Breaking News
light_mode
Trending Tags
Beranda » Ekonomi & Bisnis » Indonesia Beberkan Strategi Kejar Net Zero Emission 2060 di Forum Pre-COP31 Fiji

Indonesia Beberkan Strategi Kejar Net Zero Emission 2060 di Forum Pre-COP31 Fiji

  • account_circle Redaksi
  • calendar_month Rabu, 7 Okt 2026
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Pemerintah Indonesia membeberkan sejumlah strategi untuk mengejar target net zero emission (NZE) pada 2060 atau lebih cepat. Strategi tersebut mencakup penguatan sektor kehutanan melalui FOLU Net Sink 2030, pengurangan emisi dari limbah dan metana, hingga transformasi industri menuju sektor yang lebih rendah karbon.

Strategi itu disampaikan Menteri Lingkungan Hidup sekaligus Kepala Badan Pengendalian Lingkungan Hidup (BPLH) Moh Jumhur Hidayat dalam Leader’s Plenary pada Pre-COP Leader’s Event di Fiji, Selasa (6/10/2026).

Jumhur mengatakan, Indonesia telah menyampaikan Nationally Determined Contribution (NDC) sebagai arah kebijakan menuju pencapaian NZE 2060 atau lebih cepat. Menurutnya, upaya menurunkan emisi tidak dapat dilepaskan dari kebutuhan menjaga pertumbuhan ekonomi, ketahanan energi, pengentasan kemiskinan, dan peningkatan ketahanan masyarakat.

“Kami mempercepat aksi iklim di seluruh sektor ekonomi melalui FOLU Net Sink 2030, mengurangi emisi dari limbah dan metana, serta melakukan transformasi industri, baik melalui dekarbonisasi industri yang sudah ada maupun pengembangan industri rendah karbon sejak tahap perancangannya,” kata Jumhur dalam keterangan tertulis, Rabu (7/10/2026).

Di sektor energi, pemerintah menekankan bahwa proses transisi harus dilakukan secara adil dan terukur. Kebijakan tersebut diarahkan tidak hanya untuk menekan emisi, tetapi juga memastikan ketahanan energi dan keterjangkauan energi tetap terjaga, terutama bagi masyarakat dan kelompok yang rentan terhadap dampak perubahan ekonomi maupun iklim.

Jumhur menilai keberhasilan agenda perubahan iklim tidak cukup diukur dari tingginya komitmen yang disampaikan dalam forum internasional. Hal yang lebih penting adalah bagaimana komitmen tersebut diterjemahkan menjadi kebijakan dan aksi yang konkret, terukur, serta memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.

“Tantangan dunia saat ini bukan lagi sekadar meningkatkan ambisi, melainkan memastikan bahwa ambisi tersebut benar-benar diwujudkan melalui implementasi yang konkret,” ujarnya.

Menurut Jumhur, Persetujuan Paris tetap menjadi acuan utama dalam menghadapi perubahan iklim. Namun, ruang untuk mempertahankan kenaikan suhu global pada batas 1,5 derajat Celsius semakin menyempit sehingga dibutuhkan langkah yang lebih nyata dari seluruh negara.

“Persetujuan Paris menjadi kompas kita. Namun, ketika ruang untuk menjaga kenaikan suhu 1,5 derajat Celsius semakin menyempit, tugas kita adalah menjembatani komitmen global menjadi hasil nyata,” kata Jumhur.

Ia menegaskan, penerapan agenda tersebut juga harus tetap berpedoman pada prinsip keadilan dan common but differentiated responsibilities, yakni tanggung jawab bersama dengan mempertimbangkan perbedaan kemampuan dan kondisi masing-masing negara.

Forum Pre-COP31 di Fiji juga menyoroti kerentanan negara-negara kepulauan kecil terhadap perubahan iklim. Kenaikan permukaan laut menjadi salah satu ancaman serius bagi negara seperti Tuvalu yang menghadapi risiko kehilangan wilayah apabila upaya adaptasi dan mitigasi tidak dilakukan secara memadai.

Pre-COP31 diselenggarakan di Fiji dan Tuvalu pada 5-9 Oktober 2026 sebagai rangkaian persiapan menuju United Nations Climate Change Conference (COP31) yang akan berlangsung di Antalya, Turki, pada 9-20 November 2026.

Salah satu hasil utama Pre-COP Leader’s Event yang berlangsung pada 6 Oktober adalah diadopsinya Deklarasi Taku Pakasoa. Deklarasi tersebut menjadi bentuk dukungan terhadap negara-negara yang paling rentan terhadap dampak perubahan iklim, khususnya negara berkembang kepulauan kecil atau Small Island Developing States (SIDS).

Selain SIDS, perhatian juga diarahkan kepada negara-negara kurang berkembang atau Least Developed Countries (LDC) dalam meningkatkan upaya mitigasi, memperkuat ketahanan terhadap risiko perubahan iklim, serta menghadapi kerugian dan kerusakan yang tidak dapat dipulihkan.

Rangkaian Pre-COP31 dihadiri perwakilan lebih dari 50 negara, termasuk kepala negara dan pemerintahan, menteri, pejabat tinggi pemerintah, negosiator perubahan iklim, serta organisasi internasional. Forum tersebut menjadi ruang untuk memperkuat koordinasi sebelum negara-negara bertemu dalam COP31 dan memastikan komitmen iklim global diterjemahkan ke dalam langkah nyata di tingkat nasional.

  • Penulis: Redaksi

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • 7 Langkah Praktis Menghadapi Krisis Iklim untuk Kota Anda

    7 Langkah Praktis Menghadapi Krisis Iklim untuk Kota Anda

    • calendar_month Rabu, 23 Sep 2026
    • account_circle admin
    • 0Komentar

    Ringkasan Singkat: Krisis iklim memaksa kita mengubah pola hidup karena suhu rata‑rata bumi terus naik, cuaca ekstrem menjadi lebih sering, dan keanekaragaman hayati terancam. Dampaknya terasa pada pertanian, kesehatan, serta ekonomi, sehingga tindakan mitigasi dan adaptasi kini menjadi keharusan bersama. Krisis iklim menuntut kota‑kota menyesuaikan diri dengan perubahan suhu, curah hujan, dan pola cuaca yang […]

  • Anggaran Negara 2027 Tembus Rp 4.097 Triliun, BPKP-BPK Perkuat Pengawasan

    Anggaran Negara 2027 Tembus Rp 4.097 Triliun, BPKP-BPK Perkuat Pengawasan

    • calendar_month Senin, 12 Okt 2026
    • account_circle Redaksi
    • 0Komentar

    Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan (BPKP) dan Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) memperkuat sinergi pengawasan untuk memastikan belanja negara sebesar Rp 4.097,2 triliun pada 2027 dikelola secara akuntabel dan memberikan manfaat nyata bagi masyarakat. Pengawasan tersebut mencakup delapan program prioritas nasional, mulai dari pangan, energi, pendidikan, kesehatan, hilirisasi industri, hingga pengentasan kemiskinan. Kepala BPKP Muhammad Yusuf […]

  • Hotspot Turun 617 Titik, Operasi Karhutla Tetap Diperkuat

    Hotspot Turun 617 Titik, Operasi Karhutla Tetap Diperkuat

    • calendar_month Rabu, 21 Okt 2026
    • account_circle Redaksi
    • 0Komentar

    Jakarta, 20 Oktober 2026 – Kementerian Kehutanan terus memperkuat pengendalian kebakaran hutan dan lahan di berbagai wilayah meskipun jumlah hotspot secara nasional menunjukkan penurunan. Operasi darat dan udara, verifikasi lapangan, pembasahan, serta pendinginan tetap dilakukan untuk memastikan api dan bara benar-benar terkendali. Berdasarkan pemantauan SiPongi Kementerian Kehutanan hingga Senin, 19 Oktober 2026 pukul 21.00 WIB, […]

  • Studi Kasus PLTU vs. Surya: Insight Kedaulatan Energi untuk Daerah

    Studi Kasus PLTU vs. Surya: Insight Kedaulatan Energi untuk Daerah

    • calendar_month Kamis, 15 Okt 2026
    • account_circle admin
    • 0Komentar

    Ringkasan Singkat: Mencapai kedaulatan energi berarti suatu negara dapat memenuhi kebutuhan listrik dan bahan bakar utama secara mandiri, tanpa bergantung pada impor. Ini melibatkan pemanfaatan sumber daya dalam negeri, seperti energi terbarukan dan cadangan fosil, serta pengaturan kebijakan yang menjamin pasokan stabil dan harga terjangkau. Kedaulatan energi berarti suatu wilayah dapat menutupi kebutuhan listriknya lewat […]

  • Rosan: Singapura tetap terbuka untuk perkuat investasi di RI

    Rosan: Singapura tetap terbuka untuk perkuat investasi di RI

    • calendar_month Kamis, 29 Okt 2026
    • account_circle Redaksi
    • 0Komentar

    Jakarta – Menteri Investasi dan Hilirisasi/Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Rosan Roeslani menyatakan komitmen investasi Singapura ke Indonesia tetap terbuka di tengah isu yang muncul di antara kedua negara, termasuk kebakaran hutan dan lahan (karhutla) dan kabut asap lintas batas. “Kebetulan saya kemarin juga bertemu dengan Menteri Luar Negeri Singapura, Pak Vivian (Balakrishnan), dan […]

  • Subsidi tepat sasaran

    Strategi Praktis Subsidi Tepat Sasaran yang Mengubah Hasil Lapangan

    • calendar_month Rabu, 14 Okt 2026
    • account_circle admin
    • 0Komentar

    Ringkasan Singkat: Subsidi tepat sasaran berfokus pada penyaluran bantuan kepada kelompok yang memang membutuhkan, sehingga manfaatnya tidak menyebar ke pihak yang tidak berhak. Pemerintah biasanya mengandalkan data kependudukan, verifikasi pendapatan, atau mekanisme kartu pintar untuk memastikan bantuan sampai pada rumah tangga berpendapatan rendah, petani kecil, atau pencari kerja. Subsidi tepat sasaran menyalurkan bantuan pemerintah langsung […]

expand_less