Pertamina Bidik Jadi Produsen Panas Bumi Terbesar Dunia, PGE Siapkan Ekspansi
- account_circle Redaksi
- calendar_month 2 jam yang lalu
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
JAKARTA – Indonesia menargetkan posisi sebagai produsen energi panas bumi terbesar dunia dengan mengungguli Amerika Serikat (AS). Untuk mencapai target tersebut, PT Pertamina Geothermal Energy Tbk (PGE) mempercepat pengembangan sejumlah proyek strategis.
Direktur Utama PGE Ahmad Yani mengatakan, pada 2025 Indonesia menempati peringkat kedua dunia dalam produksi panas bumi setelah AS. Ia optimistis target tersebut dapat dicapai karena Indonesia memiliki potensi sumber daya panas bumi yang besar.
“Saat ini Indonesia kita nomor dua di dunia setelah Amerika Serikat. Jadi untuk menuju sana apakah bisa? Ya bisa, potensinya sudah ada,” ujar Ahmad dalam media briefing di Jakarta, Rabu (4/11/2026).
PGE menargetkan kapasitas terpasang meningkat dari 727 megawatt (MW) saat ini menjadi 1 gigawatt (GW) pada 2028 dan 1,8 GW pada 2034.
Untuk mencapai target tersebut, perusahaan mempercepat proyek Lumut Balai Unit 3 dan 4, Hululais Unit 1 dan 2, serta Lahendong Unit 7 dan 8.
Ahmad juga menyebut 2026 menjadi momentum 100 tahun perjalanan panas bumi Indonesia sejak eksplorasi pertama di Kamojang, Jawa Barat, pada 1926. Ia berharap Indonesia dapat berkembang menjadi pusat keunggulan panas bumi dunia atau world geothermal center of excellence.
Di sisi kebijakan, PGE mendorong revisi ketentuan tarif dalam Peraturan Presiden Nomor 112 Tahun 2022. Perusahaan mengusulkan penyesuaian tarif dan penerapan skema feed-in tariff untuk memberikan kepastian investasi serta mempercepat pengembangan proyek panas bumi.
Dari sisi operasional, PGE mencatat produksi listrik panas bumi sebesar 4.114 gigawatt hour (GWh) sepanjang Januari–September 2026 dari wilayah kerja yang dioperasikan sendiri. Angka tersebut tumbuh 9,79 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya dan mencapai 108,22 persen dari target sebesar 3.801 GWh.
- Penulis: Redaksi

Saat ini belum ada komentar