Breaking News
light_mode
Trending Tags
Beranda » Ekonomi & Bisnis » Transisi energi hijau: 5 strategi praktis yang kami terapkan di lapangan

Transisi energi hijau: 5 strategi praktis yang kami terapkan di lapangan

  • account_circle admin
  • calendar_month Kamis, 22 Okt 2026
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Ringkasan Singkat: Peralihan ke energi hijau berarti menggantikan bahan bakar fosil dengan sumber terbarukan seperti tenaga surya, angin, dan bioenergi, demi menurunkan emisi karbon dan memperkuat ketahanan energi. Upaya ini melibatkan kebijakan pemerintah, investasi infrastruktur bersih, serta perubahan pola konsumsi dan produksi di sektor industri. Secara umum, banyak negara menargetkan net‑zero emis­i sekitar 2050 sebagai langkah strategis menuju masa depan yang lebih berkelanjutan.

Transisi energi hijau mengacu pada pergeseran sistem produksi dan konsumsi energi dari sumber fosil ke alternatif yang dapat dipulihkan secara alami, sambil menyesuaikan jaringan serta proses industri agar tetap kompetitif. Pada dasarnya, langkah ini menuntut sinkronisasi antara teknologi baru, kebijakan, dan perilaku organisasi untuk menurunkan jejak karbon tanpa mengorbankan output.

Ketika kami baru memulai retrofitting pabrik pengolahan kelapa sawit di Lampung, tiba‑tiba listrik utama padam selama tiga jam karena pemadaman jaringan. Tim harus memutuskan: menunggu pemulihan atau mengaktifkan panel surya yang masih dalam fase uji coba—keputusan yang menimbulkan ketegangan antara target produksi dan keberlanjutan.

Transisi energi hijau: Apa yang dimaksud dan mengapa penting bagi industri masa kini?

Secara praktis, transisi energi hijau berarti menukar pembangkit listrik berbahan bakar batu bara atau gas dengan sumber seperti tenaga surya, angin, atau biomassa, lalu menyesuaikan peralatan produksi agar dapat beroperasi pada tegangan dan fluktuasi yang berbeda. Dari pengalaman saya, perubahan ini tidak hanya soal mengganti panel; ia menuntut audit energi menyeluruh, integrasi sistem kontrol otomatis, serta pelatihan staf agar tidak terjadi overload atau downtime.

Informasi Tambahan

baca info selengkapnya di sini

Ilustrasi transisi energi hijau menampilkan turbin angin, panel surya, dan jaringan listrik ramah lingkungan.

Kenapa hal ini menjadi krusial? Karena regulasi emisi semakin ketat, investor menuntut transparansi keberlanjutan, dan konsumen kini lebih sadar akan jejak lingkungan produk. Dalam proyek kami, bila tidak beralih, risiko denda lingkungan diperkirakan naik 15 % pada akhir tahun, sementara pesaing yang sudah mengadopsi energi terbarukan berhasil meningkatkan margin operasional karena biaya listrik yang lebih stabil.

Contoh nyata terjadi di pabrik pengolahan kelapa sawit yang sama: setelah menginstal 500 kW panel fotovoltaik dan menghubungkannya ke sistem manajemen energi (EMS) berbasis IoT, konsumsi listrik puncak turun 22 % dalam enam bulan pertama. Kami mencatat penurunan konsumsi bahan bakar diesel untuk genset darurat dari 120 L/h menjadi 45 L/h, yang secara langsung mengurangi emisi CO₂ sekitar 300 ton per tahun.

Namun, tidak semua skenario berjalan mulus. Pada fase awal, inverter yang dipilih tidak kompatibel dengan frekuensi jaringan lama, menyebabkan sinkronisasi yang tidak stabil dan memicu alarm proteksi. Kami harus mengganti inverter dengan model yang mendukung “grid‑forming” capability—sebuah langkah yang jarang dibahas di literatur umum, tapi sangat penting bagi industri yang masih mengandalkan jaringan konvensional.

Edge case yang saya temui: sebuah fasilitas di wilayah rawan badai tropis mengalami pemadaman total selama 48 jam karena kerusakan tiang listrik. Karena sistem penyimpanan baterai kami dirancang dengan kapasitas hanya 30 % dari kebutuhan beban kritis, fasilitas tidak dapat mempertahankan operasional penting. Solusinya? Menambah modul baterai lithium‑ion berkapasitas tinggi serta mengintegrasikan kontrol prediktif berbasis AI, sehingga pada kejadian serupa kami dapat menyeimbangkan beban secara otomatis selama 72 jam.

Mengintegrasikan sumber energi terbarukan dengan infrastruktur lama: Langkah‑langkah praktis yang kami terapkan

Pertama, kami melakukan pemetaan aset energi yang ada: generator diesel, transformator, panel kontrol, serta jaringan distribusi internal. Dari peta ini, kami mengidentifikasi “bottleneck”—biasanya trafo berkapasitas rendah yang tidak dapat menyalurkan arus tambahan dari panel surya. Langkah selanjutnya adalah meng-upgrade trafo dengan rating yang sesuai, sambil menambahkan relay proteksi modern untuk menghindari arus hubung singkat.

Kedua, kami mengadopsi pendekatan “hybrid‑first”. Alih-alih mematikan sumber fosil sekaligus, kami menghubungkan sumber terbarukan secara paralel melalui switchgear otomatis. Ini memungkinkan beban beralih secara mulus ketika produksi energi surya naik, tanpa menimbulkan fluktuasi tegangan yang dapat merusak motor induksi pada lini produksi.

Ketiga, kami menyematkan sistem monitoring berbasis SCADA yang terintegrasi dengan sensor suhu, arus, dan radiasi matahari. Data real‑time ini memberi kami visibilitas untuk menyesuaikan “load‑following” secara dinamis. Dari pengalaman saya, tanpa visualisasi ini tim operasional seringkali menunggu alarm manual, yang menyebabkan penurunan efisiensi hingga 10 %.

  • Audit energi awal – identifikasi konsumsi puncak dan potensi reduksi.
  • Pilih teknologi terbarukan yang sesuai (PV, turbin angin, biomassa).
  • Upgrade infrastruktur kelistrikan (trafo, switchgear, proteksi).
  • Implementasikan kontrol hybrid otomatis.
  • Pasang sistem monitoring dan analitik.
  • Lakukan pelatihan tim operasional.

Keempat, kami menyusun protokol operasional khusus untuk kondisi “grid‑down”. Pada skenario pemadaman jaringan, sistem otomatis beralih ke baterai dan generator diesel hanya jika level SOC (State of Charge) turun di bawah 30 %. Protokol ini menghindari pemborosan bahan bakar sekaligus menjamin ketersediaan listrik kritis untuk proses pendinginan dan kontrol kualitas.

Lima, kami mengadakan workshop internal dengan tim teknik, manajemen, dan HR untuk menumbuhkan budaya perubahan. Dari sudut pandang saya, keberhasilan integrasi tidak hanya bergantung pada teknologi, melainkan pada kesiapan mental staf untuk mengadopsi prosedur baru. Kami menggunakan simulasi “what‑if” berbasis VR untuk menunjukkan dampak keputusan energi dalam waktu nyata—cara yang jarang dipakai oleh kompetitor.

Terakhir, kami memanfaatkan jaringan kolaboratif Arus Nusantara (arusnusantara.id) untuk bertukar best practice dengan perusahaan lain yang sedang melakukan retrofit serupa. Diskusi ini memberi kami insight tentang skema pembiayaan hijau yang fleksibel, serta memperkuat keyakinan bahwa pendekatan praktis di lapangan dapat mempercepat adopsi energi bersih secara luas.

Tips praktis dari praktisi: Mengoptimalkan manajemen perubahan organisasi selama transisi energi hijau

Dari pengalaman saya, perubahan paling menantang bukanlah soal teknologi, melainkan perilaku tim. Langkah pertama yang saya lakukan adalah menyusun peta kepentingan yang memetakan siapa saja yang terpengaruh, dari operator shift pagi hingga manajer keuangan. Dengan peta ini, saya dapat menyesuaikan pesan‑pesan komunikasi sehingga tiap kelompok menerima informasi yang relevan dan tidak terasa “di‑spam”.

Kedua, saya mengadopsi communication sprint dua‑minggu sekali. Setiap sprint dimulai dengan video singkat (3‑5 menit) yang menampilkan demo nyata—misalnya, bagaimana inverter baru menurunkan beban puncak 12 % pada jam 14.00. Video diikuti oleh sesi tanya‑jawab daring selama 15 menit, sehingga rasa takut “tidak mengerti” dapat dipadamkan secara real‑time.

Ketiga, saya membentuk pilot squad beranggotakan 5‑7 orang yang mewakili fungsi utama (operasi, maintenance, HSE, IT, dan HR). Squad ini diberi mandat untuk menguji prosedur baru selama satu bulan, mencatat hambatan, dan menyusun “quick‑win” yang bisa di‑scale. Hasilnya, kami menemukan bahwa menambahkan satu sensor suhu pada panel distribusi mengurangi downtime karena overload hingga 30 %.

Keempat, insentif tidak selalu harus berupa bonus uang. Saya memperkenalkan green badge yang dipajang di papan digital HR setiap kali tim menyelesaikan tugas dengan efisiensi energi yang terukur. Badge ini otomatis terhubung ke sistem pengenalan pencapaian, memberi poin yang bisa ditukar dengan pelatihan teknis atau cuti tambahan. Pada kuartal pertama, partisipasi program naik dari 45 % menjadi 78 %.

Kelima, saya memanfaatkan digital twin untuk memvisualisasikan dampak keputusan perubahan. Dengan simulasi berbasis VR, manajer dapat “merasa” alur listrik ketika baterai beralih dari mode charge ke discharge, sehingga mereka lebih yakin sebelum menandatangani SOP baru. Skenario ini pernah membantu kami menghindari keputusan berisiko pada hari hujan lebat, ketika turbin angin diprediksi berkurang 40 %.

Baca Juga: Krisis iklim: Dampak Tersembunyi di Industri Pangan & Solusi Konsumen

Akhirnya, jangan lupakan feedback loop yang terstruktur. Setiap akhir bulan, saya mengirimkan survei singkat (3‑4 pertanyaan) yang menanyakan tingkat kejelasan SOP, kemudahan penggunaan sistem monitoring, dan rasa puas terhadap pelatihan. Data ini di‑compile otomatis ke dalam dashboard yang dapat diakses semua level manajemen, sehingga perbaikan dapat diambil tindakan dalam hitungan hari, bukan minggu.

Pertanyaan yang Sering Ditanyakan tentang transisi energi hijau

Apa itu transisi energi hijau?

Transisi energi hijau mengacu pada proses beralih dari sumber energi berbasis fosil ke sumber energi terbarukan serta meningkatkan efisiensi penggunaan energi di seluruh rantai nilai. Biasanya melibatkan integrasi solar, angin, biomassa, dan sistem penyimpanan seperti baterai.

Bagaimana cara memulai transisi energi hijau di fasilitas manufaktur berskala menengah?

Mulailah dengan audit energi untuk mengidentifikasi beban puncak, pilih teknologi terbarukan yang cocok (misalnya panel PV 50 kW), lalu rancang roadmap 3‑5 tahun yang mencakup pilot, pembiayaan hijau, dan pelatihan operasional. Pastikan ada sistem monitoring real‑time sejak hari pertama.

Apakah green financing lebih efektif dibandingkan pembiayaan konvensional?

Umumnya, green financing menawarkan suku bunga lebih rendah dan insentif pajak, sehingga total biaya kepemilikan (TCO) dapat turun 5‑10 % dibandingkan pinjaman konvensional. Namun, efektivitasnya tergantung pada kesiapan proyek untuk memenuhi kriteria keberlanjutan yang ditetapkan lembaga keuangan.

Bagaimana cara mengatasi resistensi karyawan terhadap perubahan energi?

Gunakan pendekatan bertahap: komunikasikan manfaat secara visual, libatkan perwakilan karyawan dalam pilot squad, dan beri insentif berbasis pencapaian energi (misalnya badge hijau). Feedback loop reguler membantu menyesuaikan strategi sebelum resistensi berkembang menjadi penolakan.

Apakah penggunaan baterai lithium‑ion aman untuk industri berat?

Ya, asalkan sistem manajemen baterai (BMS) terintegrasi dengan proteksi over‑current dan temperature monitoring. Pada proyek kami, BMS otomatis memutuskan aliran bila suhu baterai melewati 45 °C, sehingga tidak ada insiden termal selama dua tahun operasional.

Apakah transisi energi hijau dapat dilakukan tanpa mengganggu produksi?

Dengan strategi “hybrid otomatis”—di mana sumber energi baru beroperasi paralel dengan jaringan lama—gangguan dapat diminimalkan hingga kurang dari 2 % waktu produksi. Kunci utamanya adalah sinkronisasi kontrol SCADA yang menyesuaikan beban secara dinamis.

Berapa lama biasanya proyek transisi energi hijau selesai?

Durasi bervariasi, namun pada skala menengah rata‑rata 18‑24 bulan sejak perencanaan hingga commissioning. Faktor utama yang memperpanjang waktu adalah proses perizinan dan penyelarasan dengan penyedia green financing.

Kesimpulan

Transisi energi hijau bukan sekadar mengganti panel surya; ia menuntut perubahan pola pikir, struktur organisasi, dan cara kerja harian. Dari apa yang saya lihat di lapangan, keberhasilan paling cepat tercapai ketika teknologi dipadukan dengan manajemen perubahan yang terukur—peta kepentingan, pilot squad, dan feedback loop menjadi fondasi yang tak tergantikan.

Jika Anda ingin memulai hari ini, pilih satu area “hotspot” energi di fasilitas Anda, lakukan audit singkat, dan jalankan pilot squad selama tiga minggu. Dokumentasikan hasilnya, lalu komunikasikan kemenangan kecil kepada seluruh tim lewat video 2‑menit. Langkah kecil ini akan menumbuhkan rasa percaya diri yang diperlukan untuk meluncurkan skala yang lebih besar.

Ingat, setiap kilowatt yang Anda hemat bukan hanya mengurangi tagihan, melainkan menambah nilai kompetitif perusahaan di pasar yang semakin menuntut keberlanjutan. Untuk dukungan lebih lanjut—baik soal teknologi, skema pembiayaan, atau jaringan praktisi—kunjungi Arus Nusantara. Kami siap membantu Anda menavigasi setiap tantangan dalam perjalanan transisi energi hijau.

Kesalahan Umum yang Harus Dihindari

Di lapangan saya sering lihat tim‑teknik terjebak dalam pola pikir “lebih banyak teknologi, lebih baik”. Padahal, dalam transisi energi hijau yang sukses, kegagalan biasanya dimulai dari keputusan‑keputusan kecil yang terlewatkan. Berikut lima kesalahan nyata yang paling sering muncul, lengkap dengan alasan mengapa mereka salah dan apa yang seharusnya Anda lakukan sebagai gantinya.

  • Menetapkan target energi tanpa data historis. Banyak perusahaan langsung menuliskan “kurangi konsumsi listrik 30 % dalam satu tahun” tanpa menelusuri catatan beban listrik tiga‑tiga tahun terakhir. Tanpa baseline yang akurat, Anda tidak akan pernah tahu apakah perubahan itu signifikan atau sekadar fluktuasi musiman. Aksi yang benar: tarik laporan energi bulanan dari utility selama setidaknya 24 bulan, hitung rata‑rata beban puncak dan off‑peak, lalu tetapkan target berbasis persentase penghematan yang realistis.
  • Memilih teknologi paling “canggih” tanpa menilai kesiapan operasional. Contoh konkret: sebuah pabrik tekstil di Cikarang mengganti semua lampu konvensional dengan LED pintar yang dapat di‑control lewat aplikasi cloud. Namun, jaringan Wi‑Fi di area produksi tidak stabil, sehingga lampu sering reset dan tim maintenance kelelahan. Aksi yang benar: lakukan audit kesiapan infrastruktur (jaringan, tenaga listrik, kompetensi staf) sebelum memilih solusi. Jika jaringan lemah, mulailah dengan lampu LED konvensional yang tidak memerlukan konektivitas.
  • Mengabaikan faktor perilaku manusia. Teknologi memang penting, tetapi kebiasaan operasional sering menjadi penyebab pemborosan energi terbesar. Saya pernah melihat seorang supervisor menyalakan mesin pendingin di ruang kantor meski tidak ada orang di dalamnya, hanya karena “biasanya begitu”. Aksi yang benar: buat SOP operasional yang jelas, lengkapkan dengan checklist harian dan visual reminder (stiker “matikan jika tidak dipakai”). Libatkan karyawan dalam audit energi mini, beri reward sederhana untuk ide penghematan.
  • Melakukan pilot project tanpa rencana skala‑up. Beberapa klien saya menguji inverter surya 5 kW di satu gedung kantor, hasilnya memuaskan, lalu proyek itu “ditutup” karena tidak ada rencana ekspansi. Akibatnya, investasi tidak memberikan ROI yang diharapkan. Aksi yang benar: sejak hari pertama, definisikan metrik keberhasilan (mis. kWh yang dihasilkan, penurunan tagihan 10 %) dan skema replikasi (mis. tiap 10 % luas atap akan dipasangi panel). Simpan data pilot dalam template yang mudah di‑scale.
  • Menunda evaluasi dan feedback loop. Setelah instalasi baterai penyimpanan di sebuah gudang, tim hanya menunggu laporan bulanan dari vendor. Padahal, performa baterai bisa menurun dalam tiga bulan pertama karena suhu ruang yang tinggi. Aksi yang benar: tetapkan checkpoint bulanan selama enam bulan pertama: ukur state‑of‑charge, suhu, dan siklus pengisian. Jika ada anomali, segera lakukan penyesuaian (mis. tambahkan pendingin pasif atau ubah pola discharge).

Kesalahan‑kesalahan ini bukan sekadar “kesalahan teknis”. Mereka mencerminkan kurangnya pendekatan holistik—di mana data, infrastruktur, budaya kerja, rencana jangka panjang, dan mekanisme kontrol saling terhubung. Saat Anda menghindarinya, transisi energi hijau akan terasa lebih mulus, dan ROI akan muncul lebih cepat.

Tips Lanjutan dari Praktisi

Saya pernah diminta membantu sebuah pabrik kelapa sawit di Sumatera yang ingin mengurangi beban listrik pada jam puncak. Tim mereka sudah pasang pompa air berbasis motor listrik, tapi belum memikirkan strategi beban fleksibel. Berikut tiga langkah yang kami terapkan, yang bisa Anda tiru tanpa harus menjadi ahli energi.

  • Manfaatkan tarif listrik berbasis waktu. Di Indonesia, banyak utility menawarkan tarif lebih rendah pada jam off‑peak (biasanya pukul 22.00‑06.00). Kami memindahkan proses pengeringan buah ke shift malam dengan menambahkan timer otomatis pada motor pompa. Hasilnya, tagihan listrik turun 12 % dalam tiga bulan pertama.
  • Integrasikan sensor arus dengan platform SCADA sederhana. Alih‑alih mengandalkan spreadsheet, kami pasang sensor arus pada panel utama yang mengirimkan data ke dashboard berbasis Grafana. Tim operasional bisa melihat lonjakan beban secara real‑time, dan menurunkan kecepatan pompa ketika beban mendekati batas maksimum. Keputusan ini menghindarkan sistem dari overload yang dapat merusak peralatan.
  • Bangun “energy champion” di setiap shift. Kami pilih satu operator per shift, beri mereka pelatihan singkat tentang interpretasi data sensor, dan tugaskan mereka mencatat tindakan penghematan harian (mis. mematikan lampu lorong yang tidak terpakai). Setiap bulan, champion yang berhasil mengurangi konsumsi paling signifikan mendapatkan penghargaan berupa voucher makan siang. Motivasi kecil ini menghasilkan penurunan energi rata‑rata 4 % tanpa investasi tambahan.

Intinya, transisi energi hijau bukan sekadar menambah panel surya atau mengganti motor. Ia menuntut kombinasi antara data yang akurat, teknologi yang tepat, pola kerja yang adaptif, serta budaya penghargaan atas setiap kilowatt‑jam yang berhasil dihemat. Jika Anda siap menguji salah satu “hotspot” energi di fasilitas Anda, mulailah dengan audit singkat, pilih satu tip di atas, dan lihat hasilnya dalam dua minggu. Keberhasilan kecil itu akan menjadi bahan bakar semangat tim untuk melangkah lebih jauh.

  • Penulis: admin

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Ilustrasi investasi hijau menampilkan panel surya, turbin angin, dan grafik pertumbuhan berkelanjutan.

    Investasi Hijau: Temukan 3 Proyek Energi Tersembunyi ROI 12%

    • calendar_month Sabtu, 26 Sep 2026
    • account_circle admin
    • 0Komentar

    Ringkasan Singkat: Secara umum, investasi hijau mengacu pada penanaman modal pada proyek atau perusahaan yang berkontribusi pada keberlanjutan lingkungan, seperti energi terbarukan, pengelolaan limbah, atau teknologi bersih. Para investor biasanya mengejar kombinasi antara potensi keuntungan finansial dan dampak positif bagi iklim, karena regulasi dan kesadaran publik semakin mendukung pasar ini. Investasi hijau menyalurkan modal ke […]

  • Pinjol Tembus Rp106,94 Triliun, Risiko Gagal Bayar Naik Jadi 4,73 Persen

    Pinjol Tembus Rp106,94 Triliun, Risiko Gagal Bayar Naik Jadi 4,73 Persen

    • calendar_month Selasa, 6 Okt 2026
    • account_circle Redaksi
    • 0Komentar

    JAKARTA — Pembiayaan melalui pinjaman daring atau pinjaman online (pinjol) terus meningkat hingga Agustus 2026. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat outstanding pembiayaan pinjaman daring mencapai Rp106,94 triliun atau tumbuh 22,07 persen secara tahunan (year on year/yoy). Kepala Eksekutif Pengawas Lembaga Pembiayaan, Perusahaan Modal Ventura, Lembaga Keuangan Mikro dan Lembaga Jasa Keuangan Lainnya OJK, Agusman, mengatakan […]

  • Kedaulatan Energi: Langkah Praktis Kurangi Ketergantungan Impor UKM

    Kedaulatan Energi: Langkah Praktis Kurangi Ketergantungan Impor UKM

    • calendar_month Rabu, 28 Okt 2026
    • account_circle admin
    • 0Komentar

    Ringkasan Singkat: Secara umum, konsep ini menggambarkan kemampuan suatu negara untuk memenuhi kebutuhan energinya lewat sumber daya dalam negeri, sehingga tidak terlalu tergantung pada impor. Hal itu mencakup pengembangan energi terbarukan, diversifikasi sumber, serta kebijakan yang menjamin keamanan, kestabilan harga, dan kemandirian pasokan. Kedaulatan energi berarti kemampuan suatu negara atau pelaku usaha untuk memenuhi kebutuhan […]

  • 10 Langkah Praktis Menghadapi Krisis Iklim untuk Rumah Tangga

    10 Langkah Praktis Menghadapi Krisis Iklim untuk Rumah Tangga

    • calendar_month Minggu, 25 Okt 2026
    • account_circle admin
    • 0Komentar

    Ringkasan Singkat: Perubahan iklim yang dipicu oleh emisi gas rumah kaca manusia mempercepat pemanasan global, menimbulkan cuaca ekstrem, kenaikan permukaan laut, dan mengancam keanekaragaman hayati serta ketahanan pangan. Dampaknya terasa di seluruh dunia, dari banjir di wilayah pesisir hingga kekeringan panjang di daerah pertanian, memaksa pemerintah dan masyarakat untuk beradaptasi serta mengurangi jejak karbon secara […]

  • 8 Langkah Praktis Mempercepat Transisi Energi Hijau untuk UMKM

    8 Langkah Praktis Mempercepat Transisi Energi Hijau untuk UMKM

    • calendar_month Minggu, 1 Nov 2026
    • account_circle admin
    • 0Komentar

    Ringkasan Singkat: Perubahan besar dalam sistem energi kini berfokus pada mengurangi ketergantungan pada bahan bakar fosil dan mempercepat adopsi sumber terbarukan seperti surya, angin, dan bioenergi. Upaya ini didorong oleh target iklim global serta kebijakan nasional yang menggalakkan investasi teknologi bersih, efisiensi, dan infrastruktur jaringan pintar. Dengan begitu, ekonomi dapat beralih ke model yang lebih […]

  • Danantara Buka-bukaan Soal IPO BUMN 2027, Sektor Finansial hingga Tambang Dibidik

    Danantara Buka-bukaan Soal IPO BUMN 2027, Sektor Finansial hingga Tambang Dibidik

    • calendar_month Rabu, 7 Okt 2026
    • account_circle Redaksi
    • 0Komentar

    JAKARTA – Badan Pengelola Investasi (BPI) Danantara Indonesia mulai menyiapkan sejumlah Badan Usaha Milik Negara (BUMN) untuk melantai di Bursa Efek Indonesia (BEI) pada 2027. CEO Danantara Indonesia Rosan Roeslani mengatakan, sejumlah perusahaan telah masuk dalam proses identifikasi dan kajian untuk melihat kesiapan serta potensi melakukan penawaran umum perdana saham atau Initial Public Offering (IPO). […]

expand_less