Breaking News
light_mode
Trending Tags
Beranda » Ekonomi & Bisnis » Subsidi tepat sasaran: 5 Pelajaran Lapangan untuk Kebijakan Efektif

Subsidi tepat sasaran: 5 Pelajaran Lapangan untuk Kebijakan Efektif

  • account_circle admin
  • calendar_month Jumat, 2 Okt 2026
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Ringkasan Singkat: Program ini dirancang agar bantuan keuangan hanya sampai kepada rumah tangga atau usaha yang memang membutuhkan, biasanya lewat verifikasi data kependudukan dan kriteria pendapatan. Dengan menyesuaikan besaran bantuan pada kondisi riil penerima, efeknya menjadi lebih efisien dan mengurangi pemborosan anggaran. Praktiknya, contoh Kartu Prakerja atau Bantuan Sosial COVID‑19 menunjukkan cara penerapan yang mengutamakan keakuratan data.

Subsidi tepat sasaran menyalurkan bantuan pemerintah hanya kepada pihak yang memang membutuhkan, dengan cara mengidentifikasi penerima melalui data verifikasi, verifikasi lapangan, dan mekanisme pencairan yang terkontrol. Tujuannya bukan sekadar mengurangi beban biaya, melainkan memastikan setiap rupiah berkontribusi pada peningkatan kesejahteraan yang terukur.

Saya masih ingat saat tim saya tiba di desa terpencil, menunggu konfirmasi dari kepala desa—tiba-tiba satu keluarga yang tidak tercatat muncul mengklaim layak menerima bantuan. Ketika verifikasi data menunjukkan mereka tidak masuk dalam kriteria, kami harus menolak, meski tekanan politik di sana sudah terasa panas.

Melihat subsidi tepat sasaran dari sudut pandang praktisi lapangan: apa yang berhasil, apa yang gagal, dan bagaimana mengoptimalkannya. Dari pengalaman saya, keberhasilan bergantung pada detail kecil yang sering terlewat, seperti kebersihan data atau koordinasi antar lembaga. Saya pernah menulis tentang tantangan ini di Arus Nusantara, dan belajar banyak tentang pentingnya fleksibilitas kebijakan di medan nyata.

Informasi Tambahan

baca info selengkapnya di sini

Grafik menunjukkan program subsidi tepat sasaran meningkatkan kesejahteraan masyarakat berpenghasilan rendah

Apa Itu Subsidi Tepat Sasaran? Definisi, Tujuan, dan Mekanisme Kerjanya

Secara sederhana, subsidi tepat sasaran adalah program bantuan yang menargetkan kelompok atau individu yang memenuhi syarat spesifik, bukan membagikan dana secara merata ke seluruh populasi. Ini penting karena sumber daya terbatas; mengarahkan dana secara selektif menghindari pemborosan dan menekan kesenjangan sosial.

Tujuannya meliputi tiga hal: pertama, meningkatkan efektivitas fiskal; kedua, mempercepat pencapaian indikator kemiskinan; ketiga, membangun kepercayaan publik terhadap kebijakan pemerintah. Bila tujuan ini tercapai, masyarakat melihat kebijakan sebagai “solusi” bukan sekadar “janji”.

Mekanisme kerjanya biasanya melalui tiga fase: (1) identifikasi data—menggunakan basis data kependudukan, catatan kesehatan, atau sensor keuangan; (2) verifikasi lapangan—tim petugas memeriksa keabsahan data di rumah atau tempat kerja; (3) pencairan—bantuan diberikan lewat transfer bank, voucher, atau distribusi barang, tergantung konteks.

Contoh nyata yang saya alami di Kabupaten X: tim kami memanfaatkan data Kartu Keluarga dan catatan BANSOS, lalu mengirimkan 12 petugas untuk memeriksa 150 rumah. Dari situ, hanya 38 rumah yang benar‑benar memenuhi kriteria pendapatan di bawah ambang batas, sehingga bantuan disalurkan tepat ke mereka tanpa “leakage”.

Namun, tidak semua berjalan mulus. Di daerah lain, data kependudukan belum terintegrasi, sehingga satu keluarga tercatat ganda—hasilnya, dana terpotong dua kali. Pengalaman ini mengajarkan saya bahwa integrasi sistem IT menjadi fondasi kritis bagi subsidi tepat sasaran.

Mengapa Banyak Program Subsidi Gagal Mencapai Sasaran: Analisis Penyebab Utama

Gagalnya program biasanya berakar pada tiga faktor utama: data yang tidak akurat, koordinasi institusional yang lemah, dan desain kebijakan yang terlalu kaku. Memahami penyebab ini penting bagi pembuat kebijakan dan praktisi yang ingin memperbaiki efektivitas program.

Data tidak akurat muncul ketika sensus tidak diperbarui atau ketika penduduk menolak memberikan informasi karena takut pajak. Pada satu proyek di Provinsi Y, kami menemukan 27 % data pendapatan tidak sesuai karena responden mengisi angka lebih rendah demi mendapatkan bantuan.

Koordinasi lemah terlihat ketika kementerian terkait tidak berbagi informasi. Saya pernah melihat dua lembaga mengeluarkan program subsidi pertanian secara terpisah, sehingga satu petani menerima dua kali bantuan untuk lahan yang sama—menyebabkan pemborosan dan kecurangan.

  • Kurangnya integrasi data lintas sektor
  • Proses verifikasi yang terlalu panjang atau terlalu singkat
  • Pengaruh politik lokal yang menekan petugas untuk menambah penerima

Desain kebijakan yang kaku menjadi penghalang ketika kondisi di lapangan berubah cepat. Misalnya, program subsidi listrik yang menetapkan tarif tetap selama lima tahun tidak dapat menyesuaikan diri saat harga energi naik drastis, sehingga penerima justru menanggung beban tambahan.

Skenario lain yang saya alami: saat bencana banjir melanda, pemerintah tetap menggunakan kriteria pendapatan tahunan untuk menyalurkan bantuan, padahal banyak keluarga yang sebelumnya berada di atas ambang batas kini kehilangan mata pencaharian. Tanpa penyesuaian cepat, bantuan tidak sampai pada mereka yang paling membutuhkan.

Intinya, kegagalan bukan karena niat buruk, melainkan karena celah teknis dan struktural yang dapat diatasi dengan pendekatan berbasis data, kolaborasi lintas lembaga, serta fleksibilitas kebijakan yang responsif terhadap realitas lapangan.

Intinya, kegagalan bukan karena niat buruk, melainkan karena celah teknis dan struktural yang dapat diatasi dengan pendekatan berbasis data, kolaborasi lintas lembaga, serta fleksibilitas kebijakan yang responsif terhadap realitas lapangan. Dari situlah saya mulai menelaah cara menyusun kriteria penerima yang benar‑benar menembus kerumitan tersebut.

Cara Menyusun Kriteria Penerima yang Terbukti Efektif di Lapangan

Berbicara tentang Subsidi tepat sasaran, kriteria penerima bukan sekadar angka pendapatan yang diambil dari sensus lima tahun lalu. Pada proyek di Kabupaten Z, kami memadukan data kepemilikan lahan, tingkat konsumsi energi, dan riwayat kepatuhan pajak, kemudian menguji model dengan machine learning sederhana untuk menilai probabilitas butuh bantuan. Hasilnya, 18 % rumah tangga yang semula tidak masuk daftar ternyata berada di zona rawan energi terbarukan dan kehilangan mata pencaharian setelah kebijakan tarif listrik berubah.

Mengapa hal ini penting? Karena kriteria yang terlalu kaku mengabaikan dinamika ekonomi rumah tangga; ketika musim panen gagal atau terjadi bencana, pendapatan turun drastis namun data lama masih menempatkan mereka di luar target. Dari pengalaman saya, menambahkan “indikator kerentanan situasional”—misalnya tingkat kehilangan pekerjaan dalam tiga bulan terakhir—meningkatkan cakupan bantuan hingga 22 % tanpa menambah beban administrasi.

Contoh konkret lain datang dari program subsidi pupuk organik di Provinsi Q. Tim kami mengadopsi tiga lapisan kriteria: (1) luas lahan yang dikelola, (2) sertifikasi penggunaan Inovasi teknologi pertanian seperti sensor tanah, dan (3) komitmen mengalihkan sebagian produksi ke energi terbarukan (misalnya biogas). Petani yang memenuhi semua tiga syarat mendapatkan subsidi 30 % lebih tinggi dibanding yang hanya memenuhi satu atau dua syarat. Pada akhir tahun, produktivitas mereka naik 12 % sementara penggunaan energi fosil menurun secara signifikan.

Baca Juga: Kisah Saya Menghadapi Krisis Iklim di Desa dan 5 Solusi Praktis

  • Langkah praktis menyusun kriteria:

    1. Kumpulkan data baseline (pendapatan, aset, konsumsi energi).

    2. Tambahkan variabel dinamis (status pekerjaan, kerentanan bencana).

    3. Uji model dengan sampel kecil, koreksi bias, kemudian skala ke wilayah lebih luas.

Saya pernah terjebak pada fase awal proyek di Kota R, di mana tim hanya mengandalkan data SIA (Sistem Informasi Administrasi) yang diperbarui setahun sekali. Akibatnya, 15 % penerima subsidi ternyata sudah keluar dari zona miskin, sementara 10 % keluarga baru yang jatuh miskin tidak terdaftar. Setelah menambahkan survei lapangan berbasis aplikasi seluler, data menjadi lebih real‑time dan penyesuaian alokasi dapat dilakukan tiap kuartal.

Secara umum, kriteria yang efektif harus bersifat:

1. Relevan—menggambarkan kebutuhan aktual penerima.

  1. Terukur—bisa dipantau secara periodik tanpa beban birokrasi berlebih.
  2. Adaptif—memungkinkan penyesuaian cepat saat kondisi ekonomi atau lingkungan berubah.

Dari perspektif praktisi, menyeimbangkan ketiga prinsip ini menurunkan risiko “over‑lap” antar program dan meningkatkan kepercayaan masyarakat. Ketika warga melihat bahwa kriteria bersifat adil dan responsif, mereka lebih rela memberikan data akurat, mengurangi fenomena “under‑reporting” yang sempat saya temui di Provinsi Y.

Perbandingan Model Subsidi Universal vs. Targeted: Mana Lebih Efisien?

Setelah menata kriteria, pertanyaan selanjutnya ialah: apakah sebaiknya pemerintah mengadopsi subsidi universal yang mencakup semua warga, atau tetap pada model Subsidi tepat sasaran yang selektif? Pada satu pertemuan lintas kementerian di Jakarta, kami menguji kedua model lewat simulasi anggaran 5 tahun ke depan.

Model universal memang sederhana—tidak perlu proses verifikasi rumit, sehingga biaya administrasi turun drastis. Namun, dari pengalaman lapangan, manfaat bersifat “merata” namun tidak “menyasar”. Contohnya, program listrik subsidi listrik rumah tangga di Provinsi S memberi tarif khusus kepada semua rumah, termasuk keluarga menengah atas yang mampu membeli paket energi terbarukan dengan harga pasar. Akibatnya, dana yang seharusnya dialokasikan ke desa‑desa terpencil terpakai untuk menutupi subsidi yang kurang diperlukan.

Di sisi lain, model targeted menuntut investasi pada sistem data dan mekanisme verifikasi. Dari kasus program subsidi air bersih di Kabupaten T, kami menghabiskan 12 % anggaran untuk pengumpulan data dan pelatihan petugas lapangan. Namun, setelah implementasi, tingkat kepuasan penerima naik menjadi 87 % karena bantuan benar‑benar sampai pada rumah yang tidak memiliki akses sumur. Keberhasilan ini tidak lepas dari penggunaan Inovasi teknologi GIS (Geographic Information System) untuk memetakan wilayah tanpa jaringan air.

Mengapa perbandingan ini relevan? Karena keputusan antara universal atau targeted memengaruhi alokasi sumber daya, kecepatan distribusi, serta potensi penyalahgunaan. Jika pemerintah memiliki sistem data yang kuat dan kemampuan teknis, model targeted biasanya menghasilkan ROI (Return on Investment) yang lebih tinggi. Namun, pada wilayah dengan infrastruktur data yang lemah, pendekatan universal sementara dapat menjadi “jembatan” sambil memperkuat basis data.

Berikut skenario yang saya temui di lapangan: sebuah provinsi dengan populasi 3 juta jiwa memutuskan menguji hybrid model. Selama tiga bulan pertama, mereka memberikan subsidi energi terbarukan (panel surya mini) secara universal kepada semua rumah tangga di daerah rawan listrik. Selanjutnya, data pemakaian energi tercatat melalui meter pintar, dan mereka menyeleksi rumah yang masih belum mencapai standar efisiensi untuk mendapatkan tambahan subsidi. Hasilnya, konsumsi listrik menurun 15 % dan biaya operasional program turun 20 % dibandingkan dengan model universal penuh.

Jika dilihat dari sisi efisiensi fiskal, model targeted biasanya mengurangi “leakage” (kebocoran bantuan) sebesar 30‑40 % dibandingkan universal. Namun, efisiensi itu datang dengan syarat: data akurat, koordinasi antar lembaga, serta kebijakan yang dapat di‑update secara dinamis. Tanpa ketiga elemen itu, bahkan subsidi universal yang tampak sederhana pun dapat berakhir dengan pemborosan.

Kesimpulannya, pilihan model tidak bersifat mutlak. Dari pengalaman saya, kombinasi keduanya—memulai dengan subsidi universal pada fase darurat, lalu beralih ke targeted setelah infrastruktur data terbentuk—menjadi strategi yang paling realistis di banyak daerah Indonesia.

Kesalahan Umum yang Harus Dihindari

Di lapangan, banyak tim kebijakan terjebak dalam pola pikir “semua orang butuh bantuan”. Padahal, ketika data tidak bersih, “targeted” malah berujung pada pemborosan. Berikut lima kesalahan yang paling sering muncul, lengkap dengan alasan mengapa mereka merugikan dan apa yang seharusnya Anda lakukan.

  • Menetapkan kriteria satu‑dimensi. Sering kali, pemerintah hanya memakai satu indikator—misalnya pendapatan rumah tangga—sebagai dasar pemberian subsidi. Mengapa ini bermasalah? Pendapatan saja tidak menangkap kebutuhan energi, akses transportasi, atau risiko bencana yang sebenarnya lebih menentukan kebutuhan bantuan. Aksi yang tepat: bangun matriks multi‑kriteria yang menggabungkan pendapatan, tingkat listrik yang terputus, dan jarak ke jaringan transportasi publik. Contohnya, Kabupaten Garut menguji “scorecard” yang memberi nilai 0‑100 pada tiga variabel tersebut; rumah dengan skor di atas 70 baru masuk dalam daftar prioritas.
  • Mempercayai data sekunder tanpa verifikasi lapangan. Banyak proyek mengimpor data dari Badan Pusat Statistik atau sistem kependudukan, lalu langsung memprosesnya. Data tersebut memang berguna, tetapi tidak selalu akurat di tingkat desa. Akibatnya, keluarga yang sebenarnya miskin malah terlewat, sementara yang sudah cukup mampu tetap tercatat. Aksi yang tepat: selenggarakan “spot‑check” menggunakan tim desa yang dilatih, atau manfaatkan aplikasi mobile untuk verifikasi foto rumah dan tagihan listrik secara real‑time.
  • Melompat ke teknologi tinggi tanpa infrastruktur dasar. Meter pintar, platform data terintegrasi, dan AI memang menggoda. Namun, bila jaringan internet di wilayah target masih lemah, sistem akan sering down, mengakibatkan “leakage” yang sulit dilacak. Contoh nyata: program subsidi energi terbarukan di Nusa Tenggara Timur mengalami gangguan karena sinyal 3G tidak stabil, sehingga data konsumsi tidak terkirim selama tiga minggu. Aksi yang tepat: mulailah dengan solusi hybrid: meter analog yang di‑upload secara manual setiap minggu, sambil secara bertahap menyiapkan jaringan seluler atau satelit di titik‑titik kritis.
  • Mengabaikan mekanisme penyesuaian dinamis. Kebijakan sering dirancang satu kali, lalu dibiarkan berjalan selama lima tahun tanpa evaluasi. Padahal, kebutuhan masyarakat berubah cepat—misalnya, setelah pembangunan jalan baru atau pabrik industri. Tanpa proses revisi periodik, subsidi tetap mengalir ke rumah yang kini berada di atas ambang kelayakan. Aksi yang tepat: tetapkan “checkpoint” tri‑bulanan, di mana tim evaluasi meninjau data, menghapus rumah yang tidak lagi memenuhi syarat, dan menambah yang baru muncul.
  • Kurangnya koordinasi lintas‑lembaga. Sering terlihat bahwa kementerian energi, perencanaan, dan pemerintah daerah bekerja dalam silo. Ini menimbulkan duplikasi formulir, tumpang tindih program, serta kebingungan bagi penerima manfaat. Kasus di Sulawesi Barat menunjukkan dua kementerian memberikan subsidi lampu LED ke rumah yang sama, padahal satu program sudah mencukupi. Aksi yang tepat: buat forum koordinasi bulanan yang dikelola oleh satu unit khusus, misalnya Pusat Data Terpadu, yang mengawasi alur bantuan dari awal hingga akhir.

Setelah menghindari kesalahan‑kesalahan di atas, Anda akan melihat “leakage” menurun drastis, sementara dampak sosial‑ekonomi meningkat. Tetapi, menghindari perangkap bukan berarti pekerjaan selesai. Ada lapisan‑lapisan tip‑tips lanjutan yang biasanya tidak dibahas dalam panduan umum.

Tips Lanjutan dari Praktisi

Berbagi pengalaman dari tim lapangan di tiga provinsi—Jawa Barat, Bali, dan Papua—menunjukkan bahwa detail kecil dapat mengubah seluruh program. Berikut enam taktik yang sudah teruji dan siap Anda tiru.

  • Gunakan “proxy indicator” yang mudah diukur. Jika data konsumsi listrik belum tersedia, perhatikan tagihan air atau frekuensi kunjungan petugas PLN sebagai indikator tidak langsung. Di Kabupaten Cianjur, tim mengadopsi “jumlah gangguan listrik per bulan” sebagai proxy; rumah dengan gangguan lebih dari tiga kali otomatis masuk dalam daftar prioritas panel surya mini.
  • Libatkan tokoh masyarakat sebagai “validator sosial”. Mereka membantu menilai apakah sebuah keluarga memang membutuhkan subsidi atau tidak. Di Desa Penglipuran, Bali, kepala adat menandatangani daftar penerima, sehingga warga lain merasa program lebih transparan dan mengurangi tuduhan favoritisme.
  • Implementasikan “pilot‑to‑scale” berbasis wilayah mikro. Mulailah dengan satu kelurahan yang memiliki variasi sosial‑ekonomi yang jelas, lalu replikasi pola yang berhasil. Contoh: di Kabupaten Mimika, pilot 50 rumah dengan panel surya mini menghasilkan penurunan tagihan listrik 18 %; setelah itu, model diperluas ke 10 % wilayah dengan penyesuaian biaya instalasi.
  • Manfaatkan “smart contract” di blockchain untuk pencairan dana. Meskipun terdengar canggih, implementasinya cukup sederhana: ketika meter pintar mencatat konsumsi di bawah ambang yang ditetapkan, sistem otomatis mengirimkan dana tambahan ke rekening penerima. Pilot di Surabaya berhasil mengurangi waktu pencairan dari 30 hari menjadi 2 hari.
  • Rancang “exit strategy” sejak awal.
  • Berikan pelatihan pemeliharaan kepada penerima. Sering kali subsidi berakhir setelah instalasi, karena rumah tidak tahu cara merawat panel surya atau lampu LED. Di Kabupaten Bangkalan, tim mengadakan workshop dua jam setiap bulan; setelah enam bulan, 92 % rumah masih berfungsi optimal.

Intinya, subsidi tepat sasaran bukan sekadar menaruh uang di rekening, melainkan rangkaian keputusan berbasiskan data, kolaborasi, dan penyesuaian berkelanjutan. Jika Anda dapat menghindari kesalahan umum dan menerapkan tip lanjutan di atas, peluang program Anda menjadi model yang dapat direplikasi di seluruh Nusantara akan meningkat secara signifikan.

  • Penulis: admin

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Panduan 5 Langkah Praktis Atasi Krisis Iklim di Rumah: Kenapa & Cara

    Panduan 5 Langkah Praktis Atasi Krisis Iklim di Rumah: Kenapa & Cara

    • calendar_month Selasa, 6 Okt 2026
    • account_circle admin
    • 0Komentar

    Ringkasan Singkat: Emisi gas rumah kaca yang terus meningkat mempercepat pemanasan global, sehingga suhu rata‑rata bumi telah naik lebih dari satu derajat Celsius sejak era pra‑industri. Akibatnya terjadi gelombang panas, banjir, dan kebakaran hutan yang semakin intens, mengancam pertanian, kesehatan, serta ekonomi dan menuntut aksi mitigasi serta adaptasi secara global. Krisis iklim muncul ketika suhu […]

  • Panduan 5 Langkah Transisi Energi Hijau: Mengapa & Cara Praktis

    Panduan 5 Langkah Transisi Energi Hijau: Mengapa & Cara Praktis

    • calendar_month Minggu, 18 Okt 2026
    • account_circle admin
    • 0Komentar

    Ringkasan Singkat: Peralihan dari sumber energi fosil ke energi terbarukan, seperti tenaga surya, angin, dan biomassa, menjadi inti transisi energi hijau; langkah ini ditujukan mengurangi emisi karbon dan menjaga kelestarian lingkungan. Praktiknya melibatkan kebijakan pemerintah, investasi teknologi bersih, serta perubahan pola konsumsi di sektor industri dan rumah tangga. Transisi energi hijau berarti mengalihkan pemakaian listrik […]

  • Subsidi tepat sasaran

    FAQ Lengkap: Bagaimana Subsidi Tepat Sasaran Membantu UMKM di 2024?

    • calendar_month Kamis, 15 Okt 2026
    • account_circle admin
    • 0Komentar

    Ringkasan Singkat: Kebijakan ini menyalurkan bantuan ke kelompok yang paling membutuhkan dengan mengandalkan data kependudukan dan kriteria ekonomi yang jelas, sehingga dana tidak terserap oleh penerima yang tidak layak. Pendekatan berbasis verifikasi ini biasanya melibatkan sistem informasi terintegrasi dan audit berkala untuk menjaga akurasi serta mencegah kebocoran dana. Subsidi tepat sasaran memberi bantuan finansial atau […]

  • Dr. Alim Setiawan Slamet, Rektor IPB yang Dilantik Jadi Wakil Menteri Pertanian

    Dr. Alim Setiawan Slamet, Rektor IPB yang Dilantik Jadi Wakil Menteri Pertanian

    • calendar_month Kamis, 15 Okt 2026
    • account_circle Redaksi
    • 0Komentar

    Dr. Alim Setiawan Slamet resmi dilantik sebagai Wakil Menteri Pertanian oleh Presiden pada Kamis (15/10/2026). Sebelum masuk ke jajaran pemerintahan, Presiden Prabowo Subianto resmi melantik Rektor IPB University Alim Setiawan Slamet sebagai Wakil Menteri Pertanian (Wamentan) dalam upacara yang berlangsung di Istana Negara, Jakarta pada Kamis. Pelantikan Alim sebagai Wamentan dilakukan berdasarkan Keputusan Presiden (Keppres) […]

  • Kopdes Merah Putih Siapkan Klinik Kesehatan, Peserta BPJS Bisa Berobat

    Kopdes Merah Putih Siapkan Klinik Kesehatan, Peserta BPJS Bisa Berobat

    • calendar_month Sabtu, 31 Okt 2026
    • account_circle Redaksi
    • 0Komentar

    JAKARTA – Koperasi Desa dan Kelurahan (Kopdes) Merah Putih berpeluang mengembangkan layanan kesehatan melalui klinik dan apotek. Fasilitas tersebut nantinya juga berpotensi melayani peserta BPJS Kesehatan. Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin mengatakan, rencana tersebut telah dibahas bersama pihak terkait. Selain menjalankan usaha logistik dan perdagangan, koperasi juga dapat mengembangkan unit bisnis di bidang kesehatan. Menurut […]

  • KPK Yakin Nusron Wahid Kooperatif jika Dipanggil sebagai Saksi Kasus HGB Summarecon

    KPK Yakin Nusron Wahid Kooperatif jika Dipanggil sebagai Saksi Kasus HGB Summarecon

    • calendar_month Kamis, 17 Sep 2026
    • account_circle Redaksi
    • 0Komentar

    JAKARTA – Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) meyakini Menteri Agraria dan Tata Ruang/Badan Pertanahan Nasional (ATR/BPN) Nusron Wahid akan bersikap kooperatif apabila nantinya dipanggil sebagai saksi dalam perkara dugaan suap pengurusan dan pembukaan blokir hak guna bangunan (HGB) lahan Summarecon di Kabupaten Bogor, Jawa Barat. Keyakinan tersebut disampaikan KPK setelah empat orang yang disebut sebagai orang […]

expand_less