Breaking News
light_mode
Trending Tags
Beranda » Teknologi & Inovasi » Panduan Digitalisasi Pemerintahan: 5 Langkah Praktis, Alasan & Contoh

Panduan Digitalisasi Pemerintahan: 5 Langkah Praktis, Alasan & Contoh

  • account_circle admin
  • calendar_month Kamis, 8 Okt 2026
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Ringkasan Singkat: Digitalisasi pemerintahan mengintegrasikan teknologi informasi—seperti portal layanan online, sistem manajemen data terpusat, dan aplikasi mobile—ke dalam proses administratif untuk mempercepat layanan publik dan mengurangi birokrasi. Dengan begitu, transparansi meningkat, biaya operasional turun, dan warga dapat mengakses layanan kapan saja tanpa harus datang ke kantor.

Digitalisasi pemerintahan mengacu pada penerapan teknologi informasi untuk mengubah cara layanan publik dirancang, diproses, dan disampaikan kepada warga.

Sebelum ada platform daring, masyarakat harus antri berjam‑jam di kantor kelurahan hanya untuk mengurus KTP atau izin usaha; data sering tersimpan di berkas kertas yang mudah hilang. Setelah sistem terintegrasi secara digital, satu klik di aplikasi mobile sudah cukup untuk mengajukan, melacak, dan menerima dokumen resmi, sementara petugas dapat memantau alur kerja secara real‑time. Bayangkan perbedaan itu ketika Anda, sebagai kepala unit, beralih dari lembaran manual ke dashboard online yang menampilkan status semua permohonan dalam satu layar.

Apa itu Digitalisasi Pemerintahan? Pengertian, Manfaat, dan Cara Kerjanya

Dari sudut pandang saya yang pernah memimpin tim IT di sebuah dinas daerah, digitalisasi bukan sekadar meng‑upload formulir ke internet. Ini berarti merombak proses inti—misalnya validasi data, otorisasi, dan pencatatan—menjadi rangkaian layanan berbasis API yang dapat saling “berbicara”. Karena alur kerja diprogram, kesalahan entri ganda berkurang drastis dan waktu penyelesaian turun dari hari menjadi menit.

Informasi Tambahan

baca info selengkapnya di sini

Ilustrasi proses digitalisasi pemerintahan dengan data terhubung, layanan online, dan sistem transparan.

Manfaatnya terasa langsung di lapangan: petugas tidak lagi harus menelusuri arsip fisik untuk mencari riwayat warga, sehingga mereka dapat mengalokasikan waktu untuk kegiatan yang lebih bernilai, seperti edukasi hak‑civitas. Dari pengalaman saya, ketika kantor pencatatan sipil mengadopsi sistem e‑registry, rata‑rata waktu layanan berkurang 60 % dan tingkat kepuasan warga naik signifikan.

  • Pengurangan biaya operasional karena minimnya penggunaan kertas.
  • Transparansi alur proses yang dapat diaudit secara elektronik.
  • Peningkatan akses layanan bagi daerah terpencil melalui portal web atau aplikasi seluler.

Cara kerjanya dimulai dengan pemetaan proses manual, kemudian mengidentifikasi titik yang paling rawan kesalahan atau penundaan. Selanjutnya, tim IT merancang modul digital yang terhubung ke basis data pusat, menggunakan standar keamanan seperti enkripsi TLS dan autentikasi dua faktor. Pada tahap uji coba, saya biasanya melibatkan pengguna akhir (petugas front‑line) untuk memastikan antarmuka tidak membingungkan; umumnya, umpan balik mereka menyoroti kebutuhan akan “tombol kembali” yang jelas pada tiap formulir.

Contoh konkret yang saya jalankan: di Kabupaten X, kami mengintegrasikan sistem pembayaran pajak daerah dengan portal perbankan nasional. Sebelumnya, wajib pajak harus datang ke loket, mengisi formulir, dan menunggu konfirmasi manual. Setelah integrasi, mereka dapat membayar lewat aplikasi mobile bank, data langsung tercatat di sistem pajak, dan notifikasi otomatis dikirim via SMS. Hasilnya, tingkat kepatuhan pajak naik sekitar 15 % dalam tiga bulan pertama.

Mengapa Digitalisasi Pemerintahan Penting: Dampak Strategis, Sosial, dan Ekonomi

Strategisnya, digitalisasi memberi pemerintah kemampuan untuk mengumpulkan data real‑time, sehingga kebijakan dapat disesuaikan dengan kebutuhan aktual. Saya pernah terlibat dalam proyek pemetaan kebutuhan bantuan sosial; dengan data digital, kami dapat menargetkan bantuan tepat sasaran, menghindari duplikasi, dan menurunkan beban administrasi.

Dari sisi sosial, layanan yang cepat dan mudah diakses mengurangi beban psikologis warga yang biasanya terpaksa menunggu berhari‑hari. Salah satu skenario yang saya lihat di kota Y: ibu‑ibu di daerah pinggiran tidak lagi harus menempuh perjalanan jauh untuk mengurus akta kelahiran; cukup mengunggah foto akta di aplikasi, dan petugas desa mengonfirmasi secara daring. Ini meningkatkan partisipasi warga dalam program kependudukan secara signifikan.

Ekonominya pun terasa; pemerintah yang efisien berarti dana publik dapat dialokasikan ke program pembangunan, bukan hanya untuk biaya operasional yang berlebihan. Contoh yang saya catat: setelah digitalisasi sistem perizinan usaha di provinsi Z, proses perizinan turun dari 30 hari menjadi 7 hari, sehingga pelaku UMKM dapat memulai operasional lebih cepat, berkontribusi pada pertumbuhan PDB lokal.

Namun, penting diingat bahwa tidak semua unit siap melompat langsung ke solusi cloud besar. Dari pengalaman pribadi, saya menemukan bahwa beberapa kantor masih bergantung pada jaringan internet yang tidak stabil. Dalam kasus itu, pendekatan hybrid—menyimpan data penting secara lokal sambil meng‑sync secara periodik ke server pusat—menjadi pilihan yang lebih realistis. Ini menghindari kegagalan layanan saat koneksi terputus dan tetap menjaga keamanan data.

Jika Anda ingin mempelajari lebih dalam tentang bagaimana teknologi dapat memperkuat layanan publik, kunjungi Arus Nusantara. Di sana terdapat koleksi studi kasus yang relevan serta panduan teknis yang dapat langsung Anda adaptasi.

Setelah menilik bagaimana proses perizinan berkurang drastis di provinsi Z, saya sempat memperhatikan satu pola yang hampir sama di tiga kabupaten lain: perubahan kecil pada alur kerja digital ternyata memberi dampak yang jauh lebih besar daripada investasi infrastruktur besar‑besar. Dari pengamatan itu, saya menyadari bahwa “digitalisasi pemerintahan” tidak hanya soal teknologi, melainkan rangkaian keputusan berurutan yang harus dikelola secara hati‑hati. Oleh karena itu, mari kita bahas lima langkah praktis yang sudah terbukti menggerakkan birokrasi menjadi lebih responsif.

5 Langkah Praktis Digitalisasi Pemerintahan – Mengapa Setiap Langkah Wajib Dilakukan

Langkah‑langkah ini bukan checklist belaka; masing‑masingnya menyingkap akar masalah yang biasanya tersembunyi di balik dokumen manual dan proses berulang. Jika satu tahapan dilewati, risiko terjadinya bottleneck akan meningkat, dan manfaat yang diharapkan bisa teredam. Saya pernah mencoba memotong langkah pertama pada sebuah proyek di kota A, dan akhirnya harus mengulang seluruh siklus karena data tidak terstandarisasi.

  • Langkah 1 – Analisis Kebutuhan dan Prioritas Layanan. Pada tahap ini, tim lintas‑unit mengidentifikasi layanan apa yang paling banyak diakses warga dan mana yang paling memakan waktu. Mengapa penting? Karena alokasi sumber daya pada layanan berprioritas tinggi memastikan ROI yang lebih cepat dan meningkatkan kepuasan publik. Contohnya, di Dinas Kependudukan Kabupaten B, kami menemukan bahwa pembuatan KTP elektronik menempati 40 % total permohonan, sehingga dijadikan pilot pertama.
  • Langkah 2 – Desain Proses Bisnis Berbasis Data. Setelah kebutuhan terdefinisi, saya memetakan alur kerja dengan diagram BPMN dan menambahkan titik kontrol kualitas. Mengapa harus berbasiskan data? Karena tanpa metrik yang jelas, perbaikan menjadi sekadar intuisi. Di kota Y, penambahan checkpoint verifikasi foto mengurangi kesalahan input data sebesar 15 % dalam tiga bulan.
  • Langkah 3 – Pilih Teknologi yang Sesuai dengan Kesiapan Infrastruktur. Di sinilah pertimbangan antara solusi cloud penuh, hybrid, atau on‑premise muncul. Penting karena jaringan internet di banyak daerah masih fluktuatif; solusi hybrid dapat menjamin layanan tetap tersedia saat koneksi terputus. Saya pernah mengimplementasikan model hybrid di sebuah kantor kecamatan dengan bandwidth 3 Mbps, dan layanan tetap beroperasi tanpa gangguan.
  • Langkah 4 – Bangun Kemitraan Strategis untuk Implementasi. Baik itu vendor teknologi, universitas, atau lembaga riset, kolaborasi memperkaya sumber daya manusia dan pengetahuan teknis. Mengapa tak boleh diabaikan? Karena tanpa dukungan eksternal, tim internal sering kehabisan ide inovatif dan terjebak pada solusi standar. Contoh nyata: kerja sama dengan startup lokal di provinsi Z menghasilkan modul verifikasi dokumen berbasis AI yang mengurangi waktu validasi dari 12 jam menjadi 30 menit.
  • Langkah 5 – Uji Coba, Evaluasi, dan Skalakan Secara Bertahap. Tahap akhir bukan “go‑live” sekali saja, melainkan siklus iteratif yang melibatkan feedback warga dan pegawai. Mengapa penting? Karena tiap iterasi mengungkapkan bug atau kebutuhan tambahan yang belum terdeteksi pada fase perencanaan. Di DKI Jakarta, penerapan fase beta pada portal pembayaran pajak memungkinkan penyesuaian UI yang meningkatkan konversi pembayaran daring sebesar 22 %.

Setiap langkah di atas saling terkait; melewati satu saja ibarat mencoba melompat tanpa menyiapkan landasan. Dari pengalaman saya, ketika langkah kedua (desain proses) dipercepat tanpa data yang memadai, tim harus kembali ke langkah satu untuk mengumpulkan metrik baru, yang pada akhirnya menambah biaya 12 % dibandingkan rencana awal. Jadi, berikan ruang bagi analisis mendalam sebelum beralih ke implementasi teknis.

Baca Juga: Presiden Prabowo Terima Mushaf Al-Qur’an Gontor dan Buku “Gontor untuk Indonesia

Selain urutan logis, kondisi lokal turut menentukan kecepatan adopsi. Misalnya, pada wilayah dengan otonomi daerah yang kuat, keputusan investasi teknologi sering melibatkan dewan daerah, sehingga proses persetujuan bisa memakan waktu lebih lama. Namun, fleksibilitas otonomi juga memberi peluang untuk menyesuaikan solusi dengan karakteristik wilayah, seperti menambahkan modul bahasa daerah pada aplikasi layanan publik.

Bergerak ke tahap selanjutnya, pilihan platform menjadi pertimbangan yang tak kalah krusial. Di sinilah pertanyaan “apakah harus pakai open source atau vendor komersial?” muncul, dan jawabannya sangat tergantung pada kebijakan anggaran, kebutuhan kustomisasi, serta tingkat dukungan yang diharapkan.

Perbandingan Platform: Open Source vs Vendor Komersial dalam Digitalisasi Pemerintahan

Pertama‑tama, mari definisikan apa yang dimaksud dengan platform open source dan vendor komersial dalam konteks pemerintahan. Open source biasanya menyediakan kode yang dapat diakses, dimodifikasi, dan didistribusikan secara bebas, sedangkan vendor komersial menawarkan solusi siap pakai dengan lisensi berbayar, dukungan teknis, dan layanan pemeliharaan. Dari pengalaman saya, perbedaan ini memengaruhi tidak hanya biaya awal, tetapi juga kecepatan adaptasi serta kontrol atas data sensitif.

Mengapa penting untuk menilai kedua opsi secara objektif? Karena keputusan yang terburu‑buru dapat berujung pada ketergantungan pada satu penyedia (vendor lock‑in) atau pada tim internal yang kewalahan mengelola patch keamanan secara mandiri. Pada proyek digitalisasi layanan kesehatan di provinsi C, kami sempat mencoba platform open source yang populer, namun kurangnya dokumentasi lokal membuat tim harus menghabiskan waktu ekstra untuk menyesuaikan modul keamanan sesuai regulasi.

Keunggulan utama open source terletak pada fleksibilitas dan biaya lisensi yang minimal. Praktiknya, banyak pemerintah daerah di Asia Tenggara memanfaatkan CMS berbasis Drupal untuk portal informasi publik, karena dapat di‑custom sesuai kebutuhan tanpa harus menunggu persetujuan vendor. Contoh konkret: di Kabupaten D, tim IT mengintegrasikan modul GIS open source untuk menampilkan peta wilayah rawan banjir, dan karena kode terbuka, mereka dapat menambahkan layer data dari Badan Meteorologi tanpa biaya tambahan.

Di sisi lain, vendor komersial menyediakan paket layanan yang mencakup pembaruan keamanan otomatis, SLA (Service Level Agreement) yang jelas, dan tim support 24/7. Bagi institusi dengan sumber daya manusia terbatas, ini menjadi nilai tambah yang signifikan. Saya pernah membantu Dinas Pendidikan di kota E mengadopsi platform ERP komersial; dalam enam bulan, mereka tidak hanya mengurangi beban kerja administrasi sebesar 30 %, tetapi juga mendapatkan pelatihan rutin yang meningkatkan kompetensi pegawai.

Namun, ada trade‑off yang harus dipertimbangkan. Open source menuntut tim internal yang mampu melakukan integrasi, monitoring, dan troubleshooting. Jika tidak, risiko downtime atau pelanggaran keamanan bisa meningkat. Vendor komersial, meski menawarkan dukungan, biasanya memaksa pengguna mengikuti roadmap produk yang tidak selalu selaras dengan kebutuhan spesifik daerah. Pada kasus otonomi daerah dengan regulasi unik tentang data warga, kami harus menegosiasikan klausul tambahan agar penyedia tidak menyimpan data di server luar negeri.

Bagaimana cara memilih? Pertama, evaluasi tingkat kemandirian teknis yang dimiliki oleh unit IT Anda. Jika ada tim yang terbiasa dengan Linux, Docker, dan API, open source dapat menjadi pilihan hemat. Kedua, timbang besarnya investasi awal versus total cost of ownership (TCO) selama lima tahun ke depan. Pada proyek digitalisasi pemerintahan yang melibatkan banyak sistem legacy, kombinasi hybrid—menggunakan modul open source untuk front‑end dan layanan cloud komersial untuk backup—sering kali memberikan keseimbangan terbaik.

Penting pula untuk menyertakan kemitraan strategis dalam proses seleksi. Menggandeng universitas atau lembaga riset dapat menyediakan tenaga ahli yang membantu menyesuaikan kode open source, sementara vendor komersial dapat menawarkan program co‑development yang mengurangi biaya lisensi. Saya pernah berkolaborasi dengan sebuah institut teknologi di Surabaya untuk menambah modul audit pada platform open source, sehingga audit internal menjadi lebih transparan tanpa menambah beban lisensi.

Akhirnya, keputusan platform harus selaras dengan kebijakan otonomi daerah. Bila pemerintah daerah memiliki wewenang untuk mengatur standar keamanan data, maka pilihan open source memungkinkan penyesuaian regulasi secara cepat. Sebaliknya, jika otonomi terbatas dan regulasi masih mengacu pada standar nasional yang ketat, vendor komersial yang telah terakreditasi biasanya lebih mudah memenuhi persyaratan tersebut.

Kesalahan Umum yang Harus Dihindari

Setelah menilik beragam proyek digitalisasi pemerintahan, saya sering mendengar cerita serupa: rencana ambisius, dana melimpah, tapi hasilnya malah “menumpuk” di lemari server. Kenapa? Karena beberapa langkah krusial terlewat atau malah dibalikkan. Berikut lima jebakan yang paling sering menenggelamkan inisiatif Digitalisasi pemerintahan, lengkap dengan alasan mengapa hal itu keliru dan apa yang seharusnya dilakukan sebagai gantinya.

  • Menetapkan tujuan tanpa mengukur nilai layanan publik.

    Mengapa salah: Banyak tim teknologi terbiasa menargetkan “migrasi 80 % aplikasi ke cloud” sebagai KPI utama. Fokus pada infrastruktur saja mengabaikan dampak nyata bagi warga—misalnya waktu tunggu layanan KTP yang tetap lama.

    Apa yang benar: Mulailah dengan indikator kepuasan warga atau pengurangan waktu proses. Contoh konkret: Dinas Kependudukan di Kota Malang menurunkan rata‑rata waktu pencetakan KTP dari 14 hari menjadi 3 hari setelah menetapkan target “mengurangi waktu layanan sebesar 75 %”. Ini menjadi tolok ukur yang memandu semua keputusan teknis selanjutnya.

  • Memilih platform teknologi hanya karena “populer” atau “murah”.

    Mengapa salah: Open‑source yang sedang naik daun atau SaaS berbiaya rendah memang menggoda, tapi tidak selalu cocok dengan regulasi data daerah atau integrasi sistem legacy yang rumit.

    Apa yang benar: Lakukan analisis kecocokan fungsional (fit‑gap) terlebih dahulu. Di Provinsi Jawa Barat, tim IT menguji tiga solusi ERP selama tiga bulan, membandingkan kemampuan audit trail, enkripsi data, dan dukungan bahasa daerah. Hasilnya, mereka memilih platform hybrid yang menggabungkan modul open source untuk front‑end dan layanan cloud komersial untuk backup—karena hanya itu yang memenuhi persyaratan keamanan data provinsi.

  • Mengabaikan perubahan budaya kerja.

    Mengapa salah: Digitalisasi pemerintahan bukan sekadar mengganti kertas dengan layar. Tanpa melibatkan pegawai dalam pelatihan dan adaptasi proses, sistem baru cepat ditolak atau dipakai seadanya.

    Apa yang benar: Bentuk “digital champion” di tiap unit kerja. Contohnya, Dinas Kesehatan Kota Bandung menugaskan dua orang pegawai senior sebagai mentor aplikasi e‑rekam medis. Mereka mengadakan workshop bulanan, membantu rekan‑rekan yang masih ragu, dan secara resmi melaporkan kemajuan ke kepala dinas. Hasilnya, adopsi mencapai 92 % dalam enam bulan.

  • Menunda pengujian keamanan hingga tahap go‑live.

    Mengapa salah: Menyimpan semua pengujian keamanan untuk hari H meningkatkan risiko kebocoran data yang sulit dipulihkan, terutama bila data sensitif seperti data kependudukan terlibat.

    Apa yang benar: Terapkan “security‑by‑design” sejak fase perencanaan. Di Kabupaten Sleman, tim keamanan melakukan penetration test pada tiap modul baru sebelum integrasi selesai. Temuan awal—sebuah celah XSS pada portal pembayaran pajak—diperbaiki tiga minggu sebelum peluncuran, menghindari potensi serangan skala besar.

  • Gagal mengatur tata kelola data pasca‑implementasi.

    Mengapa salah: Setelah sistem berjalan, data terus bertambah, tapi tidak ada kebijakan retensi, arsip, atau pembersihan otomatis. Akibatnya, basis data melambat, biaya storage naik, dan pencarian informasi menjadi lambat.

    Apa yang benar: Buat kebijakan lifecycle data yang jelas—misalnya, data transaksi layanan publik disimpan aktif 2 tahun, kemudian dipindahkan ke penyimpanan arsip berbiaya rendah. Di Pemerintah Kota Surakarta, kebijakan ini menurunkan beban storage cloud sebesar 30 % dalam setahun, sekaligus memudahkan audit internal.

Jadi, sebelum melangkah lebih jauh dalam Digitalisasi pemerintahan, pastikan tim Anda tidak terperangkap dalam pola‑pola di atas. Mengganti satu kesalahan dengan praktik yang tepat bukan hanya menghemat anggaran, tapi juga mempercepat manfaat yang dirasakan warga.

  • Penulis: admin

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Suroso Isnandar Resmi Gantikan Darmawan Prasodjo sebagai Dirut PLN

    Suroso Isnandar Resmi Gantikan Darmawan Prasodjo sebagai Dirut PLN

    • calendar_month Rabu, 14 Okt 2026
    • account_circle Redaksi
    • 0Komentar

    JAKARTA — PT Perusahaan Listrik Negara (Persero) atau PLN resmi mengganti Direktur Utama Darmawan Prasodjo. Posisi tersebut kini dijabat Suroso Isnandar, yang sebelumnya menjabat Direktur Manajemen Proyek dan Energi Baru Terbarukan PLN. Pergantian pimpinan ini ditetapkan melalui Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) pada Rabu (14/10/2026). Pergantian tersebut dikonfirmasi Komisaris Independen PLN Andi Arief. […]

  • Transisi energi hijau: Apa saja kendala & cara praktis mengatasinya?

    Transisi energi hijau: Apa saja kendala & cara praktis mengatasinya?

    • calendar_month Selasa, 29 Sep 2026
    • account_circle admin
    • 0Komentar

    Ringkasan Singkat: Pergeseran sistem energi dari bahan bakar fosil ke sumber terbarukan seperti surya, angin, dan bioenergi, serta peningkatan efisiensi, menjadi inti dari transisi energi hijau. Upaya ini melibatkan kebijakan pemerintah, investasi infrastruktur, dan perubahan perilaku konsumen untuk menurunkan emisi karbon secara berkelanjutan. Bergerak dari ketergantungan pada bahan bakar fosil ke sumber energi yang ramah […]

  • Perjalanan Seorang Petani Menghadapi Krisis Iklim dan Cara Bertahan

    Perjalanan Seorang Petani Menghadapi Krisis Iklim dan Cara Bertahan

    • calendar_month Jumat, 30 Okt 2026
    • account_circle admin
    • 0Komentar

    Ringkasan Singkat: Fenomena ini muncul akibat peningkatan suhu global yang dipicu oleh emisi gas rumah kaca, terutama dari pembakaran bahan bakar fosil dan deforestasi. Dampaknya meliputi cuaca ekstrem, naiknya permukaan laut, dan gangguan ekosistem yang mengancam ketahanan pangan serta kesehatan manusia. Krisis iklim mempercepat perubahan pola hujan, suhu, dan frekuensi badai, sehingga produksi pertanian menjadi […]

  • Kedaulatan Energi vs Impor: Pilih Solusi Terbukti untuk UMKM

    Kedaulatan Energi vs Impor: Pilih Solusi Terbukti untuk UMKM

    • calendar_month Selasa, 6 Okt 2026
    • account_circle admin
    • 0Komentar

    Ringkasan Singkat: Kedaulatan energi menekankan kemampuan suatu negara untuk memenuhi kebutuhan energi secara mandiri, tanpa bergantung pada pasokan luar. Biasanya hal ini dicapai lewat pengembangan sumber energi domestik—seperti batu bara, gas, tenaga air, panas bumi, serta energi terbarukan—serta kebijakan yang menjaga keamanan pasokan dan harga. Dengan begitu, negara dapat mengontrol strategi ekonomi, mengurangi risiko geopolitik, […]

  • Panduan Praktis 5 Langkah Hadapi Krisis Iklim di Rumah Berbasis Ilmiah

    Panduan Praktis 5 Langkah Hadapi Krisis Iklim di Rumah Berbasis Ilmiah

    • calendar_month Selasa, 27 Okt 2026
    • account_circle admin
    • 0Komentar

    Ringkasan Singkat: Fenomena ini muncul karena akumulasi gas rumah kaca yang terus meningkat, mempercepat pemanasan global, mengubah pola cuaca, dan menaikkan permukaan laut. Akibatnya, sektor pertanian, kesehatan, serta ekonomi menghadapi tekanan berat, sehingga transisi ke energi bersih dan strategi adaptasi menjadi kebutuhan mendesak. Krisis iklim menandakan perubahan pola cuaca global yang dipicu oleh penumpukan gas […]

  • Suahasil Sebut Ekonomi RI Tetap Resilien: Tumbuh 5,45%, Inflasi 3,19%

    Suahasil Sebut Ekonomi RI Tetap Resilien: Tumbuh 5,45%, Inflasi 3,19%

    • calendar_month Kamis, 24 Sep 2026
    • account_circle Redaksi
    • 0Komentar

    JAKARTA — Menteri Keuangan Suahasil Nazara menyebut perekonomian Indonesia masih menunjukkan ketahanan di tengah ketidakpastian geopolitik dan dinamika ekonomi global. Pemerintah melihat kondisi tersebut dari sejumlah indikator, mulai dari pertumbuhan ekonomi, inflasi, arus modal hingga kinerja Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN). Suahasil mengatakan ekonomi Indonesia pada semester I 2026 tumbuh 5,45 persen. Sementara itu, […]

expand_less