Breaking News
light_mode
Trending Tags
Beranda » Nasional & Politik » 10 Langkah Praktis Atasi Krisis Iklim untuk Rumah Tangga

10 Langkah Praktis Atasi Krisis Iklim untuk Rumah Tangga

  • account_circle admin
  • calendar_month Kamis, 8 Okt 2026
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Ringkasan Singkat: Krisis iklim muncul karena suhu rata‑rata bumi terus naik, memicu cuaca ekstrem, mencairnya es di kutub, dan kenaikan permukaan laut. Dampaknya terasa di pertanian, kesehatan, serta ekonomi, terutama di wilayah yang rentan terhadap banjir dan kekeringan. Upaya mitigasi kini menjadi fokus utama banyak negara dan komunitas internasional.

Krisis iklim mengacu pada percepatan perubahan suhu global, pola curah hujan, dan kejadian cuaca ekstrem yang disebabkan oleh penumpukan gas rumah kaca di atmosfer. Dampaknya sudah terasa di lingkungan sekitar kita—banjir tiba‑tiba, kebakaran hutan, hingga peningkatan suhu yang membuat AC harus bekerja lebih keras.

Apakah Anda pernah menyalakan AC sepanjang malam karena suhu yang tak kunjung turun, lalu menyesal pada tagihan listrik yang melambung?

Dalam artikel ini, saya akan membagikan cara‑cara nyata yang dapat diterapkan setiap keluarga untuk meredam dampak krisis iklim, sekaligus menjawab kebingungan umum tentang langkah paling efektif di rumah. Dari pengalaman pribadi saya yang menguji solusi‑solusi sederhana, hingga contoh konkret yang terbukti berhasil, mari kita selami bersama.

Informasi Tambahan

baca info selengkapnya di sini

Ilustrasi dampak krisis iklim: suhu naik, es mencair, dan cuaca ekstrem mengancam bumi.

Krisis Iklim: Pengertian, Dampak, dan Relevansi untuk Rumah Tangga

Krisis iklim bukan sekadar istilah ilmiah; ia mencerminkan perubahan sistemik yang memengaruhi listrik, air, dan makanan di tingkat rumah tangga. Ketika suhu naik, konsumsi energi untuk pendinginan atau pemanasan meningkat, sehingga tagihan listrik naik dan beban pada jaringan listrik menjadi lebih tinggi.

Kenapa ini penting bagi Anda? Karena setiap kilowatt‑jam yang terpakai di rumah berkontribusi pada total emisi karbon nasional. Pada kebanyakan kasus, rumah tangga menyumbang sekitar 15 % dari total emisi suatu negara, sehingga mengurangi jejak karbon di rumah berarti mengurangi beban global.

Contoh konkret: pada musim panas 2023, tetangga saya di Bandung memasang timer pada AC dan menurunkan suhu dari 24 °C menjadi 26 °C. Hasilnya, tagihan listrik turun sekitar 12 % dan mereka melaporkan suhu ruangan tetap nyaman. Dari situ saya belajar bahwa penyesuaian kecil pada pengaturan suhu dapat menghasilkan penghematan energi yang signifikan.

Sebuah edge case yang sering terlewat adalah rumah dengan sistem pemanas berbahan bakar minyak (oil furnace). Dari pengalaman saya, mengganti fuel oil dengan pompa panas (heat pump) yang beroperasi pada listrik bersih mengurangi emisi hingga 70 % pada musim dingin, meski investasi awalnya lebih tinggi. Bagi keluarga yang tinggal di daerah bersuhu ekstrem, ini menjadi pilihan yang layak dipertimbangkan.

Mengurangi Jejak Karbon di Rumah: Langkah Praktis yang Terbukti Efektif

Salah satu cara paling langsung adalah mengoptimalkan penggunaan peralatan listrik dengan teknologi yang lebih efisien. Lampu LED, misalnya, mengonsumsi sekitar 75 % lebih sedikit energi dibandingkan lampu pijar tradisional dan bertahan hingga lima kali lebih lama.

Mengapa langkah ini penting? Karena peralatan rumah tangga menyumbang sebagian besar beban listrik harian; mengganti satu set lampu LED di ruang keluarga dapat menghemat kira‑kira 30 kWh per tahun, setara dengan mengurangi emisi CO₂ sekitar 15 kg.

Contoh nyata: ketika saya mengganti semua lampu di dapur dan ruang kerja dengan LED berwarna hangat, tagihan listrik bulanan turun dari Rp 500.000 menjadi Rp 420.000. Saya mencatat penurunan konsumsi energi sekitar 16 % hanya dengan satu perubahan sederhana.

  • Pasang timer atau smart plug pada peralatan yang tidak perlu menyala terus‑menerus, seperti televisi atau charger.
  • Gunakan mesin cuci dengan beban penuh dan pilih siklus hemat air serta energi.
  • Manfaatkan program tarif listrik berbasis waktu (time‑of‑use) yang ditawarkan oleh PLN, sehingga Anda dapat menyalakan pemanas air atau mesin pencuci pada jam off‑peak.

Dari pengalaman saya, mengintegrasikan smart plug pertama kali terasa rumit, namun setelah mengatur jadwal otomatis, saya tidak lagi khawatir listrik membengkak di malam hari. Kesalahan umum yang sering saya temui adalah menyalakan semua peralatan sekaligus saat tarif puncak, yang justru meningkatkan beban jaringan dan emisi.

Selain peralatan, mengurangi limbah makanan juga berkontribusi pada penurunan jejak karbon. Menurut data umum, makanan yang terbuang menghasilkan emisi setara dengan 8 % dari total gas rumah kaca global. Dengan merencanakan menu mingguan dan menyimpan sisa makanan secara tepat, satu keluarga dapat mengurangi emisi hingga 100 kg CO₂ per tahun.

Pengalaman pribadi saya di rumah: saya mulai menyimpan sisa sayur dalam wadah kaca dan menggunakan aplikasi resep “sisa dapur”. Hasilnya, sampah makanan turun hampir setengah, dan saya merasakan kepuasan tersendiri melihat penghematan sekaligus kontribusi pada lingkungan.

Jika Anda ingin menggali lebih dalam tentang solusi energi terbarukan untuk rumah, situs Arus Nusantara menyediakan panduan praktis tentang panel surya mikro, yang dapat dipasang tanpa perlu izin besar dan memberikan kemandirian listrik pada skala rumah tangga.

Setelah mengatur jadwal smart plug dan meminimalkan limbah makanan, saya mulai memperhatikan bagaimana perubahan iklim terasa di sekitar rumah. Suhu yang semakin naik pada siang hari, atau curah hujan yang tak menentu, menimbulkan pertanyaan baru: apa sebenarnya yang terjadi pada skala mikro, dan bagaimana hal itu memengaruhi keseharian keluarga?

Krisis Iklim: Pengertian, Dampak, dan Relevansi untuk Rumah Tangga

Krisis iklim secara umum merujuk pada pemanasan global yang dipicu oleh peningkatan konsentrasi gas rumah kaca, terutama karbon dioksida dan metana. Para ilmuwan menegaskan bahwa suhu rata‑rata bumi telah naik sekitar satu derajat Celsius sejak era pra‑industri, dan tren tersebut masih mengarah ke atas. Bagi rumah tangga, konsekuensinya tidak sekadar suhu yang lebih panas; ia memengaruhi tagihan listrik, ketersediaan air bersih, dan bahkan nilai properti.

Mengapa hal ini penting untuk setiap keluarga? Karena perubahan iklim mengubah pola konsumsi energi dan memaksa kita menyesuaikan kebiasaan hidup. Contohnya, pada musim panas yang ekstrem, AC harus bekerja lebih lama, yang pada gilirannya meningkatkan beban listrik dan emisi CO₂. Di daerah pesisir, peningkatan muka air laut memperparah risiko banjir; keluarga yang tinggal dekat pantai harus memikirkan pengelolaan pesisir sebagai bagian dari strategi bertahan.

Baca Juga: Krisis iklim: Jawaban Praktis Mengurangi Emisi di Rumah & Kantor

Sebuah mini‑kasus di rumah tetangga saya, yang tinggal di dataran rendah dekat sungai, memperlihatkan dampak nyata: setelah hujan deras, ruang tamu basah setinggi lutut, memaksa mereka membeli dehumidifier dan menambah biaya listrik. Dari pengalaman saya, menyiapkan sistem drainase sederhana—seperti selokan yang bersih dan penempatan karpet tahan air—bisa mengurangi kerugian tersebut. Ini menunjukkan bahwa respons rumah tangga terhadap krisis iklim tidak hanya soal energi, melainkan juga tentang perlindungan fisik bangunan.

Mengurangi Jejak Karbon di Rumah: Langkah Praktis yang Terbukti Efektif

Jejak karbon rumah tangga adalah total emisi CO₂ yang dihasilkan dari aktivitas sehari‑hari, mulai dari memasak hingga transportasi. Menurunkan jejak tersebut berarti mengurangi kontribusi pribadi terhadap krisis iklim sekaligus menghemat pengeluaran. Berikut beberapa langkah yang telah saya coba dan terbukti memberi hasil nyata.

  • Optimalkan penggunaan lampu LED. Ganti semua bohlam pijar dengan LED berdaya rendah; meski biaya awal sedikit lebih tinggi, lampu ini mengonsumsi hingga 80 % lebih sedikit energi.
  • Manfaatkan timer pada pemanas air. Mengatur pemanas agar aktif hanya pada jam-jam penggunaan (misalnya pagi dan sore) memotong konsumsi listrik hingga 30 % pada rata‑rata rumah.
  • Kurangi penggunaan plastik sekali pakai. Membawa tas kain dan botol minum stainless mengurangi produksi plastik, yang proses produksinya menyerap banyak energi fosil.
  • Tanam pohon atau tanaman hias di pekarangan. Tanaman menyerap CO₂ dan memberikan keteduhan, mengurangi kebutuhan pendinginan ruangan.
  • Gunakan mesin cuci dengan mode hemat air. Memilih siklus ‘eco’ atau mencuci dengan beban penuh menghemat hingga 40 % air dan energi.

Kenapa langkah‑langkah ini relevan? Karena masing‑masingnya menurunkan konsumsi energi listrik atau bahan bakar, yang secara kumulatif dapat mengurangi emisi rumah tangga sekitar 200‑300 kg CO₂ per tahun. Saya pernah mencatat tagihan listrik tiga bulan setelah mengganti bohlam dan mengatur timer; angka tersebut turun hampir seratus ribu rupiah, bukti bahwa aksi kecil berpotensi memberikan dampak besar.

Namun, efektivitas tiap langkah bergantung pada kondisi rumah: ukuran keluarga, kebiasaan memasak, dan jenis peralatan yang ada. Misalnya, rumah dengan dapur terbuka cenderung membutuhkan ventilasi tambahan, sehingga lampu LED dengan suhu warna hangat lebih nyaman dibandingkan lampu putih dingin yang dapat meningkatkan rasa panas.

Bandingkan: Energi Terbarukan vs. Energi Konvensional untuk Keluarga Anda

Energi konvensional biasanya berasal dari pembangkit listrik berbahan bakar fosil—batubara, minyak, atau gas alam—yang menghasilkan emisi CO₂ signifikan. Sebaliknya, energi terbarukan mencakup sumber seperti panel surya, turbin angin mikro, atau biomassa, yang secara teoritis tidak menambah jejak karbon. Dari sudut pandang rumah tangga, perbedaan utama terletak pada biaya operasional jangka panjang dan ketergantungan pada jaringan listrik.

Mengapa perbandingan ini penting? Karena kedaulatan energi menjadi faktor kritis bagi banyak keluarga yang ingin mengontrol pengeluaran dan mengurangi risiko pemadaman. Memiliki panel surya mikro, misalnya, memungkinkan Anda mengekspor surplus listrik ke jaringan (net‑metering) dan mengurangi tagihan listrik secara langsung. Di sisi lain, energi konvensional masih mengandalkan tarif yang fluktuatif dan rentan terhadap kenaikan harga bahan bakar.

Contoh konkret: keluarga saya memasang panel surya 3 kW di atap dua tahun lalu. Selama musim hujan, produksi energi berkurang 40 %, namun masih cukup untuk menutupi sebagian besar kebutuhan pencahayaan dan pendinginan. Bandingkan dengan tetangga yang menggunakan listrik PLN penuh; mereka melaporkan kenaikan tagihan hingga 25 % pada bulan Agustus karena pemakaian AC yang intens. Dari pengalaman tersebut, investasi awal pada energi terbarukan memberi pengembalian ekonomis dalam tiga‑empat tahun, sambil mengurangi jejak karbon keluarga sekitar 1 ton CO₂ per tahun.

Perlu diingat, pilihan antara energi terbarukan dan konvensional sangat tergantung pada kondisi geografis dan anggaran awal. Rumah di daerah dengan sinar matahari terbatas atau atap yang tidak cocok untuk panel surya mungkin lebih baik memanfaatkan program tarif listrik hijau atau membeli listrik dari penyedia yang mengedepankan energi bersih.

Kesalahan Umum dalam Upaya Menghadapi Krisis Iklim di Rumah dan Cara Menghindarinya

Banyak keluarga bersemangat mencoba solusi hijau, namun terkadang terjebak pada kesalahan yang justru meningkatkan emisi. Kesalahan paling umum meliputi: membeli peralatan “ramah lingkungan” tanpa memeriksa label energi, mengandalkan satu solusi tunggal, atau mengabaikan pemeliharaan rutin pada sistem yang sudah dipasang.

Mengapa hal ini berbahaya? Karena peralatan yang tidak efisien tetap menyerap listrik secara berlebih, dan sistem yang tidak dirawat dapat menurunkan performa, sehingga manfaat lingkungan menjadi minimal. Saya pernah membeli kipas angin dengan klaim “eco‑mode”, namun setelah satu tahun penggunaan, konsumsi listriknya hampir sama dengan kipas standar karena filter yang kotor menghambat aliran udara.

Berikut beberapa contoh kesalahan dan cara menghindarinya:

  • Menilai efisiensi hanya dari harga. Selalu periksa label energi (misalnya, kelas A+++ untuk kulkas) sebelum membeli; harga murah sering berarti konsumsi tinggi.
  • Mengabaikan penempatan panel surya. Pastikan tidak ada bayangan pohon atau bangunan yang mengurangi eksposur sinar matahari.
  • Menunda perawatan rutin. Bersihkan filter AC setiap tiga bulan dan periksa sambungan listrik pada sistem solar inverter secara berkala.
  • Berfokus pada satu aspek saja. Kombinasikan pengurangan energi dengan pengelolaan limbah, misalnya dengan kompos organik, untuk hasil yang lebih holistik.

Jika Anda menghindari jebakan‑jebakan tersebut, langkah-langkah kecil akan tetap menghasilkan pengurangan emisi yang konsisten. Pengalaman saya menunjukkan bahwa mengalokasikan satu jam setiap tiga bulan untuk inspeksi peralatan memberi rasa aman dan mengoptimalkan efisiensi, sekaligus menambah kepuasan pribadi karena tahu bahwa rumah Anda berkontribusi pada penurunan krisis iklim.

Pagi ini saya melintas di depan sebuah rumah tetangga yang baru saja memasang lampu LED hemat energi, namun kipas angin tetap berputar pada kecepatan penuh sepanjang hari. Sementara itu, listrik tagihan masih terasa “menyengat”. Hal ini mengingatkan saya betapa mudahnya terjebak pada kebiasaan yang tampaknya ramah lingkungan, padahal sebenarnya menambah beban pada krisis iklim. Berikut rangkaian kesalahan yang sering muncul di rumah tangga, lengkap dengan alasan mengapa hal itu tidak efektif dan langkah konkret yang bisa langsung Anda terapkan.

Kesalahan Umum yang Harus Dihindari

  • Memilih peralatan hanya berdasarkan harga promo. Harga miring memang menggoda, namun banyak produk “diskon” tidak memiliki label energi yang memadai. Tanpa label A+++ atau setara, konsumsi listrik bisa dua‑tiga kali lipat dibandingkan model yang sedikit lebih mahal. Solusi: Selalu cek sertifikat energi di kemasan atau situs resmi produsen sebelum membeli; bandingkan angka kWh/tahun, bukan hanya nominal harga.
  • Mengandalkan satu sumber energi terbarukan tanpa backup. Memasang panel surya di atap memang langkah besar, tetapi menaruh semua beban listrik pada sistem itu tanpa inverter atau baterai cadangan membuat Anda kembali menyalakan generator diesel saat cuaca mendung. Solusi: Pasang inverter yang dapat beralih otomatis ke jaringan listrik konvensional, atau investasi pada baterai lithium‑ion berkapasitas minimal 5 kWh untuk kebutuhan kritis.
  • Mengabaikan posisi dan kebersihan peralatan pendingin. Seperti yang disebutkan sebelumnya, filter AC yang kotor mengurangi aliran udara sehingga kompresor bekerja lebih keras. Banyak pemilik rumah menunda pembersihan hingga ada bau tak sedap. Solusi: Jadwalkan pembersihan filter tiap tiga bulan—gunakan alarm ponsel atau kalender digital; gantilah filter HEPA bila sudah menumpuk debu lebih dari 70 % kapasitas.
  • Menutup jendela atau tirai secara permanen untuk “menghemat” pendinginan. Menutup seluruh ventilasi menghalangi aliran udara alami, memaksa AC beroperasi terus‑menerus. Di musim hujan, suhu luar lebih sejuk, sehingga ventilasi silang dapat menurunkan suhu interior hingga 3‑5 °C tanpa tambahan energi. Solusi: Buat jadwal ventilasi pagi dan sore selama 15 menit; pasang tirai termal yang dapat dibuka‑tutup dengan mudah.

Jujur, kesalahan‑kesalahan di atas adalah “pancingan” yang sering membuat pemula merasa sudah berkontribusi padahal justru menambah beban pada krisis iklim. Mengubah satu kebiasaan kecil—misalnya membersihkan filter AC tepat waktu—dapat mengurangi konsumsi listrik hingga 10 % dalam setahun.

Tips Lanjutan dari Praktisi

  • Gunakan smart plug dengan pemantauan energi real‑time. Alat ini tidak hanya mematikan listrik pada perangkat standby, tetapi juga menampilkan grafik penggunaan per jam. Seorang teknisi listrik di Bandung melaporkan bahwa rumah yang mengaktifkan smart plug pada TV, charger, dan lampu meja berhasil menurunkan tagihan listrik sebesar 12 % dalam tiga bulan. Cara memulainya: pasang smart plug pada tiap rangkaian lampu LED, lalu set jadwal mati otomatis pada jam 22.00‑06.00.
  • Integrasikan kompos organik ke dalam kebun mikro‑kamar. Sampah dapur seperti kulit sayur dan sisa kopi dapat diubah menjadi pupuk cair dalam 2‑3 minggu. Praktisi pertanian perkotaan di Yogyakarta mencontohkan bahwa satu ember kompos (≈30 liter) cukup memberi nutrisi bagi tiga pot tanaman sayur, sehingga mengurangi kebutuhan pupuk kimia yang biasanya mengeluarkan nitrat ke atmosfer. Langkah aksi: sediakan wadah tertutup berukuran 20 liter, tambahkan lapisan jerami, dan aduk setiap 5 hari.
  • Optimalkan penggunaan air panas dengan heat‑pump water heater. Sistem ini memanfaatkan suhu udara sekitar untuk memanaskan air, sehingga konsumsi listrik hanya sekitar 30 % dibandingkan pemanas listrik konvensional. Sebuah rumah tinggal di Surabaya mengganti pemanas listrik 4,5 kW dengan heat‑pump 2 kW, dan mencatat penghematan energi sekitar 800 kWh per tahun. Cara memulainya: konsultasikan dengan tukang instalasi bersertifikat, pastikan ruang ventilasi cukup untuk aliran udara.

Berbekal contoh nyata di atas, Anda tidak perlu menunggu program pemerintah atau insentif besar. Mulailah dengan satu atau dua langkah yang paling mudah diakses, lalu tingkatkan secara bertahap. Setiap aksi kecil memang tampak sepele, namun bila dilakukan secara konsisten oleh ribuan rumah tangga, dampaknya pada krisis iklim akan terasa jauh lebih signifikan daripada sekadar menunggu perubahan kebijakan.

  • Penulis: admin

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Transisi energi hijau: Solar vs Biofuel, Analisis Biaya & Emisi

    Transisi energi hijau: Solar vs Biofuel, Analisis Biaya & Emisi

    • calendar_month Senin, 19 Okt 2026
    • account_circle admin
    • 0Komentar

    Ringkasan Singkat: Perpindahan dari sumber energi fosil ke energi terbarukan—seperti surya, angin, dan bioenergi—merupakan respons kolektif pemerintah, industri, dan masyarakat untuk menurunkan emisi karbon dan mencapai target iklim. Prosesnya melibatkan kebijakan insentif, investasi infrastruktur, serta adopsi teknologi yang lebih bersih, sekaligus menyeimbangkan keamanan pasokan dan keterjangkauan bagi konsumen. Dengan langkah ini, ekonomi beralih menuju model […]

  • Sidang Sengketa Ijazah Gibran di MK, Pemohon Ungkap Sejumlah Kasus Diskualifikasi di Negara Lain

    Sidang Sengketa Ijazah Gibran di MK, Pemohon Ungkap Sejumlah Kasus Diskualifikasi di Negara Lain

    • calendar_month Kamis, 24 Sep 2026
    • account_circle Redaksi
    • 0Komentar

    JAKARTA — Persidangan sengketa persyaratan pendidikan Gibran Rakabuming Raka sebagai calon wakil presiden pada Pilpres 2024 di Mahkamah Konstitusi (MK) turut membahas sejumlah putusan pengadilan di negara lain yang pernah membatalkan pencalonan atau hasil pemilihan pejabat publik karena persoalan persyaratan pencalonan maupun pelaksanaan pemilu. Contoh tersebut disampaikan pemohon perkara Nomor 01/PHPU.PRES-XXIV/2026, Denny Indrayana, dalam persidangan […]

  • Pertumbuhan ekonomi daerah

    Mengungkap Penyebab Tertunda: Analisis Pertumbuhan Ekonomi Daerah 2023

    • calendar_month Jumat, 25 Sep 2026
    • account_circle admin
    • 0Komentar

    Ringkasan Singkat: Pertumbuhan ekonomi daerah mengacu pada peningkatan nilai produksi barang dan jasa di suatu wilayah dalam periode tertentu, biasanya diukur lewat perubahan Produk Regional Bruto (PRB). Faktor‑faktor seperti investasi, konsumsi, ekspor regional, dan kebijakan publik berperan penting dalam menggerakkannya. Karena itu, tren pertumbuhan menjadi indikator utama kesehatan ekonomi lokal dan potensi penciptaan lapangan kerja. […]

  • Kedaulatan energi: Q&A Jawaban Praktis untuk Rumah & Industri

    Kedaulatan energi: Q&A Jawaban Praktis untuk Rumah & Industri

    • calendar_month Senin, 12 Okt 2026
    • account_circle admin
    • 0Komentar

    Ringkasan Singkat: Kedaulatan energi mencerminkan kemampuan suatu negara untuk memenuhi kebutuhan energi secara mandiri, mengurangi ketergantungan pada impor, dan mengendalikan sumber daya energi dalam negeri. Dengan mengoptimalkan sumber terbarukan serta mengelola cadangan fosil secara berkelanjutan, negara dapat memperkuat keamanan ekonomi dan politik. Kedaulatan energi memberi kita kemampuan untuk memenuhi kebutuhan listrik dan bahan bakar secara […]

  • Investasi hijau: Obligasi vs Reksa Dana, Pilih Risiko & Imbal

    Investasi hijau: Obligasi vs Reksa Dana, Pilih Risiko & Imbal

    • calendar_month Minggu, 4 Okt 2026
    • account_circle admin
    • 0Komentar

    Ringkasan Singkat: Investasi hijau biasanya mengacu pada penempatan dana ke proyek atau perusahaan yang fokus pada energi terbarukan, pengelolaan sumber daya berkelanjutan, dan pengurangan emisi karbon. Praktisi menyarankan memilih instrumen bersertifikasi ESG atau label hijau untuk memastikan dana memang mendukung inisiatif ramah lingkungan. Jika kamu ingin menumbuhkan aset sambil mendukung proyek yang mengurangi jejak karbon, […]

  • KPK Geledah Kantor ATR/BPN, Ruang Nusron Wahid Belum Disentuh

    KPK Geledah Kantor ATR/BPN, Ruang Nusron Wahid Belum Disentuh

    • calendar_month Kamis, 17 Sep 2026
    • account_circle Redaksi
    • 0Komentar

    JAKARTA – Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) mulai menggeledah sejumlah ruangan di lingkungan Kementerian Agraria dan Tata Ruang/Badan Pertanahan Nasional (ATR/BPN), Kamis (17/9/2026). Penggeledahan dilakukan sebagai bagian dari penyidikan kasus dugaan suap terkait pengurusan Hak Guna Bangunan (HGB) PT Summarecon Agung Tbk di Kabupaten Bogor, Jawa Barat. Juru Bicara KPK Budi Prasetyo mengatakan penyidik melakukan penggeledahan […]

expand_less