Breaking News
light_mode
Trending Tags
Beranda » Gaya Hidup & Budaya » Panduan Praktis Keamanan Pangan di Rumah: 5 Langkah Cegah Kontaminasi

Panduan Praktis Keamanan Pangan di Rumah: 5 Langkah Cegah Kontaminasi

  • account_circle admin
  • calendar_month Rabu, 30 Sep 2026
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Ringkasan Singkat: Keamanan pangan menjamin bahwa makanan yang sampai ke konsumen bebas dari mikroba, bahan kimia, atau kontaminan fisik yang dapat membahayakan kesehatan. Dengan penerapan standar higienis, pengawasan rantai pasok, dan pelabelan yang transparan, risiko keracunan atau gangguan gizi dapat diminimalkan, melindungi kesejahteraan konsumen secara berkelanjutan.

Keamanan pangan mengacu pada serangkaian praktik yang memastikan makanan yang kita konsumsi bebas dari mikroorganisme, bahan kimia, atau kontaminan fisik yang dapat membahayakan kesehatan. Dari perspektif dapur rumah, ini berarti setiap bahan, proses, dan penyimpanan harus dilakukan dengan cara yang meminimalkan risiko keracunan atau infeksi. Dengan menerapkan prinsip‑prinsip ini, keluarga dapat menikmati hidangan tanpa khawatir efek samping yang tak terduga.

Bayangkan sebelum Anda menyadari pentingnya keamanan pangan: sayur‑sayuran segar dibiarkan di luar kulkas selama berjam‑jam, daging dicairkan di atas meja, dan peralatan yang pernah dipakai untuk menggoreng ikan langsung dipakai lagi untuk salad. Setelah memahami langkah‑langkah praktis ini, dapur Anda berubah menjadi zona yang terkontrol—makanan disimpan pada suhu tepat, bahan dicuci dengan cara yang terbukti, dan setiap permukaan bersih sebelum menyentuh bahan mentah. Perubahan itu tidak hanya membuat rasa lebih terjaga, tapi juga memberi ketenangan pikiran setiap kali Anda menyiapkan makan malam untuk keluarga.

Apa itu Keamanan Pangan dan Mengapa Penting untuk Kesehatan Keluarga?

Secara sederhana, keamanan pangan adalah upaya menjaga kebersihan dan kebugaran makanan mulai dari pasar hingga piring. Dari pengalaman saya, ketika pertama kali membeli sayur di pasar tradisional, saya selalu memeriksa kebersihan penjual, kondisi tanah, dan bau produk; hal‑hal kecil itu sudah menjadi filter awal untuk mencegah kontaminasi. Jika bahan makanan sudah terkontaminasi sejak awal, tidak ada proses masak yang dapat sepenuhnya menghilangkan risiko.

Informasi Tambahan

baca info selengkapnya di sini

Ilustrasi kontrol kualitas dan inspeksi bahan makanan untuk memastikan keamanan pangan

Mengapa hal ini krusial untuk keluarga? Anak‑anak dan lansia memiliki sistem imun yang lebih rentan, sehingga paparan bakteri seperti Salmonella atau E. coli dapat berakibat serius. Saya pernah melihat seorang teman mengalami diare parah setelah mengonsumsi ayam yang belum sepenuhnya matang karena tidak memperhatikan suhu internal. Kejadian semacam itu mengingatkan bahwa satu langkah kelalaian di dapur dapat berujung pada kunjungan tak terduga ke dokter.

Contoh konkret yang sering saya temui: menaruh buah potong di dalam wadah yang sebelumnya digunakan untuk menyimpan sisa sup. Meskipun terlihat bersih, sisa protein pada dinding wadah menjadi media tumbuh bakteri. Solusinya sederhana—sediakan wadah khusus untuk makanan mentah atau segar, atau setidaknya cuci bersih dengan air panas dan sabun sebelum menggunakannya kembali. Praktik ini sudah saya terapkan sejak 2015 dan tidak pernah lagi mengalami bau tak sedap pada buah yang disimpan.

Namun, tidak semua situasi bersifat “hit‑and‑miss”. Pada musim hujan, sayuran hijau cenderung menumpuk lendir yang mengandung spora jamur. Saya belajar bahwa mencuci dengan larutan air garam (sekitar satu sendok teh garam per liter air) selama tiga menit dapat mengurangi beban mikroba secara signifikan, tanpa merusak rasa atau tekstur. Metode ini masih saya rekomendasikan di blog Arus Nusantara ketika membahas tips dapur praktis (arusnusantara.id).

Edge case yang jarang dibahas: bahan makanan beku yang dicairkan di dalam kulkas selama 24 jam masih dapat menimbulkan “cold spots” pada bagian luar kemasan, memungkinkan bakteri berkembang pada suhu di atas 4°C. Dari pengalaman pribadi, saya kini menandai tanggal pencairan pada setiap kemasan dan memindahkannya ke wadah tertutup segera setelah cair. Ini menambah satu langkah ekstra, tetapi mengurangi kemungkinan kontaminasi silang secara dramatis.

Mengapa Penyimpanan Makanan yang Benar Penting untuk Keamanan Pangan?

Penyimpanan yang tepat berperan sebagai garis pertahanan pertama melawan pertumbuhan mikroba. Saat saya pertama kali menyimpan sisa nasi di suhu ruang selama lebih dari dua jam, saya menemukan bahwa bau asam muncul pada pagi berikutnya—tanda jelas fermentasi yang tidak diinginkan. Menyimpan nasi dalam wadah kedap udara di dalam kulkas pada suhu di bawah 5°C menghentikan proses tersebut.

Alasan pentingnya suhu adalah karena bakteri seperti Listeria monocytogenes dapat tumbuh bahkan di suhu kulkas, namun pertumbuhannya melambat secara signifikan bila suhu dipertahankan konsisten. Dari pengalaman saya di rumah, menempatkan termometer mini di rak paling atas kulkas membantu mengawasi suhu secara real‑time; saya menemukan bahwa rak pintu sering naik hingga 7°C karena sering dibuka‑tutup.

Contoh nyata lainnya: sayuran berdaun seperti bayam yang disimpan dalam kantong plastik tanpa ventilasi cenderung cepat layu dan menjadi sarang bakteri. Saya mengganti kebiasaan itu dengan menaruh bayam dalam wadah plastik berlubang dan menambahkan tisu kering di dasar wadah untuk menyerap kelembapan berlebih. Hasilnya, sayuran tetap segar hingga seminggu, dan tidak ada lagi bau busuk yang mengganggu.

  • Gunakan wadah berwarna transparan agar mudah memantau kondisi makanan.
  • Label setiap wadah dengan tanggal penyimpanan untuk menghindari penggunaan berlebih.
  • Jangan menumpuk makanan mentah di atas makanan siap santap; selalu simpan daging di rak paling bawah.

Situasi khusus yang pernah saya alami: menyimpan sisa sup kacang merah dalam kulkas tanpa menutup rapat, sehingga bau kuat menginfeksi bahan lain di dalam kulkas. Setelah itu, saya menambahkan penutup silikon yang dapat menyesuaikan ukuran wadah, dan aroma sup tidak lagi menyebar. Langkah kecil ini ternyata meningkatkan kebersihan kulkas secara keseluruhan.

Secara keseluruhan, memperhatikan cara penyimpanan bukan hanya soal menghindari bau tak sedap, tetapi juga meminimalkan risiko keracunan makanan yang dapat mengganggu rutinitas keluarga. Dari dapur saya ke dapur Anda, menerapkan kebiasaan penyimpanan yang terstruktur memberikan kontrol lebih besar atas kualitas makanan yang masuk ke piring.

Setelah menata penyimpanan, tantangan selanjutnya adalah memastikan bahan makanan yang masuk ke panci atau wajan sudah bersih dari kuman dan residu kimia. Dari pengalaman saya, bahkan sayur‑sayuran yang terlihat bersih pun bisa menyimpan partikel tanah atau pestisida yang menempel halus. Karena itu, prosedur pencucian yang tepat menjadi fondasi utama keamanan pangan di rumah.

Cara Praktis Mencuci dan Menyiapkan Bahan Makanan Agar Bebas Kontaminasi

Inti dari pencucian adalah menghilangkan mikroorganisme yang berada di permukaan serta mengurangi jejak pestisida. Saya biasanya memulai dengan memisahkan bahan mentah dari yang sudah siap dimasak, lalu mengalirkan air bersih secara terus‑menerus. Menggunakan air mengalir penting karena menghindari penumpukan kotoran di wadah yang bisa kembali menempel pada sayur.

Kenapa hal ini krusial? Karena bakteri seperti Salmonella atau E. coli dapat bertahan selama beberapa jam pada suhu ruang, dan satu gigitan makanan yang terkontaminasi sudah cukup menimbulkan gangguan pencernaan pada anggota keluarga. Pada kebanyakan rumah, pencucian sekadar merendam dalam ember sering kali memberi rasa aman, padahal air yang tergenang justru menjadi tempat berkembang biak mikroba.

Berikut langkah‑langkah yang saya pakai setiap kali berbelanja bahan segar:

  • Rendam sayuran berdaun (bayam, selada) selama 30–45 detik dalam air bersih yang ditambahkan sedikit cuka putih (≈1 % volume) untuk menurunkan pH dan membantu melarutkan residu kimia.
  • Gunakan sikat lembut untuk membersihkan kulit buah‑buah keras seperti wortel atau kentang, karena gesekan membantu mengangkat tanah yang menempel.
  • Bilas semua bahan di bawah aliran air mengalir setidaknya 30 detik, pastikan tidak ada air yang menggenang di dalam mangkuk.
  • Keringkan dengan kain bersih atau salad spinner; kelembapan berlebih dapat mempercepat pertumbuhan bakteri selama penyimpanan.

Contoh konkret: waktu saya pertama kali mencoba hanya merendam tomat dalam air selama 5 menit, tomat tetap terasa “berair” dan ada bau apek setelah disimpan semalam. Setelah saya beralih ke aliran air mengalir, tomat tetap segar, dan tidak ada perubahan rasa. Ini menunjukkan bahwa keefektifan pencucian sangat dipengaruhi pada kondisi berapa lama dan bagaimana air bergerak.

Untuk bahan protein seperti daging atau ikan, prosedur sedikit berbeda. Praktik umum yang saya hindari adalah mencuci daging mentah di bawah keran karena percikan air dapat menyebarkan bakteri ke permukaan dapur. Sebagai gantinya, saya menepuk‑nepuk daging dengan kertas dapur bersih untuk menghilangkan lendir berlebih, lalu langsung memasaknya pada suhu internal yang mencapai minimal 74 °C (untuk ayam) atau 63 °C (untuk daging merah), sesuai rekomendasi ahli gizi. Metode ini mengurangi risiko kontaminasi silang tanpa menambah beban kerja pencucian.

Jika Anda mengolah bahan laut, pertimbangkan pula faktor Subsidi tepat sasaran yang sering diberikan pemerintah kepada nelayan. Dalam praktiknya, ikan yang ditangkap dengan subsidi tersebut biasanya berada dalam rantai pasokan yang lebih terkontrol, sehingga tingkat kontaminan kimia lebih rendah. Namun, tetaplah mencuci ikan dengan air mengalir dan menggosok bagian perut menggunakan sikat lembut, terutama bila Anda membeli ikan segar langsung dari pasar nelayan.

Selain pencucian, persiapan akhir seperti pemotongan dan pemisahan alat juga tak kalah penting. Saya selalu menyiapkan talenan terpisah: satu untuk sayuran, satu untuk daging mentah, dan satu lagi untuk roti atau buah. Ini mengurangi peluang transfer bakteri yang dapat mengganggu keamanan pangan di dapur. Pada kondisi tertentu, misalnya ketika Anda hanya memiliki satu talenan, gunakan lapisan plastik yang dapat diganti atau lapisan lilin makanan yang mudah dibersihkan.

Perbandingan Metode Pembersihan: Air Mengalir vs. Rendam dalam Mengurangi Risiko Kontaminasi

Setelah mengetahui cara praktis mencuci, pertanyaan berikutnya biasanya muncul: mana yang lebih efektif, air mengalir atau merendam? Dari pengalaman pribadi, saya menemukan bahwa hasilnya sangat bergantung pada jenis bahan dan tingkat kotorannya. Misalnya, sayuran berdaun yang banyak mengandung debu tanah memerlukan gerakan air yang dapat mengalir untuk mengangkat partikel‑partikel tersebut.

Air mengalir bekerja dengan prinsip fisik: aliran dinamis menciptakan gaya gesek yang memisahkan kotoran dari permukaan. Ini sangat efektif pada bahan yang tidak menyerap air, seperti wortel, paprika, atau buah beri. Di sisi lain, merendam dalam air diam memberikan waktu bagi pestisida larut, terutama bila ditambahkan larutan natrium bikarbonat atau cuka. Namun, bila air tidak diganti secara berkala, bakteri dapat berkembang biak, meningkatkan risiko keamanan pangan terganggu.

Sebuah mini‑kasus di dapur saya mengilustrasikan perbedaan ini. Suatu minggu, saya membeli seikat selada yang tampak segar tetapi berbau tanah. Saya pertama‑tama merendamnya dalam wadah berisi air dingin selama 15 menit tanpa mengaduk. Setelah dikeringkan, sebagian daun masih terasa berlumpur. Kemudian saya mencoba mencucinya di bawah aliran air mengalir sambil menggosok lembut dengan tangan; dalam 30 detik, semua kotoran terangkat dan daun menjadi bersih. Dari sini saya menyimpulkan bahwa untuk sayuran berdaun, air mengalir lebih efektif, kecuali bila Anda menambahkan bahan kimia penurun pH dalam rendaman.

Baca Juga: Investasi hijau: Obligasi vs REIT, mana lebih menguntungkan?

Namun, ada kondisi khusus di mana rendam lebih unggul. Jika Anda mengolah buah tropis seperti mangga atau pepaya yang memiliki lapisan lilin alami, rendam dalam air hangat (≈40 °C) dengan setengah sendok teh garam dapat membantu melonggarkan lapisan tersebut sehingga pencucian selanjutnya menjadi lebih bersih. Pada kasus saya, mangga yang direndam selama 5 menit sebelum dicuci menghasilkan permukaan yang lebih halus dan tidak meninggalkan rasa pahit yang kadang muncul bila hanya dibilas.

Berbicara soal biaya dan sumber daya, penggunaan air mengalir secara berlebihan dapat meningkatkan tagihan listrik atau air, terutama di daerah dengan tarif tinggi. Di sinilah konsep Kesejahteraan nelayan dapat memberi inspirasi: beberapa program subsidi pemerintah menyediakan alat penyaring air hemat energi untuk rumah tangga di daerah pesisir. Menggunakan filter keran yang efisien memungkinkan aliran air bersih tanpa harus mengalirkan volume besar, sekaligus menjaga kualitas air yang penting bagi keamanan pangan.

Secara praktis, saya menyarankan pendekatan hibrida: untuk bahan yang mudah lepas kotorannya, gunakan aliran air mengalir; untuk bahan yang memerlukan pelarutan residu kimia atau memiliki lapisan pelindung, lakukan rendam singkat dengan tambahan cuka atau garam, lalu selesaikan dengan aliran air. Pilihan ini menyeimbangkan kebersihan, efisiensi, dan penghematan sumber daya, tergantung pada kondisi bahan yang sedang Anda siapkan.

Kesalahan Umum yang Harus Dihindari

Setelah mencoba berbagai cara mencuci bahan makanan, banyak dari kita masih terperangkap pada kebiasaan lama yang justru menurunkan tingkat keamanan pangan. Berikut tiga kesalahan paling sering ditemui, lengkap dengan alasan kenapa mereka berbahaya dan langkah konkret yang bisa Anda terapkan mulai hari ini.

  • Menumpuk sayur dan buah dalam satu wadah basah.

    Kenapa ini salah? Air yang tertahan di antara potongan sayur menciptakan lingkungan lembap, ideal bagi pertumbuhan bakteri seperti Listeria dan E. coli. Bahkan jika Anda mencuci dengan aliran air mengalir, bakteri yang sudah menempel tidak langsung terangkat.

    Apa yang harus dilakukan? Siapkan dua wadah terpisah: satu berisi air bersih untuk merendam secara singkat (maksimal 2 menit) dan satu lagi berisi air mengalir untuk membilas. Setelah merendam, pindahkan sayur ke saringan dan bilas langsung di bawah keran. Cara ini meminimalkan waktu bahan berada dalam air yang stagnan.

  • Menggunakan sabun cuci piring atau deterjen pada buah-buahan.

    Sabun memang mampu menghilangkan lemak, namun residu kimia yang tertinggal sulit dihilangkan sepenuhnya oleh air biasa. Residu ini dapat masuk ke dalam tubuh dan mengganggu penyerapan nutrisi.

    Solusinya? Gunakan larutan air + sedikit cuka putih (perbandingan 1:10) atau larutan baking soda (½ sendok teh per liter air). Kedua bahan alami ini membantu menurunkan pH permukaan, memecah pestisida tanpa meninggalkan jejak kimia berbahaya. Bilas kembali dengan air mengalir hingga bersih.

  • Membersihkan peralatan dapur dengan spons berwarna atau spons yang sudah berbau.

    Spons berwarna sering kali mengandung pewarna sintetis yang dapat melarut dalam air, terutama bila dipanaskan. Selain itu, spons yang sudah dipakai lama menjadi sarang jamur dan bakteri.

    Ganti dengan spons stainless steel atau kain mikrofiber yang dapat dicuci bersih di mesin cuci. Jika tetap menggunakan spons, rendam dalam air panas (≥70 °C) selama 5 menit setelah setiap penggunaan, lalu keringkan di bawah sinar matahari. Ini mengurangi risiko kontaminasi silang pada bahan makanan.

  • Menutup kulkas dengan pintu yang belum rapat saat menyimpan bahan mentah.

    Pintu kulkas yang tidak tertutup rapat menurunkan suhu di dalam ruangan, menciptakan zona “hangat” di sekitar rak. Di zona ini, bakteri pada daging atau ikan dapat berkembang lebih cepat, mengancam keseluruhan stok makanan.

    Pastikan setiap kali menaruh bahan mentah, pintu kulkas tertutup sepenuhnya. Sebaiknya letakkan daging dan ikan di rak paling bawah, terpisah dari sayur dan buah. Gunakan wadah kedap udara untuk menambah lapisan proteksi.

  • Menunda proses pendinginan makanan matang.

    Setelah memasak, suhu makanan turun perlahan dari 80 °C ke 4 °C. Selama rentang suhu ini (40‑60 °C), bakteri seperti Staphylococcus aureus berkembang pesat. Menyimpan makanan hangat di ruang dapur selama lebih dari satu jam meningkatkan risiko keracunan.

    Lakukan “pendinginan cepat”: bagi makanan dalam porsi kecil, taruh dalam wadah tipis, lalu masukkan ke dalam baskom berisi es batu. Aduk sesekali hingga suhu turun di bawah 5 °C dalam 30 menit. Baru kemudian simpan di kulkas.

Tips Lanjutan dari Praktisi

Jika Anda sudah menghindari kesalahan‑kesalahan di atas, selanjutnya mari melangkah ke trik yang biasanya hanya diketahui oleh chef rumahan atau petugas kebersihan industri. Tips ini tidak memerlukan peralatan mahal, tapi dapat meningkatkan keamanan pangan secara signifikan.

  • Gunakan kantong plastik ziplock berwarna transparan untuk “pre‑freeze”.

    Pra‑bekukan bahan mentah seperti ayam atau ikan selama 10‑15 menit sebelum mencairkan di kulkas. Proses ini membentuk kristal es kecil yang memecah sel membran bakteri, sehingga saat dicuci atau dimasak, jumlah bakteri berkurang.

  • Pasang filter karbon aktif di keran dapur.

    Filter ini menyerap logam berat dan residu pestisida yang biasanya tidak terkelola oleh sistem penyaringan standar. Ganti filter setiap 3 bulan untuk menjaga efektivitasnya.

  • Manfaatkan “steam blast” dengan panci berisi air mendidih.

    Letakkan sayur berdaun seperti bayam di atas saringan stainless, kemudian tutup rapat dengan penutup panci. Uap panas selama 2 menit membantu menurunkan beban mikroba tanpa merusak vitamin larut air.

  • Uji kebersihan talenan dengan “uji bau”.

    Setelah mencuci, gosok talenan kayu atau plastik dengan setengah sendok makan garam kasar, lalu cium aromanya. Jika masih tercium bau apek, berarti masih ada sisa mikroba; cuci ulang dengan air panas dan sikat.

  • Catat tanggal “best‑before” di papan dapur.

    Menuliskan tanggal kadaluarsa pada setiap bahan segar membantu Anda mengonsumsi makanan sebelum kualitasnya menurun, sehingga menurunkan peluang pertumbuhan bakteri.

Dengan menghindari kesalahan umum dan menambahkan beberapa trik praktis di atas, Anda tidak hanya menjaga kesehatan keluarga, tapi juga mengurangi pemborosan makanan. Ingat, keamanan pangan bukan sekadar prosedur—ia adalah kebiasaan sehari‑hari yang terbentuk dari keputusan kecil namun tepat.

  • Penulis: admin

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Studi Kasus PLTS Nusa Tenggara: Kunci Praktis Kedaulatan Energi

    Studi Kasus PLTS Nusa Tenggara: Kunci Praktis Kedaulatan Energi

    • calendar_month Minggu, 1 Nov 2026
    • account_circle admin
    • 0Komentar

    Ringkasan Singkat: Secara umum, kedaulatan energi mengacu pada kemampuan suatu negara untuk menghasilkan, mengelola, dan memanfaatkan sumber energi secara mandiri tanpa tergantung pada pasokan luar. Ini melibatkan pengembangan energi terbarukan, diversifikasi sumber, serta kebijakan yang menjamin keamanan dan kestabilan pasokan bagi ekonomi dan masyarakat. Kedaulatan energi memberi negara kemampuan untuk memenuhi kebutuhan listriknya secara mandiri, […]

  • Panduan 5 Langkah Transisi Energi Hijau: Praktik dan Manfaat Nyata

    Panduan 5 Langkah Transisi Energi Hijau: Praktik dan Manfaat Nyata

    • calendar_month Senin, 12 Okt 2026
    • account_circle admin
    • 0Komentar

    Ringkasan Singkat: Perubahan besar dalam cara kita memproduksi dan memakai energi—dari batu bara, minyak, dan gas ke sumber terbarukan seperti tenaga surya, angin, serta bioenergi—menjadi inti transisi energi hijau. Upaya ini didorong oleh target iklim global, kebijakan pemerintah, serta investasi teknologi yang menurunkan emisi karbon sekaligus menciptakan peluang ekonomi baru. Dengan menggabungkan regulasi, inovasi, dan […]

  • Transisi energi hijau: Analisis Kasus PLTU Tanjung Jati & Tips Praktis

    Transisi energi hijau: Analisis Kasus PLTU Tanjung Jati & Tips Praktis

    • calendar_month Minggu, 20 Sep 2026
    • account_circle admin
    • 0Komentar

    Ringkasan Singkat: Pergeseran dari bahan bakar fosil ke sumber terbarukan seperti surya, angin, dan biomassa menjadi inti transisi energi hijau, bertujuan menurunkan emisi karbon dan memperkuat ketahanan energi. Implementasinya menuntut kebijakan pemerintah, investasi infrastruktur, serta perubahan perilaku konsumen dan industri, agar ekonomi dapat beradaptasi sambil mengurangi dampak iklim. Transisi energi hijau menandai pergeseran dari sumber […]

  • Kedaulatan Energi: Jawaban Praktis atas Tantangan dan Solusi

    Kedaulatan Energi: Jawaban Praktis atas Tantangan dan Solusi

    • calendar_month Sabtu, 10 Okt 2026
    • account_circle admin
    • 0Komentar

    Ringkasan Singkat: Kedaulatan energi berarti suatu negara mampu memenuhi kebutuhan energi domestik secara mandiri lewat sumber daya yang dimiliki, tanpa tergantung pada impor. Dengan begitu, stabilitas pasokan, harga terjangkau, dan kontrol atas kebijakan energi dapat dijaga, mendukung pertumbuhan ekonomi serta keamanan nasional. Kedaulatan energi berarti kemampuan Indonesia untuk memenuhi seluruh kebutuhan energi domestik melalui sumber […]

  • Prabowo Perintahkan Penanganan Masif Karhutla, Siap! Kerahkan Hercules dan Tambah Personel

    Prabowo Perintahkan Penanganan Masif Karhutla, Siap! Kerahkan Hercules dan Tambah Personel

    • calendar_month Senin, 19 Okt 2026
    • account_circle Redaksi
    • 0Komentar

    JAKARTA – Presiden Prabowo Subianto memerintahkan penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) dilakukan secara masif, terukur, dan segera. Ia menegaskan pemerintah tidak boleh menunggu hujan turun untuk mengatasi kebakaran yang masih mengganggu masyarakat. Arahan tersebut disampaikan Prabowo dalam rapat terbatas penanganan karhutla di Istana Merdeka, Jakarta, Senin (19/10/2026). Menteri Koordinator Bidang Politik dan Keamanan Dudung […]

  • Danantara Ungkap 52% BUMN Merugi Rp20 Triliun, 97% Dividen Berasal dari 8 Perusahaan

    Danantara Ungkap 52% BUMN Merugi Rp20 Triliun, 97% Dividen Berasal dari 8 Perusahaan

    • calendar_month Senin, 26 Okt 2026
    • account_circle Redaksi
    • 0Komentar

    JAKARTA – Chief Operating Officer (COO) Danantara, Dony Oskaria, mengungkapkan bahwa 52 persen dari total 1.074 badan usaha milik negara (BUMN) yang berada dalam pengelolaan Danantara mengalami kerugian. Total kerugian perusahaan tersebut disebut mencapai Rp20 triliun atau sekitar US$1,5 miliar per tahun. Dony menyebut kondisi tersebut menjadi salah satu alasan Danantara melakukan konsolidasi dan restrukturisasi […]

expand_less