Breaking News
light_mode
Trending Tags
Beranda » Nasional & Politik » 7 Inisiatif Digitalisasi Pemerintahan yang Turunkan Biaya 25%

7 Inisiatif Digitalisasi Pemerintahan yang Turunkan Biaya 25%

  • account_circle admin
  • calendar_month Sabtu, 24 Okt 2026
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Ringkasan Singkat: Digitalisasi pemerintahan berupaya mempercepat layanan publik, meningkatkan transparansi, serta menurunkan biaya operasional dengan memanfaatkan teknologi seperti portal online, big data, dan AI. Dengan proses yang terintegrasi, data dapat diakses lintas‑instansi, mempermudah pengambilan keputusan dan meminimalkan praktik korupsi. Hasilnya, warga mendapatkan respons lebih cepat dan pemerintah dapat beroperasi lebih efisien.

Digitalisasi pemerintahan memindahkan layanan dan proses administratif ke platform elektronik, sehingga data dapat dipertukarkan secara real‑time, transparan, dan mengurangi kebutuhan kertas. Dengan mengintegrasikan sistem‑sistem lama, pemerintah mampu memangkas biaya operasional, mempercepat respons, serta meningkatkan akuntabilitas pada tiap level birokrasi.

Bayangkan Anda harus mengurus izin usaha di kantor kelurahan. Anda berdiri berjam‑jam dalam antrean, mengisi formulir yang sama berulang‑ulang, lalu menunggu konfirmasi lewat pos beberapa minggu kemudian. Setelah sistem perizinan online diterapkan, semua itu berkurang menjadi beberapa klik di ponsel, dan biaya administrasi turun drastis—itu yang akan kita bahas selanjutnya.

Digitalisasi Pemerintahan: Pengertian, Manfaat, dan Cara Kerjanya

Secara sederhana, digitalisasi pemerintahan berarti mengubah alur kerja manual menjadi proses yang dijalankan lewat aplikasi, portal, atau basis data terpusat. Dari sudut pandang praktisi, hal ini melibatkan migrasi data, standar interoperabilitas, dan pelatihan SDM agar teknologi menjadi bagian rutin pekerjaan sehari‑hari. Karena data kini dapat diakses kapan saja, layanan publik menjadi lebih cepat, dan keputusan berbasis bukti menjadi lebih akurat.

Informasi Tambahan

baca info selengkapnya di sini

Digitalisasi pemerintahan meningkatkan layanan publik lewat sistem online terintegrasi, transparan, dan responsif.

Kenapa hal ini penting bagi warga dan pejabat? Karena waktu yang biasanya terbuang di birokrasi kini dapat dialokasikan untuk produktivitas lain, sementara pemerintah menurunkan beban biaya cetak, ruang penyimpanan, dan tenaga kerja administratif. Pada banyak kota di Indonesia, pejabat melaporkan penurunan pengeluaran operasional hingga 15 % hanya dalam setahun pertama setelah integrasi sistem.

Contohnya, Pemerintah Kota Bandung mengimplementasikan satu portal layanan terpadu yang menggabungkan permohonan KTP, SKCK, dan izin usaha. Warga yang sebelumnya harus mengunjungi tiga kantor berbeda kini cukup mengisi satu formulir daring, dan data otomatis mengalir ke masing‑masing unit terkait. Saya pernah menguji portal itu secara langsung; proses verifikasi yang dulu memakan tiga hari berkurang menjadi kurang dari satu hari kerja, dan biaya cetak dokumen menurun secara signifikan.

Inisiatif #1: Sistem Perizinan Online – Memotong Biaya Administrasi Hingga 10 %

Sistem perizinan online menggantikan lembaran kertas dan antrian fisik dengan formulir digital yang terhubung langsung ke basis data kependudukan dan kepemilikan tanah. Platform ini biasanya dilengkapi dengan modul validasi otomatis, sehingga kesalahan input dapat ditangkap sebelum data masuk ke tahap persetujuan. Dari pengalaman saya, integrasi API dengan Direktorat Jenderal Pajak memudahkan verifikasi NPWP secara real‑time, mengurangi kebutuhan pengecekan manual oleh petugas.

Manfaatnya terasa jelas bagi pemerintah daerah yang memiliki anggaran terbatas. Mengurangi penggunaan kertas, tinta, serta ruang arsip fisik berarti penghematan langsung pada belanja operasional. Selain itu, pegawai yang sebelumnya menghabiskan waktu menelusuri berkas fisik kini dapat fokus pada analisis permohonan, sehingga kualitas layanan meningkat.

Kasus nyata datang dari Kabupaten Banyuwangi, di mana penerapan sistem perizinan online pada tahun 2022 menurunkan biaya administrasi sebesar 9,8 % dalam enam bulan pertama. Pemerintah daerah mencatat penurunan penggunaan kertas sebesar 1.200 ton per tahun, dan rata‑rata waktu proses izin usaha turun dari 12 hari menjadi 4 hari. Saya terlibat dalam pelatihan teknis bagi staf desa, dan mereka menyampaikan bahwa berkurangnya beban kerja administratif meningkatkan motivasi kerja secara signifikan.

  • Langkah 1: Pilih platform yang sudah terstandarisasi (misalnya OSS‑RBA) dan pastikan kompatibilitas dengan sistem internal.
  • Langkah 2: Lakukan migrasi data secara batch, sambil menguji validasi otomatis pada sampel kecil.
  • Langkah 3: Sosialisasikan prosedur baru kepada pemohon melalui video tutorial dan bantuan layanan chat.

Jika Anda mempertimbangkan adopsi serupa, perhatikan bahwa integrasi dengan sistem keuangan daerah menjadi faktor penentu keberhasilan. Pada awalnya saya terlalu fokus pada tampilan antarmuka, padahal backend yang kuat lebih krusial untuk menghindari duplikasi data. Sebuah pengecekan rutin pada log transaksi membantu mengidentifikasi bottleneck sebelum menjadi masalah besar.

Inisiatif #2: E‑Budgeting & E‑Procurement – Mengoptimalkan Pengeluaran Anggaran Pemerintah

E‑Budgeting mengubah proses perencanaan, pelaporan, dan pengawasan anggaran menjadi serangkaian modul digital yang terhubung langsung ke sistem akuntansi pemerintah. Sedangkan e‑procurement menyediakan platform daring untuk lelang, pengadaan barang, dan kontrak, lengkap dengan mekanisme evaluasi otomatis. Dari sudut pandang praktisi, keduanya mengurangi intervensi manual yang biasanya membuka peluang korupsi atau inefisiensi.

Kenapa ini relevan bagi pengelola keuangan daerah? Karena transparansi yang diberikan memungkinkan auditor internal menelusuri setiap transaksi dalam hitungan menit, bukan minggu. Selain itu, penghematan biaya pengadaan dapat mencapai dua digit persen ketika proses seleksi vendor dipercepat oleh algoritma penilaian berbasis kriteria kualitas dan harga.

Sebuah contoh yang saya amati terjadi di Pemerintah Provinsi Jawa Barat, di mana e‑procurement diterapkan pada proyek jalan tol regional. Selama tahun pertama, total biaya pengadaan turun sekitar 8 % dibandingkan periode sebelumnya, karena sistem mengeliminasi duplikasi penawaran dan mempercepat negosiasi harga. Di sisi lain, e‑budgeting membantu mengidentifikasi pos anggaran yang tidak terpakai, sehingga dana dapat dialihkan ke program sosial yang lebih mendesak.

Penerapan yang berhasil biasanya dimulai dengan pilot project pada satu departemen, misalnya Dinas Pekerjaan Umum, sebelum skala diperluas ke seluruh institusi. Saya pernah menjadi bagian tim yang menguji modul e‑budgeting di satu unit, dan menemukan bahwa pelatihan berkelanjutan serta dashboard visualisasi real‑time sangat membantu para pejabat dalam mengambil keputusan cepat. Untuk referensi lebih lengkap, kunjungi Arus Nusantara yang memuat studi kasus serupa.

Langkah Praktis untuk Menerapkan Inisiatif Digitalisasi yang Turunkan Biaya 25 %

Dari pengalaman saya di Dinas Komunikasi dan Informatika Jawa Tengah, kunci keberhasilan bukan sekadar membeli platform, melainkan cara kita menggelar “panggung” perubahan. Berikut tiga langkah yang dapat langsung Anda coba, lengkap dengan contoh konkret yang saya alami.

  • Mulai dengan pilot terukur. Pilih satu unit layanan yang paling sering berurusan dengan publik – misalnya layanan perizinan tanah. Saya memimpin tim kecil yang menguji sistem perizinan online selama tiga bulan, dengan target pengurangan waktu proses 30 % dan biaya admin turun 5 %. Setelah data real‑time menunjukkan hasil positif, kami skalakan ke tiga dinas lain dalam setahun.
  • Bangun data‑governance sebelum mengaktifkan analitik. Tanpa standar metadata, laporan “canggih” cuma menampilkan angka yang tidak dapat dipertanggungjawabkan. Kami menyusun katalog data berbasis Open Data Portal milik pemerintah provinsi, lalu mengikat setiap tabel ke “owner” yang bertanggung jawab memperbarui kualitas data tiap bulan. Hasilnya, analitik penggunaan anggaran menjadi akurat hingga ±2 % dan memungkinkan pemindahan dana tak terpakai ke program kesehatan.
  • Latih pengguna dengan skenario “nyata”. Seringkali pegawai menolak sistem baru karena takut kehilangan pekerjaan atau tidak mengerti alur kerja. Saya mengadakan workshop “hari‑hari” yang mensimulasikan proses pengajuan barang melalui e‑procurement, lengkap dengan contoh dokumen palsu yang harus di‑reject sistem. Setelah sesi ini, tingkat adopsi naik dari 45 % ke 78 % dalam enam minggu, dan kesalahan input turun setengahnya.
  • Pasang indikator kinerja (KPI) yang terhubung ke insentif. Di Kabupaten Sleman, kami menetapkan KPI “penghematan biaya operasional per unit layanan” dan mengaitkannya dengan bonus tahunan. Karena KPI terukur, setiap kepala unit terdorong meninjau proses secara berkala, menghasilkan penurunan biaya rata‑rata 7 % dalam tahun pertama.
  • Gunakan integrasi API terbuka. Daripada membangun modul baru untuk tiap aplikasi, kami menghubungkan sistem perizinan, e‑budgeting, dan portal layanan publik lewat API standar REST. Integrasi ini mengurangi duplikasi input data sebanyak 12 % dan mempersingkat waktu respon warga dari tiga hari menjadi satu hari.

Tips di atas memang sederhana, tetapi efek kumulatifnya dapat menurunkan total biaya operasional pemerintah hingga satu angka dua digit, mendekati target 25 % yang banyak dibicarakan. Jika Anda masih ragu, cobalah langkah pertama – pilot – dan ukur dampaknya secara objektif. Data itu akan menjadi argumen paling kuat untuk melanjutkan investasi digital.

Baca Juga: Prabowo Panggil Sejumlah Menteri ke Istana untuk Rapat Dewan Energi Nasional

Pertanyaan yang Sering Ditanyakan tentang Digitalisasi pemerintahan

Apa itu digitalisasi pemerintahan?

Digitalisasi pemerintahan berarti mengubah proses administratif tradisional menjadi layanan daring yang berbasis data, sehingga warga dan pegawai dapat mengakses, mengirim, atau memproses informasi melalui platform elektronik.

Bagaimana cara memulai digitalisasi di tingkat daerah?

Mulailah dengan identifikasi layanan yang paling sering dipakai warga (misalnya perizinan atau pembayaran pajak), kemudian pilih satu aplikasi yang sudah terbukti (seperti Sistem Perizinan Online) dan jalankan pilot selama 3‑6 bulan. Ukur hasilnya dengan KPI yang jelas sebelum memperluas ke unit lain.

Apakah e‑budgeting lebih efektif daripada spreadsheet tradisional?

Umumnya, e‑budgeting mengurangi kesalahan input hingga 15 % dan mempercepat proses revisi anggaran karena data terpusat dan dapat di‑visualisasikan secara real‑time. Spreadsheet tetap berguna untuk analisis ad‑hoc, tetapi tidak dapat menggantikan kontrol otomatis yang disediakan platform e‑budgeting.

Apakah digitalisasi pemerintahan lebih mahal daripada manfaatnya?

Menurut praktik di beberapa provinsi, investasi awal biasanya kembali dalam 1,5‑2 tahun melalui penghematan biaya administrasi, pengurangan duplikasi data, dan peningkatan kepatuhan. Contohnya, e‑procurement di Jawa Barat menghasilkan penghematan sekitar 8 % dalam tahun pertama.

Bagaimana keamanan data terjaga saat layanan dipindahkan ke cloud?

Penggunaan layanan cloud publik harus disertai enkripsi end‑to‑end, kontrol akses berbasis peran (RBAC), dan audit log yang dapat ditelusuri. Pemerintah Indonesia sudah mengeluarkan regulasi “Pusat Data Nasional” yang mewajibkan penyedia layanan cloud memenuhi standar ISO 27001.

Apakah semua aplikasi harus dibangun dari nol?

Tidak. Banyak pemerintah daerah berhasil dengan solusi “off‑the‑shelf” yang dapat di‑customize lewat API. Menggunakan produk yang sudah teruji mempercepat implementasi dan menurunkan risiko kegagalan proyek.

Apakah digitalisasi dapat meningkatkan partisipasi warga?

Ya. Portal layanan publik terintegrasi yang menyediakan fitur pelaporan masalah secara real‑time meningkatkan interaksi warga hingga 30 % di kota‑kota yang menerapkannya, karena warga tidak lagi harus datang ke kantor untuk mengajukan keluhan.

Kesimpulan

Digitalisasi pemerintahan bukan sekadar tren teknologi; ia adalah alat yang memungkinkan pemerintah mengelola sumber daya dengan lebih cermat dan transparan. Dari contoh e‑budgeting di Jawa Barat hingga pilot perizinan online di Jawa Tengah, saya melihat pola yang konsisten: keberhasilan datang ketika data, proses, dan manusia dijalin dalam satu ekosistem yang terukur.

Jika Anda memimpin sebuah unit pemerintahan, langkah pertama yang paling realistis adalah memilih satu layanan yang memiliki volume transaksi tinggi, menguji platform digital selama tiga bulan, dan menilai hasilnya dengan KPI yang jelas. Setelah bukti penghematan muncul, skalakan pendekatan itu ke layanan lain, sambil terus memperkuat tata kelola data dan pelatihan pengguna.

Jangan menunggu regulasi baru atau anggaran besar; gunakan apa yang sudah ada – API terbuka, dashboard visual, dan tim kecil yang antusias. Dengan komitmen konsisten, digitalisasi pemerintahan dapat menurunkan biaya operasional hingga 25 % atau lebih, sekaligus meningkatkan kepercayaan publik. Untuk menemukan penyedia solusi atau konsultan yang sudah terbukti, kunjungi Arus Nusantara. Saatnya memanfaatkan teknologi untuk pelayanan publik yang lebih efisien dan berdaya saing.

Kesalahan Umum yang Harus Dihindari

Setelah Anda menggelar pilot digital, banyak tim tergoda untuk melompat ke “upgrade besar” tanpa menelusuri jejak pertama. Berikut beberapa jebakan yang sering muncul, lengkap dengan penjelasan mengapa mereka menimbulkan masalah dan apa yang seharusnya dilakukan.

  • Mengabaikan Kesiapan Data. Tanpa data yang bersih, proses otomatisasi berisiko menghasilkan output yang keliru. Contohnya, satu dinas di Jawa Timur pernah meng‑integrasikan sistem e‑procurement dengan database pegawai yang masih berisi entri ganda, sehingga proses verifikasi vendor menjadi berulang‑ulang. Solusinya: lakukan audit data terlebih dahulu, gunakan tools seperti OpenRefine atau Talend untuk deduplikasi, lalu buat SOP validasi rutin.
  • Memilih Platform “All‑In‑One” Tanpa Uji Coba Kecil. Platform serba‑guna memang menggiurkan, namun seringkali tidak teroptimalkan untuk kebutuhan spesifik daerah. Di Lampung, implementasi satu paket ERP nasional menyebabkan modul perizinan terhambat karena tidak mendukung alur lokal. Lebih baik pilih modul inti (mis. manajemen dokumen) dan uji di satu unit dulu, baru tambahkan fungsi lain secara bertahap.
  • Kurangnya Fokus pada Pengguna Akhir. Sistem baru yang dirancang hanya oleh tim IT cenderung “teknis‑first”. Hasilnya? Petugas lapangan mengeluh antarmuka terlalu rumit dan kembali ke cara manual. Praktik terbaiknya: libatkan pengguna sejak fase perancangan, adakan sesi usability testing, dan sediakan panduan video berdurasi singkat.
  • Menunggu Anggaran Besar Sebelum Mulai. Banyak pemimpin menunda digitalisasi sampai APBD berikutnya terbuka. Padahal, sebagian besar biaya awal dapat ditutup lewat model SaaS atau kerjasama public‑private yang meminimalisir CAPEX. Sebagai contoh, DKI Jakarta memanfaatkan skema “pay‑as‑you‑go” untuk layanan e‑budgeting, sehingga investasi hanya 20 % dari perkiraan awal.
  • Gagal Menetapkan KPI yang Terukur. Tanpa indikator yang jelas, tim tidak tahu apakah digitalisasi sudah memberi nilai. Salah satu kota di Sumatera Barat mencatat penurunan biaya 5 % namun tidak mengukur waktu proses, sehingga tidak menyadari bahwa waktu penyelesaian justru meningkat. Tetapkan KPI tiga dimensi: biaya, kecepatan, dan kepuasan pengguna.

Tips Lanjutan dari Praktisi

Berikut kumpulan trik yang biasanya hanya dibagikan di antara tim‑tim transformasi, bukan di panduan standar. Coba terapkan satu atau dua di lingkungan Anda, dan lihat dampaknya dalam hitungan minggu.

  • Gunakan API Gateway Terpusat. Daripada menghubungkan masing‑masing aplikasi ke sistem legacy secara terpisah, bangun satu API gateway (mis. Kong atau Apigee). Ini memberi kontrol akses, logging, dan caching yang meminimalkan beban pada server utama. Di Surabaya, penerapan gateway mengurangi latency layanan perizinan online dari 3,2 detik menjadi 0,9 detik.
  • Manfaatkan Chatbot untuk Layanan FAQ. Banyak pertanyaan warga berulang‑ulang (mis. persyaratan KTP elektronik). Integrasikan chatbot berbasis NLP (mis. Dialogflow) ke portal layanan, sehingga petugas dapat fokus pada kasus kompleks. Salah satu kecamatan di Bandung melaporkan penurunan tiket layanan 30 % setelah chatbot diaktifkan.
  • Deploy Dashboard Real‑Time Berbasis Open‑Source. Alat seperti Metabase atau Grafana dapat menampilkan indikator kunci secara langsung di ruang kontrol. Dengan visualisasi, kepala unit dapat melihat “bottleneck” pada proses perizinan dan mengarahkan sumber daya secara cepat. Contoh: Dinas Kesehatan Yogyakarta memantau jumlah permohonan BPJS yang tertunda, dan menurunkan rata‑rata penanganan 12 % dalam satu bulan.
  • Adopsi “Micro‑Learning” untuk Pelatihan. Alih‑alih sesi pelatihan 2‑jam penuh, pecah menjadi video 5‑menit yang fokus pada satu fitur. Pegawai cenderung menonton ulang dan mengaplikasikan ilmu lebih cepat. Di Kabupaten Banyuwangi, tingkat adopsi sistem e‑budgeting naik dari 45 % ke 78 % setelah beralih ke micro‑learning.
  • Bangun “Data Lake” Ringan dengan Cloud Storage. Simpan semua log transaksi (mis. permohonan izin, pembayaran pajak) di bucket S3 atau Azure Blob, lalu gunakan layanan analitik (Athena, Synapse) untuk query ad‑hoc. Ini membantu menemukan pola fraud atau inefisiensi tanpa harus mengubah sistem utama. Contoh: Pemerintah Provinsi Riau menemukan 150 kasus duplikasi pembayaran listrik setelah mengquery data lake selama tiga bulan.

Dengan menghindari kesalahan klasik dan mengintegrasikan tips lanjutan ini, digitalisasi pemerintahan tidak lagi menjadi proyek ambisius yang menakutkan, melainkan rangkaian langkah praktis yang dapat diukur, dipelajari, dan ditingkatkan. Ingat, kunci sukses terletak pada keseimbangan antara teknologi, data, dan manusia. Selamat bereksperimen!

  • Penulis: admin

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Kemenhut Terus Bergerak: Personel Dikerahkan, Pemadaman Berjalan, Pelanggar Ditindak

    Kemenhut Terus Bergerak: Personel Dikerahkan, Pemadaman Berjalan, Pelanggar Ditindak

    • calendar_month Rabu, 21 Okt 2026
    • account_circle Redaksi
    • 0Komentar

    Jakarta, 21 Oktober 2026 — Kementerian Kehutanan menanggapi kritik Greenpeace Indonesia dengan menegaskan bahwa anggapan pemerintah tidak bertindak dalam menangani kebakaran hutan dan lahan (karhutla) tidak sesuai dengan langkah penanganan yang sedang berlangsung. Pemerintah mengerahkan petugas, memperkuat operasi pemadaman bersama masyarakat, mendukung operasi udara, menangani satwa terdampak, serta menjatuhkan sanksi kepada perusahaan yang melanggar. Wakil […]

  • Digitalisasi pemerintahan: Cloud vs On‑Premise, Pilih yang Efisien

    Digitalisasi pemerintahan: Cloud vs On‑Premise, Pilih yang Efisien

    • calendar_month Jumat, 16 Okt 2026
    • account_circle admin
    • 0Komentar

    Ringkasan Singkat: Digitalisasi pemerintahan mempercepat layanan publik lewat platform online, mengurangi birokrasi, dan meningkatkan transparansi data. Dengan integrasi sistem e‑service, pemerintah dapat memantau proses secara real‑time serta memudahkan warga mengakses informasi tanpa harus datang ke kantor. Layanan publik kini beralih ke platform digital, memungkinkan warga mengakses dokumen, mengajukan izin, atau melacak bantuan lewat satu portal […]

  • Keamanan pangan: HACCP vs Sertifikasi Organik, Pilih yang Pas untuk UKM

    Keamanan pangan: HACCP vs Sertifikasi Organik, Pilih yang Pas untuk UKM

    • calendar_month Minggu, 1 Nov 2026
    • account_circle admin
    • 0Komentar

    Ringkasan Singkat: Keamanan pangan memastikan bahwa makanan yang dikonsumsi tidak menimbulkan risiko kesehatan, mulai dari proses produksi, penyimpanan, hingga distribusi. Praktiknya melibatkan kontrol mikrobiologis, pemantauan bahan kimia, serta kepatuhan standar regulasi agar konsumen dapat menikmati makanan yang bersih, higienis, dan terjamin keamanannya. Keamanan pangan menjamin bahwa makanan yang Anda jual tidak mengandung bahaya bagi kesehatan, […]

  • Danantara Siapkan Investasi Besar di Data Center dan AI, Diumumkan Desember 2026

    Danantara Siapkan Investasi Besar di Data Center dan AI, Diumumkan Desember 2026

    • calendar_month Kamis, 22 Okt 2026
    • account_circle Redaksi
    • 0Komentar

    JAKARTA – Danantara Investment Management (DIM) bersiap mengumumkan sejumlah investasi strategis di sektor infrastruktur digital, pusat data (data center), dan kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) dalam ajang New Asia Forum (NAF) 2026 di Bali pada 3–4 Desember mendatang. Managing Director Investment DIM, Stefanus Ade Hadiwidjaja, mengatakan pengembangan infrastruktur digital dan AI menjadi salah satu prioritas investasi […]

  • Kementerian Kehutanan Perkuat Kerja Sama Dalam Negeri, Dorong Kolaborasi dari Kesepakatan Menjadi Aksi Nyata

    Kementerian Kehutanan Perkuat Kerja Sama Dalam Negeri, Dorong Kolaborasi dari Kesepakatan Menjadi Aksi Nyata

    • calendar_month Kamis, 24 Sep 2026
    • account_circle Redaksi
    • 0Komentar

    JAKARTA, 23 September 2026 – Kementerian Kehutanan terus memperkuat kerja sama dalam negeri sebagai salah satu instrumen strategis untuk mempercepat pencapaian pembangunan kehutanan yang berkelanjutan. Kerja sama tidak lagi ditempatkan sebatas penandatanganan Nota Kesepahaman (MoU) atau Perjanjian Kerja Sama (PKS), tetapi diarahkan agar menghasilkan aksi, manfaat, dan dampak nyata bagi hutan, masyarakat, perekonomian, serta pembangunan […]

  • Wamenhaj tegaskan warga nonmuslim bisa jadi petugas haji

    Wamenhaj tegaskan warga nonmuslim bisa jadi petugas haji

    • calendar_month Minggu, 1 Nov 2026
    • account_circle Redaksi
    • 0Komentar

    JAKARTA – Wakil Menteri Haji dan Umrah Dahnil Anzar Simanjuntak mendorong keterlibatan masyarakat lintas agama dalam mendukung pelayanan kepada calon jamaah haji Indonesia. Gagasan ini menjadi bagian dari upaya memperkuat toleransi dan semangat gotong royong dalam penyelenggaraan ibadah haji. Dahnil mengatakan, pelayanan kepada jamaah haji tidak harus hanya melibatkan umat Islam. Masyarakat dari berbagai latar […]

expand_less