedia melakukan pembicaraan sampai sejumlah persyaratan yang diajukan negaranya dipenuhi.
Sebelumnya, Trump menyatakan terbuka terhadap kemungkinan kembali melakukan pembicaraan dengan Iran. Pernyataan itu disampaikan setelah sebelumnya Trump selama beberapa pekan mengatakan masih terlalu dini untuk mencapai kesepakatan guna mengakhiri perang.
Iran sendiri diketahui telah mengajukan sejumlah tuntutan sebagai prasyarat berakhirnya konflik dan blokade di Selat Hormuz, termasuk kompensasi atas dampak perang serta pencabutan sanksi.
Penggantian Amunisi Jadi Beban Terbesar
CBO menjelaskan, besarnya biaya perang tidak hanya berasal dari operasi militer. Anggaran tersebut juga mencakup biaya untuk mengganti amunisi yang telah digunakan, peralatan militer yang hilang atau rusak dalam pertempuran, serta meningkatnya kebutuhan bahan bakar militer.
Dari total US$38 miliar yang telah dikeluarkan hingga 1 Agustus, biaya penggantian amunisi diperkirakan mencapai US$21,7 miliar atau sekitar Rp383,7 triliun.
CBO menyebut penggantian amunisi menjadi komponen biaya terbesar yang harus ditanggung Departemen Pertahanan AS atau Pentagon dalam konflik tersebut.
Selain beban anggaran, konflik juga memberikan dampak terhadap persediaan rudal pencegat pertahanan AS. Menurut CBO, berkurangnya stok rudal tersebut menjadi salah satu konsekuensi strategis yang dapat dirasakan Pentagon dalam beberapa tahun mendatang.
CBO memperkirakan AS kemungkinan telah menggunakan sekitar setengah hingga dua pertiga persediaan amunisi tersebut sejak Juni 2025, berdasarkan perbandingan antara pengeluaran rudal pencegat dan jumlah yang sebelumnya dibeli Pentagon.
Perang Iran Berpotensi Tekan Ekonomi AS
Dampak konflik tidak hanya dirasakan oleh anggaran pertahanan. CBO juga memperkirakan perang Iran dapat memberikan tekanan terhadap perekonomian AS, terutama melalui kenaikan inflasi.
Gangguan terhadap pasokan minyak dan gas alam menjadi salah satu faktor utama. Kondisi tersebut semakin diperburuk oleh blokade Selat Hormuz oleh Iran sebagai respons terhadap serangan AS dan Israel.
Selat Hormuz merupakan jalur strategis bagi distribusi energi dunia. Gangguan terhadap jalur tersebut berpotensi meningkatkan biaya energi dan pada akhirnya memberikan tekanan terhadap harga berbagai barang dan jasa.
Perkiraan Biaya Terus Bertambah
Sebelumnya, Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth pada Juli 2026 memperkirakan biaya perang melawan Iran telah mencapai sekitar US$37,5 miliar atau Rp663 triliun.
Laporan terbaru CBO menunjukkan angka tersebut kembali meningkat menjadi sekitar US$38 miliar hingga 1 Agustus.
Jika konflik terus berlangsung dengan intensitas yang sama, biaya perang diperkirakan masih akan bertambah sekitar US$2 miliar hingga US$3 miliar setiap bulan. Angka tersebut bahkan dapat lebih tinggi apabila intensitas pertempuran meningkat.
Dengan demikian, perang Iran tidak hanya menjadi persoalan militer bagi AS, tetapi juga membawa konsekuensi terhadap anggaran pertahanan, ketersediaan persenjataan, biaya energi, dan tekanan inflasi di dalam negeri.
- Penulis: Redaksi

Saat ini belum ada komentar