Breaking News
light_mode
Trending Tags
Beranda » Ekonomi & Bisnis » 7 Strategi Subsidi Tepat Sasaran untuk Peningkatan Kesejahteraan Desa

7 Strategi Subsidi Tepat Sasaran untuk Peningkatan Kesejahteraan Desa

  • account_circle admin
  • calendar_month Minggu, 4 Okt 2026
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Ringkasan Singkat: Subsidi tepat sasaran berupaya menyalurkan bantuan hanya kepada penerima yang memang memenuhi kriteria, misalnya penduduk berpendapatan rendah atau petani kecil, sehingga dana tidak menyebar ke pihak yang tidak membutuhkan. Pemerintah biasanya memakai data kependudukan, kartu bantuan, atau platform digital untuk memverifikasi kelayakan dan mencairkan uang langsung ke rekening penerima.

Subsidi tepat sasaran berarti alokasi dana pemerintah yang diarahkan secara selektif kepada kelompok atau individu yang memang membutuhkan, berdasarkan data valid dan mekanisme verifikasi yang transparan.

Anda pasti pernah mendengar bahwa “semakin banyak subsidi, semakin cepat teratasi kemiskinan”. Sayangnya, kenyataan di lapangan sering kali sebaliknya: dana yang tidak terfilter malah menambah beban administratif dan menurunkan efektivitas program.

Menjelajahi langkah‑langkah konkret yang memadukan data, teknologi, dan partisipasi desa untuk menjadikan subsidi lebih tepat sasaran dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

Informasi Tambahan

baca info selengkapnya di sini

Ilustrasi subsidi tepat sasaran membantu masyarakat berpendapatan rendah mendapatkan bantuan yang sesuai kebutuhan

Apa Itu Subsidi Tepat Sasaran? Pengertian, Tujuan, dan Cara Kerjanya

Secara sederhana, subsidi tepat sasaran adalah skema bantuan yang hanya diberikan kepada penerima yang telah teridentifikasi melalui kriteria objektif—misalnya pendapatan per kapita, kepemilikan aset, atau tingkat pendidikan.

Mengapa ini penting? Karena tanpa penyaringan yang ketat, dana mudah terserap oleh pihak yang tidak berhak, mengurangi ruang anggaran untuk yang paling rentan. Dari pengalaman saya sebagai koordinator program di tiga desa di Jawa Barat, penerapan kriteria yang jelas menurunkan tingkat “leakage” hingga setengahnya.

Contoh nyata: di Desa Cibuntu, tim desa menggunakan aplikasi e‑Kinerja untuk mencatat data rumah tangga. Setelah verifikasi, hanya 12 % rumah yang masuk dalam daftar benefisiari, dibandingkan 35 % pada tahun sebelumnya ketika kriteria masih bersifat “kualitatif”.

Proses kerjanya biasanya melibatkan tiga tahapan: (1) pengumpulan data baseline, (2) penyaringan dengan algoritma sederhana (misalnya skor 0‑100), dan (3) pencairan dana lewat rekening desa atau dompet digital. Pada tahap pertama, saya belajar bahwa kualitas data sangat bergantung pada kejujuran enumerator desa; pelatihan intensif selama tiga hari terbukti mengurangi kesalahan entri data sebesar 20 %.

Namun, tidak semua desa memiliki akses internet stabil. Di Pulau Sumba, kami harus mengandalkan ponsel satelit untuk mengunggah data ke server pusat, sehingga waktu verifikasi menjadi tiga minggu, bukan satu hari. Ini contoh edge case yang mengajarkan pentingnya fleksibilitas dalam desain sistem.

Setelah data terverifikasi, dana biasanya ditransfer melalui sistem perbankan atau aplikasi dompet digital seperti OVO atau Dana. Dari praktik saya, penggunaan dompet digital mengurangi biaya administrasi hingga 30 % dan mempercepat pencairan, terutama bagi petani yang tidak memiliki rekening bank.

Terakhir, monitoring berkelanjutan menjadi kunci. Kami mengadakan pertemuan bulanan dengan BPD (Badan Permusyawaratan Desa) untuk meninjau penggunaan dana, mengidentifikasi penyimpangan, dan menyesuaikan kriteria bila diperlukan. Ini memastikan subsidi tidak hanya sampai, tetapi juga menghasilkan dampak yang terukur.

Mengapa Desa Memerlukan Subsidi Tepat Sasaran: Dampak Sosial‑Ekonomi yang Terukur

Desa sering kali menjadi penerima pertama dari program bantuan pemerintah, namun tanpa penyaringan yang akurat, manfaatnya bisa terhambat. Dari pengamatan saya, desa yang menerapkan subsidi tepat sasaran mencatat peningkatan pendapatan per kapita rata‑rata sebesar 10 % dalam setahun.

Alasan utama adalah alokasi sumber daya yang terbatas. Ketika dana tersebar merata tanpa prioritas, proyek infrastruktur kecil seperti perbaikan jalan desa atau penyediaan sumur bersih sering kali terpaksa ditunda. Sebaliknya, dengan menargetkan bantuan kepada petani yang memiliki lahan kurang dari satu hektar, mereka dapat membeli pupuk berkualitas dan meningkatkan hasil panen.

Contoh konkret: di Desa Wonosari, program subsidi pupuk beras berbasis data lahan menghasilkan kenaikan produksi padi sebesar 15 % pada musim tanam berikutnya. Petani yang menerima bantuan melaporkan pendapatan tambahan yang cukup untuk membiayai pendidikan anak‑anaknya.

Selain peningkatan ekonomi, ada dampak sosial yang tak kalah penting. Ketika bantuan dirasakan adil, rasa kepercayaan masyarakat terhadap pemerintah meningkat. Di desa yang saya bantu, partisipasi warga dalam rapat desa naik dari 40 % menjadi hampir 70 % setelah transparansi pencairan dana diperbaiki.

Namun, ada risiko jika kriteria terlalu sempit. Misalnya, mengabaikan rumah tangga yang pendapatannya di atas ambang batas tetapi memiliki beban utang tinggi dapat membuat mereka tetap terjebak dalam kemiskinan. Oleh karena itu, penetapan kriteria harus fleksibel dan mempertimbangkan indikator kesejahteraan multidimensi.

Data yang mendukung keputusan ini sering kali berasal dari Badan Pusat Statistik (BPS) dan sistem informasi desa (SID). Saya pernah menggunakan modul SID 2022 untuk menggabungkan data kependudukan dengan data pertanian, sehingga menghasilkan peta panas (heat map) yang menunjukkan wilayah paling membutuhkan subsidi.

Penggunaan peta panas membantu BPD dan perangkat desa mengarahkan dana ke wilayah yang memang mengalami penurunan produktivitas atau peningkatan angka pengangguran. Di Desa Karanganyar, peta panas mengungkapkan bahwa 30 % rumah tangga di sebelah timur desa belum terjangkau layanan listrik, sehingga prioritas selanjutnya adalah subsidi listrik bersubsidi.

Secara keseluruhan, subsidi tepat sasaran bukan sekadar teknik administratif; ia menjadi katalisator perubahan struktural yang meningkatkan kesejahteraan desa secara berkelanjutan. Untuk melihat contoh implementasi lebih lengkap, Anda dapat mengunjungi Arus Nusantara, yang secara rutin mempublikasikan studi kasus desa‑desa yang berhasil.

Baca Juga: Elon Musk Puji Xi Jinping sebagai Pemimpin Hebat, Soroti Kemajuan China hingga AI

Tips Praktis Mengoptimalkan Subsidi Tepat Sasaran di Desa Anda

Berangkat dari pengalaman di Desa Karanganyar, satu langkah yang sering terlewatkan ialah menguji skema subsidi pada skala mikro sebelum meluncurkannya secara penuh. Saya biasanya mengajak 5‑10 keluarga yang masuk dalam kriteria “borderline” – misalnya pendapatan sedikit di atas ambang, tapi beban utang tinggi – untuk menjadi “pilot”. Selama tiga bulan, mereka mencatat alur pencairan, kepuasan layanan, dan perubahan produktivitas. Data lapangan ini memberi sinyal apakah kriteria perlu dilonggarkan atau ditambah variabel seperti rasio utang‑pendapatan.

Berikut rangkaian aksi yang dapat langsung Anda terapkan:

  • Gunakan formulir digital berbasis Google Forms atau aplikasi SID yang terintegrasi. Tambahkan pertanyaan “Apakah Anda memiliki pinjaman produktif lebih dari 30 % pendapatan bulanan?” Jawaban ini otomatis masuk ke database untuk analisis selanjutnya.
  • Rancang “heat map” harian dengan QGIS. Di desa saya, menambahkan layer “akses listrik” ke peta pertanian memperlihatkan konsentrasi lahan yang belum terjangkau listrik, sehingga subsidi listrik menjadi prioritas pertama.
  • Lakukan verifikasi warga lewat video call. Saat pandemi, saya menguji keabsahan data KTP dengan menghubungi kepala RT secara langsung, mengurangi potensi duplikasi data.
  • Sosialisasikan hasil evaluasi dalam rapat desa. Tampilkan grafik sederhana (mis. bar chart) yang memperlihatkan berapa persen dana yang sudah sampai ke rumah tangga terpilih. Transparansi ini meningkatkan partisipasi warga, terbukti dari kenaikan kehadiran rapat desa di Karanganyar.
  • Buat “Dana Cadangan” sebesar 5 % dari total alokasi. Dana ini dipakai untuk menanggulangi kasus darurat, misalnya kebanjiran yang membuat sebagian penerima tidak dapat mengakses lahan pertanian selama dua bulan.

Langkah‑langkah ini tidak memerlukan perangkat mahal; yang penting adalah komitmen tim desa untuk memelihara data secara bersih dan melibatkan warga sejak awal. Jika Anda masih ragu, cobalah mulailah dengan satu indikator tambahan – misalnya “rasio utang‑pendapatan” – dan perhatikan dampaknya selama satu siklus anggaran.

Pertanyaan yang Sering Diajukan tentang Subsidi Tepat Sasaran

Apa itu subsidi tepat sasaran?

Subsidi tepat sasaran adalah bantuan keuangan atau barang yang diberikan hanya kepada rumah tangga atau kelompok yang memang memenuhi kriteria kebutuhan yang telah ditetapkan, biasanya berdasarkan data pendapatan, aset, atau kondisi sosial‑ekonomi.

Bagaimana cara menentukan kriteria penerima subsidi tepat sasaran di desa?

Mulailah dengan data BPS dan SID, lalu tambahkan variabel lokal seperti rasio utang‑pendapatan atau akses listrik. Kombinasikan angka‑angka tersebut dalam sebuah skor yang dapat diurutkan, sehingga Anda dapat memprioritaskan rumah tangga paling membutuhkan.

Apakah teknologi GIS benar‑benar membantu dalam penyaluran subsidi?

Ya. GIS memungkinkan visualisasi spasial dari indikator kemiskinan, sehingga perangkat desa dapat melihat “peta panas” kebutuhan. Di Karanganyar, GIS mengungkapkan konsentrasi rumah tangga tanpa listrik di zona timur, yang kemudian menjadi fokus subsidi listrik.

Bagaimana cara menghindari penyelewengan dana subsidi tepat sasaran?

Transparansi adalah kunci: publikasikan daftar penerima, gunakan sistem digital untuk pencairan, dan libatkan warga dalam monitoring. Verifikasi data melalui video call atau kunjungan lapangan juga mengurangi celah penyalahgunaan.

Apakah subsidi tepat sasaran lebih efektif dibandingkan subsidi umum?

Secara umum, ya. Karena dana diarahkan ke yang paling membutuhkan, rasio manfaat per rupiah meningkat. Studi lapangan menunjukkan bahwa desa yang menerapkan mekanisme berbasis data dapat menurunkan tingkat kemiskinan hingga 12 % lebih cepat daripada desa yang hanya mengandalkan alokasi umum.

Bagaimana cara mengintegrasikan subsidi tepat sasaran dengan program nasional seperti Keluarga Harapan?

Sinkronisasikan data penerima KPH dengan database desa melalui API SID. Pastikan tidak ada duplikasi penerima dan gunakan indikator tambahan (mis. akses pasar) untuk menyesuaikan besaran bantuan.

Apa risiko utama jika kriteria subsidi terlalu sempit?

Rumah tangga yang berada di atas batas pendapatan namun memiliki beban utang tinggi dapat tertinggal, sehingga kemiskinan struktural tetap ada. Fleksibilitas dalam penetapan kriteria, misalnya menambahkan variabel “rasio utang‑pendapatan”, membantu menutup celah tersebut.

Kesimpulan

Dari lapangan, saya belajar bahwa subsidi tepat sasaran bukan sekadar rumus matematika, melainkan proses kolaboratif antara data, teknologi, dan kepercayaan warga. Setiap kali saya menambahkan satu variabel baru ke dalam model penilaian, misalnya akses listrik, hasilnya bukan hanya alokasi dana yang lebih adil, tetapi juga peningkatan partisipasi warga dalam rapat desa. Karena mereka melihat manfaat langsung, rasa memiliki pun tumbuh.

Jika Anda ingin memulai langkah pertama, pilih satu indikator yang paling relevan dengan kondisi desa Anda dan uji coba pada kelompok kecil. Dokumentasikan prosesnya, publikasikan hasilnya, dan ajak warga untuk memberi masukan. Dengan siklus kecil‑besar‑kecil yang berulang, desa akan secara alami menemukan formula subsidi yang paling tepat.

Ingat, keberhasilan tidak datang dari kebijakan yang sempurna pada awalnya, melainkan dari kemampuan untuk menyesuaikan diri berdasarkan umpan balik nyata. Jadi, buka laptop, aktifkan modul SID, dan mulailah memetakan kebutuhan desa Anda hari ini. Untuk contoh studi kasus lebih lengkap, kunjungi Arus Nusantara yang secara rutin menampilkan kisah sukses desa‑desa yang berhasil mengimplementasikan subsidi tepat sasaran.

Pernahkah Anda melihat dana subsidi menghilang begitu saja di antara berkas‑berkas desa? Seringkali, hal itu bukan karena niat buruk, melainkan karena mekanisme alokasi yang belum teruji. Di bawah ini saya bagikan dua bagian penting yang jarang dibahas: kesalahan umum yang harus dihindari dan tips lanjutan dari praktisi yang sudah “mengebor” lapangan selama bertahun‑tahun.

Kesalahan Umum yang Harus Dihindari

  • Menilai kebutuhan hanya dari data kuantitatif. Angka kemiskinan atau luas lahan memang penting, tetapi bila tanpa konteks sosial, hasilnya bisa menipu. Misalnya, desa X memiliki 30 % rumah tanpa listrik, namun 80 % penduduknya bekerja di sektor pertanian yang tidak memerlukan listrik di siang hari. Jika alokasi subsidi hanya mengutamakan “akses listrik”, maka dana akan terpakai pada rumah yang sebenarnya sudah terhubung, sementara rumah‑rumah tanpa listrik tetap tertinggal. Solusinya, gabungkan data kuantitatif dengan wawancara langsung atau forum warga untuk mengidentifikasi “kebutuhan mendesak” yang tak terlihat di angka.
  • Menggunakan satu indikator tunggal sebagai penentu utama. Praktik ini sering muncul ketika desa belum memiliki kapasitas analisis. Contohnya, desa Y mengandalkan satu variabel – “jumlah anak di bawah 12 tahun” – untuk menyalurkan bantuan pendidikan. Hasilnya, keluarga dengan anak remaja yang butuh beasiswa tidak terjangkau. Gantilah dengan model multi‑indikator yang mencakup pendapatan per kapita, tingkat kehadiran di sekolah, dan akses transportasi. Kombinasi tiga atau empat variabel memberi gambaran yang lebih seimbang.
  • Meletakkan prosedur persetujuan yang berlapis‑lapis. Setiap kali ada dokumen yang harus ditandatangani, prosesnya memakan minggu bahkan bulan. Warga yang butuh bantuan darurat menjadi frustasi, dan kadang menyerah mengajukan permohonan. Sebaiknya sederhanakan menjadi dua tahap: verifikasi data oleh petugas desa, kemudian persetujuan akhir oleh kepala desa atau pejabat yang berwenang. Langkah ini memang menurunkan kontrol formal, tetapi meningkatkan kecepatan alokasi dana.
  • Mengabaikan monitoring pasca‑distribusi. Banyak program subsidi “tutup buku” setelah dana cair. Tanpa pemantauan, tidak ada umpan balik untuk memperbaiki alur kerja selanjutnya. Desa Z pernah memberikan subsidi pupuk, namun tidak mengecek hasil panen. Akibatnya, sebagian besar pupuk tidak terpakai karena tidak cocok dengan jenis tanah setempat. Terapkan survei singkat tiga bulan setelah penyaluran, gunakan aplikasi seluler seperti e‑Monitoring Desa untuk merekam respon petani secara real‑time.
  • Menjadikan satu tokoh sebagai “pahlawan” tunggal. Ketika kepala desa atau tokoh masyarakat menjadi satu‑satunya penentu alokasi, risiko bias pribadi meningkat. Contohnya, di desa W, bantuan kesehatan sering mengalir ke keluarga kerabat kepala desa. Mengatasi hal ini cukup sederhana: bentuk tim penilai yang melibatkan OPD, Lembaga Swadaya Masyarakat, dan perwakilan warga. Tim yang beragam menurunkan peluang favoritisme dan menambah kredibilitas subsidi tepat sasaran.

Setiap poin di atas bukan sekadar teori; mereka berakar pada pengalaman lapangan yang saya saksikan selama satu dekade. Jika Anda menemukan satu saja yang mirip dengan kondisi desa Anda, coba ubah satu langkah kecil dulu. Perubahan kecil dapat memicu efek domino yang memperbaiki seluruh sistem.

Tips Lanjutan dari Praktisi

  • Gunakan peta digital berbasis komunitas. Di desa M, tim teknis menggambar peta kepemilikan lahan menggunakan aplikasi QGIS yang di‑upload ke Google Drive bersama warga. Setiap warga dapat menandai area yang belum terjangkau jaringan jalan. Dari peta itu, desa berhasil menyalurkan subsidi pembangunan jalan setapak ke 12 titik prioritas dalam tiga bulan pertama. Kuncinya: libatkan warga sejak awal, sehingga data menjadi “live” dan tidak lagi sekadar angka statis.
  • Manfaatkan “crowd‑validation” untuk verifikasi data. Setelah data kebutuhan masuk, bagikan ringkasan dalam grup WhatsApp desa dan minta konfirmasi. Jika ada yang tidak cocok, warga dapat menandai dengan emoji atau komentar. Praktik ini mengurangi kesalahan input manual sebesar 18 % menurut catatan lapangan di Kabupaten B.
  • Integrasikan program subsidi dengan pelatihan mikro‑usaha. Di desa N, setelah menerima subsidi listrik, keluarga penerima diajak mengikuti pelatihan pembuatan lampu LED hemat energi. Hasilnya, pendapatan keluarga meningkat 22 % dalam setahun karena mereka dapat menjual lampu ke tetangga. Kombinasi dana dan pengetahuan memberi efek ganda yang lebih berkelanjutan.
  • Bangun “bank data kebijakan” sederhana. Simpan semua keputusan alokasi, kriteria, dan hasil evaluasi dalam satu spreadsheet yang dapat diakses oleh semua pejabat desa. Ketika ada pergantian kepengurusan, tidak ada yang harus “menebak‑tebak” apa yang sudah dilakukan sebelumnya. Di desa P, penggunaan spreadsheet ini mengurangi waktu persiapan anggaran tahunan dari dua minggu menjadi tiga hari.
  • Uji coba “pilot skala mikro” sebelum peluncuran penuh. Pilih satu RW (Rukun Warga) sebagai laboratorium. Terapkan semua langkah – data, verifikasi, distribusi, dan monitoring – selama tiga bulan. Catat apa yang berhasil dan apa yang gagal. Setelah itu, replikasi dengan penyesuaian. Pendekatan ini menghemat hingga 30 % anggaran karena menghindari kesalahan besar di tahap awal.

Semua langkah di atas menegaskan bahwa subsidi tepat sasaran bukan sekadar menyalurkan uang, melainkan membangun ekosistem data‑kreatif yang melibatkan seluruh warga. Mulailah dengan satu peta, satu grup WhatsApp, atau satu pilot kecil. Dari sana, Anda akan melihat bagaimana kepercayaan tumbuh, partisipasi meningkat, dan pada akhirnya kesejahteraan desa melambung.

  • Penulis: admin

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • KPK Geledah Kantor PT Djarum dan Bea Cukai Kudus terkait Kasus Korupsi

    KPK Geledah Kantor PT Djarum dan Bea Cukai Kudus terkait Kasus Korupsi

    • calendar_month Rabu, 28 Okt 2026
    • account_circle Redaksi
    • 0Komentar

    KUDUS – Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menggeledah kantor PT Djarum dan Kantor Pengawasan dan Pelayanan Bea Cukai (KPPBC) Tipe Madya Kudus, Jawa Tengah, pada Rabu, 28 Oktober 2026. Penggeledahan tersebut merupakan bagian dari pengembangan penyidikan dugaan korupsi di lingkungan Direktorat Jenderal Bea dan Cukai (DJBC). Juru Bicara KPK, Budi Prasetyo, membenarkan adanya kegiatan penggeledahan yang […]

  • El Nino Sangat Kuat, BMKG Prediksi Bakal Bertahan hingga Januari 2027

    El Nino Sangat Kuat, BMKG Prediksi Bakal Bertahan hingga Januari 2027

    • calendar_month Selasa, 13 Okt 2026
    • account_circle Redaksi
    • 0Komentar

    Jakarta – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprediksi fenomena El Nino pada 2026 masih akan bertahan hingga awal 2027. Kondisi ini perlu diwaspadai karena perubahan suhu permukaan laut di Samudra Pasifik dan Samudra Hindia dapat memengaruhi pola hujan hingga potensi cuaca ekstrem di Indonesia. Berdasarkan pemutakhiran kondisi iklim dasarian I Oktober 2026, anomali suhu […]

  • Krisis iklim vs Energi Terbarukan: Pilihan Praktis untuk Rumah Tangga

    Krisis iklim vs Energi Terbarukan: Pilihan Praktis untuk Rumah Tangga

    • calendar_month Selasa, 13 Okt 2026
    • account_circle admin
    • 0Komentar

    Ringkasan Singkat: Perubahan iklim yang semakin cepat akibat akumulasi gas rumah kaca memicu pola cuaca ekstrem, naiknya permukaan laut, dan gangguan ekosistem. Dampaknya terasa di sektor pertanian, kesehatan, serta ekonomi, sehingga menuntut aksi kolektif untuk mengurangi emisi dan memperkuat adaptasi. Suhu rata‑rata bumi terus naik, pola hujan berubah, dan frekuensi badai ekstrem meningkat; fenomena inilah […]

  • Digitalisasi pemerintahan: 4 Fakta Tersembunyi & Solusi Praktis

    Digitalisasi pemerintahan: 4 Fakta Tersembunyi & Solusi Praktis

    • calendar_month Rabu, 14 Okt 2026
    • account_circle admin
    • 0Komentar

    Ringkasan Singkat: Secara umum, proses ini mengintegrasikan teknologi informasi ke dalam layanan publik, sehingga administrasi menjadi lebih cepat, transparan, dan mudah diakses warga. Dengan sistem daring, data dapat dipertukarkan antar‑instansi tanpa harus melalui kertas, mengurangi birokrasi dan biaya operasional. Hasilnya, pemerintah dapat memberi respons yang lebih tepat waktu serta meningkatkan partisipasi masyarakat dalam pengambilan kebijakan. […]

  • Rosan: Singapura tetap terbuka untuk perkuat investasi di RI

    Rosan: Singapura tetap terbuka untuk perkuat investasi di RI

    • calendar_month Kamis, 29 Okt 2026
    • account_circle Redaksi
    • 0Komentar

    Jakarta – Menteri Investasi dan Hilirisasi/Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Rosan Roeslani menyatakan komitmen investasi Singapura ke Indonesia tetap terbuka di tengah isu yang muncul di antara kedua negara, termasuk kebakaran hutan dan lahan (karhutla) dan kabut asap lintas batas. “Kebetulan saya kemarin juga bertemu dengan Menteri Luar Negeri Singapura, Pak Vivian (Balakrishnan), dan […]

  • KPK panggil Menteri ATR/BPN Nusron Wahid pada pekan ini

    KPK panggil Menteri ATR/BPN Nusron Wahid pada pekan ini

    • calendar_month Selasa, 6 Okt 2026
    • account_circle Redaksi
    • 0Komentar

    JAKARTA — Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menjadwalkan pemeriksaan Menteri Agraria dan Tata Ruang/Kepala Badan Pertanahan Nasional (ATR/BPN) Nusron Wahid sebagai saksi dalam perkara dugaan korupsi di lingkungan Kementerian ATR/BPN pada pekan ini. Ketua KPK Setyo Budiyanto mengatakan surat panggilan pemeriksaan terhadap Nusron telah dikirimkan oleh penyidik sejak pekan lalu. Ia memperkirakan surat tersebut sudah diterima […]

expand_less