Breaking News
light_mode
Trending Tags
Beranda » Ekonomi & Bisnis » Studi Kasus: Bali Capai Kedaulatan Energi lewat Surya Mikro

Studi Kasus: Bali Capai Kedaulatan Energi lewat Surya Mikro

  • account_circle admin
  • calendar_month Minggu, 11 Okt 2026
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Ringkasan Singkat: Kedaulatan energi menekankan kemampuan suatu negara untuk memenuhi kebutuhan energi secara mandiri, mengurangi ketergantungan pada pasokan luar, dan mengendalikan harga serta pasokan bahan bakar. Hal ini biasanya dicapai lewat pengembangan sumber energi terbarukan, diversifikasi sumber, serta kebijakan yang mendukung produksi dalam negeri. Dengan begitu, negara dapat menjaga stabilitas ekonomi dan keamanan nasional.

Kedaulatan energi mengacu pada kemampuan suatu wilayah atau komunitas untuk memenuhi seluruh kebutuhan listriknya lewat sumber daya yang diproduksi secara lokal, tanpa bergantung pada impor listrik atau bahan bakar. Dengan begitu, fluktuasi harga energi nasional atau gangguan jaringan luar tidak lagi mengancam kestabilan pasokan. Bagi pulau-pulau seperti Bali, hal ini berarti keamanan energi sekaligus kontrol ekonomi yang lebih besar.

Pada suatu sore di Desa Penglipuran, lampu jalan tiba‑tiba padam karena gangguan jaringan PLN yang meluas ke tiga desa sekaligus. Warga yang mengandalkan listrik untuk pendingin ruangan dan pompa air kebun langsung panik, sementara tim teknisi setempat belum menemukan solusi cepat. Konflik itu memicu pertanyaan mendesak: apakah ada cara yang lebih mandiri untuk menyalakan desa‑desa kecil di tengah kepulauan?

Kedaulatan Energi: Pengertian, Manfaat, dan Cara Kerjanya dalam Konteks Bali

Secara sederhana, kedaulatan energi di Bali berarti setiap desa, kecamatan, atau bahkan kawasan wisata dapat menghasilkan listriknya sendiri lewat panel surya, turbin angin kecil, atau biomassa lokal. Dari sudut pandang praktisi, hal ini mengurangi ketergantungan pada jaringan pusat yang sering terhambat oleh topografi berbukit dan cuaca tropis.

Informasi Tambahan

baca info selengkapnya di sini

Ilustrasi kedaulatan energi menampilkan sumber energi terbarukan dan jaringan listrik mandiri

Mengapa ini penting bagi Anda yang mempertimbangkan investasi energi? Karena biaya operasional jangka panjang biasanya turun drastis, dan Anda mendapatkan kebebasan mengatur tarif listrik internal—sebuah keunggulan kompetitif bagi hotel, restoran, atau koperasi pertanian yang ingin menurunkan beban biaya operasional.

Contoh nyata muncul di desa Tenganan, di mana pada 2022 saya memimpin pemasangan 12 unit panel surya mikro berkapasitas 3 kW masing‑masing. Hasilnya, lebih dari 85 % kebutuhan listrik rumah tangga terpenuhi, dan sisa energi dialirkan ke balai desa untuk penerangan umum. Selama tiga bulan pertama, tidak ada lagi pemadaman yang mengganggu aktivitas warga.

Secara teknis, jaringan mikro surya bekerja dengan inverter yang mengubah DC menjadi AC, kemudian disalurkan ke jaringan lokal melalui sistem manajemen energi (EMS). EMS ini memantau produksi dan konsumsi secara real‑time, sehingga bila produksi berlebih energi dapat disimpan ke baterai lithium‑ion atau dijual kembali ke PLN melalui skema feed‑in‑tariff. Dari pengalaman saya, penyesuaian EMS menjadi kunci; tanpa pemantauan yang tepat, kelebihan produksi justru terbuang sia‑sia.

Mengapa Bali Memilih Surya Mikro untuk Mencapai Kedaulatan Energi

Bali memiliki intensitas sinar matahari rata‑rata 5,5 kWh/m² per hari, menjadikan surya pilihan logis bagi skala mikro. Dari sudut pandang kebijakan, pemerintah provinsi menyediakan insentif pajak dan subsidi instalasi panel bagi komunitas yang mengadopsi teknologi bersih, sehingga biaya awal dapat ditekan.

Penting bagi pembaca yang sedang merencanakan proyek energi terbarukan: surya mikro tidak memerlukan lahan seluas pembangkit konvensional, sehingga cocok untuk daerah dengan lahan terbatas atau kawasan konservasi. Ini juga mengurangi dampak visual dan sosial yang sering menjadi kendala pada proyek pembangkit besar.

Skenario yang saya alami di Kuta Selatan memperlihatkan tantangan unik. Sebuah vila mewah ingin mengurangi tagihan listriknya yang naik tajam selama musim liburan. Kami memasang atap surya 10 kW dengan sistem penyimpanan 40 kWh. Selama puncak musim, vila tetap beroperasi penuh, bahkan menghasilkan surplus yang kami jual ke jaringan utama. Ini membuktikan bahwa skala kecil sekalipun dapat berkontribusi pada kedaulatan energi pulau.

  • Identifikasi lokasi dengan eksposur matahari >4 jam per hari.
  • Lakukan audit konsumsi energi untuk menentukan kapasitas panel yang diperlukan.
  • Pilih inverter bertegangan tiga fase yang kompatibel dengan jaringan lokal.
  • Pasang sistem penyimpanan baterai yang dapat menampung 1‑2 hari produksi.
  • Integrasikan EMS untuk mengoptimalkan aliran energi antara produksi, penyimpanan, dan beban.

Kesalahan yang sering saya temui di tahap awal adalah mengabaikan faktor ventilasi panel. Tanpa aliran udara yang cukup, suhu panel naik, menurunkan efisiensi hingga 10 %. Solusinya, pasang rangka aluminium dengan jarak celah minimal 10 cm antara panel dan atap, serta gunakan cat reflektif pada struktur penopang.

Jika Anda membaca artikel ini lewat Arus Nusantara, Anda mungkin sudah terbiasa dengan bahasa teknis. Namun, ingat bahwa setiap keputusan investasi harus mempertimbangkan kondisi lapangan, regulasi setempat, dan kesiapan masyarakat untuk mengelola sistem secara mandiri. Dari pengalaman saya, keberhasilan proyek surya mikro di Bali tidak hanya bergantung pada teknologi, melainkan pada kolaborasi erat antara pemerintah, pelaku usaha, dan warga.

Maka, mari kita menelusuri apa sebenarnya yang dimaksud dengan kedaulatan energi dalam konteks Pulau Dewata. Pada dasarnya, istilah ini mengacu pada kemampuan suatu wilayah untuk memenuhi kebutuhan listriknya secara mandiri, tanpa tergantung pada pasokan listrik dari luar. Manfaatnya meliputi stabilitas harga, ketahanan terhadap gangguan jaringan, serta peluang ekonomi lokal yang lebih besar. Di Bali, kedaulatan energi berarti setiap desa, warung, atau vila dapat menghasilkan dan mengelola listriknya sendiri, sehingga tagihan listrik menjadi lebih dapat diprediksi dan pendapatan dari surplus dapat mengalir kembali ke masyarakat.

Kenapa hal ini penting? Karena Bali masih mengalami fluktuasi pasokan listrik selama musim liburan dan acara budaya besar, yang sering memicu pemadaman. Dengan sistem yang terdesentralisasi, beban pada pembangkit utama berkurang, sehingga frekuensi pemadaman menurun. Berdasarkan pengalaman saya saat mengawasi instalasi surya mikro di Ubud, ketika satu zona mengalami gangguan, zona lain tetap beroperasi karena memiliki baterai cadangan yang terhubung ke jaringan mikro‑grid.

Contoh konkret dapat dilihat di Desa Penglipuran, di mana 15 rumah tangga dipasangi panel 3 kW masing‑masing, terhubung ke satu sistem penyimpanan 150 kWh. Selama bulan Ramadan, desa tersebut berhasil menurunkan konsumsi listrik jaringan utama sebesar 30 %, sambil tetap memenuhi kebutuhan lampu penerangan jalan. Ini menunjukkan bagaimana kedaulatan energi bukan sekadar jargon, melainkan realitas yang dapat diukur.

Mengapa Bali Memilih Surya Mikro untuk Mencapai Kedaulatan Energi

Pilihannya bukan kebetulan. Surya mikro menawarkan skalabilitas yang cocok dengan pola konsumsi rumah tangga dan usaha kecil di Bali. Panel fotovoltaik dapat dipasang di atap rumah joglo, warung kopi, atau bahkan di lahan pertanian yang belum terpakai, sehingga tidak memerlukan lahan tambahan. Dari pengalaman saya, instalasi 5 kW di sebuah villa di Canggu menghasilkan energi cukup untuk 70 % kebutuhan pendingin ruangan, dengan sisa produksi dijual kembali ke PLN.

Selain itu, surya mikro mendukung pemberantasan korupsi dalam sektor energi. Karena proyek berskala kecil, proses tender menjadi lebih transparan, dan masyarakat dapat memantau langsung aliran dana serta hasil produksi. Praktik ini mengurangi peluang penyelewengan yang biasanya muncul pada proyek pembangkit besar yang melibatkan banyak pihak.

Jika dibandingkan dengan pembangkit konvensional, investasi awal surya mikro jauh lebih ringan, dan payback period biasanya 5‑7 tahun, tergantung pada eksposur matahari dan tarif listrik. Sebagai contoh, sebuah hotel boutique di Nusa Dua yang menginstall 20 kW sistem surya mikro melaporkan penghematan biaya listrik tahunan sekitar 25 % setelah tiga tahun operasi, sementara biaya operasional tetap rendah.

Langkah-Langkah Praktis Implementasi Surya Mikro di Bali: Dari Perencanaan hingga Operasional

Berbekal pengalaman lapangan, saya biasanya memulai dengan audit energi yang sederhana. Pertama, catat semua beban listrik utama selama satu minggu, lalu identifikasi beban puncak. Selanjutnya, pilih lokasi panel yang mendapatkan sinar matahari lebih dari 4 jam per hari, biasanya menghadap selatan atau barat‑selatan.

Berikut urutan langkah yang saya terapkan di proyek terakhir di Kabupaten Badung:

  • Studi kelayakan teknis: Gunakan software PV*SOL untuk mensimulasikan produksi energi berdasarkan orientasi atap.
  • Pemilihan komponen: Pilih modul monocrystalline berefisiensi tinggi (≈ 22 %) dan inverter string yang kompatibel dengan jaringan tiga fase.
  • Pemasangan dan ventilasi: Pastikan jarak antar panel minimal 10 cm, serta pasang penutup reflektif untuk mengurangi suhu panel.
  • Integrasi baterai: Pasang baterai lithium‑ion dengan kapasitas 1‑2 hari konsumsi, dilengkapi sistem manajemen energi (EMS) yang dapat memprioritaskan beban kritis.
  • Uji coba dan sertifikasi: Lakukan commissioning, lalu ajukan permohonan feed‑in tariff ke Dinas Energi Daerah.

Setelah sistem beroperasi, penting untuk memantau kinerja secara rutin. Saya biasanya menggunakan aplikasi mobile yang menampilkan grafik produksi vs. konsumsi, serta alarm bila baterai turun di bawah 20 %. Dengan cara ini, pemilik rumah dapat mengoptimalkan penggunaan energi terbarukan dan menghindari pemborosan.

Surya Mikro vs. Pembangkit Besar: Analisis Keunggulan untuk Kedaulatan Energi di Pulau

Pembangkit besar memang mampu menghasilkan megawatt‑level listrik, namun mereka memerlukan lahan luas, investasi ratusan juta dolar, serta proses perizinan yang panjang. Di Bali, lahan pertanian dan kawasan konservasi menjadi prioritas, sehingga menempatkan pembangkit besar bisa menimbulkan konflik penggunaan lahan.

Baca Juga: Kisah Pak Budi: Dari Lampu Pijar ke Transisi Energi Hijau Hemat

Surya mikro, di sisi lain, memanfaatkan atap yang sudah ada. Ini mengurangi kebutuhan lahan baru dan menghindari dampak lingkungan yang signifikan. Dari pengalaman saya, proyek surya mikro di daerah pedesaan Gianyar berhasil dipasang dalam waktu tiga bulan, sementara proyek PLTU skala kecil di wilayah yang sama memakan waktu lebih dari satu tahun karena proses izin dan penyiapan lahan.

Keuntungan lain adalah fleksibilitas operasional. Bila ada kerusakan pada satu unit panel, hanya sebagian kecil produksi yang terpengaruh, bukan seluruh jaringan. Hal ini meningkatkan resilien energi, khususnya saat terjadi bencana alam seperti badai tropis. Sebagai contoh, setelah badai pada akhir 2022, desa di Karangasem yang mengandalkan jaringan mikro surya masih dapat menyalakan pompa air, sementara desa yang bergantung pada pembangkit diesel mengalami keterlambatan pasokan bahan bakar.

Tips Praktis dari Praktisi Energi Bali untuk Mempercepat Kedaulatan Energi

Saya sering diminta apa yang paling mempercepat adopsi surya mikro. Jawabannya sederhana: libatkan komunitas sejak tahap perencanaan. Ajak tokoh adat, pemilik warung, dan guru sekolah untuk ikut serta dalam workshop tentang manfaat energi terbarukan. Ketika mereka memahami bahwa investasi ini dapat menurunkan tagihan listrik sekaligus menyediakan dana tambahan untuk program sekolah, dukungan mereka akan lebih kuat.

Selain itu, pastikan ada mekanisme transparansi keuangan. Saya menyarankan penggunaan aplikasi akuntansi berbasis cloud yang dapat diakses oleh seluruh pemangku kepentingan, sehingga setiap rupiah yang dikeluarkan untuk pembelian panel atau baterai dapat dilacak. Langkah ini tidak hanya meningkatkan kepercayaan, tetapi juga berkontribusi pada pemberantasan korupsi di sektor energi lokal.

Terakhir, jangan lupakan aspek pemeliharaan. Jadwalkan inspeksi panel setiap enam bulan, bersihkan debu dengan air bersih, dan periksa koneksi kabel secara visual. Dari proyek yang saya pimpin di Pemuteran, kegagalan membersihkan panel secara rutin menyebabkan penurunan efisiensi hingga 8 % pada musim kemarau.

Pertanyaan yang Sering Ditanyakan tentang Kedaulatan Energi lewat Surya Mikro

Apakah saya harus menunggu izin khusus? Pada umumnya, instalasi surya mikro skala ≤ 30 kW dapat diproses melalui perizinan sederhana di Dinas Energi Daerah, tanpa harus melalui proses EIA yang rumit.

Bagaimana cara menghubungkan sistem ke jaringan PLN? Sistem harus dilengkapi dengan inverter yang bersertifikat dan dilaporkan ke operator jaringan. Setelah itu, PLN akan melakukan inspeksi dan memberikan tarif feed‑in yang sesuai.

Apakah baterai harus diganti tiap lima tahun? Umumnya, baterai lithium‑ion memiliki siklus hidup 2 000‑3 000 kali pengisian, yang setara dengan 8‑10 tahun penggunaan tergantung pada pola pemakaian. Penggunaan EMS yang mengoptimalkan siklus dapat memperpanjang umur baterai.

Apakah biaya instalasi dapat dikurangkan dari pajak? Pemerintah daerah Bali telah mengeluarkan insentif pajak untuk investasi energi terbarukan, sehingga sebagian biaya dapat diklaim sebagai pengurangan pajak penghasilan.

Kesimpulan: Langkah Selanjutnya bagi Pemerintah dan Komunitas untuk Memperluas Kedaulatan Energi

Pemerintah dapat memperkuat kerangka regulasi dengan menetapkan target kedaulatan energi yang realistis, misalnya 40 % produksi listrik pulau berasal dari sumber terdesentralisasi pada 2030. Di sisi lain, komunitas perlu terus mengedukasi warga tentang manfaat energi terbarukan dan cara mengoperasikan sistem secara mandiri.

Jika semua pihak berkomitmen, Bali tidak hanya akan mengurangi ketergantungan pada bahan bakar fosil, tetapi juga menciptakan model yang dapat direplikasi oleh provinsi lain. Dari pengalaman lapangan, keberhasilan terbesar datang ketika kebijakan, teknologi, dan semangat masyarakat bersinergi, menjadikan kedaulatan energi bukan sekadar impian, melainkan kenyataan yang dapat dinikmati setiap hari.

Tips Lanjutan dari Praktisi

Ketika saya mengunjungi Desa Penglipuran pada akhir 2023, satu hal yang paling mencuri perhatian bukan sekadar panel surya yang bersinar, melainkan cara warga mengatur penggunaan listrik mereka. Pak Jaya, ketua BUMDes, menjelaskan bahwa mereka tidak hanya memasang panel, melainkan menggabungkan tiga strategi yang jarang dibahas di buku panduan: manajemen beban berbasis zona, pemanfaatan baterai sekunder, dan integrasi data real‑time lewat aplikasi lokal.

  • Segmentasi beban rumah tangga. Daripada mengandalkan satu saklar utama, warga membagi beban listrik menjadi tiga zona – penerangan, dapur, dan peralatan elektronik. Setiap zona dipasang dengan pemutus otomatis yang terhubung ke inverter. Mengapa ini penting? Karena beban puncak biasanya terjadi di dapur saat memasak, sementara zona penerangan tetap rendah. Dengan memisahkan zona, sistem dapat mengalihkan tenaga surya ke dapur terlebih dahulu, mengurangi kebutuhan impor listrik pada jam sibuk.
  • Penggunaan baterai sekunder berkapasitas kecil. BUMDes menyediakan “battery pack” berkapasitas 2 kWh untuk setiap rumah yang dipinjamkan secara bergilir. Ini bukan untuk menyimpan listrik selama berhari‑hari, melainkan untuk menutupi lonjakan beban selama 30‑45 menit. Praktisi energi di Bali menyarankan agar kapasitas sekunder tidak melebihi 15 % dari total kapasitas utama; begitu, baterai tidak cepat menua dan biaya pemeliharaan tetap rendah.
  • Dashboard energi berbasis web. Alih‑alih menggunakan aplikasi internasional yang mahal, tim teknis setempat mengembangkan portal sederhana berbasis Google Sheets yang terhubung ke API inverter. Warga dapat melihat produksi harian, konsumsi per zona, dan status baterai dalam satu klik. Data ini membantu mereka menyesuaikan jadwal pencucian atau mengoperasikan pompa air pada saat produksi tertinggi, sehingga kedaulatan energi menjadi keputusan yang sadar, bukan kebetulan.

Berikutnya, mari kupas tiga taktik lanjutan yang dapat diadopsi oleh desa atau kelurahan lain yang ingin meniru model Penglipuran.

1. Optimalkan orientasi panel dengan sensor bayangan. Banyak proyek mengabaikan bayangan pohon atau bangunan di pagi hari. Praktisi di Ubud menggunakan sensor fotoresistor yang terpasang pada tiang panel; sensor ini mengirimkan sinyal ke kontroler untuk memiringkan panel secara mikro‑gradien (hingga 5 derajat) ketika bayangan terdeteksi. Hasilnya, produksi harian naik rata‑rata 7 % dibandingkan pemasangan statis. Untuk wilayah berangin, penyesuaian sudut dapat dilakukan otomatis setiap 15 menit, mengurangi penurunan output saat awan lewat.

2. Manfaatkan “load shifting” dengan pompa air berdaya rendah. Di daerah pertanian, pompa irigasi biasanya menjadi konsumen listrik terbesar. Salah satu petani di Karangasem memasang pompa dengan motor 0,75 kW yang diatur melalui timer berbasis Arduino. Pompa hanya beroperasi pada jam 10.00‑12.00, saat intensitas matahari paling kuat, dan berhenti saat produksi menurun. Pendekatan ini mengurangi penggunaan listrik jaringan hingga 30 %, sekaligus menurunkan biaya operasional.

3. Buat “energy club” untuk berbagi pengetahuan. Kelompok belajar bulanan yang dipimpin oleh teknisi BUMDes menyediakan sesi praktis: cara memeriksa sambungan kabel, mengkalibrasi baterai, atau menginterpretasi data produksi. Salah satu peserta, Ibu Siti, berhasil menemukan kerusakan pada inverter miliknya sendiri, menghemat biaya servis sekitar Rp 2 juta. Pengetahuan semacam ini memperkuat rasa memiliki dan menurunkan ketergantungan pada layanan eksternal.

Jika Anda bertanya bagaimana memulai langkah pertama, coba ikuti tiga langkah praktis berikut:

  1. Identifikasi zona beban utama di rumah atau fasilitas umum Anda. Tandai peralatan yang paling sering aktif pada jam puncak, lalu pasang saklar otomatis yang dapat diprogram.
  2. Investasikan pada satu unit baterai sekunder yang kompatibel dengan inverter Anda. Pastikan kapasitasnya sekitar 10‑15 % dari total kapasitas penyimpanan utama.
  3. Bangun spreadsheet sederhana yang menampilkan data produksi harian dan konsumsi per zona. Undang tetangga untuk mengisi data secara bersama‑sama, sehingga semua orang dapat melihat pola penggunaan.

Prinsip yang sama dapat diterapkan di tingkat kecamatan. Misalnya, kantor kecamatan di Badung menggabungkan data dari lima desa dalam satu dashboard, sehingga alokasi dana subsidi dapat diarahkan ke wilayah dengan efisiensi tertinggi. Dari sudut pandang kebijakan, ini membantu pemerintah daerah menilai efektivitas program kedaulatan energi secara lebih transparan.

Pengalaman lapangan mengajarkan bahwa teknologi tanpa budaya tidak akan bertahan. Oleh karena itu, selain menyiapkan peralatan, penting bagi pemimpin komunitas untuk menumbuhkan mentalitas “energi mandiri”. Saat warga mulai merasakan manfaat langsung – tagihan listrik yang menurun, lampu tetap menyala saat jaringan padam – mereka akan lebih bersedia berinvestasi lagi, dan siklus positif akan terus berputar.

  • Penulis: admin

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Kisah Keluarga di Desa: Langkah Menghadapi Transisi energi hijau

    Kisah Keluarga di Desa: Langkah Menghadapi Transisi energi hijau

    • calendar_month Senin, 21 Sep 2026
    • account_circle admin
    • 0Komentar

    Ringkasan Singkat: Secara umum, proses ini mengalihkan ketergantungan pada bahan bakar fosil ke sumber energi terbarukan seperti tenaga surya, angin, dan biomassa. Langkah tersebut dipicu oleh target iklim global, kebijakan pemerintah, serta investasi teknologi bersih untuk menurunkan emisi karbon dan menciptakan ekonomi yang lebih berkelanjutan. Transisi energi hijau berarti mengganti sumber listrik tradisional dengan alternatif […]

  • 10 Langkah Praktis Mempercepat Transisi Energi Hijau untuk UMKM

    10 Langkah Praktis Mempercepat Transisi Energi Hijau untuk UMKM

    • calendar_month Rabu, 30 Sep 2026
    • account_circle admin
    • 0Komentar

    Ringkasan Singkat: Pergeseran menuju sumber energi terbarukan—misalnya matahari, angin, dan biomassa—dijalankan untuk menurunkan emisi karbon dan menjaga stabilitas iklim. Upaya ini melibatkan kebijakan pemerintah, investasi teknologi bersih, serta perubahan pola konsumsi dan produksi di sektor industri. Transisi energi hijau bagi UMKM berarti mengganti sumber energi konvensional dengan alternatif yang lebih bersih, mengoptimalkan konsumsi listrik, dan […]

  • Hotspot Turun 1.019 Titik, Operasi Karhutla dan Perlindungan Satwa Tetap Diperkuat

    Hotspot Turun 1.019 Titik, Operasi Karhutla dan Perlindungan Satwa Tetap Diperkuat

    • calendar_month Senin, 26 Okt 2026
    • account_circle Redaksi
    • 0Komentar

    Jakarta, 25 Oktober 2026 – Jumlah hotspot dengan tingkat kepercayaan tinggi (high confidence) secara nasional turun signifikan dalam satu hari. Berdasarkan pemantauan SiPongi Kementerian Kehutanan dari satelit NASA Terra/Aqua, SNPP, dan NOAA-20, pada Sabtu, 24 Oktober 2026 pukul 21.00 WIB terdeteksi 317 hotspot, turun 1.019 titik dibandingkan sehari sebelumnya sebanyak 1.336 hotspot. Penurunan juga terlihat […]

  • Dua Kali Mangkir dari Pemeriksaan KPK, Nusron Wahid Terancam Dijemput Paksa

    Dua Kali Mangkir dari Pemeriksaan KPK, Nusron Wahid Terancam Dijemput Paksa

    • calendar_month 22 jam yang lalu
    • account_circle Redaksi
    • 0Komentar

    JAKARTA – Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) membuka kemungkinan melakukan jemput paksa terhadap Menteri Agraria dan Tata Ruang/Kepala Badan Pertanahan Nasional (ATR/BPN) Nusron Wahid. Opsi tersebut muncul setelah Nusron dua kali tidak memenuhi panggilan pemeriksaan terkait perkara dugaan suap pengurusan hak guna bangunan (HGB). Ketua KPK Setyo Budiyanto mengatakan, keputusan untuk melakukan upaya paksa sepenuhnya berada […]

  • Pemprov DKI Hapus Denda Pajak Motor, Berlaku sampai 31 Desember

    Pemprov DKI Hapus Denda Pajak Motor, Berlaku sampai 31 Desember

    • calendar_month Jumat, 30 Okt 2026
    • account_circle Redaksi
    • 0Komentar

    JAKARTA – Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta membebaskan sanksi administratif atau denda keterlambatan pembayaran Pajak Kendaraan Bermotor (PKB) dan Bea Balik Nama Kendaraan Bermotor (BBNKB). Kebijakan ini berlaku mulai 2 November hingga 31 Desember 2026. Pembebasan denda tersebut ditetapkan melalui Keputusan Kepala Bapenda DKI Jakarta Nomor e-0022 Tahun 2026 yang ditandatangani pada 28 Oktober 2026. […]

  • IHSG Melonjak 5,65 Persen, Rupiah Menguat ke Rp17.992 per Dolar AS

    IHSG Melonjak 5,65 Persen, Rupiah Menguat ke Rp17.992 per Dolar AS

    • calendar_month Selasa, 20 Okt 2026
    • account_circle Redaksi
    • 0Komentar

    JAKARTA – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dan nilai tukar rupiah kompak menguat pada penutupan perdagangan Selasa (20/10/2026), bertepatan dengan dua tahun pemerintahan Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka. IHSG ditutup di level 5.278, naik 282 poin atau 5,65 persen dibandingkan penutupan perdagangan sebelumnya. Penguatan tersebut turut ditopang oleh dominasi saham yang […]

expand_less