PLN Group Kantongi Lima Kerja Sama Rp3,3 Triliun, Perkuat Transisi Energi dan Industri Dalam Negeri
- account_circle Redaksi
- calendar_month Kamis, 24 Sep 2026
- print Cetak

(Dok. Istimewa)
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
TANGERANG — PT PLN (Persero) bersama PLN Group memperkuat kolaborasi dengan mitra strategis untuk mempercepat pengembangan sistem kelistrikan nasional sekaligus mendukung agenda transisi energi. Dalam gelaran Electricity Connect 2026 di ICE BSD City, Tangerang, PLN Group meneken lima kerja sama strategis dengan estimasi nilai mencapai Rp3,3 triliun.
Kesepakatan tersebut mencakup sejumlah sektor penting dalam ekosistem ketenagalistrikan, mulai dari proyek dedieselisasi berbasis Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) dan Battery Energy Storage System (BESS) hibrida di wilayah terpencil, modernisasi gardu induk tegangan tinggi dengan mengutamakan Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN), penguatan rantai pasok dan alih teknologi komponen kelistrikan, perawatan generator dan motor listrik, hingga pengembangan pasar jasa maintenance, repair and overhaul (MRO) pembangkit di kawasan Asia-Pasifik.
Rangkaian kerja sama tersebut berlangsung di tengah dorongan pemerintah untuk memperbesar kapasitas energi bersih sekaligus memperkuat kemandirian energi nasional. Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia dalam pembukaan Electricity Connect 2026 menegaskan bahwa Indonesia tetap menjalankan agenda menuju Net Zero Emissions (NZE) pada rentang 2050–2060.
Bahlil mengatakan pemerintah mendorong porsi energi baru terbarukan (EBT) yang besar dalam Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL), sekaligus menjalankan program pengembangan PLTS hingga 100 gigawatt (GW). Pemerintah sebelumnya juga telah memulai Program PLTS 100 GWp melalui proyek di sejumlah wilayah, termasuk daerah terpencil.
“Indonesia tak akan bergeming dan tetap konsisten untuk memenuhi target net zero emission kita di 2050 sampai tahun 2060. Caranya bukan hanya tema, langsung dibuat program konkret. Di RUPTL kita dorong 70 persen energi baru terbarukan dan kita menambah 100 gigawatt,” tegas Bahlil.
Program pengembangan PLTS dalam skala besar tersebut diproyeksikan membuka ruang investasi sekaligus menciptakan dampak ekonomi melalui pembangunan infrastruktur energi, pengembangan industri pendukung dan penciptaan lapangan kerja. Pemerintah juga menekankan pentingnya memastikan manfaat investasi energi dapat dirasakan industri dalam negeri.
Karena itu, Bahlil meminta pengembangan proyek kelistrikan nasional tidak hanya dilihat dari sisi kapasitas pembangkit, tetapi juga dari kemampuan industri domestik menyediakan kebutuhan proyek. Penggunaan produk dalam negeri dinilai penting untuk memperkuat rantai pasok nasional dan mendorong pertumbuhan industri pendukung sektor energi.
“Kita mengharapkan, untuk memenuhi semua kebutuhan daripada proyek ini, kita akan memprioritaskan bahan-bahan produksi dari dalam negeri. Kalau di dalam negerinya tidak cukup kita juga akan membuka peluang untuk melakukan impor, tapi betul-betul selektif,” kata Bahlil.
Menurutnya, kolaborasi antara pemerintah, akademisi dan pelaku usaha diperlukan agar pengembangan energi bersih tidak berhenti pada pembangunan pembangkit, tetapi juga menciptakan ekosistem industri yang mampu memberikan nilai tambah di dalam negeri.
Direktur Utama PLN Darmawan Prasodjo menilai penguatan infrastruktur kelistrikan menjadi bagian penting dalam menjaga ketahanan dan kedaulatan energi Indonesia. Kebutuhan listrik terus meningkat seiring dengan perkembangan hilirisasi industri, pusat data, digitalisasi dan elektrifikasi.
“Indonesia harus mandiri energi. Pengembangan infrastruktur kelistrikan menjadi momentumnya, apalagi kebutuhan listrik terus naik karena hilirisasi, pusat data, digitalisasi, dan elektrifikasi,” ujar Darmawan.
PLN, kata Darmawan, tengah membangun ekosistem kelistrikan yang terintegrasi melalui pengembangan PLTS 100 GW, pemanfaatan BESS, Green Enabling Super Grid, serta digitalisasi sistem kelistrikan dari hulu hingga hilir.
Kementerian ESDM sebelumnya menyebut RUPTL 2025–2034 menargetkan tambahan kapasitas pembangkit sebesar 69,5 GW, dengan sekitar 70 persen berasal dari EBT. Pemerintah juga mendorong pembangunan jaringan transmisi sepanjang sekitar 48.000 kilometer sirkuit untuk mendukung integrasi pembangkit dan kebutuhan listrik di berbagai wilayah.
Dalam konteks tersebut, Electricity Connect 2026 menjadi ruang pertemuan antara kebijakan pemerintah, kebutuhan pengembangan PLN, serta teknologi dan investasi dari mitra nasional maupun global. Forum ini tidak hanya menjadi ajang pertukaran gagasan, tetapi juga menghasilkan kerja sama konkret yang dapat mendukung penguatan ekosistem ketenagalistrikan.
“Indonesia memiliki sumber daya dan permintaan. Dunia memiliki teknologi, keahlian, dan modal. Forum ini mempertemukan kekuatan itu agar kerja sama langsung menjadi program yang nyata. Hari ini sudah ada wujudnya. Kolaborasi-kolaborasi strategis berhasil disepakati hingga mencapai Rp3,3 triliun,” jelas Darmawan.
Lima kerja sama tersebut sekaligus memperlihatkan bahwa pengembangan sektor kelistrikan tidak hanya berkaitan dengan pembangunan pembangkit. Aspek teknologi penyimpanan energi, modernisasi jaringan, penguatan komponen lokal, kemampuan jasa pemeliharaan hingga ekspansi layanan ke pasar regional turut menjadi bagian dari transformasi industri ketenagalistrikan.
Bagi PLN Group, kolaborasi tersebut diharapkan dapat memperkuat kemampuan industri nasional sekaligus membuka peluang pengembangan bisnis di pasar internasional. Adopsi teknologi, penguatan rantai pasok dan peningkatan kapasitas sumber daya manusia menjadi bagian dari manfaat yang diharapkan muncul dari kerja sama tersebut.
Darmawan mengatakan penguatan ekosistem tersebut pada akhirnya diharapkan memberikan dampak lebih luas terhadap perekonomian, mulai dari masuknya investasi, pertumbuhan industri dalam negeri, penguasaan teknologi hingga penciptaan lapangan kerja.
“Dari ekosistem ini lahir dampak yang terukur, investasi masuk, teknologi diadopsi, industri dalam negeri tumbuh, dan SDM semakin kuat,” ujarnya.
Dengan nilai kerja sama mencapai Rp3,3 triliun, Electricity Connect 2026 menunjukkan bahwa agenda transisi energi Indonesia mulai bergerak bersamaan dengan penguatan industri kelistrikan. Bagi PLN Group, langkah tersebut menjadi bagian dari upaya membangun sistem listrik yang semakin andal, bersih dan mampu menopang kebutuhan ekonomi Indonesia yang terus berkembang.
- Penulis: Redaksi

Saat ini belum ada komentar