Breaking News
light_mode
Trending Tags
Beranda » Internasional » IFSRC Diluncurkan, Dorong Diplomasi People-to-People dan Dialog Peradaban Indonesia–Tiongkok

IFSRC Diluncurkan, Dorong Diplomasi People-to-People dan Dialog Peradaban Indonesia–Tiongkok

  • account_circle Redaksi
  • calendar_month Jumat, 18 Sep 2026
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Jakarta, 15 September 2026 — Indonesia Friends of Silk Road Club (IFSRC) resmi diluncurkan dalam Seminar Nasional dan Peluncuran Indonesia Friends of Silk Road Club (IFSRC) yang mengangkat tema “Memahami Global Civilization Initiative (GCI) dari Perspektif Hubungan Indonesia–Tiongkok”.

Kegiatan berlangsung pada Selasa, 15 September 2026, di Hotel Borobudur Jakarta ini diselenggarakan oleh Sino-Nusantara Institute, sebuah lembaga think tank independen yang didedikasikan untuk penguatan hubungan Indonesia-Tiongkok di level People-to-People.

Seminar nasional ini menghadirkan sejumlah tokoh nasional dan internasional sebagai pembicara utama. Keynote speech disampaikan oleh Mr. Zhou Kan (Kedubes RRT-Indonesia), Sari Yuliati (Wakil Ketua DPR RI) dan Prof. Dr. Phil. H. Kamaruddin Amin, M.A (Sekjen. Kementerian Agama). Sementara itu, diskusi menghadirkan Irfan Ilmie (Kepala LKBN ANTARA Biro Beijing 2017-2023), Al Busyra Basnur (Ketua Umum Perhimpunan Persahabatan Indonesia-Tiongkok), KH. Imron Rosyadi Hamid (Rektor UNIRA Malang), dan A. Syaifuddin Zuhri (Direktur Sino-Nusantara Institute), dengan Sarah Hajar Mahmudah (Dosen UIN Syarif Hidayatullah) sebagai moderator.

Peluncuran IFSRC menjadi momentum untuk memperkuat hubungan Indonesia dan Tiongkok tidak hanya melalui kerja sama antarpemerintah, tetapi juga melalui hubungan antarmasyarakat atau people-to-people exchanges.

Dalam keynote speech-nya, Sari Yuliati menekankan bahwa tantangan hubungan internasional pada abad ke-21 tidak cukup dihadapi melalui pendekatan ekonomi dan diplomasi formal. Stabilitas jangka panjang membutuhkan kepercayaan, penghormatan, dan saling pengertian antarmasyarakat.
“Diplomasi pada abad ke-21 tidak dapat lagi hanya mengandalkan Government-to-Government (G2G), tetapi juga harus berakar kuat pada People-to-People (P2P) exchanges,” demikian salah satu gagasan utama yang disampaikan dalam keynote speech tersebut.

GCI dan Relevansinya bagi Indonesia Seminar juga membahas Global Civilization Initiative (GCI) yang diperkenalkan Presiden Tiongkok Xi Jinping pada 15 Maret 2023. GCI menempatkan peradaban sebagai salah satu fondasi penting dalam membangun kerja sama internasional melalui dialog, penghormatan terhadap keberagaman, pelestarian warisan budaya, serta penguatan hubungan antarmasyarakat.

Bagi Indonesia, gagasan tersebut dinilai memiliki relevansi yang kuat dengan karakter bangsa yang majemuk. Nilai Bhinneka Tunggal Ika, toleransi, moderasi, dan gotong royong merupakan modal sosial yang dapat menjadi jembatan dalam membangun saling pengertian antarperadaban.
Dalam paparannya, Kamaruddin Amin menekankan bahwa Indonesia memiliki modal sosial dan pengalaman historis yang sangat penting dalam membangun perdamaian dan kehidupan bersama di tengah keberagaman.

Perspektif Kementerian Agama melihat bahwa kerukunan tidak cukup dimaknai sebagai sekadar tidak adanya konflik atau kekerasan (negative peace), tetapi harus diwujudkan sebagai harmoni aktif (active harmony) melalui tindakan nyata yang mencerminkan cinta kemanusiaan lintas bangsa, budaya, dan agama.

Gagasan tersebut menjadi salah satu benang merah dalam paparan Kementerian Agama bertajuk “Merajut Peradaban, Membangun Kemanusiaan”. Dalam bahan paparan tersebut, kerukunan ditempatkan sebagai sesuatu yang harus diwujudkan secara aktif melalui nilai-nilai kemanusiaan dan kerja sama lintas batas.

Dari Diplomasi Formal Menuju Kolaborasi Masyarakat
Hubungan Indonesia–Tiongkok dalam beberapa tahun terakhir berkembang dalam berbagai sektor, termasuk perdagangan, investasi, pendidikan, teknologi, dan pertukaran masyarakat. Dalam keynote speech disebutkan bahwa Tiongkok merupakan mitra dagang terbesar Indonesia, sementara hubungan antarmasyarakat juga semakin berkembang.

Data yang disampaikan dalam keynote speech menunjukkan terdapat sekitar 20.000 mahasiswa Indonesia yang sedang menempuh pendidikan di berbagai universitas di Tiongkok. Bersama peneliti, jurnalis, dan komunitas bisnis dari kedua negara, mereka dinilai memiliki posisi strategis sebagai grassroots diplomats atau duta budaya informal yang memperkuat hubungan kedua negara.

Karena itu, IFSRC diharapkan tidak berhenti sebagai forum diskusi, tetapi menjadi ruang kolaborasi lintas sektor yang mempertemukan akademisi, peneliti, media, tokoh agama dan budaya, organisasi kepemudaan, institusi pendidikan, serta dunia usaha.
Bahan paparan kegiatan menggambarkan IFSRC sebagai “simpul kolaborasi lintas sektor” dan nexus yang mempertemukan berbagai elemen masyarakat Indonesia dan Tiongkok untuk merealisasikan diplomasi budaya.
IFSRC sebagai Rumah Bersama Dalam konteks tersebut, IFSRC diproyeksikan menjadi sebuah “rumah bersama” bagi berbagai pemangku kepentingan. Ekosistem kolaborasi yang dibangun diarahkan pada sejumlah keluaran konkret, antara lain diplomasi budaya dan penguatan media, dialog keagamaan yang moderat, riset kolaboratif, pertukaran pelajar, serta program pemberdayaan masyarakat.

Konsep ini sejalan dengan pandangan bahwa mutual understanding antarperadaban tidak dapat terbentuk secara otomatis. Diperlukan ruang yang secara sadar memfasilitasi, merawat, dan melembagakan pertukaran pengetahuan serta pengalaman antar masyarakat.
Lebih jauh, gagasan IFSRC juga diarahkan untuk menghidupkan kembali semangat Jalur Sutra, bukan semata sebagai jalur perdagangan komoditas, tetapi sebagai jalur pertukaran gagasan, ilmu pengetahuan, budaya, agama, dan nilai-nilai kemanusiaan.

Menjadikan GCI sebagai Gerakan Nyata
Peluncuran IFSRC diharapkan menjadi langkah awal untuk menerjemahkan GCI dari sebuah gagasan global menjadi agenda kolaborasi yang lebih konkret di Indonesia.
Dalam keynote speech, ditegaskan bahwa IFSRC memiliki peran sebagai katalisator karena dapat bergerak lebih fleksibel pada tingkat masyarakat, terutama dalam membangun narasi positif, mengembangkan diplomasi budaya, serta menciptakan hubungan konkret antarperadaban.
Dengan demikian, hubungan Indonesia–Tiongkok tidak hanya dibangun melalui angka perdagangan dan investasi, tetapi juga melalui persahabatan, pendidikan, kebudayaan, dialog keagamaan, riset, media, dan interaksi antarmasyarakat.

Peluncuran IFSRC sekaligus menegaskan pentingnya membangun jembatan kebudayaan di tengah dunia yang menghadapi polarisasi politik, konflik identitas, dan rivalitas geopolitik.
Sebagaimana pesan penutup bahan paparan kegiatan, harapannya adalah agar IFSRC mampu memperkuat jembatan kebudayaan antarbangsa dan melahirkan rekomendasi strategis bagi kemajuan hubungan bilateral Indonesia dan Tiongkok dalam bingkai perdamaian dunia yang berkelanjutan.

  • Penulis: Redaksi

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Transisi energi hijau: Solar vs Biofuel, Analisis Biaya & Emisi

    Transisi energi hijau: Solar vs Biofuel, Analisis Biaya & Emisi

    • calendar_month Senin, 19 Okt 2026
    • account_circle admin
    • 0Komentar

    Ringkasan Singkat: Perpindahan dari sumber energi fosil ke energi terbarukan—seperti surya, angin, dan bioenergi—merupakan respons kolektif pemerintah, industri, dan masyarakat untuk menurunkan emisi karbon dan mencapai target iklim. Prosesnya melibatkan kebijakan insentif, investasi infrastruktur, serta adopsi teknologi yang lebih bersih, sekaligus menyeimbangkan keamanan pasokan dan keterjangkauan bagi konsumen. Dengan langkah ini, ekonomi beralih menuju model […]

  • Pemerintah Gelontorkan Rp1,28 Triliun untuk Buka 25 Juta Rekening Warga

    Pemerintah Gelontorkan Rp1,28 Triliun untuk Buka 25 Juta Rekening Warga

    • calendar_month Kamis, 22 Okt 2026
    • account_circle Redaksi
    • 0Komentar

    JAKARTA – Pemerintah menyiapkan anggaran Rp1,28 triliun untuk merealisasikan Program Rekening Massal yang menyasar sekitar 25 juta warga berusia di atas 17 tahun. Program ini ditujukan untuk memperluas akses masyarakat terhadap layanan perbankan sekaligus meningkatkan inklusi keuangan nasional. Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengatakan, program tersebut merupakan tindak lanjut arahan Presiden Prabowo Subianto melalui […]

  • Transisi energi hijau: Insight Praktis dari Proyek Surya Pedesaan

    Transisi energi hijau: Insight Praktis dari Proyek Surya Pedesaan

    • calendar_month 12 jam yang lalu
    • account_circle admin
    • 0Komentar

    Ringkasan Singkat: Negara dan perusahaan kini beralih dari bahan bakar fosil ke sumber terbarukan seperti tenaga surya, angin, dan bioenergi untuk menurunkan emisi karbon serta menjaga kestabilan iklim. Proses ini mencakup investasi infrastruktur, kebijakan insentif, dan perubahan perilaku konsumen, sehingga energi yang dihasilkan menjadi lebih bersih, terjangkau, dan berkelanjutan. Transisi energi hijau berarti mengalihkan sumber […]

  • Kedaulatan energi: Bandingkan PLTS Atap vs Gas LNG, Pilih Solusi Tepat

    Kedaulatan energi: Bandingkan PLTS Atap vs Gas LNG, Pilih Solusi Tepat

    • calendar_month Jumat, 30 Okt 2026
    • account_circle admin
    • 0Komentar

    Ringkasan Singkat: Indonesia berupaya mengendalikan pasokan dan produksi energi dalam negeri agar tidak tergantung pada impor, sehingga harga tetap stabil dan keamanan nasional terjaga. Upaya ini meliputi pengembangan energi terbarukan, investasi pada infrastruktur hilir, serta kebijakan yang mendukung produksi minyak dan gas domestik. Kedaulatan energi menuntut suatu negara untuk mengendalikan pasokan, produksi, dan konsumsi energi […]

  • 8 Langkah Praktis Mempercepat Transisi Energi Hijau di UMKM

    8 Langkah Praktis Mempercepat Transisi Energi Hijau di UMKM

    • calendar_month Senin, 26 Okt 2026
    • account_circle admin
    • 0Komentar

    Ringkasan Singkat: Saat ini banyak negara dan perusahaan berupaya menggantikan bahan bakar fosil dengan sumber terbarukan seperti matahari, angin, dan biomassa. Langkah ini tidak hanya mengurangi emisi karbon, tetapi juga membuka peluang ekonomi baru di sektor teknologi bersih. Transisi energi hijau bagi UMKM berarti mengganti sumber listrik atau bahan bakar konvensional dengan pilihan yang lebih […]

  • Tim Hukum UIN Jakarta Datangi Kejati Banten Usut Korupsi Eks Rektor

    Tim Hukum UIN Jakarta Datangi Kejati Banten Usut Korupsi Eks Rektor

    • calendar_month Minggu, 20 Sep 2026
    • account_circle Redaksi
    • 0Komentar

    JAKARTA — Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta mengambil langkah kelembagaan untuk merespons aspirasi mahasiswa terkait dugaan tindak pidana korupsi dalam pengelolaan aset negara. Tim Hukum UIN Jakarta mendatangi Kejaksaan Tinggi (Kejati) Banten pada Rabu, 16 September 2026, untuk menyampaikan dukungan terhadap proses hukum yang tengah berjalan. Perwakilan Tim Hukum UIN Jakarta, Alwanih, menyerahkan […]

expand_less