Proyek Rp2,8 Triliun di Bogor Dimulai, 500 Ribu Ton Sampah per Tahun Diubah Jadi Listrik
- account_circle Redaksi
- calendar_month 22 jam yang lalu
- print Cetak

(Dok. Istimewa)
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
BOGOR – Persoalan sampah di wilayah Bogor memasuki babak baru. Proyek Pengolahan Sampah Menjadi Energi Listrik (PSEL) Bogor Raya 1 di Galuga, Kabupaten Bogor, resmi memasuki tahap pembangunan dengan nilai investasi mencapai Rp2,8 triliun.
Fasilitas yang dikembangkan Danantara melalui PT Danantara Investment Management (DIM) dan PT Daya Energi Bersih Nusantara (Denera) tersebut ditargetkan mampu mengolah lebih dari 500 ribu ton sampah setiap tahun. Jumlah itu setara dengan sekitar 45 persen timbulan sampah yang dapat dikelola di wilayah Kota dan Kabupaten Bogor.
Chief Investment Officer (CIO) Danantara Indonesia Pandu Sjahrir mengatakan PSEL Bogor Raya 1 tidak hanya dirancang sebagai fasilitas pengolahan sampah, tetapi juga sebagai bagian dari pengembangan energi hijau dan ekonomi lokal.
“PSEL Bogor Raya 1 dirancang untuk memberikan dampak nyata terhadap pengelolaan sampah, pengembangan energi hijau, dan pemberdayaan ekonomi lokal,” kata Pandu dalam peresmian pembangunan PSEL Bogor Raya 1, Kamis (17/9/2026).
Dari sisi lingkungan, fasilitas tersebut diproyeksikan dapat menurunkan emisi dari tempat pembuangan akhir (TPA) hingga 80 persen. Proyek ini juga diperkirakan mampu mengurangi emisi karbon sekitar 640 ribu ton setara CO₂ setiap tahun. Selain itu, pembangunan PSEL diproyeksikan membuka hingga 1.200 lapangan kerja.
Sementara dari sisi energi, sampah yang selama ini menjadi persoalan lingkungan akan dimanfaatkan sebagai sumber energi listrik. Danantara memperkirakan energi hijau yang dihasilkan nantinya dapat memasok kebutuhan lebih dari 100 ribu rumah masyarakat di kawasan Bogor Raya.
Fasilitas PSEL Bogor Raya 1 akan dibangun di Desa Galuga, Kecamatan Cibungbulang, Kabupaten Bogor, dengan kapasitas pengolahan hingga 1.500 ton sampah per hari. Proyek tersebut ditargetkan mulai beroperasi pada pertengahan 2028.
Dalam pengembangannya, fasilitas ini akan menggunakan teknologi moving grate incinerator yang dilengkapi Air Pollution Control System (APCS). Teknologi tersebut dirancang untuk mengolah sampah secara cepat sekaligus mengendalikan emisi, dengan acuan standar lingkungan European Union Industrial Emissions Directive (EU IED).
Kepastian penyerapan listrik juga mulai dibangun melalui penandatanganan Perjanjian Jual Beli Tenaga Listrik (PJBL) dengan PT PLN (Persero). Melalui skema tersebut, listrik yang dihasilkan PSEL Bogor Raya 1 akan diserap PLN sebagai bagian dari sistem pengelolaan energi proyek.
Pembangunan PSEL Galuga juga menjadi bagian dari upaya pemerintah menangani persoalan sampah di Bogor yang terus bertambah. Pemerintah Kabupaten Bogor sebelumnya menyebut produksi sampah di wilayahnya mencapai sekitar 3.000 ton per hari, sementara Kota Bogor menghasilkan sekitar 700 hingga 1.000 ton sampah per hari. Fasilitas Galuga nantinya membutuhkan pasokan sampah sekitar 2.000 ton per hari dari Kabupaten dan Kota Bogor.
Di tengah pembangunan fasilitas tersebut, pemerintah juga mengingatkan bahwa persoalan sampah tidak bisa menunggu hingga PSEL selesai beroperasi. Menteri Lingkungan Hidup/Kepala Badan Pengendalian Lingkungan Hidup Mohammad Jumhur Hidayat mengatakan pembangunan fasilitas memang ditargetkan rampung dalam sekitar dua tahun, tetapi produksi sampah dari masyarakat akan terus berlangsung setiap hari.
“Kita berharap maksimum dua tahun ke depan ini selesai. Namun persoalannya adalah juga dari sekarang sampai dua tahun sampah jalan terus,” kata Jumhur.
Menurutnya, sampah organik menjadi salah satu persoalan yang perlu mendapatkan perhatian karena dapat menimbulkan bau dan persoalan lingkungan apabila tidak ditangani dengan baik selama masa pembangunan fasilitas.
Dengan kapasitas pengolahan mencapai 1.500 ton per hari, PSEL Bogor Raya 1 diharapkan menjadi salah satu instrumen baru dalam mengurangi beban TPA sekaligus mengubah persoalan sampah menjadi sumber energi. Proyek ini juga menjadi fasilitas PSEL ketiga yang memasuki tahap pembangunan setelah proyek PSEL Denpasar Raya dan PSEL Kota Bekasi.
- Penulis: Redaksi

Saat ini belum ada komentar