Bos Danantaraa Lapor Prabowo, Realisasi Investasi Semester I-2026 Tembus Rp1.010,6 Triliun
- account_circle Redaksi
- calendar_month Kamis, 8 Okt 2026
- print Cetak

Dok. Istimewa
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Menteri Investasi dan Hilirisasi/Kepala BKPM Rosan Perkasa Roeslani melaporkan realisasi investasi Indonesia pada Semester I-2026 kepada Presiden Prabowo Subianto. Nilainya mencapai Rp1.010,6 triliun atau tumbuh 7,2 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Laporan tersebut disampaikan Rosan saat mendampingi Presiden Prabowo dalam peresmian groundbreaking 11 ekosistem hilirisasi nikel sekaligus ekspor perdana baterai di kawasan Indonesia Weda Bay Industrial Park (IWIP), Maluku Utara, Kamis (8/10/2026).
“Bapak Presiden izinkan saya melaporkan, memang investasi di semester I-2026 ini alhamdulillah mencapai realisasi investasi Rp1.010,6 triliun, tumbuh 7,2 persen dan menyerap lebih dari 1,4 juta orang,” ujar Rosan dalam acara yang disiarkan secara daring.
Berdasarkan data Kementerian Investasi dan Hilirisasi/BKPM, realisasi tersebut setara dengan 49,5 persen dari target investasi nasional 2026 yang ditetapkan sebesar Rp2.041,3 triliun. Investasi tersebut juga tercatat menyerap 1.448.862 tenaga kerja Indonesia, meningkat sekitar 15 persen secara tahunan.
Rosan menegaskan hilirisasi menjadi salah satu penggerak utama investasi nasional. Kontribusi investasi hilirisasi disebut terus meningkat dalam dua tahun terakhir, dari sekitar 25 persen menjadi 35 persen dari total investasi yang masuk.
“Dari total investasi tersebut, angka hilirisasi meningkat. Dalam dua tahun terakhir ini yang tadinya kontribusi hilirisasi 25 persen sudah mencapai 35 persen dari total investasi yang masuk,” kata Rosan.
Kinerja tersebut menunjukkan semakin besarnya porsi investasi yang diarahkan untuk menciptakan nilai tambah di dalam negeri. Pemerintah tidak hanya mendorong masuknya modal, tetapi juga mengarahkan investasi untuk memperkuat industrialisasi, menciptakan lapangan kerja, dan meningkatkan posisi Indonesia dalam rantai pasok global.
Maluku Utara menjadi salah satu contoh perkembangan tersebut. Kawasan industri pengolahan di Weda Bay tidak lagi hanya berorientasi pada aktivitas pertambangan, tetapi berkembang menjadi bagian dari ekosistem industri berbasis pengolahan mineral dan produk turunan nikel.
Produk yang dihasilkan dari kawasan tersebut antara lain feronikel, nikel matte, Mixed Hydroxide Precipitate (MHP), nikel sulfat hingga kobalt. Perkembangan industri pengolahan tersebut turut mendorong aktivitas perdagangan dan ekspor dari Maluku Utara.
Sebelumnya, pemerintah juga mencatat bahwa investasi hilirisasi pada 15 komoditas prioritas dalam RPJMN 2025–2029 mencapai Rp273,47 triliun pada Semester I-2026 atau sekitar 27,06 persen dari total realisasi investasi nasional.
Di sisi persebaran investasi, data BKPM menunjukkan investasi di luar Pulau Jawa tetap memiliki porsi besar. Pada Triwulan II-2026 saja, investasi di luar Jawa mencapai Rp256,5 triliun atau 50,1 persen, sedikit lebih tinggi dibandingkan Pulau Jawa yang mencapai Rp255,3 triliun atau 49,9 persen.
Capaian Semester I-2026 sekaligus menjadi bagian dari upaya pemerintah mengejar kebutuhan investasi yang lebih besar dalam beberapa tahun ke depan. Rosan sebelumnya menyebut Indonesia membutuhkan investasi lebih dari Rp13.000 triliun dalam lima tahun untuk mendukung target pertumbuhan ekonomi 8 persen.
Dengan capaian lebih dari Rp1.000 triliun pada paruh pertama 2026, tantangan berikutnya bukan hanya menjaga arus investasi, tetapi memastikan investasi tersebut benar-benar masuk ke sektor produktif, memperluas lapangan kerja, memperkuat industri nasional, dan menghasilkan nilai tambah yang semakin besar bagi perekonomian Indonesia.
- Penulis: Redaksi

Saat ini belum ada komentar