Capaian Pangan Prabowo-Gibran: Produksi Padi Naik 13,29%, Cadangan Beras 4,6 Juta Ton
- account_circle Redaksi
- calendar_month Selasa, 20 Okt 2026
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
JAKARTA – Dua tahun pemerintahan Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka, pemerintah terus memperkuat ketahanan pangan melalui peningkatan produksi, penguatan cadangan beras, pembangunan irigasi, dan modernisasi pertanian.
Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat produksi padi nasional pada 2025 mencapai 60,21 juta ton gabah kering giling (GKG), naik 13,29% dibandingkan 2024. Produksi beras untuk konsumsi penduduk mencapai 34,69 juta ton, meningkat 4,07 juta ton dari tahun sebelumnya. Sementara itu, produksi jagung mencapai 16,16 juta ton, tumbuh 6,74%.
Presiden Prabowo menegaskan pentingnya kemandirian pangan untuk menghadapi ketidakpastian global dan perubahan iklim. “Alhamdulillah swasembada pangan sudah, cadangan pangan kita cukup,” kata Prabowo di Pondok Modern Darussalam Gontor, Jawa Timur.
Dari sisi penyerapan hasil panen, Perum BULOG mencatat pengadaan gabah dan beras dalam negeri mencapai 4,13 juta ton setara beras hingga 11 Oktober 2026. Angka tersebut setara 103,29% dari target pemerintah sebesar 4 juta ton dan melampaui realisasi sepanjang 2025.
Direktur Utama BULOG Ahmad Rizal Ramdhani menyebut capaian tersebut merupakan hasil kerja sama berbagai pihak di sentra produksi. Sementara itu, Badan Pangan Nasional mencatat Cadangan Beras Pemerintah berada di kisaran 4,6 juta ton per 18 September 2026.
Pemerintah juga melanjutkan program Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan serta menyiapkan bantuan beras bagi 33,24 juta penerima untuk periode Oktober–Desember 2026, masing-masing 10 kilogram per bulan. Harga Pembelian Pemerintah untuk gabah kering panen juga dipertahankan sebesar Rp6.500 per kilogram.
Penguatan produksi dilakukan di berbagai wilayah. Jawa Timur dan Jawa Barat menjadi penopang utama produksi padi, sementara Sumatera Selatan, Sulawesi Selatan, Nusa Tenggara Barat, Kalimantan Selatan, dan Papua Selatan turut mencatat kontribusi produksi. Di Tanah Papua, Kementerian Pertanian juga mengembangkan pencetakan sawah baru dan optimalisasi lahan.
Dari sisi infrastruktur, Kementerian Pekerjaan Umum melaporkan pembangunan dan rehabilitasi irigasi yang melayani sekitar 589.606 hektare pada 2025, dengan target 750.000 hektare pada 2026.
Modernisasi pertanian turut didorong melalui teknologi digital, termasuk Internet of Things (IoT) dan kecerdasan artifisial. Menteri Komunikasi dan Digital Meutya Hafid menekankan pentingnya memperluas pemanfaatan teknologi hingga ke wilayah pedesaan untuk mendukung produktivitas petani.
Meski sejumlah indikator menunjukkan peningkatan, pemerintah masih menghadapi tantangan berupa fluktuasi produksi, distribusi antardaerah, keterjangkauan harga pangan, dan dampak cuaca ekstrem. Karena itu, penguatan cadangan, infrastruktur irigasi, serta perlindungan petani tetap menjadi faktor penting untuk menjaga keberlanjutan ketahanan pangan nasional.
- Penulis: Redaksi

Saat ini belum ada komentar