Pengelolaan sampah dari rumah jalan beriringan dengan Waste to Energy
- account_circle Redaksi
- calendar_month Minggu, 20 Sep 2026
- print Cetak

Dok. Istimewa
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Jakarta – Persoalan sampah tidak bisa hanya diselesaikan dengan membangun fasilitas pengolahan berskala besar. Pemilahan dari rumah hingga pengelolaan berbasis komunitas tetap menjadi bagian penting, sementara teknologi Waste-to-Energy (WtE) dapat digunakan untuk menangani sampah yang belum tertangani.
Gambaran tersebut terlihat dari pengelolaan sampah berbasis warga di RT 08/RW 04, Kelurahan Malaka Jaya, Duren Sawit, Jakarta Timur. Di lingkungan tersebut, 41 rumah tangga telah menjalankan berbagai upaya pengolahan sampah melalui biopori, komposter, budi daya maggot, hingga bank sampah.
Ketua RT 08/RW 04 Taufiq Supriadi Yusuf mengatakan pemilahan sejak dari rumah harus menjadi fondasi utama dalam pengelolaan sampah. Menurut dia, masyarakat perlu memahami bahwa tidak seluruh sampah harus berakhir di tempat pembuangan akhir.
“Warga harus memilah sampah dari awal. Sampah organik itu sebetulnya seperti tambang emas yang bisa dimanfaatkan, lalu yang non-organik bisa untuk Waste to Energy,” ujar Taufiq dalam keterangan resmi di Jakarta, Sabtu (19/9/2026).
Menurut Taufiq, sampah organik dapat dimanfaatkan melalui berbagai metode sederhana di tingkat komunitas. Sementara sampah yang tidak dapat dikelola secara mandiri membutuhkan sistem pengolahan lanjutan dengan kapasitas yang lebih besar.
Namun, pengelolaan sampah berbasis warga juga memiliki keterbatasan. Ketersediaan lahan menjadi salah satu persoalan utama ketika volume sampah semakin besar.
Karena itu, Taufiq menilai keberadaan fasilitas Waste-to-Energy tetap diperlukan sebagai bagian dari sistem pengelolaan sampah yang lebih luas.
“Waste to Energy tetap harus dilakukan, karena mereka punya lahan yang beda dengan kami yang tidak punya lahan. Kalau ada lahan, kami pun senang ada Waste to Energy,” katanya.
Menurut dia, solusi persoalan sampah tidak bisa dibebankan hanya kepada pemerintah ataupun masyarakat. Sistemnya harus dibangun secara berlapis, mulai dari pemilahan di tingkat rumah tangga, pengolahan oleh komunitas, hingga pemanfaatan teknologi untuk sampah yang belum tertangani.
Harapannya, kombinasi tersebut dapat mengurangi tekanan terhadap tempat pemrosesan akhir yang selama ini menjadi salah satu titik akhir dari aliran sampah perkotaan.
Meski demikian, kehadiran teknologi pengolahan sampah tidak boleh membuat masyarakat berhenti memilah sampah sejak dari sumbernya. Justru pemilahan di rumah akan menentukan kualitas dan efektivitas pengolahan pada tahap berikutnya.
“Harapan ke depan ya keluarga harus bergerak bersama supaya negara tidak lagi sendirian,” kata Taufiq.
Kebutuhan terhadap sistem pengelolaan sampah berskala besar kini mulai dijawab melalui pembangunan fasilitas Pengolahan Sampah menjadi Energi Listrik (PSEL) Bogor Raya 1 di Desa Galuga, Cibungbulang, Kabupaten Bogor, Jawa Barat.
Danantara Indonesia melalui PT Danantara Investment Management (DIM) bersama PT Daya Energi Bersih Nusantara (Denera) meresmikan pembangunan fasilitas tersebut pada Kamis (17/9/2026).
PSEL Bogor Raya 1 dibangun dengan nilai investasi sekitar Rp2,8 triliun. Fasilitas ini ditargetkan mampu mengelola lebih dari 500 ribu ton sampah per tahun dari kawasan aglomerasi Kabupaten Bogor dan Kota Bogor.
Dengan kapasitas tersebut, fasilitas PSEL Bogor Raya 1 ditargetkan dapat menangani sekitar 45 persen timbulan sampah dari Kota dan Kabupaten Bogor. Proyek ini juga diproyeksikan menurunkan emisi dari tempat pemrosesan akhir hingga 80 persen serta mengurangi emisi karbon sekitar 640 ribu ton setara CO2 per tahun.
PSEL Bogor Raya 1 menjadi fasilitas ketiga yang memasuki tahap pembangunan setelah PSEL Denpasar Raya dan PSEL Kota Bekasi.
Chief Investment Officer (CIO) Danantara Pandu Sjahrir mengatakan pembangunan fasilitas tersebut merupakan bagian dari upaya mempercepat pengembangan solusi pengelolaan sampah perkotaan yang berkelanjutan dan berbasis teknologi ramah lingkungan.
“PSEL Bogor Raya I dirancang untuk memberikan dampak nyata terhadap pengelolaan sampah, pengembangan energi hijau, dan pemberdayaan ekonomi lokal,” kata Pandu.
Menurut Pandu, persoalan sampah tidak hanya berkaitan dengan kondisi lingkungan saat ini, tetapi juga menyangkut keberlanjutan kehidupan masyarakat pada masa mendatang.
Karena itu, pengelolaan sampah membutuhkan pendekatan yang tidak berhenti pada pemindahan sampah dari rumah menuju tempat pembuangan. Sampah perlu dipilah, dikurangi, dimanfaatkan kembali, diolah, dan untuk sampah yang tersisa dapat ditangani melalui teknologi yang sesuai.
Kehadiran PSEL juga membuka peluang untuk mengubah sebagian persoalan sampah menjadi sumber energi. Namun, teknologi tersebut tetap perlu ditempatkan sebagai bagian dari sistem yang lebih besar, bukan sebagai pengganti kebiasaan memilah sampah dari sumbernya.
Pada akhirnya, pengelolaan sampah membutuhkan kerja bersama. Pemerintah membangun sistem dan infrastruktur, teknologi mengolah sampah yang tidak tertangani, sementara masyarakat memulai perubahan dari tempat paling sederhana: rumah masing-masing.
Jika ketiganya berjalan beriringan, persoalan sampah tidak hanya dapat ditekan dari sisi volume dan dampak lingkungan, tetapi juga berpotensi menghasilkan manfaat ekonomi serta energi bagi masyarakat.
- Penulis: Redaksi

Saat ini belum ada komentar