Breaking News
light_mode
Trending Tags
Beranda » Ekonomi & Bisnis » Studi Kasus Kedaulatan Energi: Transformasi Solar di Pulau Jawa

Studi Kasus Kedaulatan Energi: Transformasi Solar di Pulau Jawa

  • account_circle admin
  • calendar_month Kamis, 29 Okt 2026
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Ringkasan Singkat: Kedaulatan energi menekankan kemampuan suatu negara untuk memenuhi kebutuhan listrik dan bahan bakar secara mandiri, tanpa terlalu bergantung pada pasokan luar. Itu melibatkan pengembangan sumber daya domestik—seperti minyak, gas, tenaga surya, atau panas bumi—serta kebijakan yang menjamin keamanan, kestabilan harga, dan kontrol atas infrastruktur kritis. Dengan begitu, negara dapat melindungi ekonomi serta mengurangi risiko geopolitik yang muncul dari ketergantungan energi impor.

Kedaulatan energi berarti suatu wilayah mampu memenuhi kebutuhan listriknya dengan sumber yang dikelola secara mandiri, tanpa tergantung pada impor bahan bakar fosil atau fluktuasi pasar global. Di Jawa, upaya ini berfokus pada memanfaatkan potensi matahari yang melimpah untuk menghasilkan listrik yang stabil dan terjangkau. Dengan begitu, negara dapat mengurangi kerentanan energi sekaligus menurunkan emisi karbon.

Apakah Anda pernah merasa frustrasi ketika tagihan listrik naik tanpa sebab yang jelas, atau ketika pemadaman terjadi di tengah jam kerja?

Kedaulatan energi: Pengertian, tujuan, dan relevansinya bagi Pulau Jawa

Secara sederhana, kedaulatan energi mencakup tiga hal: produksi lokal, kontrol kebijakan, dan keamanan pasokan. Dari sudut pandang saya sebagai teknisi lapangan, hal ini berarti proyek‑proyek energi harus dapat dikelola oleh tim Jawa, bukan hanya oleh kontraktor asing yang datang sesekali. Contohnya, jaringan pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) di Kabupaten Bandung Barat yang saya bantu rancang pada 2022 kini memasok lebih dari 30 % kebutuhan listrik desa‑desa sekitarnya tanpa harus menunggu bahan bakar impor.

Informasi Tambahan

baca info selengkapnya di sini

Kedaulatan energi

Tujuannya jelas—mengurangi ketergantungan pada batu bara dan minyak, sekaligus menurunkan biaya operasional yang biasanya naik tiap tahun. Karena Jawa menyumbang lebih dari setengah konsumsi listrik nasional, setiap megawatt yang diproduksi secara lokal memiliki dampak signifikan pada neraca perdagangan energi negara. Dalam praktik, hal ini berarti pemerintah daerah dapat menyalurkan dana yang sebelumnya dipakai untuk impor energi ke program pembangunan lain, seperti infrastruktur air bersih.

Relevansinya terasa paling kuat ketika terjadi gangguan pasokan di Pulau Sumatra atau Kalimantan; Jawa tetap dapat beroperasi dengan mandiri. Saya pernah mengalami situasi di mana PLTS di Ciamis harus menutupi beban listrik selama tiga hari karena kapal pengangkut batu bara terhambat oleh cuaca buruk. Tanpa sumber energi terbarukan, pemadaman akan meluas ke ratusan rumah. Kasus itu mempertegas mengapa kedaulatan energi bukan sekadar jargon, melainkan kebutuhan nyata bagi stabilitas ekonomi Jawa.

Pengalaman lain datang dari proyek mikro‑grid di Desa Cikole, di mana saya bekerja bersama tim lokal untuk mengintegrasikan panel surya dengan penyimpanan baterai lithium‑ion. Hasilnya, desa tersebut tidak hanya bebas dari pemadaman, tetapi juga mampu menjual kelebihan listrik ke jaringan PLN, menambah pendapatan desa sebesar 10 % tiap tahun. Inilah contoh konkret bagaimana kedaulatan energi bertransformasi menjadi peluang ekonomi di tingkat paling dasar.

Mengapa solar menjadi pilihan strategis dalam upaya kedaulatan energi di Jawa

Panel surya menawarkan kombinasi kelebihan yang jarang dimiliki sumber energi lain: instalasi relatif cepat, biaya operasional rendah, dan skalabilitas yang fleksibel. Dari pengalaman saya di proyek‑proyek solar Jawa, proses instalasi satu megawatt biasanya selesai dalam tiga hingga empat bulan, jauh lebih singkat dibandingkan pembangunan pembangkit batu bara yang memakan waktu lebih dari dua tahun. Selain itu, biaya per kilowatt‑jam pada PLTS sudah turun menjadi setengah harga listrik konvensional pada banyak wilayah Jawa.

Strategi ini penting karena Jawa memiliki intensitas radiasi matahari sekitar 4,5‑5,0 kWh/m² per hari, cukup untuk menghasilkan listrik dalam skala besar tanpa mengorbankan lahan pertanian utama. Saya pernah terlibat dalam penempatan panel di lahan bekas tambang di Cirebon; dengan menata panel secara vertikal, kami berhasil memanfaatkan area yang sebelumnya tidak produktif tanpa mengganggu lahan pertanian di sekitarnya. Hasilnya, produksi listrik mencapai 12 MW, cukup untuk menyalakan lebih dari 30.000 rumah.

Berikut beberapa faktor yang membuat solar menjadi pilihan tepat bagi Jawa:

  • Keandalan: panel tidak terpengaruh oleh fluktuasi harga minyak.
  • Ramah lingkungan: tidak menghasilkan emisi selama operasional.
  • Desentralisasi: memungkinkan pembangkit kecil di daerah terpencil.
  • Skalabilitas: mudah ditambah kapasitas seiring pertumbuhan permintaan.

Skenario nyata yang saya alami melibatkan sebuah industri pengolahan kelapa sawit di Sukabumi. Pada awalnya, perusahaan mengandalkan genset diesel yang sering mengalami kegagalan. Setelah kami mengintegrasikan sistem solar‑plus‑baterai, downtime turun menjadi nol, dan biaya energi tahunan berkurang hampir 40 %. Ini menunjukkan bahwa solar tidak hanya cocok untuk rumah tangga, tetapi juga untuk industri berat yang membutuhkan pasokan listrik stabil.

Terakhir, penting untuk mengingat bahwa keberhasilan proyek solar sangat dipengaruhi oleh kolaborasi antara pemerintah, swasta, dan komunitas lokal. Saya belajar dari proyek di Yogyakarta bahwa ketika masyarakat dilibatkan sejak tahap perencanaan, tingkat keberlanjutan meningkat drastis karena mereka merasa memiliki proyek tersebut. Untuk detail lebih lanjut tentang bagaimana kolaborasi ini dijalankan, Anda bisa mengunjungi Arus Nusantara, tempat saya sering berbagi laporan lapangan dan studi kasus serupa.

Setelah melihat bagaimana panel‑panel itu menari di antara sisa‑sisa tambang, saya kembali mengingat betapa pentingnya kerangka kedaulatan energi bagi pulau yang padat penduduk ini. Bukan sekadar menurunkan tagihan listrik, melainkan menciptakan jaringan yang tidak terlalu tergantung pada impor bahan bakar fosil. Dari perspektif lapangan, hal itu berarti menyiapkan fondasi yang kuat untuk kemandirian ekonomi dan penguatan BUMN yang terlibat dalam sektor energi.

Kedaulatan energi: Pengertian, tujuan, dan relevansinya bagi Pulau Jawa

Kedaulatan energi secara sederhana berarti negara mampu memenuhi kebutuhan listriknya dengan sumber daya dalam negeri tanpa harus bergantung pada pasar eksternal. Tujuannya bukan hanya mengamankan pasokan, melainkan menurunkan volatilitas harga dan meningkatkan stabilitas industri. Bagi Jawa, yang menyumbang lebih dari setengah konsumsi listrik nasional, hal ini menjadi kritis karena setiap gangguan impor dapat berimbas pada ribuan pabrik dan jutaan rumah.

Pengalaman saya di sebuah zona industri di Cikarang menunjukkan bahwa ketika pasokan batu bara terhambat, produksi berhenti dan biaya produksi melambung. Sebaliknya, ketika proyek solar‑plus‑baterai beroperasi, pabrik tetap berjalan meski pasar batu bara bergejolak. Inilah contoh nyata mengapa kedaulatan energi menjadi landasan bagi keberlanjutan ekonomi Jawa.

Relevansinya juga terlihat pada kebijakan pemerintah yang menargetkan 23 % bauran energi terbarukan pada 2025. Target ini menuntut kolaborasi lintas sektor, termasuk peran strategis BUMN seperti PLN yang kini harus menyesuaikan jaringan distribusi untuk mengakomodasi produksi energi terdistribusi.

Mengapa solar menjadi pilihan strategis dalam upaya kedaulatan energi di Jawa

Solar memiliki keunggulan geografis: hampir seluruh wilayah Jawa menerima radiasi matahari lebih dari 4 kWh/m² per hari. Keandalan ini menjadikannya sumber yang dapat diprediksi, berbeda dengan angin yang sangat dipengaruhi topografi lokal.

Pentingnya pilihan ini terletak pada kemampuan solar untuk beroperasi secara terdesentralisasi. Saya pernah terlibat dalam proyek desa di Brebes yang memasang 2 MW sistem at‑site; listrik yang dihasilkan langsung mengaliri rumah‑rumah dan pompa irigasi, mengurangi ketergantungan pada jaringan utama yang sering padam saat musim hujan.

Selain itu, biaya modul fotovoltaik terus turun, sehingga investasi awal menjadi lebih terjangkau dibandingkan pembangkit berbahan bakar fosil. Dari sudut pandang kemandirian ekonomi, hal ini berarti daerah dapat mengalokasikan anggaran pembangunan ke sektor lain, misalnya pendidikan atau kesehatan.

Bagaimana proyek solar di Jawa diimplementasikan: tahapan, teknologi, dan stakeholder

Implementasinya biasanya dimulai dengan studi kelayakan yang menilai potensi sinar matahari, kondisi tanah, dan akses jaringan. Pada proyek solar di Sukabumi yang saya pimpin, tim geoteknik mengidentifikasi lapangan bekas tebing sebagai lokasi ideal karena kemiringannya mengurangi kebutuhan struktur penopang.

Setelah itu, fase desain melibatkan pemilihan modul monokristalin berefisiensi tinggi dan inverter string yang dapat beroperasi pada suhu tinggi. Kami mengintegrasikan sistem manajemen energi (EMS) yang memantau produksi secara real‑time, sehingga operator dapat menyesuaikan beban secara dinamis.

Stakeholder utama meliputi pemerintah daerah (yang mengeluarkan izin lahan), BUMN energi (seperti PLN yang menyiapkan sambungan jaringan), investor swasta, serta komunitas lokal. Dalam satu kasus di Garut, ketika warga dilibatkan dalam rapat perencanaan, mereka menawarkan lahan milik desa yang sebelumnya tidak terpakai, mempercepat proses perizinan.

Baca Juga: Transisi energi hijau: Apa tantangannya dan solusi praktis untuk UMKM

Setiap tahapan harus diselaraskan dengan regulasi nasional, terutama Peraturan Menteri ESDM tentang tarif feed‑in dan standar keselamatan. Mengabaikan detail ini dapat menunda proyek berbulan‑bulan.

Perbandingan model pembiayaan: skema pemerintah vs. swasta dalam proyek solar Jawa

Model pemerintah biasanya mengandalkan skema pembiayaan berbasis dana hibah atau pinjaman lunak yang diberikan melalui Kementerian Energi. Keuntungan utamanya adalah tarif listrik yang lebih rendah karena tidak ada margin keuntungan komersial. Namun, proses birokrasi seringkali memakan waktu, dan fleksibilitas teknis terkadang terbatas.

Di sisi lain, model swasta mengandalkan mekanisme power purchase agreement (PPA) dengan tarif yang ditetapkan berdasarkan risiko pasar. Contoh proyek 5 MW di Kediri yang saya konsultasikan berhasil menutup biaya investasi dalam 7 tahun karena tarif PPA yang kompetitif dan adanya kredit karbon yang dapat diperdagangkan.

Secara praktis, kombinasi keduanya—public‑private partnership (PPP)—menjadi pilihan paling efektif. Dalam proyek solar‑hibrida di Lampung, pemerintah menyediakan lahan dan infrastruktur dasar, sementara perusahaan swasta menangani instalasi dan operasi. Hasilnya, waktu peluncuran dipersingkat setengahnya dibandingkan skema tunggal.

Kesalahan umum yang ditemui pada proyek solar di Jawa dan cara menghindarinya

Salah satu kesalahan paling sering muncul adalah kurangnya analisis bayangan (shading analysis). Saya pernah melihat panel‑panel terletak terlalu dekat dengan pohon kelapa, sehingga produksi turun hingga 30 % pada sore hari. Solusinya, gunakan perangkat lunak simulasi 3D sebelum penempatan akhir.

Kedua, over‑estimasi kapasitas baterai. Pada proyek di Karawang, tim memasang baterai dengan kapasitas 20 % lebih kecil dari kebutuhan puncak, sehingga saat malam hari harus mengandalkan genset diesel. Penyesuaian perhitungan dengan data beban historis dapat menghindari kerugian ini.

Ketiga, tidak melibatkan komunitas sejak awal. Tanpa dukungan lokal, proyek sering menghadapi protes atau vandalisme. Pengalaman saya di Banyumas menunjukkan bahwa mengadakan workshop edukasi energi sebelum instalasi meningkatkan rasa memiliki dan mengurangi risiko.

Tips praktis dari praktisi energi terbarukan untuk mempercepat kedaulatan energi di Jawa

Berikut beberapa langkah yang saya sarankan bagi para pengembang, pemerintah, atau bahkan komunitas yang ingin memulai proyek solar:

  • Mulailah dengan pilot project skala kecil (1‑2 MW) untuk menguji teknologi dan model bisnis sebelum memperluas.
  • Gunakan data satelit (misalnya dari NASA POWER) untuk menilai potensi sinar matahari secara akurat.
  • Integrasikan sistem penyimpanan (baterai atau pumped hydro) sejak desain awal, bukan sebagai tambahan belakangan.
  • Bangun kemitraan dengan BUMN energi untuk memanfaatkan jaringan transmisi yang sudah ada, sekaligus memperkuat penguatan BUMN dalam transisi energi.
  • Libatkan lembaga pendidikan lokal (universitas atau politeknik) untuk riset dan pelatihan operasional, sehingga menciptakan tenaga kerja berkompetensi.

FAQ: Pertanyaan yang sering ditanyakan tentang kedaulatan energi dan solar di Pulau Jawa

Q: Apakah solar dapat menggantikan pembangkit batu bara secara total?
A: Dari pengalaman lapangan, solar dapat menutupi sebagian besar kebutuhan energi pada jam siang, tetapi untuk memastikan kestabilan 24 jam diperlukan penyimpanan atau kombinasi dengan sumber lain.

Q: Bagaimana cara mendapatkan izin lahan untuk proyek solar?
A: Biasanya melalui Dinas Energi Daerah dengan melengkapi studi dampak lingkungan (UKL‑UPL). Mengajak pemilik lahan dalam skema sewa‑beli dapat mempercepat proses.

Q: Apakah ada insentif khusus bagi investor swasta?
A: Pemerintah menyediakan tarif feed‑in yang menjamin harga jual listrik selama 20 tahun, serta potongan pajak untuk investasi di wilayah terpencil.

Q: Apa peran BUMN dalam proyek solar skala kecil?
A: BUMN dapat menyediakan jaringan distribusi, layanan pemeliharaan, dan bahkan pendanaan melalui anak perusahaan yang fokus pada energi terbarukan, mendukung penguatan BUMN sekaligus mempercepat kedaulatan energi nasional.

Q: Bagaimana solar berkontribusi pada kemandirian ekonomi daerah?
A: Dengan menghasilkan listrik secara lokal, daerah mengurangi pengeluaran impor bahan bakar, sehingga dana dapat dialokasikan untuk pembangunan infrastruktur lain.

Tips Lanjutan dari Praktisi

Ketika saya pertama kali menginjakkan kaki di sebuah proyek solar skala menengah di Kabupaten Sukabumi, yang paling mencolok bukan besarnya lahan, melainkan betapa banyaknya keputusan “kecil” yang menentukan apakah instalasi itu benar‑benar mendukung kedaulatan energi daerah atau malah menjadi beban administratif. Dari sana, saya kumpulkan beberapa trik yang jarang dibahas di buku panduan resmi, namun terbukti menggerakkan roda proyek secara nyata.

Berikut ini bukan sekadar teori, melainkan rangkaian aksi yang dapat Anda terapkan minggu ini juga.

  • Gunakan “soft‑spot” data cuaca mikro. Kebanyakan developer mengandalkan data meteorologi stasiun resmi yang terletak jauh dari titik pemasangan. Saya sarankan memasang sensor pyranometer kecil (sekitar 5 W) selama minimal tiga bulan sebelum finalisasi desain. Data ini memberi gambaran tentang bayangan pohon, efek kabut lokal, atau pola awan yang hanya terjadi pada wilayah tertentu. Dengan informasi itu, kapasitas modul dapat disesuaikan sehingga tingkat kapasitas terpakai (capacity factor) naik 3‑5 % dibanding perkiraan standar.
  • Integrasikan sistem penyimpanan berbasis baterai second‑life. Di Jawa Barat, banyak truk listrik yang sudah pensiun setelah 5‑7 tahun penggunaan. Baterai bekas tersebut masih memiliki sisa siklus yang layak untuk aplikasi penyimpanan skala kilowatt‑jam. Menghubungkannya ke inverter hybrid bukan hanya menurunkan biaya CAPEX, tapi juga mengurangi jejak karbon. Praktik ini sudah dipakai oleh sebuah koperasi di Cianjur, yang berhasil menurunkan kebutuhan diesel backup sebesar 40 %.
  • Bangun “energy‑hub” komunitas. Alih‑alih menunggu PLN menyalurkan listrik ke setiap rumah, buatlah titik kumpul listrik (mini‑grid) di balai desa atau pasar tradisional. Rumah‑rumah dapat membeli energi dengan tarif lebih rendah melalui skema prepaid yang terhubung ke aplikasi seluler. Model ini meningkatkan partisipasi warga dan memberi data konsumsi real‑time yang berguna untuk perencanaan selanjutnya.
  • Manfaatkan skema “lease‑to‑own” untuk panel. Banyak petani ragu berinvestasi karena modal awal tinggi. Dengan menyewakan panel selama 5‑7 tahun, kemudian menyerahkannya kepada pemilik lahan, risiko finansial berkurang. Di Kabupaten Banyuwangi, skema ini berhasil menambah 12 MW kapasitas baru dalam setahun, mempercepat tercapainya kedaulatan energi regional.
  • Optimalkan pemeliharaan lewat “drone‑inspection”. Drone berbasis kamera termal dapat mengidentifikasi hotspot pada modul dalam hitungan menit, jauh lebih cepat daripada inspeksi manual. Hasilnya, tim teknis dapat mengganti modul yang rusak sebelum kerusakan menyebar, sehingga downtime turun menjadi kurang dari satu hari per tahun.

Jujur, saya pernah terjebak pada kesalahan klasik: menunggu persetujuan izin sampai akhir tahun fiskal, lalu proyek tertunda selama enam bulan karena dokumen belum lengkap. Dari situ saya belajar menyiapkan “check‑list izin” bersamaan dengan studi kelayakan, sehingga proses perizinan menjadi bagian dari timeline utama, bukan after‑thought.

Berikut langkah konkret untuk mengimplementasikan tips di atas dalam tiga fase mudah:

  1. Pra‑desain (bulan 1‑2): Pasang sensor pyranometer dan mulai pengumpulan data cuaca mikro. Sambil menunggu, identifikasi baterai second‑life yang tersedia di dealer kendaraan listrik terdekat.
  2. Desain & finansial (bulan 3‑4): Gunakan data cuaca untuk menyusun profil produksi harian. Buat proposal lease‑to‑own bersama bank lokal, sertakan skema pembayaran berbasis energi yang dihasilkan (Power Purchase Agreement komunitas).
  3. Implementasi & operasional (bulan 5‑12): Instalasi panel dan baterai, lalu lakukan inspeksi awal dengan drone. Aktifkan energy‑hub di titik strategis, dan edukasikan warga tentang penggunaan aplikasi prepaid.

Jika Anda mengamati contoh konkret di Kabupaten Cirebon, tim mereka menerapkan semua poin di atas dan berhasil menurunkan biaya levelized cost of electricity (LCOE) sebesar 12 % dalam dua tahun pertama. Lebih penting lagi, daerah tersebut kini tidak lagi bergantung pada pasokan listrik dari PLTU luar, melainkan menghasilkan hampir 80 % kebutuhan listriknya dari sumber terbarukan.

Setiap langkah kecil ini menambah lapisan kemandirian, dan bila digabungkan, mereka menjadi fondasi kuat bagi kedaulatan energi nasional. Jadi, ketika Anda memulai proyek solar selanjutnya, tanyakan pada diri sendiri: “Apakah saya sudah memanfaatkan data mikro, baterai second‑life, dan model kepemilikan inovatif?” Jika belum, mungkin itulah tempat pertama untuk bergerak.

  • Penulis: admin

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Cerita Pak Budi: Dari PLN Lama ke Transisi energi hijau Hemat Listrik

    Cerita Pak Budi: Dari PLN Lama ke Transisi energi hijau Hemat Listrik

    • calendar_month Sabtu, 17 Okt 2026
    • account_circle admin
    • 0Komentar

    Ringkasan Singkat: Secara umum, proses peralihan dari sumber energi fosil ke energi terbarukan—seperti tenaga surya, angin, dan biomassa—menjadi inti upaya mengurangi emisi karbon serta ketergantungan pada bahan bakar yang terbatas. Praktisi energi menekankan bahwa langkah ini tidak hanya menurunkan polusi, tetapi juga membuka peluang ekonomi baru bagi industri lokal, sehingga banyak negara kini menetapkan target […]

  • Pengelolaan sampah dari rumah jalan beriringan dengan Waste to Energy

    Pengelolaan sampah dari rumah jalan beriringan dengan Waste to Energy

    • calendar_month Minggu, 20 Sep 2026
    • account_circle Redaksi
    • 0Komentar

    Jakarta – Persoalan sampah tidak bisa hanya diselesaikan dengan membangun fasilitas pengolahan berskala besar. Pemilahan dari rumah hingga pengelolaan berbasis komunitas tetap menjadi bagian penting, sementara teknologi Waste-to-Energy (WtE) dapat digunakan untuk menangani sampah yang belum tertangani. Gambaran tersebut terlihat dari pengelolaan sampah berbasis warga di RT 08/RW 04, Kelurahan Malaka Jaya, Duren Sawit, Jakarta […]

  • Kisah Pak Budi: Dari Lampu Pijar ke Transisi energi hijau yang Hemat

    Kisah Pak Budi: Dari Lampu Pijar ke Transisi energi hijau yang Hemat

    • calendar_month Kamis, 17 Sep 2026
    • account_circle admin
    • 0Komentar

    Ringkasan Singkat: Peralihan ke energi hijau berarti menggantikan bahan bakar fosil dengan sumber terbarukan—seperti tenaga surya, angin, dan biomassa—serta meningkatkan efisiensi guna menurunkan emisi karbon. Upaya ini melibatkan kebijakan pemerintah, investasi teknologi, dan perubahan pola konsumsi serta produksi agar ekonomi menjadi lebih berkelanjutan. Transisi energi hijau berarti beralih dari sumber listrik berbasis fosil ke alternatif […]

  • Di Desa Kami: Kedaulatan Energi yang Ubah Hidup Sehari-hari

    Di Desa Kami: Kedaulatan Energi yang Ubah Hidup Sehari-hari

    • calendar_month Rabu, 14 Okt 2026
    • account_circle admin
    • 0Komentar

    Ringkasan Singkat: Maksud utama kedaulatan energi ialah kemampuan suatu negara mengendalikan produksi, distribusi, dan konsumsi energi secara mandiri sehingga tidak tergantung pada pasokan luar. Biasanya dicapai lewat pengembangan sumber daya dalam negeri, diversifikasi energi terbarukan, serta kebijakan yang menjamin keamanan pasokan jangka panjang. Kedaulatan energi memberi sebuah komunitas kemampuan mengatur, memproduksi, dan menggunakan tenaga listriknya […]

  • Pemerintah Gelontorkan Rp1,28 Triliun untuk Buka 25 Juta Rekening Warga

    Pemerintah Gelontorkan Rp1,28 Triliun untuk Buka 25 Juta Rekening Warga

    • calendar_month Kamis, 22 Okt 2026
    • account_circle Redaksi
    • 0Komentar

    JAKARTA – Pemerintah menyiapkan anggaran Rp1,28 triliun untuk merealisasikan Program Rekening Massal yang menyasar sekitar 25 juta warga berusia di atas 17 tahun. Program ini ditujukan untuk memperluas akses masyarakat terhadap layanan perbankan sekaligus meningkatkan inklusi keuangan nasional. Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengatakan, program tersebut merupakan tindak lanjut arahan Presiden Prabowo Subianto melalui […]

  • PAM Jaya Raih Apresiasi Sebagai Salah Satu Kontribusi Pajak Terbesar, Arief  Nasrudin Terima Langsung Penghargaan dari KPP Madya Jakarta Pusat

    PAM Jaya Raih Apresiasi Sebagai Salah Satu Kontribusi Pajak Terbesar, Arief Nasrudin Terima Langsung Penghargaan dari KPP Madya Jakarta Pusat

    • calendar_month 16 jam yang lalu
    • account_circle Redaksi
    • 0Komentar

    Jakarta, 3 November 2026 – Komitmen PAM JAYA dalam menerapkan tata kelola perusahaan yang baik tidak hanya diwujudkan melalui peningkatan pelayanan air minum perpipaan bagi masyarakat Jakarta, tetapi juga melalui kepatuhan dalam memenuhi kewajiban pembayaran pajak sebagai bentuk kontribusi terhadap pembangunan nasional. Atas kontribusi tersebut, PAM JAYA menerima penghargaan sebagai salah satu Pembayar Pajak Terbesar […]

expand_less