Relawan Karhutla Gunung Ciremai Selamatkan Anak Surili dari Pohon Terbakar
- account_circle Redaksi
- calendar_month Sabtu, 24 Okt 2026
- print Cetak

Surili Jawa
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
KUNINGAN – Di tengah perjuangan memadamkan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di kawasan Taman Nasional Gunung Ciremai (TNGC), seorang relawan berhasil menyelamatkan seekor anak surili, satwa endemik Pulau Jawa yang dilindungi. Aksi tersebut dilakukan Darsa alias Dodo (51), anggota Kelompok Tani Hutan (KTH) Rimba Mekar dari Desa Padabeunghar, Kecamatan Pasawahan, Kabupaten Kuningan, Jawa Barat.
Kisah penyelamatan itu menjadi perhatian setelah Sekretaris Daerah Provinsi Jawa Barat, Herman Suryatman, membagikan video kejadian tersebut melalui akun Instagram pribadinya, @hermansuryatman.
Dalam video itu, terlihat upaya relawan menyelamatkan anak surili yang ditemukan di tengah kebakaran hutan. Peristiwa tersebut menunjukkan bahwa penanganan karhutla bukan hanya bertujuan memadamkan api, tetapi juga melindungi satwa dan ekosistem di dalam kawasan hutan.
Dodo menceritakan, peristiwa itu terjadi pada Kamis (22/10/2026) malam ketika dirinya bersama sejumlah relawan melakukan upaya pemadaman. Di tengah kepulan asap, ia mendengar suara mencurigakan yang membuatnya berusaha mencari sumber suara tersebut.
“Jadi, sekitar jam 11.00 malam, karena kita penasaran, kita fokus ke sumber suara. Ternyata sumber suara itu di pohon saninten yang sudah kebakaran,” kata Dodo saat ditemui di posko penanganan karhutla kawasan Sumur Tujuh, Kecamatan Pasawahan, Sabtu (24/10/2026).
Setelah mendekati pohon saninten tersebut, Dodo menemukan seekor anak surili bersembunyi di salah satu dahannya. Kondisi pohon yang sudah mengering dan layu akibat terbakar membuat situasi satwa itu semakin mengkhawatirkan.
Dodo menduga anak surili tersebut mengalami kelemahan akibat terlalu lama terpapar asap dan terpisah dari induknya. Melihat kondisinya, ia kemudian berusaha memanjat pohon untuk menjangkau dan mengevakuasi satwa tersebut.
Setelah berhasil menyelamatkannya, Dodo memberikan susu putih kemasan yang dibawanya sebagai bekal. Anak surili itu mau meminumnya hingga terlihat lebih segar. Selanjutnya, satwa tersebut diamankan sementara di tenda darurat posko pemadaman, sementara para relawan tetap melanjutkan upaya mengendalikan api.
Relawan Kembalikan Anak Surili ke Induknya
Upaya penyelamatan tidak berhenti setelah anak surili berhasil dievakuasi. Para relawan juga berupaya mengembalikan satwa tersebut ke habitatnya agar dapat kembali bersama induknya.
Setelah kondisi kebakaran dinilai mulai aman dan api berhasil dilokalisasi, para relawan berembuk untuk menentukan langkah selanjutnya. Mereka sepakat mencari kelompok surili liar di sekitar kawasan hutan.
Pencarian dilakukan dengan menyusuri hutan ke arah selatan sejauh sekitar 300 hingga 500 meter. Setelah menelusuri kawasan tersebut, para relawan akhirnya menemukan sekelompok surili yang terlihat bergerak di sekitar lokasi.
Meski sempat khawatir terhadap reaksi induknya, para relawan memutuskan meletakkan anak surili di tanah dengan jarak sekitar 10 meter dari kelompok tersebut.
Tak lama kemudian, induk surili turun mendekati anaknya. Induk itu langsung menggendong kembali anaknya dan membawanya menuju tempat yang lebih aman.
Keberhasilan mengembalikan anak surili kepada induknya menjadi akhir yang melegakan dari upaya penyelamatan di tengah kebakaran hutan Gunung Ciremai.
Penyelamatan Satwa Jadi Bagian Penting Penanganan Karhutla
Herman Suryatman mengapresiasi tindakan Dodo bersama para relawan yang tidak hanya berjuang memadamkan api, tetapi juga memperhatikan keselamatan satwa liar yang terdampak kebakaran.
Menurut Herman, pengendalian karhutla memiliki arti penting bagi perlindungan kehidupan masyarakat sekaligus kelestarian ekosistem hutan, termasuk flora dan fauna yang hidup di dalamnya.
“Ya, cerita sederhana di balik penanganan kebakaran hutan dan lahan di Gunung Ciremai. Jadi, bukan hanya menyelamatkan kehidupan dan penghidupan kita semuanya, kalau apinya kita padamkan, maka ekosistem terjaga, termasuk flora dan fauna, dan di dalamnya ada fauna nih, surili,” ujar Herman.
Kisah Dodo menjadi pengingat bahwa di balik upaya pemadaman karhutla, terdapat kehidupan satwa liar yang turut terancam. Penanganan kebakaran hutan karena itu tidak hanya berkaitan dengan pengendalian api, tetapi juga upaya menjaga keberlangsungan ekosistem dan habitat satwa dilindungi.
- Penulis: Redaksi

Saat ini belum ada komentar