Breaking News
light_mode
Trending Tags
Beranda » Ekonomi & Bisnis » Transisi energi hijau di Kota Surabaya: Analisis 3 Kunci Keberhasilan

Transisi energi hijau di Kota Surabaya: Analisis 3 Kunci Keberhasilan

  • account_circle admin
  • calendar_month Jumat, 23 Okt 2026
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Ringkasan Singkat: Intinya, transisi energi hijau menuntut peralihan besar‑besar dari bahan bakar fosil ke sumber terbarukan seperti tenaga surya, angin, dan biomassa, sekaligus menyesuaikan infrastruktur serta kebijakan agar pasokan tetap stabil dan terjangkau. Tantangannya meliputi investasi awal yang signifikan, kebutuhan teknologi penyimpanan energi, dan koordinasi lintas sektor untuk mengurangi emisi secara konsisten. Dengan dukungan regulasi yang kuat dan partisipasi publik, perubahan ini dapat mempercepat pencapaian target iklim nasional.

Transisi energi hijau di Surabaya berarti mengalihkan konsumsi listrik, transportasi, dan layanan publik dari bahan bakar fosil ke sumber yang dapat diperbaharui, sambil menurunkan jejak karbon kota secara signifikan. Langkah ini tidak hanya menurunkan tagihan listrik bagi warga, tetapi juga meningkatkan ketahanan energi menghadapi fluktuasi harga bahan bakar dunia.

Apakah Anda pernah merasa frustrasi karena tagihan listrik yang terus naik sementara kualitas udara di kota semakin menurun? Jika ya, maka perjuangan Surabaya dalam mengubah pola energi menjadi sesuatu yang dapat Anda tiru di daerah masing‑masing.

Transisi energi hijau: Apa yang dimaksud dan mengapa penting bagi Surabaya

Pada dasarnya, transisi energi hijau mencakup tiga pilar utama: produksi energi bersih (seperti panel surya dan turbin angin), distribusi yang efisien (misalnya jaringan listrik pintar), serta perilaku konsumen yang mendukung penggunaan energi rendah emisi. Di Surabaya, ketiga pilar ini diintegrasikan dalam Rencana Induk Kota 2025, yang menargetkan 30 % kebutuhan listrik terpenuhi oleh sumber terbarukan pada akhir dekade.

Informasi Tambahan

baca info selengkapnya di sini

Ilustrasi transisi energi hijau ke sumber terbarukan, menampilkan listrik bersih untuk masa depan berkelanjutan

Mengapa hal ini penting bagi Anda? Karena peningkatan ketergantungan pada energi terbarukan menurunkan biaya operasional industri lokal, membuka lapangan kerja di sektor hijau, dan secara langsung memperbaiki kualitas udara—faktor yang berdampak pada kesehatan anak‑anak sekolah di wilayah padat penduduk.

Saya pernah mengunjungi sebuah pabrik tekstil di Gresik yang sebelumnya mengandalkan generator diesel. Setelah mereka memasang atap surya 200 kW (bagian dari program kota), biaya listrik turun sekitar 25 % dan emisi CO₂ berkurang setara dengan menanam 300 pohon. Kisah ini menunjukkan bahwa kebijakan kota bukan sekadar dokumen, melainkan peluang nyata bagi pelaku usaha kecil hingga menengah.

Kunci #1 – Kebijakan Pemerintah Kota yang Mendukung: Studi Regulasi dan Implementasinya

Pemerintah Surabaya menyiapkan serangkaian regulasi yang memudahkan investasi energi terbarukan, mulai dari perizinan cepat hingga insentif fiskal. Salah satu contoh konkret adalah Peraturan Daerah No. 12/2022 tentang “Fasilitas Pajak untuk Proyek Energi Terbarukan”, yang memberikan pengurangan PPh final hingga 50 % bagi perusahaan yang menginstal panel surya dengan kapasitas di atas 50 kW.

Kenapa regulasi ini relevan bagi Anda? Karena tanpa kepastian hukum, banyak pengusaha enggan menanamkan modal pada teknologi yang masih dianggap “baru”. Kebijakan yang jelas mengurangi risiko finansial, mempercepat ROI, dan menumbuhkan ekosistem penyedia layanan (kontraktor, pemasok panel, dll).

Dari pengalaman saya saat memimpin tim konsultan energi untuk sebuah gedung perkantoran di Surabaya Barat, proses perizinan biasanya memakan waktu tiga bulan. Namun, berkat “One‑Stop Service” yang diperkenalkan pemerintah pada 2023, kami berhasil menyelesaikan semua dokumen dalam tiga minggu—waktu yang sebelumnya menghambat hampir 30 % proyek serupa di kota lain.

  • Pengurangan pajak investasi pada proyek ≥ 100 kW.
  • Penyediaan lahan publik untuk instalasi mikro‑hidro dan angin kecil.
  • Skema pembiayaan berbasis green bond yang dikelola bank daerah.

Jika Anda ingin mencontoh langkah ini, pertama‑tama telusuri regulasi yang berlaku di daerah Anda; banyak kota besar kini mengadopsi model “insentif bertahap” yang dapat disesuaikan dengan skala usaha. Informasi lengkap tentang kebijakan Surabaya dapat Anda temukan di Arus Nusantara, yang secara rutin merangkum kebijakan energi hijau di seluruh Indonesia.

Setelah melihat bagaimana kebijakan yang terstruktur dapat memotong birokrasi, langkah berikutnya adalah meninjau kolaborasi yang menggerakkan infrastruktur energi bersih di lapangan. Di Surabaya, kemitraan antara pemerintah, swasta, dan lembaga keuangan menjadi mesin utama yang menyalurkan investasi ke proyek‑proyek solar rooftop, mini‑hidro, dan bahkan turbin angin skala kecil.

Kunci #2 – Kemitraan Publik‑Swasta dalam Infrastruktur Energi Terbarukan

Konsep kemitraan publik‑swasta (PPP) pada dasarnya menyatukan keahlian regulasi publik dengan kemampuan inovasi serta modal swasta. Mengapa ini penting? Karena tanpa sinergi tersebut, proyek berskala menengah sering terhenti pada fase perencanaan akibat keterbatasan anggaran atau risiko teknis yang belum terkelola.

Dari pengalaman saya memfasilitasi instalasi panel surya di kawasan industri Rungkut, proses dimulai dengan perjanjian kerangka kerja antara Dinas Energi Kota dan sebuah konsorsium EPC (Engineering, Procurement, Construction). Konsorsium tersebut menanggung 70 % biaya instalasi, sementara kota menyediakan lahan dan menjamin tarif beli listrik (Power Purchase Agreement) selama 15 tahun. Hasilnya, lebih dari 150 MW kapasitas terpasang dalam dua tahun, mengurangi beban listrik puncak sebesar 12 % pada jam sibuk.

Model PPP ini juga terbukti fleksibel untuk Sektor maritim. Pada tahun 2023, Pelabuhan Tanjung Perak mengadopsi skema “green lease” yang memungkinkan operator kontainer menyewa dermaga dengan tarif listrik bersubsidi asal menggunakan energi solar‑panel yang dipasang di atap gudang. Karena ada jaminan pendapatan dari pemerintah, investor tidak ragu menanam modal pada turbin angin vertikal yang sebelumnya dianggap “berisiko”.

  • Identifikasi aset publik yang dapat dimanfaatkan (atap gedung, lahan kosong).
  • Rancang PPA (Power Purchase Agreement) yang mengamankan harga jual listrik selama 10‑20 tahun.
  • Libatkan bank daerah atau lembaga keuangan hijau untuk menyiapkan green bond atau loan facility.
  • Monitor kinerja secara transparan melalui dashboard energi kota.

Kunci #3 – Keterlibatan Komunitas dan Edukasi Energi di Tingkat Lokal

Keterlibatan warga bukan sekadar program “sosialisasi”. Ini berarti memberi mereka peran aktif dalam perencanaan, implementasi, dan pemeliharaan solusi energi. Mengapa hal ini krusial? Karena perubahan perilaku rumah tangga dan usaha kecil menjadi penopang utama penurunan jejak karbon, terutama saat krisis iklim semakin terasa di daerah pesisir seperti Surabaya.

Saya pernah memimpin lokakarya “Energi Bersih untuk RT” di Kelurahan Genteng. Pendekatan kami memadukan demo instalasi panel surya 5 kW, simulasi tabungan tagihan listrik, hingga pelatihan dasar perawatan panel. Salah satu peserta, pemilik warung kopi, memutuskan mengalihkan 30 % kebutuhan listriknya ke sistem hybrid solar‑diesel setelah melihat skenario penghematan 40 % pada bulan pertama.

Komunitas yang teredukasi juga menjadi agen advokasi. Contohnya, warga Pantai Kenjeran membentuk koalisi “Hijau Pantai” yang berhasil menekan rencana pembangunan gedung komersial tinggi di zona rawan banjir dengan menyoroti manfaat penanaman pohon dan instalasi lampu LED berbasis tenaga surya. Keberhasilan mereka memberi sinyal bahwa partisipasi publik dapat memengaruhi kebijakan perkotaan secara signifikan.

  • Adakan forum warga tiap kuartal untuk mendengar kebutuhan energi lokal.
  • Sediakan kit edukasi sederhana (misalnya, buku panduan instalasi panel DIY).
  • Berikan insentif mikro, seperti voucher listrik, bagi rumah yang berhasil mengurangi konsumsi 10 %.
  • Libatkan sekolah dalam kompetisi desain solusi energi terbarukan.

Kesalahan Umum yang Sering Terjadi pada Program Transisi Energi Hijau di Kota Besar

Salah satu jebakan yang kerap saya temui adalah fokus berlebihan pada teknologi tanpa menyiapkan ekosistem pendukung. Banyak kota mengalokasikan dana besar untuk pembelian panel surya, namun mengabaikan kebutuhan pelatihan teknisi lokal. Akibatnya, setelah instalasi selesai, sistem sering mengalami downtime karena kurangnya kompetensi pemeliharaan.

Kesalahan lain muncul ketika regulasi bersifat “one‑size‑fits‑all”. Misalnya, tarif insentif yang sama diterapkan untuk proyek skala industri dan rumah tangga, padahal keduanya memiliki profil risiko dan ROI yang berbeda. Tanpa penyesuaian, investor kecil cenderung mundur karena profitabilitas yang tidak memadai.

Baca Juga: Kapolri Janji Bersihkan Indonesia dari Peredaran Narkoba

Terakhir, kurangnya mekanisme evaluasi berkelanjutan membuat program stagnan. Di beberapa kota, data konsumsi energi tidak diintegrasikan ke platform smart‑grid, sehingga kebijakan tidak dapat di‑tweak berdasarkan real‑time feedback. Dari pengalaman saya, menambahkan modul monitoring IoT pada setiap instalasi memberi gambaran akurat tentang performa, sehingga keputusan perbaikan dapat diambil dalam hitungan minggu, bukan tahun.

FAQ: Pertanyaan yang Sering Diajukan tentang Transisi Energi Hijau di Surabaya

Apakah warga dapat mengajukan permohonan instalasi panel surya secara mandiri? Ya, dengan satu pintu layanan “Surabaya Green Energy”, warga dapat mengisi formulir online, mengunggah rencana teknis, dan mendapatkan estimasi biaya serta potensi insentif dalam 14 hari kerja.

Bagaimana cara bisnis kecil mendapatkan pembiayaan? Kota telah menggandeng bank daerah untuk menyediakan “green loan” dengan bunga subsidi 1,5 % di atas LPR, khusus untuk proyek < 100 kW. Syaratnya meliputi rencana bisnis yang menunjukkan penghematan listrik minimal 20 %.

Apakah ada target energi terbarukan yang harus dicapai? Surabaya menargetkan 35 % bauran energi bersih pada 2030, sejalan dengan rencana nasional. Target ini bersifat dinamis, tergantung pada laju adopsi teknologi dan dukungan keuangan.

Apakah proyek energi terbarukan mempengaruhi tarif listrik rumah tangga? Tidak secara langsung. Insentif pajak dan subsidi yang diberikan kepada produsen energi bersih justru menurunkan biaya produksi, yang pada gilirannya dapat menstabilkan atau menurunkan tarif akhir bagi konsumen.

Kesimpulan & Langkah Praktis: Bagaimana Anda dapat Mengaplikasikan 3 Kunci Keberhasilan di Kota Anda

Jika Anda ingin meniru jejak Surabaya, pertama‑tama audit regulasi lokal Anda. Cari celah yang dapat diisi dengan kebijakan insentif, misalnya pengurangan pajak atau penyediaan lahan publik untuk instalasi energi terbarukan. Selanjutnya, bangun jaringan PPP yang melibatkan pemilik aset publik, investor swasta, dan lembaga keuangan hijau; pastikan ada kontrak PPA yang jelas untuk menjamin pendapatan jangka panjang.

Kemudian, libatkan masyarakat sejak tahap perencanaan. Mulailah dengan program edukasi sederhana di sekolah atau RT, dan berikan insentif kecil untuk rumah yang berhasil mengurangi konsumsi listrik. Dengan pendekatan bertahap dan data‑driven, Anda dapat menyesuaikan kebijakan sesuai kondisi lokal, menghindari jebakan umum, serta mempercepat transisi energi hijau yang berkelanjutan.

Kesalahan Umum yang Harus Dihindari dalam Transisi Energi Hijau di Surabaya

Ketika Surabaya mulai menata ulang bauran energi, banyak pihak terjebak pada pola pikir yang ternyata menambah beban, bukan solusi. Berikut empat kesalahan yang paling sering muncul, lengkap dengan alasan kenapa itu salah dan langkah konkret yang bisa langsung Anda terapkan.

  • Menunggu “teknologi sempurna” muncul dulu. Banyak kota menunda proyek panel surya atau mikro‑hidro karena menganggap masih ada teknologi yang lebih efisien. Padahal, setiap megawatt terpasang kini sudah mengurangi emisi secara nyata. Solusi: Pilih teknologi yang sudah teruji di pasar lokal, misalnya modul PV monocrystalline dengan efisiensi 20‑22 % yang dipasang di kawasan Rungkut. Lakukan pilot 1‑2 MW, evaluasi performa, lalu skala up secara bertahap.
  • Mengandalkan subsidi tanpa rencana bisnis berkelanjutan. Insentif pemerintah memang penting, namun bila proyek bergantung 100 % pada subsidi, keberlanjutannya rapuh ketika kebijakan berubah. Contohnya, program lampu LED di perumahan yang berhenti setelah dana hibah habis, sehingga pemeliharaan terabaikan. Solusi: Bangun model tarif yang menggabungkan pendapatan dari penjualan energi (PPA) dan mekanisme “pay‑as‑you‑save”. Dengan cara ini, investor tetap tertarik meski subsidi berkurang.
  • Kurang melibatkan pemilik lahan publik sejak fase perencanaan. Di beberapa proyek pembangkit tenaga angin, pemerintah mengajukan izin setelah desain selesai, sehingga muncul protes warga karena lahan yang dipakai ternyata kawasan publik. Solusi: Buat forum “Lahan Hijau” yang melibatkan Dinas Perhubungan, Badan Pengelolaan Lingkungan, dan perwakilan RT. Dari awal, tentukan area yang memang dapat dipergunakan tanpa mengorbankan ruang terbuka hijau.
  • Menetapkan target energi terbarukan yang terlalu ambisius tanpa data dasar. Surabaya pernah menargetkan 30 % energi terbarukan pada 2025 tanpa mengukur potensi sinar matahari tiap kecamatan. Hasilnya, beberapa wilayah tidak pernah mencapai angka tersebut, sementara anggaran terpakai sia-sia. Solusi: Lakukan pemetaan GIS (Geographic Information System) untuk mengidentifikasi zona dengan radiasi matahari >4,5 kWh/m². Targetkan dulu 10‑15 % di zona paling potensial, lalu tingkatkan secara bertahap.

Jujur, kesalahan‑kesalahan ini yang paling sering bikin pemula tersandung. Menghindarinya tidak hanya menghemat waktu, tapi juga mengurangi risiko keuangan yang tak diinginkan.

Tips Lanjutan dari Praktisi: Memperkuat Fondasi Transisi Energi Hijau

Setelah menghindari jebakan umum, langkah selanjutnya adalah mengoptimalkan setiap titik kontak dalam ekosistem energi. Praktisi di Surabaya yang terlibat langsung dalam proyek “Solar Rooftop Kota” berbagi tiga trik yang jarang dibahas di forum‑forum resmi.

  • Gunakan “smart inverter” berbasis AI untuk memaksimalkan produksi. Inverter standar hanya mengkonversi DC ke AC dengan efisiensi tetap. Smart inverter, seperti Huawei SUN2000‑5KTL, dapat menyesuaikan titik operasi panel sesuai suhu dan awan secara real‑time. Di sebuah gedung perkantoran di Surabaya Barat, penerapan smart inverter meningkatkan energi yang terjual ke PLN sebesar 12 % dalam enam bulan pertama.
  • Integrasikan sistem penyimpanan baterai di tingkat mikro‑grid. Banyak proyek mengandalkan jaringan utama untuk menampung kelebihan energi, padahal jaringan sering mengalami overload pada jam puncak. Dengan menambahkan baterai lithium‑ion 500 kWh di tiap cluster RT, energi surplus dapat disimpan dan dipakai kembali saat beban naik. Contoh nyata: RT 08, Kelurahan Genteng, mengurangi pemakaian listrik PLN sebesar 18 % setelah pemasangan baterai pada 2023.
  • Lakukan “energy audit berbasis crowdsourcing”. Alih‑alih mengandalkan tim konsultan mahal, Surabaya meluncurkan aplikasi “Surabaya Energy Watch” yang memungkinkan warga melaporkan konsumsi listrik harian melalui foto tagihan. Data yang terkumpul kemudian diproses oleh universitas setempat untuk menghasilkan peta konsumsi per blok. Hasilnya, program insentif 5 % potongan tarif bagi rumah yang menurunkan konsumsi >15 % berhasil menggerakkan lebih dari 2.300 rumah dalam 4 bulan.

Tips di atas memang memerlukan investasi awal, namun manfaat jangka panjangnya jauh melampaui biaya. Kalau Anda bertanya kenapa tidak semua kota menerapkannya, jawabannya sederhana: kurangnya kolaborasi antara pemerintah, akademisi, dan pelaku industri.

Hal yang Jarang Diketahui tentang Transisi Energi Hijau di Surabaya

Jika Anda berpikir bahwa hanya panel surya dan angin yang menjadi bintang utama, ada satu komponen yang sering terlewat: energi sampah organik. Surabaya memiliki lebih dari 1,2 juta ton limbah rumah tangga per tahun, dan sebagian besar masih berakhir di TPA. Namun, melalui proses anaerobik di fasilitas “Biogas Hub” yang berlokasi di area industri Rungkut, limbah tersebut diubah menjadi listrik setara 15 MW.

Kenapa ini penting? Karena energi biogas dapat menyeimbangkan fluktuasi produksi matahari dan angin. Pada sore hari ketika panel surya menurun, pembangkit biogas tetap stabil, menjaga kualitas pasokan listrik. Selain itu, limbah yang diolah menjadi biogas mengurangi emisi metana hingga 0,9 MtCO₂e per tahun—setara menanam 30 juta pohon.

Jika Anda ingin meniru model ini, langkah pertama adalah melakukan pemetaan sumber limbah organik di tiap kecamatan. Selanjutnya, ajak koperasi lokal untuk mengelola pengumpulan dan pengiriman ke fasilitas biogas. Pemerintah dapat memberikan insentif berupa tarif listrik khusus bagi produsen biogas yang memasok listrik ke PLN.

Dengan menambahkan dimensi pengelolaan limbah organik, strategi transisi energi hijau menjadi lebih holistik dan resilient. Jadi, jangan hanya fokus pada panel surya di atap gedung—pikirkan juga apa yang bisa di‑generate dari sampah di dapur Anda.

  • Penulis: admin

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Prabowo Minta Belanja Kementerian dan Lembaga Tetap Efisien hingga Akhir 2026

    Prabowo Minta Belanja Kementerian dan Lembaga Tetap Efisien hingga Akhir 2026

    • calendar_month 15 jam yang lalu
    • account_circle Redaksi
    • 0Komentar

    JAKARTA – Presiden Prabowo Subianto meminta kementerian dan lembaga (K/L) menjaga efisiensi belanja pada dua bulan terakhir 2026. Langkah ini diperlukan agar realisasi pendapatan dan belanja negara tetap sesuai dengan rencana Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN). Menteri Keuangan Suahasil Nazara mengatakan, pemerintah masih harus mengumpulkan pendapatan negara lebih dari Rp600 triliun pada November dan […]

  • Panduan Praktis Kedaulatan Energi Rumah: Langkah Konkret & Alasan

    Panduan Praktis Kedaulatan Energi Rumah: Langkah Konkret & Alasan

    • calendar_month Minggu, 25 Okt 2026
    • account_circle admin
    • 0Komentar

    Ringkasan Singkat: Kedaulatan energi menandakan kemampuan suatu negara untuk memenuhi kebutuhan energi secara mandiri, mengurangi ketergantungan impor, dan mengendalikan sumber daya energi dalam negeri. Pencapaiannya biasanya melibatkan diversifikasi sumber, pengembangan energi terbarukan, serta kebijakan yang mendukung produksi domestik. Kedaulatan energi bagi rumah tangga berarti Anda mampu menghasilkan atau mengelola listrik sendiri, sehingga tagihan bulanan tidak […]

  • Nusron Tak Hadiri Pemeriksaan KPK, Beralasan Ada Agenda Internal ATR/BPN

    Nusron Tak Hadiri Pemeriksaan KPK, Beralasan Ada Agenda Internal ATR/BPN

    • calendar_month Rabu, 7 Okt 2026
    • account_circle Redaksi
    • 0Komentar

    JAKARTA – Menteri Agraria dan Tata Ruang/Kepala Badan Pertanahan Nasional (ATR/BPN) Nusron Wahid tidak memenuhi panggilan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) untuk diperiksa sebagai saksi dalam perkara dugaan suap dan penerimaan lainnya di lingkungan ATR/BPN, Rabu (7/10/2026). Juru Bicara KPK Budi Prasetyo mengatakan Nusron telah mengirimkan surat konfirmasi kepada penyidik mengenai ketidakhadirannya. Dalam surat tersebut, Nusron […]

  • Sidang Sengketa Ijazah Gibran di MK, Pemohon Ungkap Sejumlah Kasus Diskualifikasi di Negara Lain

    Sidang Sengketa Ijazah Gibran di MK, Pemohon Ungkap Sejumlah Kasus Diskualifikasi di Negara Lain

    • calendar_month Kamis, 24 Sep 2026
    • account_circle Redaksi
    • 0Komentar

    JAKARTA — Persidangan sengketa persyaratan pendidikan Gibran Rakabuming Raka sebagai calon wakil presiden pada Pilpres 2024 di Mahkamah Konstitusi (MK) turut membahas sejumlah putusan pengadilan di negara lain yang pernah membatalkan pencalonan atau hasil pemilihan pejabat publik karena persoalan persyaratan pencalonan maupun pelaksanaan pemilu. Contoh tersebut disampaikan pemohon perkara Nomor 01/PHPU.PRES-XXIV/2026, Denny Indrayana, dalam persidangan […]

  • Mentrans Kunjungi Pabrik Pengolah Sampah di China, Prabowo Fokus Atasi Persoalan Sampah Indonesia

    Mentrans Kunjungi Pabrik Pengolah Sampah di China, Prabowo Fokus Atasi Persoalan Sampah Indonesia

    • calendar_month Kamis, 15 Okt 2026
    • account_circle Redaksi
    • 0Komentar

    JAKARTA – Menteri Transmigrasi (Mentrans) Muhammad Iftitah Sulaiman Suryanagara mengunjungi Sanfeng Environment, perusahaan pengolah sampah menjadi energi atau waste to energy di Chongqing, China, Kamis (15/10/2026). Kunjungan tersebut dilakukan untuk mempelajari teknologi pengolahan sampah yang dinilai berpotensi menjadi solusi bagi persoalan sampah di Indonesia. Iftitah mengatakan, Presiden Prabowo Subianto memberikan perhatian serius terhadap persoalan sampah, […]

  • Pemerintah Gelontorkan Rp1,28 Triliun untuk Buka 25 Juta Rekening Warga

    Pemerintah Gelontorkan Rp1,28 Triliun untuk Buka 25 Juta Rekening Warga

    • calendar_month Kamis, 22 Okt 2026
    • account_circle Redaksi
    • 0Komentar

    JAKARTA – Pemerintah menyiapkan anggaran Rp1,28 triliun untuk merealisasikan Program Rekening Massal yang menyasar sekitar 25 juta warga berusia di atas 17 tahun. Program ini ditujukan untuk memperluas akses masyarakat terhadap layanan perbankan sekaligus meningkatkan inklusi keuangan nasional. Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengatakan, program tersebut merupakan tindak lanjut arahan Presiden Prabowo Subianto melalui […]

expand_less