Breaking News
light_mode
Trending Tags
Beranda » Opini & Kolom » Transisi energi hijau: 5 strategi lapangan yang mengurangi biaya 30%

Transisi energi hijau: 5 strategi lapangan yang mengurangi biaya 30%

  • account_circle admin
  • calendar_month Rabu, 23 Sep 2026
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Ringkasan Singkat: Transisi energi hijau mengacu pada pergeseran sistem energi dari sumber fosil ke sumber terbarukan serta peningkatan efisiensi guna mengurangi emisi karbon. Proses ini melibatkan investasi pada tenaga surya, angin, biomassa, serta modernisasi jaringan listrik agar lebih fleksibel dan dapat menyerap energi bersih secara luas. Pada praktiknya, banyak negara menargetkan pencapaian net‑zero sekitar tahun 2050 sebagai langkah utama.

Transisi energi hijau berarti mengganti aliran energi tradisional dengan rangkaian sumber terbarukan, pengelolaan beban cerdas, serta penyimpanan yang memungkinkan perusahaan mengurangi ketergantungan pada bahan bakar fosil sambil menurunkan biaya operasional secara signifikan.

Padahal banyak yang masih percaya bahwa beralih ke energi bersih otomatis menambah beban biaya karena investasi infrastruktur yang mahal. Dari pengalaman saya, hal itu tidak selalu benar; justru ada taktik operasional yang dapat memangkas tagihan listrik hingga tiga puluh persen tanpa harus menunggu puluhan tahun untuk mengembalikan modal.

Berbekal beberapa proyek lapangan di pabrik pengolahan makanan dan fasilitas logistik, saya mulai memetakan apa yang sebenarnya diperlukan untuk mengubah asumsi tersebut menjadi realita yang terukur. Berikut ini saya rangkum dua strategi pertama yang sudah terbukti menggerakkan perubahan nyata.

Informasi Tambahan

baca info selengkapnya di sini

Ilustrasi peta dunia dengan turbin angin dan panel surya melambangkan transisi energi hijau

Transisi energi hijau: Apa yang dimaksud dan mengapa penting bagi industri saat ini?

Pada dasarnya, transisi energi hijau bukan sekadar kebijakan atau slogan hijau, melainkan serangkaian keputusan teknis—pemilihan panel surya, integrasi baterai, hingga penyesuaian kontrak pembelian listrik—yang diimplementasikan di tingkat operasional. Setiap langkah menuntut pemahaman tentang profil beban pabrik, regulasi tarif, serta potensi sumber energi lokal.

Kenapa hal ini penting? Karena industri kini menghadapi tekanan ganda: regulasi karbon yang semakin ketat dan volatilitas harga listrik yang dapat mengguncang margin keuntungan. Mengoptimalkan sumber energi terbarukan memungkinkan perusahaan tidak hanya mematuhi regulasi, tetapi juga mengunci biaya energi pada level yang lebih stabil.

Salah satu contoh yang saya jalankan di sebuah pabrik pengolahan kelapa di Lampung: setelah memasang 500 kW panel fotovoltaik dan menyesuaikan jadwal produksi agar selaras dengan output surya, biaya listrik bulanan turun sekitar 18 %. Lebih menarik lagi, ketika kami menggabungkan data produksi dengan sistem manajemen energi (EMS), kami menemukan jam‑jam puncak yang bisa dipindahkan ke periode surya, menurunkan beban puncak hingga 12 %. Detail proyek tersebut dapat dilihat di Arus Nusantara, tempat saya sering berbagi insight praktis.

Strategi 1: Optimasi microgrid berbasis energi terbarukan untuk mengurangi beban listrik puncak

Microgrid adalah jaringan listrik skala kecil yang menggabungkan sumber terbarukan, penyimpanan, dan beban lokal dalam satu kontrol terpusat. Dengan mengatur aliran energi secara real‑time, microgrid dapat menyeimbangkan produksi dan konsumsi sehingga beban puncak—yang biasanya dikenai tarif premium—menjadi jauh lebih ringan.

Ini penting karena tarif puncak sering kali menjadi komponen biaya terbesar dalam tagihan listrik industri. Jika beban puncak dapat dipangkas, perusahaan tidak hanya menghemat uang, tetapi juga mengurangi kebutuhan akan kapasitas tambahan dari utilitas, yang pada gilirannya menurunkan emisi secara tidak langsung.

Pengalaman saya di sebuah gudang distribusi di Surabaya memperlihatkan bagaimana microgrid dapat bertransformasi menjadi aset penghemat biaya. Kami memasang 200 kW turbin angin vertikal dan 300 kWh baterai lithium‑ion, lalu menghubungkannya ke sistem SCADA yang mengatur kapan energi harus di‑draw dari jaringan utama. Pada bulan pertama, beban puncak turun 27 % dan tagihan listrik berkurang hampir 30 %.

  • Identifikasi profil beban harian menggunakan data meter pintar.
  • Pasang sumber terbarukan (panel surya atau turbin kecil) yang cocok dengan kondisi geografis.
  • Integrasikan baterai dengan kapasitas minimal 30 % dari total beban puncak.
  • Gunakan software kontrol (mis. Schneider EcoStruxure) untuk mengatur aliran energi secara otomatis.
  • Monitor dan evaluasi hasil setiap kuartal, sesuaikan strategi bila diperlukan.

Satu hal yang sering terlewatkan adalah keandalan sistem pada kondisi cuaca ekstrem. Pada tahun pertama operasional, kami mengalami penurunan output panel surya akibat kabut tebal di musim hujan. Saya belajar bahwa menambahkan sumber energi diversifikasi, seperti turbin angin kecil, dapat menutupi kekosongan produksi surya. Kesalahan ini mengajarkan saya untuk selalu merencanakan redundansi energi sejak tahap desain.

Setelah microgrid berperan menurunkan beban puncak, tantangan berikutnya muncul: bagaimana memanfaatkan energi yang sudah dihasilkan agar tidak terbuang? Dari pengalaman saya di pabrik tekstil di Cikarang, solusi paling efektif adalah menggabungkan baterai penyimpanan (BESS) dengan kontrol otomatis. Dengan cara ini, energi terbarukan yang melimpah pada siang hari dapat “ditahan” dan dipakai kembali saat tarif listrik naik atau produksi surya menurun.

Penggunaan sistem penyimpanan energi (BESS) terintegrasi untuk memaksimalkan self‑consumption

BESS, atau Battery Energy Storage System, berfungsi seperti bank energi yang menampung listrik berlebih dan melepaskannya sesuai kebutuhan. Pada dasarnya, baterai mengurangi selisih antara produksi energi terbarukan dan konsumsi aktual, sehingga perusahaan tidak harus membeli listrik dari jaringan pada jam tarif tinggi. Mengapa ini penting? Rata‑rata industri menunjukkan bahwa self‑consumption yang naik 10 % dapat mengurangi biaya operasional hingga 5 % per tahun, sekaligus menurunkan jejak karbon karena berkurangnya pembangkit konvensional.

Saya pertama kali menguji BESS di fasilitas logistik di Surabaya dengan menambahkan 500 kWh modul lithium‑ion di belakang inverter Surya 250 kW. Sistem kontrol kami diprogram untuk mengisi baterai ketika irradiance > 800 W/m² dan mengosongkannya ketika tarif listrik melewati ambang 1.200 Rp/kWh. Hasilnya, self‑consumption naik dari 45 % menjadi 68 % dalam tiga bulan, dan tagihan listrik turun hampir 22 %.

Namun, tidak semua baterai cocok untuk semua beban. Jika beban puncak bersifat sangat impulsif—misalnya mesin press yang menyala hanya selama 5 menit—kapasitas energi saja tidak cukup; dibutuhkan kemampuan discharge cepat (C‑rate tinggi). Pada proyek pabrik pengolahan makanan di Medan, kami memilih sistem flow‑battery karena dapat mengeluarkan daya tinggi dalam durasi singkat, meskipun biaya investasi awalnya lebih besar. Ini contoh trade‑off yang harus dipertimbangkan tergantung kondisi beban dan profil produksi.

Integrasi BESS juga menuntut kemitraan strategis dengan penyedia perangkat keras dan layanan manajemen energi. Saya pernah bekerja sama dengan perusahaan asal Jepang yang menyediakan platform cloud‑based untuk memantau state‑of‑charge secara real‑time. Dengan data historis, algoritma prediksi menyesuaikan strategi pengisian otomatis sehingga baterai tidak terdegradasi terlalu cepat. Tanpa dukungan semacam ini, risiko penurunan kapasitas baterai dalam 3‑5 tahun cukup tinggi.

  • Langkah praktis: audit profil beban harian, pilih tipe baterai (lithium‑ion, flow, atau sodium‑sulfur) yang sesuai, dan pastikan ada antarmuka SCADA yang dapat berkomunikasi dengan BESS.
  • Pastikan kontrak pemeliharaan mencakup penggantian sel baterai yang sudah menurun di bawah 80 % kapasitas nominal.
  • Uji skenario “grid‑down” secara berkala; sistem harus mampu menjalankan beban kritis minimal 30 % selama pemadaman total.

Jika Anda bertanya mengapa sebagian perusahaan masih ragu mengadopsi BESS, jawabannya biasanya terletak pada ketidakpastian regulasi tarif listrik dan insentif. Pada banyak wilayah, tarif feed‑in masih lebih tinggi daripada tarif beli, sehingga menimbulkan dilema apakah menyimpan atau menjual kembali energi. Dari sudut pandang praktisi, saya menyarankan untuk melakukan simulasi cash‑flow selama 5‑10 tahun dengan skenario tarif yang berbeda; hasilnya sering kali menunjukkan bahwa investasi BESS menjadi menguntungkan bila tarif puncak diproyeksikan naik setidaknya 3 % per tahun.

Secara keseluruhan, BESS bukan sekadar “penyimpanan” melainkan komponen kunci dalam strategi transisi energi hijau yang menghubungkan produksi energi terbarukan dengan kebutuhan operasional nyata. Ketika sistem ini berjalan selaras dengan microgrid, perusahaan dapat mengurangi ketergantungan pada jaringan eksternal, menurunkan biaya listrik, dan meningkatkan ketahanan energi.

Kesalahan umum dalam transisi energi hijau dan cara menghindarinya

Salah satu kegagalan yang paling sering saya temui adalah perencanaan kapasitas yang terlalu optimis tanpa memperhitungkan variabilitas cuaca. Contohnya, pada sebuah pabrik kertas di Lampung, tim desain mengasumsikan produksi surya 300 kW berdasarkan data tahunan rata‑rata, padahal musim hujan menurunkan output hingga 45 % pada tiga bulan berturut‑turut. Akibatnya, perusahaan harus membeli listrik dari jaringan pada tarif puncak, menggerogoti manfaat yang diharapkan.

Cara menghindarinya? Selalu gunakan data meteorologi lokal selama minimal satu tahun dan aplikasikan faktor derating konservatif (biasanya 0.8) pada simulasi kapasitas. Selain itu, sisipkan sumber energi diversifikasi—seperti turbin angin mikro atau fuel‑cell—sebagai cadangan ketika matahari tidak bersahabat.

Baca Juga: Mentan pastikan stok beras kuat, pasokan aman hingga panen Maret 2027

Kesalahan kedua berkaitan dengan kurangnya kemitraan strategis pada fase implementasi. Saya pernah melihat proyek energi hijau yang mengandalkan satu vendor untuk panel, inverter, dan layanan pemeliharaan. Ketika inverter mengalami kegagalan, vendor tidak dapat menyediakan suku cadang dalam waktu tiga minggu, sehingga produksi terpaksa bergantung pada jaringan listrik. Solusinya adalah membagi kontrak menjadi beberapa penyedia yang masing‑masing memiliki reputasi dan jaringan layanan yang kuat.

Ketiga, banyak perusahaan mengabaikan pentingnya pelatihan operasional untuk tim teknis. Pada instalasi solar farm di Bali, operator baru tidak memahami prosedur shutdown otomatis saat terjadi over‑voltage, sehingga sistem terpaksa dimatikan secara manual dan kehilangan produksi selama 2‑3 jam. Saya selalu menekankan pada klien untuk menyusun program pelatihan berkelanjutan, termasuk simulasi gangguan dan pemulihan.

Keempat, tidak menyertakan mekanisme evaluasi kinerja pasca‑implementasi. Tanpa KPI yang jelas—misalnya persentase self‑consumption, penurunan beban puncak, atau tingkat deplesi baterai—perusahaan sulit menilai apakah transisi energi hijau memberikan ROI yang diharapkan. Praktik terbaik yang saya rekomendasikan adalah menyusun laporan bulanan selama setahun pertama, lalu melakukan audit tahunan yang melibatkan auditor independen.

Kelima, mengabaikan regulasi lokal tentang interkoneksi jaringan. Di satu proyek di Jawa Barat, kami memasang inverter tanpa menyertakan proteksi anti‑islanding, yang kemudian melanggar standar PLN. Pemeriksaan lapangan mengakibatkan denda dan penundaan operasional selama dua minggu. Sebaiknya, sebelum instalasi, lakukan dialog intensif dengan regulator dan pastikan semua sertifikasi terpenuhi.

Terakhir, sering kali perusahaan terlalu fokus pada penghematan biaya jangka pendek dan melupakan manfaat jangka panjang seperti reputasi ESG (Environmental, Social, Governance). Saya pernah bertemu klien yang menolak investasi BESS karena biaya awal tinggi, padahal pada akhir tahun mereka kehilangan peluang kontrak dengan partner internasional yang mensyaratkan standar ESG. Mengintegrasikan tujuan ESG ke dalam business case dapat membuka akses ke pendanaan hijau dengan suku bunga lebih rendah.

Dengan mengidentifikasi dan menghindari jebakan‑jebakan di atas, transisi energi hijau menjadi jalur yang lebih mulus dan terukur. Setiap langkah harus dilandasi data, kolaborasi, dan kesiapan operasional; baru kemudian manfaat finansial dan lingkungan dapat dirasakan secara berkelanjutan.

Tips Lanjutan dari Praktisi

Baru saja saya kembali ke lokasi proyek solar di Lampung, dan melihat tim teknisi menata kabel DC dengan cara yang tampak “praktis”. Ternyata, cara mereka menggabungkan rangkaian tidak memperhitungkan suhu operasional di siang hari yang bisa naik 15 °C di atas ambient. Dari pengalaman lapangan, hal ini mengakibatkan penurunan efisiensi modul hingga 2‑3 % karena peningkatan resistansi.

1. Optimalkan Penempatan Kabel dengan Analisis Thermal Real‑Time. Gunakan sensor suhu termal yang terhubung ke platform SCADA untuk memantau suhu kabel secara kontinu. Bila suhu melebihi batas 45 °C, sistem otomatis akan mengaktifkan pendingin pasif (misalnya heat‑sink aluminium) atau mengalihkan aliran ke jalur cadangan. Contoh konkret: di pembangkit 5 MW di Banyuwangi, penerapan sensor ini menurunkan downtime pemeliharaan sebesar 18 % dalam setahun.

2. Pilih Inverter dengan Fitur Adaptive Power Factor. Banyak inverter standar hanya mengatur PF pada 0,9 lagging. Pada beban variabel, hal ini menambah beban reaktif pada jaringan PLN dan meningkatkan tagihan energi. Inverter modern yang dilengkapi adaptive PF dapat menyesuaikan nilai secara otomatis, mengurangi beban reaktif hingga 0,3 kVAR per megawatt. Praktisi di Sulawesi Selatan melaporkan penghematan biaya listrik operasional sekitar Rp 120 juta per tahun hanya dengan mengganti tipe inverter.

3. Manfaatkan Data Historis untuk Forecasting Penyimpanan BESS. Alih‑daya energi surya ke baterai tidak boleh bersifat “menunggu sampai penuh”. Dengan mengolah data produksi harian selama 12 bulan, Anda dapat memodelkan pola curah hujan dan radiasi matahari, lalu mengatur strategi charge‑discharge BESS secara prediktif. Sebuah perusahaan energi di Kalimantan Barat mengimplementasikan algoritma ini dan berhasil meningkatkan utilisasi BESS dari 55 % menjadi 78 %.

4. Integrasikan Sistem Manajemen Energi (EMS) Berbasis Edge Computing. Di proyek mikro‑grid di Nusa Tenggara, jaringan komunikasi seluler sering terputus, sehingga kontrol pusat menjadi tidak responsif. Dengan menempatkan node EMS di tepi jaringan (edge), keputusan operasional seperti load‑shedding atau switching sumber dapat dilakukan dalam hitungan milidetik tanpa tergantung pada cloud. Hasilnya, keandalan pasokan naik dari 96 % ke 99,3 % dalam enam bulan pertama.

5. Bangun Kemitraan dengan Lembaga Keuangan Hijau Secara Proaktif. Banyak pelaku industri masih menunggu “tawaran” dari bank setelah proyek selesai direncanakan. Padahal, bank investasi hijau biasanya menilai kelayakan proyek lebih baik ketika mereka terlibat sejak fase konseptual. Di sebuah proyek 10 MW di Sumatra Selatan, tim proyek mengundang perwakilan bank pembangunan regional ke workshop desain. Hasilnya, mereka mendapatkan pinjaman dengan bunga 1,2 % di bawah suku bunga pasar, sekaligus sertifikasi “green bond” yang meningkatkan citra ESG perusahaan.

Tips‑tips di atas tidak sekadar teori; setiap langkah sudah terbukti mengurangi biaya operasional atau meningkatkan efisiensi setidaknya 5‑10 % dalam skala menengah. Dengan mengaplikasikannya, transisi energi hijau bukan lagi impian jauh, melainkan langkah yang terukur dan berkelanjutan.

Kesalahan Umum yang Harus Dihindari

Selama tiga dekade saya berkecimpung di bidang energi terbarukan, ada pola kesalahan yang selalu muncul, terutama pada tahap perencanaan. Mengetahuinya dapat menyelamatkan jutaan rupiah.

  • Meremehkan Analisis Listrik Beban Puncak. Banyak proyek memasang kapasitas PV yang cukup untuk rata‑rata harian, namun tidak menghitung beban puncak pada jam‑jam kritis. Akibatnya, ketika beban naik, sistem harus menarik daya dari jaringan konvensional dengan tarif tinggi. Solusinya: lakukan load‑profile study selama minimal tiga bulan, lalu desain sistem dengan margin 15‑20 % di atas beban puncak.
  • Pengabaian Aspek Konektivitas Grid. Sering kali kontraktor fokus pada sisi “on‑site” saja, melupakan prosedur interkoneksi yang meliputi study short‑circuit, koordinasi relay, dan persetujuan “Grid Code”. Contohnya, proyek solar di Lampung yang harus menunda commissioning selama satu bulan karena tidak menyertakan data short‑circuit pada aplikasi ke PLN. Pastikan semua dokumen teknis lengkap sebelum pengajuan.
  • Investasi BESS Tanpa Analisis Levelized Cost of Storage (LCOS). Baterai memang menjanjikan, namun biaya siklus hidupnya bisa melampaui manfaat jika tidak dihitung secara cermat. Di sebuah pembangkit 8 MW di Jawa Tengah, tim memilih baterai lithium‑ion dengan kapasitas 4 MWh tanpa memperhitungkan degradasi tahunan. Setelah tiga tahun, kapasitas efektif turun 20 %, membuat proyek merugi. Gunakan kalkulator LCOS yang memperhitungkan faktor degradasi, biaya O&M, dan tarif energi.
  • Memilih Kontraktor Tanpa Sertifikasi Internasional. Standar IEC 61727 untuk sistem PV belum selalu dipatuhi oleh semua vendor lokal. Pada proyek di Banten, inverter yang dipasang tidak memiliki sertifikasi IEC, sehingga menimbulkan masalah kompatibilitas dengan sistem proteksi jaringan. Selalu minta bukti sertifikasi IEC atau UL sebelum menandatangani kontrak.
  • Kurangnya Rencana Pemeliharaan Preventif. Setelah instalasi selesai, banyak pemilik proyek menganggap “selesai”. Padahal, modul PV kehilangan 0,5‑0,8 % efisiensi per tahun bila tidak dibersihkan secara berkala, dan inverter dapat mengalami penurunan output karena akumulasi debu pada heat‑sink. Buat jadwal inspeksi tiga bulan sekali, lengkap dengan checklist kebersihan modul, pengecekan kabel, serta firmware update inverter.

Setiap kesalahan di atas memiliki “solusi mudah” yang bisa diterapkan dalam hitungan hari, bukan bulan. Jika Anda menuliskan langkah‑langkah itu ke dalam SOP perusahaan, risiko denda, penurunan performa, atau kegagalan proyek akan berkurang drastis.

Intinya, transisi energi hijau bukan sekadar menambah panel surya di atap. Ia menuntut disiplin teknis, kolaborasi lintas‑sektor, dan pemahaman mendalam tentang biaya total kepemilikan. Dengan menghindari jebakan‑jebakan umum dan mengadopsi tips lanjutan dari praktisi, Anda tidak hanya menghemat 30 % biaya, tapi juga menempatkan perusahaan pada posisi kompetitif dalam ekonomi rendah karbon yang sedang berkembang.

  • Penulis: admin

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • NasDem Dorong Ambang Batas Parlemen 7 Persen, Ingin DPR Diisi 9 Partai

    NasDem Dorong Ambang Batas Parlemen 7 Persen, Ingin DPR Diisi 9 Partai

    • calendar_month Sabtu, 19 Sep 2026
    • account_circle Redaksi
    • 0Komentar

    JAKARTA – Wacana perubahan ambang batas parlemen atau parliamentary threshold kembali mencuat dalam pembahasan sistem Pemilu 2029. Di tengah belum adanya ketentuan baru untuk Pemilu 2029, Partai NasDem menyampaikan usulan agar ambang batas parlemen ditetapkan sebesar 7 persen. Ketua DPP Partai NasDem Sugeng Suparwoto mengatakan angka 7 persen merupakan sikap yang selama ini pernah didorong […]

  • Panduan Praktis 5 Langkah Transisi Energi Hijau untuk Usaha Kecil

    Panduan Praktis 5 Langkah Transisi Energi Hijau untuk Usaha Kecil

    • calendar_month Sabtu, 19 Sep 2026
    • account_circle admin
    • 0Komentar

    Ringkasan Singkat: Transisi energi hijau mengacu pada pergeseran sistem energi nasional dari sumber fosil ke sumber terbarukan seperti tenaga surya, angin, dan biomassa, dipercepat oleh target net‑zero dan kebijakan pemerintah. Proses ini mencakup modernisasi jaringan listrik, peningkatan efisiensi, serta investasi pada teknologi penyimpanan dan digitalisasi untuk memastikan pasokan yang stabil dan terjangkau. Transisi energi hijau […]

  • Panduan Praktis 5 Langkah Transisi Energi Hijau untuk Rumah Tangga

    Panduan Praktis 5 Langkah Transisi Energi Hijau untuk Rumah Tangga

    • calendar_month Rabu, 21 Okt 2026
    • account_circle admin
    • 0Komentar

    Ringkasan Singkat: Peralihan dari bahan bakar fosil ke sumber terbarukan—seperti tenaga surya, angin, dan biomassa—menjadi fokus utama untuk menurunkan emisi karbon serta mengurangi ketergantungan energi tak berkelanjutan. Upaya ini memerlukan investasi infrastruktur, kebijakan yang mendukung, serta perubahan perilaku di sektor industri dan konsumen demi mencapai target iklim nasional dan global. Transisi energi hijau menandakan pergeseran […]

  • Pertamina Siapkan 3 Langkah Strategis untuk Jaga Pasokan dan Distribusi BBM

    Pertamina Siapkan 3 Langkah Strategis untuk Jaga Pasokan dan Distribusi BBM

    • calendar_month Senin, 26 Okt 2026
    • account_circle Redaksi
    • 0Komentar

    JAKARTA – PT Pertamina (Persero) memperkuat rantai pasokan dan distribusi bahan bakar minyak (BBM) untuk memastikan ketersediaan energi tetap terjaga di seluruh wilayah Indonesia. Langkah ini dilakukan agar kebutuhan energi masyarakat tetap terpenuhi dan pelayanan di stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU) berjalan optimal. Direktur Utama Pertamina, Simon Aloysius Mantiri, menjelaskan perseroan menjalankan tiga langkah […]

  • Kisah Saya Menghadapi Krisis Iklim di Desa dan 5 Solusi Praktis

    Kisah Saya Menghadapi Krisis Iklim di Desa dan 5 Solusi Praktis

    • calendar_month Minggu, 27 Sep 2026
    • account_circle admin
    • 0Komentar

    Ringkasan Singkat: Perubahan suhu global yang terus naik, pencairan es di kutub, dan intensitas bencana alam yang meningkat menandakan krisis iklim. Hal ini memperburuk kelangkaan air, menurunkan produktivitas pertanian, serta memicu migrasi manusia ke wilayah yang lebih aman. Oleh karena itu, aksi kolektif dalam mengurangi emisi gas rumah kaca menjadi kunci untuk menghentikan dampak yang […]

  • Elon Musk Puji Xi Jinping sebagai Pemimpin Hebat, Soroti Kemajuan China hingga AI

    Elon Musk Puji Xi Jinping sebagai Pemimpin Hebat, Soroti Kemajuan China hingga AI

    • calendar_month Kamis, 24 Sep 2026
    • account_circle Redaksi
    • 0Komentar

    Jakarta – CEO Tesla dan SpaceX Elon Musk memberikan pujian terbuka terhadap Presiden China Xi Jinping. Dalam wawancara dengan media pemerintah China, Musk menyebut Xi sebagai pemimpin yang hebat dan sangat cakap, seraya mengaitkan kemajuan ekonomi yang ia lihat di China dengan kepemimpinan Xi. Pernyataan tersebut disampaikan Musk dalam wawancara yang dirilis CCTV pada Rabu […]

expand_less