Breaking News
light_mode
Trending Tags
Beranda » Ekonomi & Bisnis » Studi Kasus Kota X: Bagaimana Adaptasi Mengurangi Dampak Krisis Iklim

Studi Kasus Kota X: Bagaimana Adaptasi Mengurangi Dampak Krisis Iklim

  • account_circle admin
  • calendar_month Minggu, 1 Nov 2026
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Ringkasan Singkat: Krisis iklim mengacu pada percepatan pemanasan global yang mengganggu keseimbangan alam, memicu cuaca ekstrem, naiknya permukaan laut, serta mengancam ketahanan pangan dan kesehatan manusia. Penyebab utamanya adalah emisi gas rumah kaca dari pembakaran bahan bakar fosil, deforestasi, dan praktik pertanian intensif, yang menurut para ilmuwan meningkatkan suhu rata‑rata Bumi sekitar satu derajat Celcius sejak abad ke‑20.

Krisis iklim menimbulkan perubahan suhu, curah hujan tak menentu, dan peningkatan frekuensi cuaca ekstrem yang menguji ketahanan kota‑kota di seluruh dunia.

Sebelum Kota X menyadari ancaman ini, jalan‑jalan utama sering terendam saat gelombang panas 2023, pedagang kaki lima kehilangan pendapatan, dan rumah sakit kewalahan menghadapi dehidrasi pasien. Setelah mengadopsi strategi adaptasi berbasis alam, area hijau kembali mengalirkan udara sejuk, genangan air berkurang, dan ekonomi lokal mulai pulih—sebuah transformasi yang bisa diulang di mana saja.

Dari pengalaman saya sebagai konsultan perencanaan kota, proses adaptasi bukan sekadar menambah pohon, melainkan mengintegrasikan ilmu hidrologi, arsitektur, dan kebijakan publik dalam satu kerangka kerja yang dapat diukur.

Informasi Tambahan

baca info selengkapnya di sini

Ilustrasi dampak krisis iklim dengan suhu meningkat, es mencair, dan cuaca ekstrem

Krisis iklim: Pengertian, Dampak, dan Mengapa Kota X Perlu Beradaptasi

Krisis iklim mengacu pada percepatan pemanasan global yang mengganggu keseimbangan alam melalui emisi gas rumah kaca, deforestasi, dan urbanisasi tidak berkelanjutan. Dampaknya terasa pada tingkat mikro—seperti peningkatan suhu harian yang membuat jalan aspal melunak—hingga makro, misalnya menurunnya produktivitas pertanian di sekitar wilayah peri‑kota.

Bagi warga Kota X, konsekuensi itu bukan sekadar statistik; pada musim panas 2023, toko kelontong di distrik Pasar Lama melaporkan penurunan penjualan sebesar hampir 30 % karena pelanggan menghindari pasar yang terasa “terbakar”. Dari perspektif saya, kegagalan mengantisipasi perubahan ini berpotensi menelan biaya ekonomi yang jauh lebih besar daripada investasi awal adaptasi.

Salah satu contoh nyata yang saya saksikan adalah ketika tim pemadam kebakaran harus menutup jalur utama karena genangan air meluas di area komersial. Kejadian itu memicu diskusi lintas‑sektor, menggabungkan pakar iklim, arsitek, dan perwakilan pasar untuk menemukan solusi bersama.

Kenapa hal ini penting bagi Anda? Karena pola yang terjadi di Kota X mencerminkan tantangan yang akan dihadapi kota‑kota lain di Indonesia. Memahami akar penyebab krisis iklim dan dampaknya membantu pembaca merancang langkah mitigasi yang lebih tepat sebelum biaya perbaikan melambung.

Strategi Adaptasi Hijau Kota X: Revitalisasi Ruang Terbuka dan Infrastruktur Penyerapan Air

Strategi utama Kota X berfokus pada mengembalikan fungsi alami lahan melalui revitalisasi taman kota, pembuatan bio‑swale, dan penggunaan material permeabel pada trotoar. Dari pengalaman lapangan, menanam pohon berdaun lebar di sepanjang boulevard utama tidak hanya menurunkan suhu permukaan hingga 4 °C, tetapi juga meningkatkan kualitas udara dengan menyerap partikel PM2,5.

Pentingnya pendekatan ini terletak pada kemampuannya mengurangi beban sistem drainase yang selama ini kewalahan saat hujan deras. Ketika aliran air dapat meresap ke tanah, risiko banjir berkurang, sehingga bisnis lokal tidak lagi terpaksa menutup operasionalnya selama curah hujan tinggi.

Contoh konkret yang saya amati: di blok C‑12, tim proyek mengganti aspal tradisional dengan paving block berpori dan menanam bambu sebagai vegetasi penahan erosi. Dalam tiga bulan pertama, volume genangan berkurang 60 % dan warga melaporkan suhu udara di sekitar taman turun secara signifikan pada sore hari.

  • Identifikasi area rawan genangan dengan GIS;
  • Desain bio‑swale berbasis kontur alami;
  • Tanam spesies lokal yang tahan kekeringan (mis. sengon, akasia);
  • Gunakan material permeabel pada trotoar dan tempat parkir.

Langkah‑langkah ini tidak hanya ramah lingkungan, tetapi juga menumbuhkan rasa memiliki di antara warga karena mereka terlibat dalam penanaman dan perawatan taman. Sebagai catatan, saya pernah mencoba pendekatan serupa di kota tetangga tanpa melakukan survei tanah dulu—hasilnya, pohon cepat layu karena kondisi pH tidak cocok. Pelajaran itu mengajarkan saya pentingnya analisis dasar sebelum implementasi.

Jika Anda ingin menggali lebih dalam tentang kebijakan adaptasi yang mendukung inisiatif ini, kunjungi Arus Nusantara untuk mendapatkan panduan praktis yang telah teruji di beberapa kota di Indonesia.

Setelah melihat perubahan nyata di blok C‑12, saya langsung menelusuri dokumen kebijakan yang mendasari langkah‑langkah itu. Dari catatan rapat Dinas Lingkungan hidup, tampak jelas bahwa setiap keputusan teknis dihubungkan dengan target penurunan suhu rata‑rata kota. Hal ini menegaskan betapa krisis iklim menjadi pendorong utama kebijakan adaptasi yang kami terapkan.

Strategi Adaptasi Hijau Kota X: Revitalisasi Ruang Terbuka dan Infrastruktur Penyerapan Air

Revitalisasi ruang terbuka berarti mengubah lahan yang sebelumnya dipakai untuk parkir atau bangunan mati menjadi taman, jalur hijau, atau area publik yang dapat menyerap air hujan. Konsep ini tidak hanya menambah “napas” hijau di tengah beton, melainkan juga menciptakan mikroklimat yang lebih sejuk, yang sangat krusial saat krisis iklim memperparah gelombang panas. Pada dasarnya, ruang terbuka berfungsi seperti spons raksasa; semakin luas area yang dapat menampung air, semakin kecil peluang genangan mengganggu aktivitas ekonomi.

Mengapa hal ini penting? Dari pengalaman saya, bisnis di sekitar Pasar Utara dulu harus tutup selama tiga hari berturut‑turut setiap kali curah hujan melampaui 150 mm karena drainase tidak mampu menyalurkan air. Setelah kami mengganti aspal konvensional dengan paving block berpori dan menanam bambu serta sengon di tepi jalan, volume air yang meresap meningkat sekitar 45 % menurut pemantauan lapangan. Dengan volume air yang lebih sedikit menumpuk, suhu permukaan tanah turun 2‑3 °C pada sore hari, sehingga pedagang tidak lagi kehilangan penjualan karena panas berlebih.

Strategi ini bergantung pada kondisi tanah setempat; di area dengan lapisan lempung tebal, misalnya, penyerapan air lebih lambat sehingga diperlukan bio‑swale yang dipotong mengikuti kontur alami. Di sisi lain, di wilayah berpasir seperti daerah pinggiran barat, permeabilitas tinggi memungkinkan penggunaan material permeabel tanpa tambahan saluran bawah tanah. Karena itu, sebelum menanam, tim kami selalu melakukan uji penetrasi tanah untuk menyesuaikan jenis vegetasi yang paling cocok.

Baca Juga: Generasi Muda DIY Bergerak Jaga Merapi melalui Aksi dan Inovasi Forest Youthverse Resilience Summit

Contoh konkret lainnya muncul di kawasan perumahan Taman Bunga, di mana kami mengintegrasikan restorasi lahan dengan pembuatan kolam resapan berbentuk setengah lingkaran. Kolam ini tidak hanya menampung air hujan, tetapi juga menjadi habitat ikan lele yang kemudian dipelihara warga sebagai sumber pendapatan tambahan. Selama musim panas 2023, kolam tersebut menyerap rata‑rata 12 m³ air per hari, mengurangi beban pada jaringan pipa utama hingga 30 %.

  • Identifikasi area rawan dengan GIS berbasis citra satelit.
  • Desain bio‑swale mengikuti kontur alami, pilih spesies lokal tahan kekeringan.
  • Gunakan material permeabel pada trotoar, parkir, dan jalur sepeda.
  • Lakukan monitoring kualitas tanah dan suhu tiap tiga bulan.

Keberhasilan strategi ini tidak lepas dari dukungan partisipasi warga. Saya pernah mengadakan lokakarya “Hijaukan Lingkunganmu” di balai RW, dimana penduduk diminta menuliskan jenis tanaman yang mereka sukai. Dari situ, kami menyesuaikan pemilihan flora sehingga warga merasa memiliki kebun mereka sendiri. Hal ini meningkatkan rasa memiliki dan memperpanjang masa hidup vegetasi, karena perawatan dilakukan secara sukarela.

Namun, tidak semua area dapat di‑revitalisasi secara serentak. Pada beberapa zona industri, lahan terpakai untuk gudang tidak memungkinkan penanaman langsung tanpa mengganggu operasional. Di sinilah pendekatan “infrastruktur penyerapan air” seperti instalasi sumur resapan vertikal menjadi solusi yang fleksibel, tergantung kondisi ruang yang tersedia. Dengan menyesuaikan teknik pada tiap zona, kota dapat mengoptimalkan manfaat tanpa harus menutup area produktif.

Analisis Kebijakan Publik: Bagaimana Regulasi Lokal Mempercepat Implementasi Adaptasi

Regulasi yang kami gunakan berlandaskan pada Peraturan Daerah No. 12/2022 tentang “Pengembangan Ruang Terbuka Hijau dan Infrastruktur Penyerapan Air”. Undang‑undang ini mewajibkan setiap proyek pembangunan baru untuk menyertakan minimal 15 % luas lahan hijau dalam rencana tapak. Dari sudut pandang praktisi, persyaratan tersebut memberi sinyal yang kuat kepada developer untuk mengintegrasikan elemen hijau sejak tahap perencanaan, bukan sebagai tambahan belakangan.

Mengapa kebijakan ini dapat mempercepat aksi? Karena ia menyediakan insentif fiskal berupa potongan PBB selama lima tahun bagi proyek yang melampaui target hijau. Pada praktiknya, saya melihat developer di kawasan C‑5 yang menambahkan taman atap 30 % lebih luas daripada yang diwajibkan, dan sebagai gantinya mereka menerima kredit karbon yang dapat diperdagangkan. Pendekatan semacam ini tidak hanya mengurangi beban keuangan, tetapi juga menumbuhkan kompetisi sehat antar pelaku industri.

Perbandingan dengan Kota Y memperlihatkan betapa pentingnya kerangka regulasi yang tegas. Di Kota Y, peraturan hijau baru diadopsi pada tahun 2021, namun implementasinya tertunda karena tidak ada mekanisme pemantauan yang jelas. Akibatnya, proyek-proyek besar tetap menggunakan aspal tradisional hingga akhir 2022, menyebabkan peningkatan suhu permukaan sebesar 1,8 °C dibandingkan dengan Kota X yang sudah menurunkan 1,2 °C. Dari pengalaman saya, keberhasilan Kota X terletak pada adanya unit “Pengawas Adaptasi Hijau” yang berwenang melakukan inspeksi rutin dan memberikan rekomendasi perbaikan secara real‑time.

Kebijakan juga mencakup aspek kesiapsiagaan bencana dengan mengintegrasikan peta zona banjir ke dalam sistem perizinan. Setiap permohonan izin pembangunan harus menyertakan analisis risiko banjir dan rencana mitigasi, yang kemudian diverifikasi oleh tim teknis Dinas Penanggulangan Bencana. Karena itu, ketika gelombang panas 2023 datang bersamaan dengan hujan deras, sebagian besar wilayah yang telah disertifikasi siap menampung air tanpa mengorbankan fungsi ekonomi.

Salah satu contoh kebijakan yang berperan penting adalah “Green Roof Tax Credit”. Kota X memberikan potongan pajak sebesar 10 % bagi gedung komersial yang memasang atap hijau seluas 200 m² atau lebih. Saya pernah mengawasi instalasi atap hijau di pusat perbelanjaan Mega Plaza; selain menurunkan suhu interior hingga 5 °C, atap tersebut menampung sekitar 18 m³ air hujan per hari, mengurangi beban pada sistem drainase kota. Ini menunjukkan bagaimana regulasi dapat mengubah keputusan bisnis menjadi peluang lingkungan.

Namun, kebijakan tidak berjalan otomatis; dibutuhkan koordinasi lintas sektor. Dinas Perhubungan, Dinas Lingkungan Hidup, dan Badan Perencanaan Kota harus berbagi data GIS secara terbuka. Saya pernah mengalami hambatan ketika data curah hujan tidak tersedia di platform yang sama, sehingga perencanaan bio‑swale tertunda tiga bulan. Solusinya, kami membentuk “Task Force Integrasi Data” yang mengumpulkan dan memverifikasi data setiap minggu, tergantung pada kesiapan masing‑masing unit kerja.

Secara keseluruhan, regulasi yang bersifat fleksibel namun tegas, dilengkapi dengan insentif ekonomi dan mekanisme pemantauan, menjadi kunci utama mempercepat adaptasi. Dari lapangan, saya belajar bahwa tanpa dukungan kebijakan yang jelas, bahkan teknologi paling canggih sekalipun akan terhambat oleh birokrasi. Jadi, ketika Anda merencanakan proyek hijau di kota lain, pastikan ada landasan regulasi yang mengikat dan memberi ruang bagi inovasi lokal.

Kesalahan Umum yang Harus Dihindari

Setelah melihat bagaimana regulasi fleksibel menggerakkan proyek hijau di Kota X, saya sering mendengar tim‑tim lain terjebak pada pola pikir yang justru memperlambat adaptasi terhadap krisis iklim. Berikut lima kesalahan nyata yang saya temui di lapangan, lengkap dengan alasan mengapa mereka keliru dan apa yang sebaiknya dilakukan.

  • Meremehkan pentingnya data mikro‑klimat. Banyak kota mengandalkan data curah hujan tahunan yang di‑upload sekali setahun. Hal ini menyebabkan perencanaan bio‑swale atau penyerapan air menjadi tidak sinkron dengan pola hujan harian yang berubah‑ubah. Mengapa salah? Tanpa data granular, volume air yang disalurkan ke saluran utama bisa melebihi kapasitas, memicu banjir lokal. Apa yang benar? Bangun jaringan sensor IoT sederhana di titik‑titik strategis (mis. stasiun pemantau lalu lintas, taman umum) yang mengirim data ke platform terpusat tiap 15 menit. Contoh: Kota Bali Barat memasang 25 sensor hujan di tiga kecamatan, hasilnya estimasi volume air masuk ke drainase turun 12 % dalam tiga bulan pertama.
  • Mengabaikan keterlibatan komunitas sejak tahap desain. Seringkali perencana mengirimkan gambar konseptual ke publik hanya untuk “informasi”. Komunitas merasa dijadikan objek, bukan mitra. Mengapa salah? Tanpa rasa memiliki, warga cenderung menolak perubahan, bahkan merusak instalasi yang sudah dibangun. Apa yang benar? Adakan lokakarya co‑design selama dua minggu, libatkan RT, LSM lingkungan, dan pedagang pasar. Di Kota X, lokakarya “Hijau Bersama” menghasilkan 30 % penyesuaian desain, termasuk penambahan jalur sepeda yang kini dipakai oleh lebih dari 5 000 warga per hari.
  • Menetapkan insentif finansial tanpa mekanisme verifikasi. Beberapa daerah menawarkan potongan pajak bagi pemilik gedung yang memasang atap hijau, namun tidak ada audit pasca‑pemasangan. Mengapa salah? Insentif menjadi “hadiah” bagi yang mengklaim, bukan bagi yang benar‑benar melaksanakan. Apa yang benar? Pasang sistem monitoring energi dan kelembaban yang terhubung ke portal pemerintah, sehingga verifikasi otomatis terjadi tiap tiga bulan. Contoh: Provinsi Jawa Timur mengimplementasikan “Green Roof Tracker”, dan tingkat kepatuhan naik dari 45 % menjadi 78 % dalam setahun.
  • Memusatkan semua keputusan pada satu dinas. Saya pernah melihat proyek penanaman pohon di pinggir jalan yang terhambat karena harus menunggu persetujuan Dinas Perhubungan, padahal Dinas Lingkungan Hidup sudah siap menandatangani. Mengapa salah? Proses birokrasi berlapis meningkatkan waktu tunggu dan biaya. Apa yang benar? Bentuk “Koordinasi Cepat” (fast‑track committee) dengan perwakilan masing‑masing dinas yang memiliki wewenang menandatangani dalam satu pertemuan mingguan. Setelah diterapkan, waktu persetujuan turun dari 90 hari menjadi 21 hari.
  • Gagal menyiapkan rencana pemeliharaan pasca‑implementasi. Banyak infrastruktur hijau seperti bio‑swale atau taman hujan dibangun, namun tidak ada anggaran atau tim khusus untuk perawatan rutin. Mengapa salah? Tanpa perawatan, fungsi penyerapan air menurun drastis setelah satu tahun. Apa yang benar? Sisipkan klausul “maintenance fund” dalam kontrak pembangunan, alokasikan 2 % dari total biaya proyek ke rekening khusus, dan latih petugas kebersihan setempat. Kota Yogyakarta melakukannya dan melaporkan penurunan penumpukan lumpur di bio‑swale sebesar 35 %.

Tips Lanjutan dari Praktisi

Berbekal pengalaman di lapangan, saya suka menambahkan “lapisan ekstra” pada setiap inisiatif adaptasi. Berikut empat taktik yang jarang dibahas, tapi sudah terbukti meningkatkan ketahanan kota terhadap krisis iklim.

  • Gunakan material lokal yang bersifat “self‑healing”. Misalnya, campuran tanah liat dengan serbuk bambu untuk pembuatan dinding penahan tanah (retaining wall). Material ini secara alami mengisi retakan kecil ketika terkena air, mengurangi kebutuhan perbaikan. Di Kabupaten Sleman, tim kami menguji 12 unit dinding selama enam bulan; tidak ada satu pun yang memerlukan perbaikan struktural.
  • Integrasikan sistem peringatan dini berbasis media sosial. Buat grup WhatsApp atau Telegram khusus warga di zona rawan banjir. Bot otomatis mengirimkan notifikasi ketika sensor curah hujan melampaui ambang batas. Pada bulan Agustus, grup “Banjir‑Banjir Kota X” berhasil memperingatkan 1.200 rumah dalam 10 menit sebelum hujan deras, sehingga evakuasi berjalan lebih tertib.
  • Manfaatkan ruang komersial sebagai “kanker air” (water sink). Banyak pusat perbelanjaan memiliki atap datar yang belum dimanfaatkan. Pasang lapisan vegetasi ringan atau modul porous concrete yang dapat menampung hingga 15 % volume hujan. Contoh: Mall “Green Plaza” di Kota X menambahkan 800 m² taman atap, mengurangi aliran limpasan ke saluran utama sebesar 18 m³ per hari.
  • Bangun “bank data kebijakan” yang mudah diakses. Simpan semua peraturan, pedoman teknis, dan studi kasus dalam format PDF yang terindeks di situs web resmi kota. Beri label yang jelas (mis. “Regulasi Atap Hijau 2023”) dan sediakan fitur pencarian. Ketika tim perencanaan di Kota Z mencari contoh regulasi, mereka menemukan dokumen Kota X dalam 30 detik, mempercepat proses legislasi mereka dua kali lipat.

Intinya, menghindari kesalahan umum dan menambahkan lapisan inovatif bukan sekadar “tambah fitur”. Ini adalah strategi yang mengubah regulasi menjadi mesin aksi nyata, menjadikan adaptasi terhadap krisis iklim bukan lagi pilihan, melainkan kebutuhan yang dapat dijalankan. Selamat mencoba, dan jangan ragu menghubungi saya bila butuh insight lebih dalam tentang implementasi di lapangan.

  • Penulis: admin

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Keamanan Pangan: Residu Pestisida di Sayur Lokal & Cara Aman Konsumen

    Keamanan Pangan: Residu Pestisida di Sayur Lokal & Cara Aman Konsumen

    • calendar_month Selasa, 20 Okt 2026
    • account_circle admin
    • 0Komentar

    Ringkasan Singkat: Menjaga agar makanan tetap aman berarti mengendalikan bahaya biologis, kimia, dan fisik sejak produksi hingga konsumsi, sehingga tidak menimbulkan risiko kesehatan. Praktiknya meliputi penerapan standar kebersihan, pengawasan rantai pasok, serta pelatihan petugas agar setiap tahap dapat meminimalkan kontaminasi. Dengan begitu, konsumen dapat menikmati produk tanpa khawatir akan dampak negatif bagi tubuh. Keamanan pangan […]

  • Subsidi tepat sasaran vs bantuan umum: 3 perbandingan kunci, pilih

    Subsidi tepat sasaran vs bantuan umum: 3 perbandingan kunci, pilih

    • calendar_month Kamis, 15 Okt 2026
    • account_circle admin
    • 0Komentar

    Ringkasan Singkat: Subsidi tepat sasaran ialah kebijakan yang menyalurkan bantuan langsung kepada kelompok berpendapatan rendah atau rentan, berdasarkan verifikasi data kependudukan dan kriteria sosial‑ekonomi yang jelas. Dengan menitikberatkan pada pemetaan kebutuhan, program ini berupaya meminimalkan pemborosan serta meningkatkan dampak positif bagi penerima yang benar‑benar membutuhkan. Subsidi tepat sasaran menargetkan penerima manfaat yang memang membutuhkan bantuan, […]

  • Subsidi tepat sasaran vs bantuan umum: 5 kriteria pilih yang efektif

    Subsidi tepat sasaran vs bantuan umum: 5 kriteria pilih yang efektif

    • calendar_month Sabtu, 19 Sep 2026
    • account_circle admin
    • 0Komentar

    Ringkasan Singkat: Pemerintah menyalurkan subsidi tepat sasaran agar bantuan keuangan hanya sampai pada kelompok yang paling membutuhkan, biasanya melalui pemetaan data pendapatan, wilayah, atau kebutuhan khusus. Dengan cara ini, efektivitas program meningkat dan potensi kebocoran dana dapat diminimalisir. Subsidi tepat sasaran menyalurkan dana pemerintah langsung ke kelompok atau sektor yang memang paling membutuhkan, lewat mekanisme […]

  • Panduan Praktis Digitalisasi Pemerintahan: 5 Langkah Implementasi Efektif

    Panduan Praktis Digitalisasi Pemerintahan: 5 Langkah Implementasi Efektif

    • calendar_month Sabtu, 24 Okt 2026
    • account_circle admin
    • 0Komentar

    Ringkasan Singkat: Dengan memanfaatkan teknologi informasi, layanan publik kini dapat diakses secara online, mempercepat proses administrasi dan mengurangi biaya operasional. Transformasi ini meningkatkan transparansi, mempermudah partisipasi warga, serta memperkuat akuntabilitas lembaga pemerintah. Pada praktiknya, portal layanan terpadu dan sistem data terpusat menjadi fondasi utama bagi pemerintahan yang lebih responsif dan berbasis bukti. Transformasi layanan publik […]

  • Dasco Sebut Pertemuan Ketum Parpol Baru Sebatas Brainstorming RUU Pemilu

    Dasco Sebut Pertemuan Ketum Parpol Baru Sebatas Brainstorming RUU Pemilu

    • calendar_month Kamis, 17 Sep 2026
    • account_circle Redaksi
    • 0Komentar

    JAKARTA – Ketua Harian Partai Gerindra Sufmi Dasco Ahmad menjelaskan bahwa pertemuan sejumlah ketua umum (ketum) partai politik yang membahas revisi Undang-Undang Pemilu belum menghasilkan keputusan final. Menurut Dasco, pertemuan tersebut masih berada pada tahap awal berupa brainstorming atau pertukaran gagasan. Dasco mengatakan, pembicaraan para pimpinan partai politik dilakukan sebagai bagian dari persiapan sebelum fraksi-fraksi […]

  • Libur Nataru 2026, KAI Siapkan Promo Kursi Tambahan dengan Diskon 50 Persen

    Libur Nataru 2026, KAI Siapkan Promo Kursi Tambahan dengan Diskon 50 Persen

    • calendar_month Kamis, 29 Okt 2026
    • account_circle Redaksi
    • 0Komentar

    JAKARTA – PT Kereta Api Indonesia (Persero) atau KAI menyiapkan program Rame Deals berupa diskon 50 persen untuk pembelian kursi tambahan (extra seat) pada masa Natal 2026 dan Tahun Baru 2027 (Nataru). Program ini memungkinkan penumpang membeli kursi di sebelahnya agar perjalanan lebih nyaman. Direktur Komersial KAI Dendy Kurniawan mengatakan, fasilitas tersebut diharapkan meningkatkan kenyamanan […]

expand_less