Ongkos Angkut Minyak Dunia Melonjak, Harga BBM Berpotensi Ikut Naik
- account_circle Redaksi
- calendar_month Kamis, 22 Okt 2026
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
JAKARTA – Kenaikan biaya pengiriman minyak mentah dan produk minyak di pasar global menambah tekanan terhadap harga energi. Gangguan jalur perdagangan di Timur Tengah membuat tarif kapal tanker melonjak dan meningkatkan biaya pengadaan minyak, terutama bagi kilang di kawasan Asia.
Badan Energi Internasional (International Energy Agency/IEA) mencatat, tarif pengiriman minyak mentah dari kawasan Teluk Timur Tengah menuju Asia menggunakan kapal tanker berukuran besar menembus 37 dollar AS per barel pada pertengahan Oktober 2026. Angka tersebut lebih dari lima kali lipat dibandingkan sebelum perang di Timur Tengah dimulai.
Kenaikan ongkos angkut ini menunjukkan bahwa harga minyak mentah bukan satu-satunya faktor yang menentukan biaya pasokan energi. Minyak harus diangkut menggunakan kapal tanker sebelum diolah menjadi bahan bakar dan didistribusikan ke negara konsumen.
“Biasanya, transportasi hanya menyumbang sebagian kecil dari harga minyak secara keseluruhan, tetapi ketika pengiriman menjadi lebih mahal, biaya dapat meningkat di seluruh rantai pasokan,” tulis IEA dalam analisisnya, Kamis (22/10/2026).
Lonjakan biaya pengiriman berpotensi menambah beban pengadaan minyak bagi kilang. Jika kenaikan tersebut berlangsung dan diteruskan ke tahap pengolahan serta distribusi, biaya bahan bakar di negara konsumen juga dapat terdampak. Namun, perubahan harga BBM pada akhirnya bergantung pada kebijakan harga masing-masing negara dan faktor biaya lainnya.
Gangguan Jalur Perdagangan Picu Kenaikan Tarif Tanker
Kenaikan tarif pengiriman terjadi di tengah gangguan perdagangan energi yang berkaitan dengan perang di Timur Tengah sejak Februari 2026. Pasar selama ini menyoroti ketersediaan minyak mentah dari kawasan Teluk serta kelancaran distribusi melalui Selat Hormuz.
Menurut IEA, kemacetan kapal di sekitar Selat Hormuz, pengalihan rute perdagangan, serta meningkatnya pemindahan muatan dari satu kapal ke kapal lain membuat waktu pengiriman semakin panjang.
Dalam kondisi normal, kapal tanker beroperasi melalui rute perdagangan yang menghubungkan negara produsen dengan negara konsumen. Semakin singkat waktu perjalanan, semakin banyak pengiriman yang dapat dilakukan oleh armada kapal global.
Sebaliknya, perjalanan yang lebih panjang membuat kapal membutuhkan waktu lebih lama untuk menyelesaikan pengiriman. Akibatnya, ketersediaan kapal untuk disewa berkurang ketika permintaan pengangkutan masih tinggi. Kondisi tersebut kemudian mendorong tarif tanker meningkat.
Perubahan Rute Minyak Dunia Menambah Tekanan
Tekanan terhadap pasar kapal tanker sebenarnya telah muncul sejak invasi besar-besaran Rusia ke Ukraina. Perubahan arus perdagangan minyak mentah dan produk minyak, termasuk setelah Uni Eropa dan negara-negara G7 memberlakukan pembatasan terhadap minyak Rusia, mengubah rute perdagangan yang sebelumnya sudah terbentuk.
IEA juga menyoroti peningkatan penggunaan shadow fleet, yaitu armada kapal yang beroperasi di luar pengaturan pelayaran konvensional dan digunakan untuk mengangkut minyak, termasuk dari Rusia dan Iran, dalam upaya menghindari sanksi.
Perubahan rute, bertambahnya waktu pengiriman, dan terbatasnya ketersediaan kapal menjadi faktor yang menambah biaya transportasi minyak global.
Situasi ini membuat perkembangan pasar energi tidak hanya ditentukan oleh harga minyak mentah, tetapi juga oleh biaya logistik dan kelancaran jalur distribusi. Apabila ongkos angkut tetap tinggi, tekanan terhadap biaya pasokan bahan bakar berpotensi berlanjut, meskipun kenaikan tarif tanker tidak otomatis membuat harga BBM di setiap negara langsung naik.
- Penulis: Redaksi

Saat ini belum ada komentar