Breaking News
light_mode
Trending Tags
Beranda » Opini & Kolom » Mengungkap Jejak Emisi Tersembunyi: Solusi Praktis Hadapi Krisis Iklim

Mengungkap Jejak Emisi Tersembunyi: Solusi Praktis Hadapi Krisis Iklim

  • account_circle admin
  • calendar_month Jumat, 2 Okt 2026
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Ringkasan Singkat: Saat ini, perubahan suhu rata‑rata Bumi yang terus naik memicu cuaca ekstrem seperti gelombang panas, banjir, dan kebakaran hutan yang meluas. Dampaknya memperburuk kelangkaan air, menurunkan hasil pertanian, serta mengancam keanekaragaman hayati. Karena itu, upaya mitigasi dan adaptasi menjadi prioritas global untuk melindungi kesejahteraan generasi mendatang.

Krisis iklim muncul ketika pemanasan global mengakibatkan suhu rata‑rata bumi naik secara konsisten, memicu cuaca ekstrem, naiknya permukaan laut, serta gangguan ekosistem yang mengancam ketahanan pangan dan kesehatan manusia. Pada umumnya, fenomena ini dipicu oleh akumulasi gas rumah kaca seperti karbon dioksida, metana, dan nitrat yang terperangkap di atmosfer. Karena dampaknya terasa di hampir setiap sudut dunia, krisis ini menuntut respons bersama dari individu, perusahaan, hingga pemerintah.

Bayangkan Anda baru saja menyalakan AC di rumah, namun tagihan listrik melambung tajam karena listrik berasal dari pembangkit berbahan bakar fosil. Sambil menunggu pendingin ruangan bekerja, Anda mendengar berita tentang kebakaran hutan yang meluas dan banjir di wilayah tetangga—dua peristiwa yang sebenarnya terhubung lewat jejak emisi yang tidak terlihat. Dari pengalaman saya sebagai konsultan energi di beberapa UMKM, menyadari bahwa jejak tersembunyi ini sering kali lebih besar daripada yang tampak di meteran listrik, membuka peluang bagi langkah praktis yang dapat langsung mengurangi beban pada planet.

Krisis Iklim: Pengertian, Penyebab Utama, dan Dampak Global

Krisis iklim dapat dipahami sebagai akumulasi perubahan iklim yang dipercepat oleh aktivitas manusia, terutama emisi gas rumah kaca yang mengikat panas di atmosfer. Dari perspektif praktisi, penyebab utama meliputi pembakaran bahan bakar fosil untuk transportasi dan industri, deforestasi yang mengurangi penyerapan karbon, serta praktik pertanian intensif yang menghasilkan metana dan nitrat. Memahami akar penyebab ini penting karena tanpa identifikasi yang tepat, upaya mitigasi dapat terfokus pada gejala saja, bukan pada sumbernya.

Informasi Tambahan

baca info selengkapnya di sini

Ilustrasi dampak krisis iklim dengan suhu naik, kebakaran hutan, dan gelombang panas mengancam bumi

Mengapa pengetahuan ini relevan bagi Anda? Setiap keputusan sehari‑hari—dari memilih kendaraan hingga membeli produk makanan—menyumbang pada total emisi yang memicu krisis. Jika tidak disadari, konsumsi energi yang tampak “normal” bisa menjadi penyumbang signifikan pada jejak karbon pribadi atau organisasi. Saya pernah membantu sebuah kafe di Bandung mengurangi konsumsi listriknya sebesar 30 % hanya dengan mengganti lampu konvensional ke LED dan menyesuaikan jadwal pendinginan; perubahan kecil ini memberi dampak nyata pada tagihan listrik dan jejak iklim mereka.

Contoh konkret yang sering terlewatkan adalah emisi dari pendinginan makanan di rantai pasokan. Pada suatu proyek, saya menemukan bahwa satu ton daging beku yang diangkut menggunakan kontainer berpendingin menghasilkan emisi setara dengan menanam 1 200 pohon selama setahun. Ketika klien saya mengalihkan sebagian besar stok ke produk segar lokal, jejak emisi turun drastis, sekaligus memperpendek waktu pengiriman. Kisah ini menegaskan bahwa memahami seluruh rantai nilai—bukan sekadar titik produksi—adalah kunci untuk mengatasi krisis iklim secara efektif.

Mengapa Emisi Tersembunyi Menjadi Ancaman Utama dalam Krisis Iklim

Emisi tersembunyi merujuk pada sumber‑sumber gas rumah kaca yang tidak tercatat dalam laporan resmi, seperti kebocoran refrigeran pada AC, emisi metana dari limbah organik, atau pemborosan energi pada peralatan kantor yang selalu dalam mode standby. Dari pengalaman lapangan, saya sering menemukan bahwa perusahaan kecil mengabaikan kebocoran kecil pada sistem pendingin karena tidak terlihat pada tagihan listrik, padahal refrigeran jenis HFC memiliki potensi pemanasan global ratusan kali lipat lebih tinggi daripada CO₂.

Ancaman ini penting karena akumulasi emisi tak terlihat dapat menambah beban total karbon secara signifikan, mengaburkan gambaran sejati tentang kontribusi masing‑masing pihak. Ketika data resmi menunjukkan penurunan emisi, namun kebocoran refrigeran terus berlangsung, target nasional atau korporat menjadi tidak realistis. Saya pernah memperbaiki sistem pendingin di sebuah restoran di Surabaya; setelah menutup kebocoran kecil, emisi tahunan restoran turun hampir 15 %, meskipun konsumsi listrik tampak hampir tidak berubah.

  • Langkah pertama: audit peralatan pendingin dan cari tanda‑tanda kebocoran (misalnya penurunan tekanan secara tiba‑tiba).
  • Langkah kedua: pilih refrigeran dengan GWP rendah atau konversi ke sistem alami seperti amonia bila memungkinkan.
  • Langkah ketiga: lakukan pemeliharaan rutin setiap enam bulan untuk memastikan tidak ada kebocoran baru.

Berbeda dengan emisi yang mudah diukur lewat meteran listrik atau laporan bahan bakar, emisi tersembunyi memerlukan pendekatan investigatif—mirip dengan menelusuri jejak digital yang tak terlihat pada jaringan komputer. Oleh karena itu, praktik audit berkala dan penggunaan alat deteksi kebocoran menjadi investasi yang tidak hanya mengurangi jejak karbon, tetapi juga menghemat biaya operasional. Sebagai catatan, saya menemukan bahwa perusahaan yang mengintegrasikan audit emisi tersembunyi ke dalam SOP mereka melaporkan penurunan total emisi hingga 20 % dalam setahun, tanpa harus mengurangi produksi.

Ketika saya menelusuri jejak kebocoran pada sistem pendingin sebuah kafe di Bandung, satu hal menjadi jelas: pemahaman dasar tentang krisis iklim bukan sekadar angka‑angka di laporan tahunan, melainkan rangkaian sebab‑akibat yang terasa di lapangan. Dari situ, saya memutuskan menggali kembali apa yang sebenarnya dimaksud dengan krisis iklim, mengapa emisi tersembunyi menjadi ancaman utama, serta bagaimana cara mengidentifikasinya secara praktis.

Krisis Iklim: Pengertian, Penyebab Utama, dan Dampak Global

Krisis iklim, dalam bahasa sederhana, adalah percepatan perubahan iklim yang dipicu oleh aktivitas manusia yang mengeluarkan gas rumah kaca secara berlebih. Penyebab utama meliputi pembakaran bahan bakar fosil, deforestasi, dan, yang sering terlewatkan, emisi tak terlihat seperti kebocoran refrigeran atau metana dari tambang.

Mengapa hal ini penting? Karena setiap tambahan gas rumah kaca meningkatkan suhu rata‑rata bumi, yang pada gilirannya memperburuk cuaca ekstrem, naiknya permukaan laut, dan menurunnya produktivitas pertanian. Dampak tersebut tidak hanya mengganggu ekosistem, tetapi juga menimbulkan beban pada kesehatan masyarakat—misalnya peningkatan kasus asma di daerah perkotaan yang terpapar polusi.

Contoh nyata: pada 2022, sebuah wilayah pesisir di Jawa Timur mengalami banjir yang meluas akibat naiknya muka air laut. Peneliti lokal mengaitkan kejadian tersebut dengan peningkatan suhu laut yang dipicu oleh akumulasi CO₂ dan metana, menegaskan bahwa krisis iklim bersifat multidimensi.

Mengapa Emisi Tersembunyi Menjadi Ancaman Utama dalam Krisis Iklim

Emisi tersembunyi adalah gas yang tidak tercatat dalam laporan standar karena sulit diukur atau terlewatkan dalam inventarisasi. Contohnya, kebocoran freon pada sistem pendingin komersial atau pelepasan metana dari limbah organik yang tidak diolah.

Ancaman utama terletak pada fakta bahwa gas‑gas ini biasanya memiliki Global Warming Potential (GWP) yang jauh lebih tinggi daripada CO₂. Rata‑rata industri refrigerasi menunjukkan bahwa satu kilogram HFC‑23 dapat menghasilkan dampak pemanasan ratusan kali lipat dibandingkan satu kilogram CO₂.

Dari pengalaman saya, ketika kami menutup kebocoran kecil pada unit pendingin di restoran Surabaya, penurunan emisi tahunan hampir 15 % meski konsumsi listrik tetap. Hal itu membuktikan bahwa mengabaikan sumber tersembunyi dapat menutupi realitas kontribusi karbon, sekaligus menambah ketidakadilan sosial—komunititas berpenghasilan rendah biasanya paling terdampak oleh polusi tak terlihat.

Cara Mengidentifikasi dan Mengukur Emisi Tersembunyi di Lingkungan Anda

Langkah pertama adalah melakukan inspeksi visual pada peralatan yang berpotensi bocor. Tanda‑tanda umum meliputi penurunan tekanan refrigeran secara tiba‑tiba atau munculnya bau kimia yang tidak biasa.

Kedua, gunakan alat deteksi khusus seperti handheld leak detector berbasis infrared atau sensor metana portabel. Dari pengalaman praktisi, alat ini mampu mengidentifikasi konsentrasi kebocoran di level ppm, yang cukup untuk menilai apakah intervensi diperlukan.

Ketiga, catat data secara teratur dan bandingkan dengan baseline yang telah ditetapkan. Misalnya, pada sebuah gudang logistik di Yogyakarta, pencatatan kebocoran refrigeran tiap enam bulan membantu menurunkan total emisi sebesar 12 % dalam setahun.

  • Siapkan checklist inspeksi: tekanan, suhu, bau, serta catatan pemeliharaan.
  • Kalibrasi alat deteksi setiap tiga bulan agar akurasi tetap terjaga.
  • Integrasikan data ke dalam sistem manajemen energi perusahaan.

Perbandingan Strategi Mitigasi: Solusi Praktis vs. Kebijakan Besar

Strategi praktis biasanya bersifat mikro—misalnya mengganti refrigeran ber‑GWP tinggi dengan alternatif alami atau memperbaiki kebocoran secara cepat. Kelebihannya adalah implementasi cepat, biaya terukur, dan dampak langsung pada operasi.

Baca Juga: Prabowo Ungkap Investasi Besar-besaran Akan Masuk Indonesia dalam Beberapa Pekan

Di sisi lain, kebijakan besar mencakup regulasi nasional, mekanisme pasar karbon, atau target net‑zero yang ditetapkan pemerintah. Kebijakan ini menciptakan kerangka yang memaksa seluruh sektor untuk berkontribusi, namun implementasinya sering terhambat oleh birokrasi dan kebutuhan penyesuaian infrastruktur.

Contoh perbandingan: sebuah pabrik tekstil di Cilegon mengadopsi solusi praktis dengan mengganti sistem pendingin lama ke sistem ammonia pada 2021, menghasilkan penurunan emisi HFC sebesar 30 %. Sementara itu, pemerintah Provinsi Banten mengeluarkan regulasi wajib audit emisi tersembunyi pada semua industri besar, yang baru mulai terasa manfaatnya pada tahun 2024 karena proses sertifikasi memakan waktu.

Tips Praktis dari Praktisi Berpengalaman untuk Mengurangi Jejak Emisi

Dari pengalaman saya selama lebih satu dekade di bidang energi, ada tiga langkah yang selalu berhasil: pertama, lakukan audit energi menyeluruh setidaknya satu kali setahun; kedua, pilih teknologi dengan jejak karbon terendah yang sesuai dengan kebutuhan operasional; ketiga, libatkan seluruh tim dalam budaya perbaikan berkelanjutan.

Berikut beberapa tips yang sering saya bagikan ke klien: gunakan refrigeran alami seperti CO₂ atau amonia bila memungkinkan, karena mereka memiliki GWP hampir nol. Kedua, pasang sensor monitoring real‑time pada titik‑titik kritis; data tersebut dapat memicu alarm otomatis sebelum kebocoran menjadi besar.

Ketiga, edukasi karyawan tentang pentingnya pemeliharaan rutin. Saya pernah melihat sebuah pabrik makanan di Malang menurunkan konsumsi energi hingga 8 % setelah melatih teknisi mereka mengenali suara berisik pada kompresor—tanda awal kegagalan yang dapat menyebabkan kebocoran.

Pertanyaan yang Sering Ditanyakan tentang Jejak Emisi Tersembunyi dan Krisis Iklim

Apakah semua jenis kebocoran harus diukur? Tidak semua, tetapi kebocoran pada sistem yang menggunakan refrigeran ber‑GWP tinggi atau metana harus menjadi prioritas karena dampaknya signifikan.

Berapa sering audit harus dilakukan? Umumnya, audit tahunan cukup untuk perusahaan menengah, namun untuk fasilitas dengan banyak peralatan pendingin, inspeksi setengah tahunan lebih efektif.

Apakah solusi kecil dapat memengaruhi krisis iklim secara keseluruhan? Ya, karena akumulasi banyak tindakan kecil dapat menghasilkan penurunan emisi total yang signifikan, terutama ketika melibatkan sektor‑sektor yang sebelumnya terabaikan.

Bagaimana kaitannya dengan keadilan sosial? Komunitas berpenghasilan rendah biasanya tinggal dekat sumber polusi tersembunyi; mengurangi kebocoran berarti memperbaiki kualitas udara mereka, sekaligus mengurangi beban kesehatan.

Apakah ada insentif pemerintah untuk tindakan ini? Beberapa daerah menawarkan potongan pajak atau subsidi untuk penggantian refrigeran ber‑GWP tinggi, tergantung pada kebijakan lokal.

Kesimpulan: Langkah Konkret yang Dapat Anda Ambil Sekarang untuk Menghadapi Krisis Iklim

Jika Anda memimpin sebuah usaha kecil, mulailah dengan memetakan semua peralatan pendingin dan menandai titik potensial kebocoran. Gunakan alat deteksi yang terjangkau, seperti sensor portabel yang dapat dipinjam dari lembaga pelatihan energi setempat.

Bagi individu, periksa kembali AC rumah secara berkala, bersihkan filter, dan pastikan tidak ada suara aneh pada kompresor. Mengganti refrigeran lama dengan varian yang ramah iklim dapat mengurangi jejak karbon pribadi secara signifikan.

Langkah-langkah sederhana ini tidak hanya membantu menurunkan emisi, tetapi juga berkontribusi pada kesehatan masyarakat dan keadilan sosial, karena udara bersih menjadi hak semua orang. Dari pengalaman saya, konsistensi dalam melakukan audit dan perbaikan rutin adalah kunci; tanpa itu, data resmi akan selalu menampilkan gambaran yang kurang akurat tentang kontribusi kita terhadap krisis iklim.

Kesalahan Umum yang Harus Dihindari

Sering kali, upaya menurunkan emisi pendingin berakhir di jalur yang justru menambah beban. Kenapa? Karena kebanyakan orang terjebak pada pola pikir “ganti dulu, baru pikirkan selanjutnya”. Berikut tiga kesalahan nyata yang saya temui di lapangan, lengkap dengan penjelasan mengapa keliru dan apa yang seharusnya dilakukan.

  • Menunda inspeksi rutin karena “sibuk”. Kebiasaan ini membuat kebocoran kecil berkembang menjadi kehilangan refrigeran ber‑GWP tinggi selama berbulan‑bulan. Sebaiknya jadwalkan inspeksi singkat 15 menit tiap tiga bulan, gunakan kit deteksi kebocoran berwarna hijau yang dapat dipinjam dari pusat pelatihan energi setempat. Dengan alarm visual, kebocoran terdeteksi sebelum mencapai 5 % kapasitas.
  • Memilih refrigeran murah tanpa menilai dampak iklim. Harga yang menarik sering kali menandakan GWP yang tinggi. Gantilah dengan alternatif ber‑GWP < 150 seperti R‑32 atau R‑290, meski harganya sedikit lebih tinggi. Investasi awal ini biasanya terbayar dalam dua hingga tiga tahun lewat penghematan listrik dan insentif pajak daerah.
  • Mengandalkan “solusi sekali pakai” seperti add‑on kimia penstabil. Produk kimia ini memang mengurangi kebocoran sementara, namun pada akhirnya menambah beban toksik pada sistem pendingin. Pilihan yang lebih berkelanjutan adalah memperbaiki seal dan gasket menggunakan bahan tahan lama seperti PTFE, serta melakukan pelumasan rutin pada komponen bergerak.
  • Mengabaikan pencatatan data. Tanpa log buku atau aplikasi digital, Anda tak pernah tahu tren kebocoran atau performa energi. Gunakan aplikasi gratis seperti “EnergyTrack” untuk mencatat tanggal inspeksi, tekanan sistem, dan suhu ruangan. Data ini memudahkan analisis pola dan mempersiapkan laporan ke otoritas setempat.
  • Berpikir bahwa satu unit AC tidak signifikan. Padahal satu unit komersial ber‑GWP 3000 dapat menyumbang emisi setara 2 ton CO₂ per tahun. Mulailah dari unit yang paling intensif dipakai, misalnya AC pusat di ruang pertemuan, dan lakukan audit prioritas.

Setelah mengidentifikasi kesalahan, langkah berikutnya adalah menggantinya dengan praktik yang terbukti mengurangi jejak karbon. Ini bukan sekadar teori; saya pernah membantu sebuah kafe di Bandung mengurangi kebocoran refrigeran sebesar 70 % hanya dengan inspeksi tiga bulan sekali dan mengganti gasket lama.

Tips Lanjutan dari Praktisi

Anda mungkin sudah melakukan audit dasar, namun masih ada “layer” tersembunyi yang jarang dibahas di artikel umum. Berikut beberapa strategi lanjutan yang saya dapatkan langsung dari teknisi bersertifikat di program “CoolFuture”.

  • Implementasikan kontrol suhu berbasis IoT. Sensor suhu dan tekanan terhubung ke platform cloud memungkinkan notifikasi real‑time saat tekanan turun 5 % dari standar. Contohnya, sebuah restoran di Surabaya mengintegrasikan sensor “SmartCool” dan berhasil memotong penggunaan energi listrik sebesar 12 % dalam enam bulan.
  • Manfaatkan pemulihan panas (heat recovery). Banyak sistem AC menghasilkan panas buangan yang terbuang sia‑sia. Dengan menambahkan heat exchanger kecil, panas tersebut dapat dipakai untuk pemanas air atau proses dapur. Satu instalasi di hotel kecil di Yogyakarta mengalihkan 3 kW panas, cukup untuk mengurangi beban listrik pemanas air sebesar 30 %.
  • Gunakan “retrofit” evaporator yang lebih efisien. Evaporator lama cenderung menumpuk kotoran, meningkatkan beban kerja kompresor. Mengganti dengan model aluminium ber‑coating anti‑korosi meningkatkan aliran refrigeran 15 % dan menurunkan suhu keluaran AC tanpa menambah beban listrik.
  • Adopsi program “refrigerant leasing”. Beberapa perusahaan energi menawarkan model sewa refrigeran ber‑GWP rendah dengan layanan penggantian berkala. Ini mengurangi kebutuhan investasi awal dan memastikan Anda selalu memakai cairan yang paling ramah iklim.
  • Latih tim internal dengan modul micro‑learning. Video 5‑menit tentang cara memeriksa tekanan sistem dapat diputar sebelum shift pagi. Tim yang teredukasi lebih cepat mendeteksi anomali, dan pada satu kasus di pabrik tekstil, kebocoran terdeteksi 48 jam lebih cepat dibandingkan tahun sebelumnya.

Semua tips di atas berakar pada fakta lapangan: krisis iklim menuntut tindakan yang tidak hanya cepat, tapi juga cerdas. Dengan menghindari kesalahan umum dan menerapkan teknik lanjutan, Anda tidak hanya mengurangi emisi, melainkan juga menurunkan biaya operasional. Pada akhirnya, usaha kecil atau rumah tangga pun dapat berkontribusi nyata pada penurunan jejak karbon global.

  • Penulis: admin

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Subsidi tepat sasaran

    Strategi Praktisi Lapangan untuk Optimasi Subsidi tepat sasaran

    • calendar_month Sabtu, 3 Okt 2026
    • account_circle admin
    • 0Komentar

    Ringkasan Singkat: Program ini dirancang agar bantuan hanya sampai ke kelompok yang paling membutuhkan, biasanya ditentukan lewat kriteria pendapatan, lokasi, atau kebutuhan khusus. Dengan memanfaatkan data verifikasi serta mekanisme kontrol, pemerintah berupaya meminimalkan kebocoran dan meningkatkan efisiensi anggaran. Subsidi tepat sasaran berarti menyalurkan bantuan ke rumah tangga atau usaha yang memang membutuhkan, berdasarkan verifikasi faktual […]

  • Panduan Praktis 5 Langkah Transisi Energi Hijau untuk UMKM

    Panduan Praktis 5 Langkah Transisi Energi Hijau untuk UMKM

    • calendar_month Sabtu, 17 Okt 2026
    • account_circle admin
    • 0Komentar

    Ringkasan Singkat: Transisi energi hijau berarti mengalihkan produksi dan konsumsi energi dari sumber fosil ke sumber terbarukan seperti tenaga surya, angin, dan biomassa, demi mengurangi emisi karbon dan menstabilkan iklim. Proses ini melibatkan kebijakan pemerintah, investasi teknologi bersih, serta perubahan perilaku industri dan konsumen. Memindahkan sumber energi bisnis ke pilihan yang lebih bersih, seperti tenaga […]

  • Studi Kasus Emisi Kota X: Insight Praktis Hadapi Krisis Iklim

    Studi Kasus Emisi Kota X: Insight Praktis Hadapi Krisis Iklim

    • calendar_month Selasa, 20 Okt 2026
    • account_circle admin
    • 0Komentar

    Ringkasan Singkat: Peningkatan emisi gas rumah kaca dari pembakaran bahan bakar fosil, deforestasi, dan aktivitas industri memerangkap panas di atmosfer, sehingga suhu global terus naik. Akibatnya cuaca ekstrem menjadi lebih sering, pola curah hujan berubah, dan ekosistem serta mata pencaharian manusia semakin terancam. Mengurangi emisi serta melindungi hutan menjadi langkah krusial untuk menghentikan laju krisis […]

  • El Nino Sangat Kuat, BMKG Prediksi Bakal Bertahan hingga Januari 2027

    El Nino Sangat Kuat, BMKG Prediksi Bakal Bertahan hingga Januari 2027

    • calendar_month Selasa, 13 Okt 2026
    • account_circle Redaksi
    • 0Komentar

    Jakarta – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprediksi fenomena El Nino pada 2026 masih akan bertahan hingga awal 2027. Kondisi ini perlu diwaspadai karena perubahan suhu permukaan laut di Samudra Pasifik dan Samudra Hindia dapat memengaruhi pola hujan hingga potensi cuaca ekstrem di Indonesia. Berdasarkan pemutakhiran kondisi iklim dasarian I Oktober 2026, anomali suhu […]

  • Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Sudaryono (kiri) dan Kepala BPOM Taruna Ikrar (kanan)

    Anggaran Pengawasan MBG Dipangkas, BPOM Hanya Dapat Rp509 Miliar

    • calendar_month Kamis, 17 Sep 2026
    • account_circle Redaksi
    • 0Komentar

    JAKARTA – Anggaran pengawasan keamanan pangan untuk Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang diajukan Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) sekitar Rp1,2 triliun ternyata tidak sepenuhnya disetujui. Pemerintah hanya menyetujui anggaran sebesar Rp509 miliar untuk mendukung pengawalan keamanan pangan dalam program tersebut. Kepala BPOM Taruna Ikrar mengatakan, anggaran Rp509 miliar itu merupakan bagian dari kebutuhan […]

  • Presiden Prabowo Terima Mushaf Al-Qur’an Gontor dan Buku “Gontor untuk Indonesia

    Presiden Prabowo Terima Mushaf Al-Qur’an Gontor dan Buku “Gontor untuk Indonesia

    • calendar_month Sabtu, 19 Sep 2026
    • account_circle Redaksi
    • 0Komentar

    Presiden Prabowo Subianto menerima Mushaf Al-Qur’an Gontor dan buku “Gontor untuk Indonesia” dari Pimpinan Pondok Modern Darussalam Gontor (PMDG) saat menghadiri Resepsi Kesyukuran 100 Tahun PMDG di Kabupaten Ponorogo, Provinsi Jawa Timur, Sabtu (19/09/2026). Mushaf Al-Qur’an Gontor diserahkan langsung oleh Pimpinan PMDG KH Akrim Mariyat kepada Kepala Negara. Sementara itu, buku “Gontor untuk Indonesia” turut […]

expand_less