Ekonomi RI Tumbuh 5,47%, Airlangga: Lebih Tinggi dari China hingga Jerman
- account_circle Redaksi
- calendar_month 2 jam yang lalu
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Jakarta – Ekonomi Indonesia tumbuh 5,47% secara tahunan (year-on-year/yoy) pada kuartal III-2026. Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menilai capaian tersebut menunjukkan ketahanan ekonomi nasional di tengah ketidakpastian global.
Airlangga menyebut pertumbuhan ekonomi Indonesia lebih tinggi dibandingkan sejumlah negara G20, seperti China yang tumbuh 4,5%, Korea Selatan 3,4%, Jerman 1,2%, dan Jepang 0,7%. Secara kumulatif, pertumbuhan ekonomi Indonesia sepanjang Januari-September 2026 mencapai 5,45%.
Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat pertumbuhan ekonomi kuartal III-2026 lebih tinggi dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar 5,04%. Berdasarkan harga berlaku, nilai produk domestik bruto (PDB) mencapai Rp6.741 triliun, sedangkan berdasarkan harga konstan sebesar Rp3.633,2 triliun.
Deputi Bidang Neraca dan Analisis Statistik BPS, Edy Mahmud, menjelaskan konsumsi masyarakat menjadi salah satu penopang utama pertumbuhan. Hal ini tercermin dari transaksi perdagangan daring yang meningkat 22,02%, impor barang konsumsi 12,77%, serta transaksi uang elektronik yang tumbuh 29,23% secara tahunan.
Aktivitas ekonomi juga didukung peningkatan penjualan sepeda motor sebesar 8,92% dan mobil penumpang 25,95%. Sementara dari sisi produksi, sektor manufaktur masih berada di zona ekspansi dengan Indeks Kepercayaan Industri (IKI) sebesar 52,75% dan PMI Bank Indonesia di level 52,28%.
Kinerja investasi turut memberikan kontribusi positif. Impor barang modal meningkat 12,22%, sedangkan realisasi investasi dalam negeri dan asing tumbuh 7,59%. Investasi asing (PMA) bahkan meningkat 27,45%, sementara belanja modal pemerintah tumbuh 20,15% secara tahunan.
Di tengah ketegangan geopolitik, perang Rusia-Ukraina, konflik Timur Tengah, perang dagang, serta disrupsi teknologi, pemerintah menilai pengendalian inflasi dan stabilitas kebijakan moneter menjadi faktor penting dalam menjaga momentum pertumbuhan ekonomi nasional.
- Penulis: Redaksi

Saat ini belum ada komentar