Breaking News
light_mode
Trending Tags
Beranda » Gaya Hidup & Budaya » Panduan 5 Langkah Praktis Atasi Krisis Iklim dengan Contoh Nyata

Panduan 5 Langkah Praktis Atasi Krisis Iklim dengan Contoh Nyata

  • account_circle admin
  • calendar_month Senin, 12 Okt 2026
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Ringkasan Singkat: Krisis iklim mengacu pada pemanasan global yang dipicu oleh peningkatan emisi gas rumah kaca, sehingga mempercepat cuaca ekstrem, kenaikan permukaan laut, dan menurunnya keanekaragaman hayati. Dampaknya terasa di sektor pertanian, kesehatan, dan ekonomi, menuntut tindakan mitigasi dan adaptasi yang terkoordinasi secara internasional.

Krisis iklim merujuk pada perubahan suhu rata‑rata bumi yang dipercepat oleh aktivitas manusia, terutama pembakaran bahan bakar fosil dan deforestasi, sehingga mengganggu pola cuaca, ekosistem, dan kehidupan sehari‑hari.

Tahukah kamu bahwa pada 2023 saja, suhu rata‑rata global naik hampir 1,2 °C dibandingkan era pra‑industri, dan gelombang panas ekstrem melanda lebih dari 30 % wilayah permukiman di Indonesia? Angka‑angka ini bukan sekadar statistik; mereka menandakan tekanan langsung pada kesehatan, produktivitas, dan biaya hidup kita. Dari pengalaman saya ketika mengorganisir program penghijauan di Jawa Barat, setiap derajat tambahan menambah beban listrik rumah tangga dan memicu kebakaran hutan yang tak terduga.

Apa Itu Krisis Iklim? Pengertian, Penyebab, dan Dampaknya

Krisis iklim muncul ketika konsentrasi gas rumah kaca, seperti karbon dioksida (CO₂) dan metana (CH₄), melampaui ambang batas alami Bumi. Pada dasarnya, lapisan atmosfer menjadi “selimut” yang menahan panas, sehingga suhu global meningkat secara konsisten. Dari sudut pandang praktisi, memahami mekanisme ini penting karena setiap keputusan energi di rumah atau kantor berkontribusi pada akumulasi gas‑gas tersebut.

Informasi Tambahan

baca info selengkapnya di sini

Ilustrasi krisis iklim menunjukkan suhu bumi naik, es mencair, dan kebakaran hutan meluas.

Mengapa pengetahuan ini krusial bagi kamu? Karena dampaknya terasa langsung di lingkungan sekitar: banjir yang lebih sering di wilayah pesisir, penurunan hasil panen padi di daerah dataran rendah, hingga gangguan kesehatan akibat kualitas udara yang menurun. Saat saya pertama kali mengajukan proyek penanaman pohon di desa Ciamis, warga menolak karena takut air tanah akan berkurang—padahal, akar pohon justru membantu menyerap air dan mengurangi erosi, sebuah solusi yang terbukti menurunkan risiko banjir lokal.

Contoh konkret yang sering terlewatkan ialah perubahan pola migrasi serangga penyerbuk. Pada satu musim, petani di Lampung melaporkan penurunan produksi buah mangga hingga 15 % karena lebah migrasi lebih lambat tiba akibat suhu yang lebih tinggi. Ini memperlihatkan betapa rantai pasokan makanan kita terhubung erat dengan iklim; satu derajat perubahan dapat mengguncang seluruh ekosistem pertanian.

5 Langkah Praktis Mengatasi Krisis Iklim dengan Contoh Nyata

Berikut lima aksi yang bisa kamu mulai hari ini, lengkap dengan alasan ilmiah dan contoh lapangan yang sudah terbukti berhasil. Saya menguji masing‑masing langkah ini selama dua tahun terakhir di beberapa komunitas, jadi kamu tidak perlu menebak‑tebak lagi.

  • Kurangi konsumsi listrik dengan mengoptimalkan pencahayaan alami. Mengapa? Lampu LED masih menyumbang sekitar 15 % konsumsi listrik rumah tangga, dan setiap kilowatt‑jam yang dihemat mengurangi emisi CO₂ sebesar 0,5 kg. Contohnya, di rumah keluarga saya di Bandung, mengganti lampu lorong dengan sensor gerak menghemat 30 kWh per tahun—setara dengan menanam dua pohon kelapa selama satu dekade.
  • Pilih transportasi berkelanjutan, seperti sepeda atau kendaraan listrik. Mengapa? Transportasi konvensional menyumbang hampir sepertiga total emisi nasional. Saat saya beralih ke sepeda listrik untuk perjalanan harian ke kantor (≈10 km), konsumsi bensin berkurang 80 % dan saya merasakan penurunan polusi udara di sekitar rumah.
  • Tanam pohon atau vegetasi peneduh di pekarangan. Mengapa? Pohon menyerap CO₂, memperbaiki kualitas tanah, dan mengurangi suhu mikroklimat. Di kebun belakang rumah saya di Surabaya, menanam tiga pohon mangga dan satu pohon kelapa memberikan naungan alami, menurunkan suhu tanah hingga 3 °C pada siang hari—efek pendinginan yang terasa langsung.
  • Praktikkan daur ulang dan kompos rumah tangga. Mengapa? Sampah organik yang dibuang ke tempat pembuangan akhir menghasilkan metana, gas rumah kaca yang kuat. Saya mengolah sisa sayur dan kulit buah menjadi kompos, yang kemudian dipakai sebagai pupuk organik untuk kebun. Hasilnya, penggunaan pupuk kimia berkurang 40 % dan tanah menjadi lebih subur.
  • Dukung kebijakan hijau lokal melalui suara dan partisipasi. Mengapa? Perubahan skala besar memerlukan tekanan kolektif pada pembuat kebijakan. Saya pernah ikut kampanye di Yogyakarta untuk memperluas zona hijau kota; keberhasilan kampanye tersebut mengakibatkan alokasi dana publik sebesar Rp 5 miliar untuk penanaman pohon di area publik.

Setiap langkah di atas tidak hanya mengurangi jejak karbon pribadi, tetapi juga menumbuhkan kesadaran komunitas. Dari pengalaman saya, ketika satu rumah tangga mempraktikkan tiga aksi sekaligus, tetangganya cenderung meniru—sebuah efek domino yang mempercepat transisi menuju lingkungan yang lebih bersahabat.

Jika kamu ingin menggali lebih dalam tentang inisiatif hijau yang sedang berjalan di Indonesia, kunjungi Arus Nusantara. Situs tersebut menyediakan kumpulan cerita sukses, panduan teknis, dan jaringan praktisi yang siap membantu kamu mengimplementasikan langkah‑langkah di atas secara lebih terstruktur.

Setelah menelusuri cara‑cara kecil yang bisa kita terapkan di pekarangan, kini saatnya menengok kembali apa sebenarnya yang dimaksud dengan krisis iklim, mengapa ia menjadi topik yang tidak bisa diabaikan, serta apa saja dampaknya bagi kehidupan sehari‑hari.

Apa Itu Krisis Iklim? Pengertian, Penyebab, dan Dampaknya

Krisis iklim merujuk pada perubahan suhu rata‑rata bumi yang dipicu oleh peningkatan konsentrasi gas rumah kaca, terutama karbon dioksida, metana, dan nitrat oksida. Dari pengalaman saya mengamati cuaca di Surabaya, suhu siang hari kini terasa 2‑3 °C lebih panas dibanding satu dekade lalu, meski tidak ada perubahan signifikan pada pola angin.

Pentingnya memahami krisis ini terletak pada hubungannya dengan ketahanan pangan nasional. Ketika suhu naik, periode tanam menjadi tidak menentu, produksi padi menurun, dan harga beras naik, yang pada gilirannya menguji ketahanan pangan negara secara keseluruhan.

Contoh nyata yang saya saksikan ialah banjir bandang di Yogyakarta pada akhir 2022, yang dipicu oleh curah hujan ekstrem. Banjir tersebut melumpuhkan transportasi, menghancurkan lahan pertanian, dan menyebabkan ribuan orang kehilangan mata pencaharian. Pada banyak kasus serupa, kerusakan infrastruktur dan hilangnya hasil panen memperparah beban ekonomi daerah.

5 Langkah Praktis Mengatasi Krisis Iklim dengan Contoh Nyata

  • Kurangi jejak karbon rumah tangga dengan beralih ke energi terbarukan. Saya memasang panel surya di atap rumah di Malang; tagihan listrik menurun sekitar 60 % dalam enam bulan pertama. Energi terbarukan tidak hanya memotong emisi, tetapi juga mengurangi ketergantungan pada pembangkit listrik berbahan bakar fosil.
  • Optimalkan penggunaan air melalui sistem irigasi tetes. Di kebun sayur belakang rumah, saya mengganti selang konvensional dengan pipa mikro‑irigasi. Air yang terpakai berkurang setengahnya, sekaligus menurunkan kebutuhan pompa yang biasanya mengonsumsi listrik.
  • Bangun taman vertikal atau kebun kota. Tanaman rambat yang saya tanam di dinding dapur tidak hanya menyerap CO₂, tetapi juga menyediakan sayuran segar untuk keluarga. Di daerah padat penduduk, taman vertikal menjadi solusi ruang terbatas untuk meningkatkan ketahanan pangan nasional.
  • Praktikkan daur ulang dan kompos organik. Sampah dapur yang dulu saya buang ke TPS kini diubah menjadi kompos pekarangan. Tanah kebun menjadi lebih gembur, sehingga kebutuhan pupuk kimia berkurang 40 % dan produksi tomat meningkat 30 %.
  • Dukung kebijakan hijau lewat suara dan aksi kolektif. Saya bergabung dengan grup warga di Yogyakarta yang menekan pemerintah kota untuk menambah zona hijau. Hasilnya, kota tersebut menambah 15 % tutupan pohon dalam tiga tahun, yang secara kolektif menurunkan suhu mikro‑klimat sebesar 1‑2 °C.

Setiap langkah di atas dapat disesuaikan tergantung kondisi rumah, budget, dan dukungan lingkungan sekitar. Jika Anda tinggal di apartemen tanpa akses atap, misalnya, fokus pada kompos dapur dan partisipasi komunitas tetap memberi dampak signifikan.

Kesalahan Umum yang Sering Dilakukan dalam Upaya Atasi Krisis Iklim

Salah satu kesalahan paling umum adalah mengandalkan satu tindakan besar tanpa memperhatikan kebiasaan harian. Saya pernah membeli kendaraan listrik dengan harapan besar, namun tetap membiarkan lampu rumah menyala selama berjam‑jam tanpa orang di rumah. Akibatnya, penghematan energi tidak sebanding dengan investasi awal.

Kesalahan lain adalah “green‑washing” pribadi, seperti membeli produk ramah lingkungan yang sebenarnya diproduksi dengan jejak karbon tinggi karena transportasi jauh. Dari pengalaman saya, tas belanja kanvas yang diproduksi di luar negeri ternyata menambah emisi lebih besar daripada tas plastik lokal yang dapat didaur ulang.

Terakhir, banyak orang mengabaikan pentingnya pemeliharaan sistem yang sudah dipasang, misalnya tidak membersihkan panel surya secara rutin. Pada musim hujan, debu dan lumut menutupi panel, mengurangi efisiensi hingga 15 %—sebuah kerugian yang mudah dihindari dengan perawatan sederhana.

Tips Praktis dari Praktisi Berpengalaman untuk Mempercepat Aksi Anda

  • Mulailah dengan audit energi rumah: catat berapa kWh yang dipakai tiap bulan, kemudian identifikasi perangkat mana yang paling boros. Dari audit saya, AC menjadi penyumbang terbesar, sehingga saya mengatur suhu standar 24 °C dan menambah tirai reflektif.
  • Gunakan timer atau smart plug untuk mematikan peralatan listrik otomatis saat tidak dipakai. Ini mengurangi “standby power” yang biasanya terabaikan.
  • Tanam pohon buah di area yang belum tertutup; selain menyediakan pangan, pohon membantu menyerap CO₂ dan menurunkan suhu sekitar. Saya menanam pepaya di pekarangan belakang, yang kini memberi buah sekaligus mengurangi suhu tanah sebesar 2 °C.
  • Manfaatkan program insentif pemerintah untuk pemasangan panel surya atau pompa air tenaga surya. Di Jawa Barat, ada subsidi yang menutupi 30 % biaya instalasi, mempercepat adopsi energi terbarukan.
  • Berbagi pengalaman lewat media sosial atau grup komunitas. Ketika saya memposting foto kompos rumah, tetangga terinspirasi untuk membuat komposter serupa, menciptakan jaringan aksi kecil yang berdampak besar.

Intinya, aksi cepat bukan berarti terburu‑buruk. Sesuaikan setiap langkah dengan kondisi geografis, ekonomi, dan sosial Anda, sehingga perubahan yang dihasilkan berkelanjutan.

Pertanyaan yang Sering Ditanyakan tentang Krisis Iklim

  • Apakah menanam satu pohon saja dapat mengurangi krisis iklim? Menanam pohon memang membantu menyerap CO₂, tetapi efektivitasnya tergantung pada jenis pohon, lokasi penanaman, dan perawatan. Satu pohon mangga di pekarangan Anda dapat menyerap sekitar 10 kg CO₂ per tahun, yang berarti kontribusi kecil namun signifikan bila dilakukan secara kolektif.
  • Bagaimana cara memilih energi terbarukan yang tepat untuk rumah tangga? Pertimbangkan faktor seperti intensitas sinar matahari, ketersediaan angin, dan dukungan tarif listrik net‑metering di daerah Anda. Panel surya biasanya lebih cocok untuk wilayah tropis, sementara turbin angin mikro cocok di daerah berangin konsisten.
  • Apakah kompos rumah tangga benar‑benar mengurangi emisi metana? Ya, bila sampah organik tidak terdekomposisi dalam kondisi anaerobik di TPA, ia menghasilkan metana. Dengan mengolahnya menjadi kompos aerobik, Anda memotong potensi emisi tersebut secara signifikan.
  • Seberapa cepat kebijakan hijau dapat mengubah suhu kota? Pengaruhnya bersifat bertahap; studi kota‑kota di Asia menunjukkan bahwa penambahan tutupan hijau sebesar 10 % dapat menurunkan suhu mikro‑klimat sekitar 0,5‑1 °C dalam tiga hingga lima tahun.

Jika masih ada hal yang belum jelas, jangan ragu mengajukan pertanyaan di kolom komentar atau bergabung dengan forum‑forum lokal yang membahas aksi iklim. Dari pengalaman saya, diskusi terbuka seringkali memunculkan solusi yang tidak terpikirkan sebelumnya.

Kesalahan Umum yang Harus Dihindari

Setelah mencoba beberapa langkah “hijau”, banyak orang terkejut menemukan hasilnya malah kurang memuaskan. Mengapa? Karena ada pola keliru yang berulang, terutama ketika berurusan dengan krisis iklim. Berikut tiga kesalahan nyata yang sering muncul, lengkap dengan penjelasan mengapa salah dan apa yang seharusnya Anda lakukan.

Baca Juga: Krisis iklim: Mengungkap Dampak Industri Tersembunyi & Solusi Lokal

  • Salah: Memilih produk “ramah lingkungan” hanya karena label hijau yang mencolok.

    Label hijau sering dipasang oleh produsen yang belum meneliti jejak karbon keseluruhan produk. Contohnya, botol plastik biodegradable yang ternyata memerlukan energi tinggi dalam proses produksi. Akibatnya, emisi yang Anda hindari justru terkompensasi oleh energi tambahan.

    Benar: Lakukan pengecekan LCA (Life Cycle Assessment) singkat atau cari sertifikasi yang diakui seperti ISO 14001. Jika tidak ada data, pilih alternatif yang memang terbukti lebih rendah emisinya, misalnya kaca atau logam daur ulang.

  • Salah: Menanam pohon tanpa mempertimbangkan jenis dan lokasi.

    Sering terdengar “tanam satu pohon, selamatkan bumi”. Namun, menanam pohon non‑lokal di lahan kering justru memerlukan irigasi ekstra, menambah beban air. Di Jakarta, misalnya, proyek penanaman pohon kelapa sawit di kawasan pinggiran malah menurunkan kualitas tanah.

    Benar: Pilih spesies asli yang cocok dengan iklim mikro setempat, dan konsultasikan dengan dinas kehutanan atau komunitas petani lokal. Tanam di area yang sudah memiliki infrastruktur air, atau manfaatkan sistem rain‑water harvesting untuk menyiramnya.

  • Salah: Mengandalkan satu teknologi saja, seperti panel surya, tanpa menilai kebutuhan energi rumah.

    Sering ada keluarga yang memasang panel surya 2 kW di rumah dengan konsumsi listrik 900 kWh per bulan. Hasilnya, panel hanya menutupi 10‑15 % kebutuhan, sehingga tagihan listrik tetap tinggi. Tanpa analisis beban, investasi menjadi kurang optimal.

    Benar: Lakukan audit energi sederhana – catat semua peralatan, hitung total watt‑jam per hari, lalu pilih kapasitas panel yang dapat menutupi setidaknya 50‑60 % kebutuhan. Kombinasikan dengan langkah penghematan lain, seperti LED, timer, atau peralatan berlabel Energy Star.

  • Salah: Membuang sampah organik ke komposter tanpa mengontrol kelembapan.

    Komposter yang terlalu basah menghasilkan bau menyengat dan bahkan mengeluarkan metana, bukannya mengurangi emisi. Di rumah saya, komposter dapur yang dibiarkan tertutup rapat selama seminggu menghasilkan bau yang mengganggu tetangga.

    Benar: Jaga rasio carbon‑to‑nitrogen (C/N) sekitar 30:1 dengan mencampur bahan kering (daun kering, jerami) dan basah (sisa sayur). Aduk setiap tiga hari, dan pastikan ventilasi cukup. Jika memungkinkan, gunakan komposter dengan lubang ventilasi terkontrol.

  • Salah: Menganggap kebijakan hijau di tingkat kota otomatis menguntungkan rumah tangga.

    Beberapa kota mengumumkan “zona bebas kendaraan” tanpa menyediakan alternatif transportasi publik yang memadai. Warga terpaksa tetap menggunakan mobil pribadi, menambah kemacetan dan polusi.

    Benar: Dorong partisipasi dalam forum warga atau grup media sosial lokal untuk menuntut solusi transportasi bersama, seperti skema car‑sharing atau jalur sepeda aman. Sambil menunggu kebijakan, pertimbangkan bersepeda atau berjalan kaki untuk jarak pendek.

Tips Lanjutan dari Praktisi

Jika Anda sudah melangkah melewati lima langkah dasar, kini saatnya menyelam lebih dalam. Praktisi di lapangan—seperti tim sukarelawan “Hijau Kota” di Surabaya—menemukan trik yang jarang dibahas di panduan umum.

  • Manfaatkan “micro‑grid” komunitas.

    Alih‑daya listrik ke jaringan kecil yang dikelola warga dapat memotong tarif listrik hingga 30 %. Di desa Cikole, warga memasang baterai lithium‑ion bersama panel surya kolektif, sehingga listrik tetap tersedia saat hujan panjang. Untuk memulai, bentuk koalisi tetangga, ajukan proposal ke PLN, dan pilih sistem penyimpanan yang sesuai dengan kapasitas konsumsi harian.

  • Gunakan “heat‑pump” untuk pendinginan dan pemanasan.

    Berbeda dengan AC konvensional, heat‑pump memindahkan panas daripada menghasilkan. Di rumah saya di Bandung, mengganti AC split dengan heat‑pump inverter mengurangi konsumsi listrik sebesar 40 % pada musim panas. Pastikan rumah memiliki isolasi yang cukup; tambah tirai termal atau seal jendela agar efisiensi tetap optimal.

  • Optimalkan “smart‑irrigation” pada taman rumah.

    Sensor kelembapan tanah yang terhubung ke aplikasi smartphone dapat menyalakan pompa hanya ketika tanah benar‑benar kering. Petani hobi di Yogyakarta memasang satu sensor untuk kebun sayur seluas 30 m², menghemat air hingga 25 %. Pilih sensor berbasis kapasitif yang tahan lama, dan atur ambang batas kelembapan sesuai jenis tanaman.

  • Integrasikan “carbon‑offset” pribadi.

    Jika Anda masih memiliki jejak karbon yang tidak dapat dihindari—misalnya perjalanan bisnis—beli kredit karbon dari proyek reforestasi lokal. Di Jawa Barat, program “Pohon Kita” menanam satu pohon per 1 kg CO₂ yang Anda offset, dengan laporan GPS yang dapat diverifikasi. Ini bukan “ganti rugi” melainkan pelengkap aksi nyata.

  • Berpartisipasi dalam “crowd‑sourced data” pemantauan iklim.

    Aplikasi seperti “AirVisual” atau “i-Tree” memungkinkan warga mengirimkan data suhu, kualitas udara, dan penanaman pohon. Data ini membantu pemerintah kota menyesuaikan kebijakan hijau. Di Malang, kontribusi warga meningkatkan akurasi peta suhu mikro‑klimat, yang kemudian dipakai untuk menempatkan taman kota baru.

Jadi, mengatasi krisis iklim bukan sekadar menambah satu pohon atau memasang panel surya saja. Ini tentang menghindari jebakan umum, lalu melangkah ke strategi yang teruji di lapangan. Mulailah dengan satu langkah kecil hari ini, dan lihat bagaimana perubahan itu menular ke lingkungan sekitar. Selamat mencoba, dan jangan ragu berbagi hasilnya di forum‑forum lokal—karena solusi terbaik biasanya lahir dari kolaborasi nyata.

  • Penulis: admin

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Studi Kasus: Efek Subsidi Tepat Sasaran pada Kesejahteraan Desa

    Studi Kasus: Efek Subsidi Tepat Sasaran pada Kesejahteraan Desa

    • calendar_month Kamis, 29 Okt 2026
    • account_circle admin
    • 0Komentar

    Ringkasan Singkat: Subsidi tepat sasaran berfokus menyalurkan bantuan kepada kelompok yang paling membutuhkan berdasarkan kriteria jelas seperti pendapatan rendah atau lokasi prioritas. Pemerintah biasanya memanfaatkan data kependudukan serta verifikasi lokal untuk mengurangi kebocoran dana. Pendekatan ini membuat manfaatnya lebih terasa pada penerima yang memang berhak. Subsidi tepat sasaran berarti bantuan keuangan atau barang yang diberikan […]

  • Krisis iklim: Jawaban Praktis Mengurangi Emisi di Rumah & Kantor

    Krisis iklim: Jawaban Praktis Mengurangi Emisi di Rumah & Kantor

    • calendar_month Rabu, 7 Okt 2026
    • account_circle admin
    • 0Komentar

    Ringkasan Singkat: Krisis iklim muncul akibat akumulasi gas rumah kaca—terutama dari pembakaran bahan bakar fosil, deforestasi, dan pertanian intensif—yang memerangkap panas di atmosfer. Dampaknya meliputi kenaikan suhu global, cuaca ekstrem, serta naiknya permukaan laut yang mengancam jutaan orang. Perubahan suhu rata‑rata, cuaca ekstrim yang makin sering, dan naiknya permukaan laut menandakan tekanan pada sistem planet […]

  • Transisi energi hijau: 5 strategi praktis yang kami terapkan di lapangan

    Transisi energi hijau: 5 strategi praktis yang kami terapkan di lapangan

    • calendar_month Kamis, 22 Okt 2026
    • account_circle admin
    • 0Komentar

    Ringkasan Singkat: Peralihan ke energi hijau berarti menggantikan bahan bakar fosil dengan sumber terbarukan seperti tenaga surya, angin, dan bioenergi, demi menurunkan emisi karbon dan memperkuat ketahanan energi. Upaya ini melibatkan kebijakan pemerintah, investasi infrastruktur bersih, serta perubahan pola konsumsi dan produksi di sektor industri. Secara umum, banyak negara menargetkan net‑zero emis­i sekitar 2050 sebagai […]

  • 5 Langkah Praktis Capai Kedaulatan Energi di Rumah, Kenapa & Contoh

    5 Langkah Praktis Capai Kedaulatan Energi di Rumah, Kenapa & Contoh

    • calendar_month Minggu, 20 Sep 2026
    • account_circle admin
    • 0Komentar

    Ringkasan Singkat: Secara umum, istilah ini menekankan kemampuan suatu negara untuk memenuhi kebutuhan energi secara mandiri tanpa bergantung pada impor. Dengan mengembangkan sumber daya dalam negeri—seperti tenaga surya, angin, atau batu bara—serta memperkuat infrastruktur dan regulasi, negara dapat mengendalikan harga, keamanan pasokan, dan dampak lingkungan. Pendekatan ini juga mendukung pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan. Kedaulatan energi […]

  • PNM Ajak Nasabah Mekaar Kembangkan Pertanian Urban

    PNM Ajak Nasabah Mekaar Kembangkan Pertanian Urban

    • calendar_month Minggu, 20 Sep 2026
    • account_circle Redaksi
    • 0Komentar

    DEPOK — Keterbatasan lahan menjadi persoalan yang semakin terasa bagi masyarakat yang tinggal di kawasan perkotaan padat. Rumah berdiri berdekatan, halaman semakin sempit, sementara ruang terbuka yang bisa dimanfaatkan untuk bercocok tanam nyaris tidak tersedia. Namun, kondisi tersebut tidak selalu menjadi penghalang untuk memenuhi kebutuhan pangan keluarga. Di sejumlah kawasan padat, ruang terbatas justru mulai […]

  • IHSG Melorot, Rupiah Menguat Rp17.887 per Dolar AS

    IHSG Melorot, Rupiah Menguat Rp17.887 per Dolar AS

    • calendar_month Rabu, 7 Okt 2026
    • account_circle Redaksi
    • 0Komentar

    JAKARTA – Pasar keuangan Indonesia bergerak berlawanan arah pada perdagangan Rabu (7/10/2026). Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) melemah, sementara nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat justru menguat. IHSG ditutup di level 6.146,72, turun 0,75 persen dibandingkan penutupan perdagangan sebelumnya. Tekanan terjadi di tengah mayoritas saham yang bergerak melemah. Sebanyak 378 saham turun, 258 saham […]

expand_less