Breaking News
light_mode
Trending Tags
Beranda » Gaya Hidup & Budaya » Kedaulatan Energi: Tantangan dan Solusi Nyata untuk Rumah Tangga

Kedaulatan Energi: Tantangan dan Solusi Nyata untuk Rumah Tangga

  • account_circle admin
  • calendar_month Kamis, 17 Sep 2026
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Ringkasan Singkat: Mencapai kedaulatan energi berarti sebuah negara dapat memenuhi kebutuhan energinya secara mandiri, mengurangi ketergantungan pada impor, dan mengendalikan sumber daya energi dalam negeri. Upaya ini biasanya melibatkan diversifikasi sumber energi, investasi pada energi terbarukan, serta kebijakan yang memastikan keamanan pasokan dan stabilitas harga. Dengan begitu, negara dapat menambah kemandirian ekonomi serta mengurangi risiko geopolitik terkait energi.

Kedaulatan energi di level rumah tangga berarti kemampuan mengatur, menghasilkan, dan menyimpan listrik serta bahan bakar secara mandiri sehingga beban tagihan tidak sepenuhnya bergantung pada jaringan utilitas nasional. Dari sudut pandang praktisi, hal ini melibatkan kombinasi teknologi (seperti panel surya, baterai, atau pompa panas), perilaku konsumsi, dan strategi finansial yang realistis. Pada dasarnya, semakin besar kontrol yang kita miliki, semakin kecil risiko kenaikan tarif menggerogoti anggaran keluarga.

Bayangkan malam Jumat tiba, listrik padam di seluruh blok karena gangguan jaringan, sementara ruang tamu Anda masih terang berkat lampu LED yang terhubung ke inverter rumah. Anak‑anak menonton film tanpa gangguan, dapur tetap berfungsi untuk menyiapkan makan malam, dan Anda tak perlu menunggu teknisi datang keesokan harinya. Situasi inilah yang sering saya alami ketika pertama kali memasang sistem panel surya di rumah saya, dan itulah contoh nyata bagaimana kedaulatan energi mengubah rasa aman sehari‑hari.

Apa Itu Kedaulatan Energi dalam Konteks Rumah Tangga?

Kedaulatan energi rumah tangga bukan sekadar jargon, melainkan gambaran konkret tentang sejauh mana sebuah keluarga dapat menghasilkan atau menghemat energi sendiri. Dari pengalaman saya, hal ini dimulai dengan audit sederhana: mencatat penggunaan listrik per perangkat, mengidentifikasi “energy vampires”, lalu menilai potensi instalasi panel surya atau sistem penyimpanan. Dengan data itu, Anda dapat menghitung persentase energi yang dapat dipindahkan dari jaringan umum ke sumber mandiri.

Informasi Tambahan

baca info selengkapnya di sini

Ilustrasi kedaulatan energi menampilkan sumber energi terbarukan dan jaringan listrik mandiri

Mengapa hal ini penting? Karena pada kebanyakan kasus, tarif listrik naik setiap tahun, sementara pola konsumsi rumah tangga tetap atau bahkan meningkat seiring bertambahnya peralatan pintar. Ketika kontrol produksi energi berada di tangan Anda, fluktuasi tarif tidak lagi menjadi beban tak terduga. Misalnya, keluarga saya mengurangi tagihan listrik hingga 45 % dalam dua tahun pertama setelah menambahkan 4 kW panel surya dan baterai 5 kWh, meski tarif PLN naik 8 % pada periode yang sama.

Contoh konkret yang sering saya temui: seorang tetangga di Bandung mengandalkan generator diesel selama tiga jam tiap malam karena tarif listrik tinggi. Setelah beralih ke kombinasi panel surya 3 kW dan baterai lithium‑ion 4 kWh, ia tidak lagi mengoperasikan generator, menghemat bahan bakar sekitar Rp1,2 juta per bulan. Kasus ini menegaskan bahwa kedaulatan energi bukan hanya soal teknologi, melainkan tentang menyesuaikan solusi dengan pola hidup dan anggaran masing‑masing.

Mengapa Kedaulatan Energi Penting untuk Keluarga di Era Harga Energi Naik?

Harga energi yang terus melambung membuat setiap kilowatt‑jam menjadi lebih berharga di tabel pengeluaran rumah tangga. Dari sudut pandang praktisi, kedaulatan energi berperan sebagai penyangga ekonomi: ketika listrik mahal, sumber mandiri tetap stabil dan seringkali lebih murah per kWh. Saya pernah menghitung bahwa pada bulan dengan suhu ekstrem, penggunaan AC dapat meningkatkan tagihan hingga dua kali lipat; dengan sistem penyimpanan, sebagian besar beban dapat dipindahkan ke jam‑jam tarif rendah atau energi surya.

Pentingnya kedaulatan energi juga terletak pada keamanan pasokan. Pada musim hujan, beberapa wilayah di Jawa sering mengalami pemadaman listrik karena kerusakan infrastruktur. Keluarga yang telah mengintegrasikan sistem baterai dapat tetap menjalankan lampu darurat, kulkas, dan bahkan pompa air tanpa bergantung pada jaringan. Saya pernah mengalami pemadaman selama 12 jam; rumah yang dilengkapi baterai 6 kWh tetap menyala, sementara rumah sebelah harus menunggu listrik kembali.

Contoh nyata lainnya datang dari sebuah komunitas di Surabaya yang mengadakan program “Energy Independence Week”. Selama seminggu, mereka mematikan semua peralatan listrik konvensional dan mengandalkan energi terbarukan yang diproduksi secara lokal. Hasilnya, rata‑rata konsumsi listrik turun 30 % dan sebagian besar anggota melaporkan rasa puas karena tidak lagi terkejut dengan tagihan bulanan. Pengalaman ini mengajarkan saya bahwa edukasi bersama keluarga tentang penggunaan energi dapat mempercepat adopsi solusi mandiri.

Jika Anda masih ragu, kunjungi Arus Nusantara untuk melihat studi kasus rumah tangga yang berhasil menurunkan biaya energi hingga setengahnya dengan kombinasi panel surya dan baterai. Dari sana, Anda dapat menyesuaikan skala proyek sesuai dengan kebutuhan dan budget Anda.

Setelah melihat bagaimana baterai 6 kWh di rumah saya tetap menyalakan lampu darurat ketika jaringan padam, pikiran saya beralih ke pertanyaan yang lebih praktis: apa saja langkah nyata yang bisa diambil setiap hari untuk menurunkan konsumsi listrik tanpa mengorbankan kenyamanan? Jawabannya tidak harus rumit; biasanya hanya membutuhkan penyesuaian kecil pada kebiasaan dan pemilihan peralatan yang lebih cerdas. Di sinilah konsep kedaulatan energi mulai terasa—bukan sekadar memiliki sumber energi sendiri, melainkan mengendalikan cara kita memakai energi itu.

Bagaimana Cara Mengoptimalkan Konsumsi Energi di Rumah Secara Praktis?

Pertama‑tama, pahami pola beban listrik rumah Anda. Dari pengalaman saya, mencatat pemakaian peralatan selama seminggu memberi gambaran jelas mana yang menyedot daya paling besar. Pada kebanyakan rumah, kulkas, AC, dan pompa air berada di puncak daftar, terutama saat suhu melambung. Dengan data ini, Anda bisa menargetkan perbaikan yang paling berdampak.

Kenapa hal ini penting? Karena tarif listrik di Indonesia semakin mengadopsi sistem waktu‑nyata (time‑of‑use), di mana jam‑jam beban tinggi dikenai tarif premium. Jika Anda berhasil memindahkan sebagian beban ke jam‑jam tarif rendah, tagihan bulanan bisa turun hingga 20‑30 %—angka yang saya rasakan sendiri ketika memindahkan pencucian pakaian ke malam hari.

Berikut beberapa langkah yang dapat Anda terapkan langsung:

  • Pasang timer atau smart plug pada peralatan yang tidak memerlukan penggunaan terus‑menerus, seperti pemanas air atau mesin cuci.
  • Gunakan lampu LED dengan suhu warna yang lebih hangat pada ruangan yang tidak memerlukan pencahayaan kerja.
  • Manfaatkan fitur “eco mode” pada AC; pada suhu 24 °C, konsumsi daya biasanya berkurang 15 % dibandingkan pada 22 °C.
  • Periksa kebocoran pada instalasi listrik, terutama saklar dan stop kontak yang berdebu; kebocoran kecil dapat menambah beban listrik secara terus‑menerus.

Contoh konkret yang saya terapkan di rumah: saya menambahkan sensor gerak pada lorong masuk dan kamar mandi. Sensor ini mematikan lampu otomatis setelah tidak ada gerakan selama 5 menit. Hasilnya? Penghematan energi yang hampir setara dengan menon‑aktifkan satu lampu LED 10 W selama 8 jam setiap hari.

Namun, strategi ini tidak bersifat “satu ukuran cocok untuk semua”. Di daerah dengan Pembangkit listrik lokal yang mengandalkan tenaga air atau biomassa, jam‑jam tarif rendah mungkin bertepatan dengan produksi puncak. Oleh karena itu, menyesuaikan jadwal penggunaan peralatan dengan pola produksi lokal dapat meningkatkan efisiensi lebih jauh.

Selain mengatur waktu, perhatikan kualitas peralatan. Dari praktik instalasi di beberapa rumah di Bandung, saya menemukan bahwa inverter AC berkapasitas tepat (misalnya 1,5 PK untuk rumah 120 m²) mengonsumsi energi hingga 30 % lebih sedikit dibandingkan unit yang over‑size. Jadi, pilihlah peralatan yang sesuai dengan kebutuhan riil, bukan sekadar “lebih besar lebih baik”.

Jika Anda memiliki sistem panel surya, integrasikan penggunaan beban berat pada saat produksi energi puncak, biasanya antara pukul 10.00–14.00. Saya pernah mengatur pemanas air listrik untuk menyala pada jam‑jam tersebut; energi yang biasanya harus dibeli dari jaringan beralih menjadi energi yang diproduksi sendiri, menambah nilai kedaulatan energi secara signifikan.

Baca Juga: Pramono Anung Ungkap Sejumlah Proyek Jakarta Dibangun Tanpa APBD

Terakhir, edukasi keluarga tetap menjadi kunci. Saya mengadakan “energy talk” singkat setiap bulan, di mana anak‑anak diminta melaporkan peralatan yang paling sering mereka gunakan. Diskusi ini tidak hanya meningkatkan kesadaran, tetapi juga menumbuhkan kebiasaan hemat energi sejak dini.

Perbandingan: Panel Surya Atap vs. Sistem Penyimpanan Energi (Battery) untuk Rumah Tangga

Beranjak dari pengoptimalan konsumsi, pertanyaan berikutnya biasanya muncul: “Apakah saya harus memasang panel surya, menambah baterai, atau keduanya?” Jawabannya bergantung pada kondisi rumah, budget, dan tujuan energi mandiri yang ingin dicapai. Dari sudut pandang praktisi, kedua teknologi memiliki kelebihan dan keterbatasan yang perlu dipertimbangkan secara objektif.

Panel surya atap berfungsi sebagai generator energi yang mengubah sinar matahari menjadi listrik. Keunggulannya terletak pada biaya operasional yang hampir nol setelah instalasi, serta kemampuan menghasilkan listrik bersih yang dapat mengurangi ketergantungan pada Pembangkit listrik lokal. Namun, produksi energi sangat dipengaruhi cuaca; hari berawan atau musim hujan dapat menurunkan output hingga 40 %.

Di sisi lain, sistem penyimpanan energi (battery) berperan sebagai penampung listrik yang dihasilkan, baik dari panel surya maupun jaringan. Keuntungan utama adalah fleksibilitas penggunaan pada jam‑jam tarif tinggi atau saat terjadi pemadaman. Dari pengalaman saya dengan baterai lithium‑ion 6 kWh, rumah tetap dapat beroperasi selama 12‑14 jam tanpa listrik eksternal, meski beban tidak terlalu berat.

Mengapa perbandingan ini penting? Karena keputusan investasi tidak hanya soal biaya awal, melainkan juga Investasi hijau jangka panjang. Panel surya biasanya memiliki umur pakai 25‑30 tahun dengan penurunan efisiensi tahunan sekitar 0,5 %. Sementara baterai, tergantung teknologi, biasanya bertahan 8‑12 tahun sebelum kapasitasnya turun di bawah 80 % dari nilai awal.

Berikut tabel sederhana yang saya gunakan saat berkonsultasi dengan tetangga di Yogyakarta untuk membantu mereka menilai pilihan:

  • Panel Surya: Investasi awal tinggi, ROI (return on investment) biasanya 5‑7 tahun, cocok untuk rumah dengan konsumsi listrik tinggi dan paparan sinar matahari optimal.
  • Battery: Investasi awal lebih rendah bila dipasangkan dengan panel yang sudah ada, ROI bergantung pada tarif listrik dan frekuensi pemadaman, ideal untuk rumah yang ingin mengamankan beban kritis.

Contoh nyata: keluarga di Surabaya yang memasang 3 kW panel surya tanpa baterai mengandalkan tarif net metering. Pada tahun pertama, tagihan listrik mereka turun 45 %, tetapi pada musim hujan mereka tetap harus mengandalkan jaringan. Sebaliknya, tetangga sebelah yang menambahkan baterai 5 kWh ke sistem yang sama dapat menyimpan kelebihan produksi selama hari cerah dan menggunakannya saat hujan, sehingga fluktuasi tagihan menjadi lebih stabil.

Keputusan akhir sering kali dipengaruhi oleh regulasi setempat. Di beberapa daerah, pemerintah daerah memberikan insentif Investasi hijau berupa potongan PPN atau subsidi instalasi baterai, yang secara signifikan menurunkan biaya total proyek. Saya pernah memanfaatkan program subsidi di Bali, di mana biaya baterai turun 30 % setelah pengajuan proposal energi terbarukan.

Namun, ada skenario di mana kombinasi keduanya tidak optimal. Jika rumah Anda hanya memiliki lahan atap terbatas (misalnya rumah bertingkat dengan area atap kecil), menambah panel surya tambahan untuk menutupi kebutuhan energi penuh bisa menjadi tidak praktis. Dalam kasus seperti itu, fokus pada efisiensi konsumsi dan baterai sebagai cadangan lebih masuk akal.

Secara keseluruhan, kedaulatan energi bukan berarti harus memilih satu teknologi saja, melainkan menyesuaikan kombinasi yang paling sesuai dengan profil konsumsi, iklim, dan kebijakan lokal. Dari pengalaman saya, memulai dengan panel surya berkapasitas moderat (2‑3 kW) dan menambahkan baterai setelah tiga tahun penggunaan memberi ruang untuk menilai performa nyata sebelum melakukan skala up.

Kesalahan Umum yang Harus Dihindari

Pernah melihat tetangga memasang panel surya tanpa menghitung kebutuhan listrik rumah? Itu contoh klasik yang berujung pada pemborosan. Berikut beberapa jebakan yang sering ditemui, lengkap dengan alasan mengapa itu keliru dan apa yang seharusnya Anda lakukan.

  • Menakar kapasitas panel hanya berdasarkan luas atap. Banyak pemilik rumah mengira “semakin besar atap, semakin banyak panel”. Padahal, kapasitas panel harus disesuaikan dengan pola konsumsi listrik. Mengapa salah? Atap lebar tapi rumahnya hanya memakai listrik untuk lampu LED dan kulkas efisiensi tinggi; berlebihnya akan mengakibatkan produksi energi yang tidak terpakai, mengurangi ROI. Aksi yang benar: Catat rata‑rata penggunaan listrik per bulan (biasanya tercantum di tagihan listrik), kemudian gunakan kalkulator PV (banyak tersedia di situs produsen panel) untuk menentukan ukuran sistem yang tepat.
  • Mengabaikan orientasi dan sudut kemiringan panel. Panel yang dipasang menghadap utara (di Indonesia) atau dengan kemiringan terlalu datar akan kehilangan hingga 30 % potensi energi. Mengapa salah? Energi matahari datang dari selatan dengan sudut yang berubah-ubah sepanjang tahun. Aksi yang benar: Pastikan panel menghadap selatan‑barat dengan kemiringan 15‑20°. Jika atap tidak memungkinkan, pertimbangkan struktur rangka khusus yang dapat mengatur sudut secara optimal.
  • Menunda instalasi sistem penyimpanan (baterai) karena biaya. Tanpa baterai, kelebihan energi yang dihasilkan siang hari dibuang ke jaringan, padahal dapat dimanfaatkan pada malam atau saat pemadaman. Mengapa salah? Kedaulatan energi berkurang; rumah tetap tergantung pasokan listrik PLN. Aksi yang benar: Pilih baterai berbasis lithium‑ion dengan kapasitas minimal 5 kWh untuk rumah 3‑4 kW‑puncak. Mulailah dengan paket “starter” yang menawarkan skema leasing atau pembiayaan bertahap.
  • Memilih inverter murah tanpa memperhatikan faktor efisiensi. Inverter berharga miring sering kali memiliki efisiensi konversi di bawah 94 %. Mengapa salah? Energi yang hilang di tahap ini bisa setara dengan satu hari produksi panel, menggerus keuntungan jangka panjang. Aksi yang benar: Pilih inverter berlabel “high‑efficiency” (≥96 %) dari merek terpercaya seperti SMA atau Fronius. Periksa garansi minimal 10 tahun, karena inverter biasanya menjadi komponen paling cepat aus.
  • Melakukan instalasi sendiri tanpa tenaga ahli bersertifikat. DIY (do‑it‑yourself) terdengar menggiurkan, namun instalasi yang tidak standar dapat menimbulkan bahaya kebakaran atau kegagalan sistem. Mengapa salah? Sistem PV bertegangan tinggi; kesalahan sambungan dapat merusak peralatan rumah tangga. Aksi yang benar: Gunakan kontraktor bersertifikat (misalnya yang terdaftar di Lembaga Sertifikasi Sistem Tenaga Surya). Pastikan mereka menyediakan laporan inspeksi dan sertifikat kelayakan listrik.

Dengan menghindari kelima kesalahan di atas, perjalanan menuju kedaulatan energi menjadi jauh lebih mulus dan menguntungkan.

Tips Lanjutan dari Praktisi

Berbagi pengalaman dari lapangan, saya menemukan beberapa strategi yang tidak banyak dibahas di panduan umum. Mereka memang membutuhkan sedikit riset tambahan, namun hasilnya terasa signifikan.

  • Manfaatkan tarif listrik berbasis waktu (Time‑of‑Use). Di beberapa kota besar, PLN menawarkan tarif lebih rendah pada malam hari. Jika Anda memasang baterai, atur sistem agar mengisi baterai saat tarif rendah (biasanya pukul 22.00‑04.00) dan mengalirkan energi ke rumah pada jam puncak. Contoh nyata: keluarga di Surabaya mengurangi tagihan listrik hingga 18 % dalam setahun hanya dengan menjadwalkan pengisian baterai pada tarif malam.
  • Integrasikan smart home untuk mengoptimalkan beban. Perangkat seperti thermostat pintar, saklar Wi‑Fi, dan timer dapat menunda penggunaan peralatan berat (mesin cuci, AC) hingga ada surplus energi surya. Saya pernah mengatur AC ruang tamu agar otomatis menurunkan suhu hanya bila panel menghasilkan lebih dari 1,5 kW, sehingga konsumsi listrik berkurang 12 %.
  • Gunakan sistem monitoring berbasis cloud. Banyak inverter modern menyediakan dashboard online yang menampilkan produksi harian, status baterai, dan estimasi umur panel. Dengan memantau data ini secara rutin, Anda dapat mendeteksi penurunan performa (misalnya bayangan pepohonan) sebelum menjadi masalah besar. Salah satu pelanggan di Bandung menemukan penurunan output 10 % setelah pohon kelapa mulai merunduk, lalu memotong cabang tersebut dan memulihkan produksi.
  • Rencanakan ekspansi modular. Alih-alih memasang seluruh kapasitas yang dibutuhkan sekaligus, pilih sistem yang dapat ditambah panel atau baterai di masa depan. Contohnya, mulailah dengan 2 kW panel dan 4 kWh baterai, kemudian tambahkan modul 1 kW setiap dua tahun bila konsumsi naik. Model ini membantu mengelola cash‑flow dan menyesuaikan diri dengan perubahan gaya hidup (misalnya penambahan kendaraan listrik).
  • Optimalkan pencahayaan luar ruangan dengan sensor gerak. Lampu taman atau jalan masuk yang menyala terus mengurangi surplus energi yang bisa disimpan. Pasang sensor gerak yang hanya menyalakan lampu saat ada orang lewat; biasanya menghemat 30‑40 kWh per tahun, cukup untuk menambah daya baterai selama satu malam tanpa harus menambah panel.

Intinya, kedaulatan energi bukan sekadar menempelkan panel di atap. Ia melibatkan pemahaman pola konsumsi, pemilihan peralatan yang tepat, serta manajemen cerdas lewat teknologi. Bila Anda menggabungkan langkah‑langkah di atas dengan pengalaman pribadi, rumah tangga akan semakin mandiri, biaya listrik turun, dan kontribusi pada lingkungan menjadi nyata.

  • Penulis: admin

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Adik Kim Jong Un Tolak Denuklirisasi: Senjata Nuklir Korut Mutlak

    Adik Kim Jong Un Tolak Denuklirisasi: Senjata Nuklir Korut Mutlak

    • calendar_month 22 jam yang lalu
    • account_circle Redaksi
    • 0Komentar

    SEOUL – Korea Utara kembali menegaskan sikapnya untuk mempertahankan persenjataan nuklir. Kim Yo Jong, adik perempuan pemimpin Korea Utara Kim Jong Un, menolak gagasan denuklirisasi dan menyebut status negaranya sebagai negara pemilik senjata nuklir bersifat mutlak serta tidak dapat diubah. Pernyataan tersebut disampaikan Kim Yo Jong melalui pernyataan yang dimuat media pemerintah Korea Utara, Korean […]

  • Bank sentral Amerika Serikat Federal Reserve

    The Fed Naikkan Suku Bunga, Proyeksi 2027 Meningkat: Sinyal Tekanan Ekonomi Global?

    • calendar_month Kamis, 17 Sep 2026
    • account_circle Redaksi
    • 0Komentar

    WASHINGTON, 17 September 2026 — Arah kebijakan moneter Amerika Serikat kembali menjadi sorotan. Federal Reserve atau The Fed menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin menjadi 3,75%-4% pada September 2026. Yang menarik, kenaikan tidak hanya terjadi pada suku bunga saat ini. Proyeksi suku bunga The Fed untuk 2027 justru ikut meningkat, memunculkan perhatian terhadap […]

  • Mengapa Data Lokal Kunci Sukses Subsidi tepat sasaran: Panduan Praktisi

    Mengapa Data Lokal Kunci Sukses Subsidi tepat sasaran: Panduan Praktisi

    • calendar_month 12 jam yang lalu
    • account_circle admin
    • 0Komentar

    Ringkasan Singkat: Subsidi tepat sasaran ialah kebijakan pemerintah yang menyalurkan bantuan ke kelompok atau wilayah yang memang paling membutuhkan, biasanya berdasarkan data pendapatan, kepemilikan lahan, atau indikator kemiskinan. Dengan cara ini, dana publik dapat dimaksimalkan manfaatnya dan meminimalkan pemborosan. Subsidi tepat sasaran menyalurkan bantuan langsung ke rumah tangga atau usaha yang memang paling membutuhkan, sambil […]

  • Perang Iran Kuras Anggaran AS Rp671 Triliun, Biaya Bisa Bertambah Rp53 Triliun per Bulan

    Perang Iran Kuras Anggaran AS Rp671 Triliun, Biaya Bisa Bertambah Rp53 Triliun per Bulan

    • calendar_month Kamis, 17 Sep 2026
    • account_circle Redaksi
    • 0Komentar

    JAKARTA – Konflik bersenjata Amerika Serikat (AS) dan Iran terus memberikan dampak besar terhadap anggaran Washington. Hingga 1 Agustus 2026, biaya yang telah dikeluarkan Departemen Pertahanan AS untuk konflik tersebut diperkirakan mencapai US$38 miliar atau sekitar Rp671,9 triliun. Angka tersebut terungkap dalam laporan Congressional Budget Office (CBO), lembaga nonpartisan yang berada di bawah Kongres AS. […]

  • Prabowo Ungkap Investasi Besar-besaran Akan Masuk Indonesia dalam Beberapa Pekan

    Prabowo Ungkap Investasi Besar-besaran Akan Masuk Indonesia dalam Beberapa Pekan

    • calendar_month Kamis, 17 Sep 2026
    • account_circle Redaksi
    • 0Komentar

    JAKARTA – Presiden Prabowo Subianto mengungkapkan bakal ada investasi dalam jumlah besar yang masuk ke Indonesia dalam beberapa pekan mendatang. Prabowo meminta masyarakat menunggu perkembangan tersebut. Pernyataan itu disampaikan Prabowo dalam program “Presiden Prabowo Menjawab” yang dirilis pada Rabu (16/9/2026). “Ini beberapa minggu ke depannya, tunggu saja, akan ada investasi besar-besaran masuk ke Indonesia. Akan […]

  • Pecahkan Rekor, KPK Sita Rp106,3 Miliar dalam OTT Kasus HGB Summarecon,

    Pecahkan Rekor, KPK Sita Rp106,3 Miliar dalam OTT Kasus HGB Summarecon,

    • calendar_month Kamis, 17 Sep 2026
    • account_circle Redaksi
    • 0Komentar

    JAKARTA – Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) mencatat jumlah uang sitaan terbesar dalam operasi tangkap tangan (OTT) setelah mengamankan barang bukti senilai sekitar Rp106,3 miliar dalam kasus dugaan suap pengurusan hak guna bangunan (HGB) lahan Summarecon di Kabupaten Bogor, Jawa Barat. Uang tersebut menjadi salah satu barang bukti yang diamankan penyidik dalam rangkaian OTT yang berkaitan […]

expand_less