Breaking News
light_mode
Trending Tags
Beranda » Sosial & Komunitas » Digitalisasi pemerintahan: Cloud vs On-Premise, Pilih Biaya & Keamanan

Digitalisasi pemerintahan: Cloud vs On-Premise, Pilih Biaya & Keamanan

  • account_circle admin
  • calendar_month 2 jam yang lalu
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Ringkasan Singkat: Melalui penerapan sistem TI, pemerintah dapat menyajikan layanan publik secara daring, mempercepat proses perizinan, dan meningkatkan transparansi data. Pendekatan ini biasanya melibatkan portal terpadu, aplikasi seluler, serta inisiatif data terbuka yang memungkinkan warga mengakses informasi secara real‑time.

Digitalisasi pemerintahan menghubungkan layanan publik dengan teknologi informasi sehingga proses administrasi, pelayanan warga, dan pengelolaan data menjadi lebih cepat, transparan, dan terukur. Pada dasarnya, langkah ini menuntut integrasi sistem yang dapat diakses secara daring, sekaligus menjamin integritas data yang disimpan. Dari sudut pandang praktisi, keberhasilan transformasi bergantung pada pemilihan infrastruktur yang menyeimbangkan biaya operasional dan perlindungan data sensitif.

Tahukah kamu bahwa pada tahun 2023 lebih dari 60 % kementerian pusat di Indonesia mengalihkan beban TI mereka ke layanan cloud, sementara masih ada sekitar 30 % yang mempertahankan server on‑premise karena regulasi khusus? Angka ini memberi gambaran betapa keputusan antara cloud dan on‑premise bukan sekadar tren, melainkan pertimbangan strategis yang menyentuh anggaran dan keamanan.

Digitalisasi Pemerintahan: Apa Itu dan Mengapa Penting?

Pada dasarnya, digitalisasi pemerintahan berarti memindahkan proses manual—seperti pengajuan izin, pencatatan kependudukan, atau pelaporan keuangan—ke dalam platform digital yang terstandarisasi. Dengan begitu, waktu tunggu yang dulu berhari‑hari dapat dipersingkat menjadi hitungan menit. Dari pengalaman saya saat membantu sebuah dinas kota mengimplementasikan sistem e‑service, alur permohonan izin bangunan berkurang dari tiga kunjungan ke kantor menjadi satu klik di portal online.

Informasi Tambahan

baca info selengkapnya di sini

Ilustrasi proses digitalisasi pemerintahan meningkatkan layanan publik lewat data terintegrasi

Pentingnya langkah ini terletak pada dua hal utama: pertama, efisiensi biaya operasional karena tenaga kerja administratif dapat dialihkan ke tugas analitis; kedua, peningkatan akuntabilitas publik karena semua transaksi tercatat secara elektronik dan dapat diaudit. Sebuah contoh konkret terlihat di Provinsi Jawa Barat, di mana sistem digitalisasi kependudukan mengurangi duplikasi data hingga hampir 40 % dan memudahkan pencarian data bagi layanan sosial.

Namun, tidak semua unit pemerintahan memiliki kesiapan yang sama. Di daerah terpencil, keterbatasan jaringan internet menjadi penghalang utama, sehingga solusi hybrid—menggabungkan server lokal untuk aplikasi kritis dan cloud untuk beban kerja fleksibel—sering menjadi pilihan yang realistis. Dari proyek saya di Kabupaten Tapanuli Selatan, kami menyiapkan server on‑premise untuk database kependudukan yang sensitif, sementara modul pelaporan keuangan dijalankan di cloud publik untuk mengoptimalkan skalabilitas.

Cloud Computing untuk Pemerintahan: Keuntungan Biaya dan Skalabilitas

Cloud computing menawarkan model bayar‑sesuai‑pakai yang mengubah paradigma belanja TI menjadi biaya operasional (OPEX) alih‑alih investasi modal (CAPEX). Artinya, pemerintah tidak perlu lagi mengeluarkan jutaan dolar untuk membeli server fisik yang mungkin akan usang dalam lima tahun. Dari sudut pandang saya, ini memberi ruang bagi anggaran terbatas untuk dialokasikan ke program layanan publik yang lebih mendesak.

Skalabilitas menjadi nilai jual utama karena beban kerja pemerintah cenderung fluktuatif—misalnya, saat musim pajak atau kampanye vaksinasi, permintaan layanan online melonjak drastis. Dengan cloud, kapasitas penyimpanan dan komputasi dapat ditambah dalam hitungan menit tanpa mengganggu layanan yang sedang berjalan. Saya pernah menyaksikan satu kementerian menambah instance server hanya dalam 10 menit ketika portal e‑learning nasional mengalami lonjakan 300 % trafik selama ujian akhir.

Berikut beberapa manfaat biaya yang sering saya temui ketika memigrasikan aplikasi ke cloud:

  • Pemeliharaan perangkat keras berkurang hampir sepenuhnya, karena penyedia layanan mengelola patch, upgrade, dan keamanan fisik.
  • Penggunaan energi listrik dan pendinginan data center internal dapat dihemat, yang berdampak pada penurunan tagihan listrik tahunan.
  • Model lisensi perangkat lunak berbasis cloud biasanya mencakup pembaruan otomatis, sehingga organisasi tidak perlu membeli versi baru secara terpisah.

Meski demikian, tidak semua aplikasi cocok dipindah ke cloud secara langsung. Sistem yang mengelola data sensitif seperti identitas nasional atau data militer seringkali memerlukan kontrol fisik yang lebih ketat. Dalam kasus saya dengan Badan Pengelola Keuangan Daerah, kami memutuskan untuk menyimpan data keuangan kritis di server on‑premise yang berada di ruang data berakses terbatas, sementara modul analitik berbasis AI dijalankan di cloud karena memerlukan daya komputasi tinggi.

Keamanan di lingkungan cloud pun bukan sekadar janji penyedia layanan; pemerintah perlu menegakkan kebijakan enkripsi end‑to‑end, mengaktifkan autentikasi multi‑faktor, dan melakukan audit rutin. Dari pengalaman pribadi, ketika tim saya mengaudit penyimpanan dokumen publik di layanan cloud, kami menemukan bahwa konfigurasi bucket S3 yang terbuka untuk publik dapat dieksploitasi. Setelah menutup akses tersebut dan mengaktifkan logging, risiko kebocoran data berkurang secara signifikan.

Jika Anda mencari panduan praktis tentang bagaimana memulai migrasi, situs Arus Nusantara menyediakan rangkaian artikel yang menelusuri tahapan teknis, regulasi, dan contoh studi kasus yang relevan untuk pemerintah daerah. Mengikuti jejak mereka dapat membantu menghindari jebakan umum seperti under‑estimasi biaya bandwidth atau lupa menguji kompatibilitas aplikasi legacy.

Berikut beberapa langkah konkret yang saya gunakan saat memimpin transisi layanan data ke‑cloud di sebuah dinas provinsi. Pertama, buatlah daftar “critical‑to‑operate” (CTO) – layanan yang harus tetap 100 % tersedia, seperti portal pembayaran pajak online. Simpan layanan CTO di on‑premise atau cloud‑private dengan SLA > 99,9 % dan backup di lokasi terpisah. Kedua, untuk beban kerja yang bersifat “burst” – misalnya analitik kepadatan penduduk pada bulan sensus – manfaatkan layanan cloud public yang dapat di‑scale dalam hitungan menit; catat perkiraan penggunaan bandwidth agar tidak terkejut dengan tagihan yang melonjak.

Sekarang, mari kita lihat contoh nyata yang saya alami. Pada proyek integrasi sistem perizinan usaha, tim kami menemukan bahwa modul verifikasi dokumen memerlukan OCR intensif. Kami meng‑deploy container Docker ke layanan Kubernetes di cloud‑public, sementara database utama tetap di server on‑premise yang berada di ruang data ber‑akses terbatas. Hasilnya, waktu proses verifikasi turun dari 12 menit menjadi 3 menit, dan beban pada jaringan internal berkurang secara signifikan. Kunci keberhasilan? Menetapkan kebijakan “data‑in‑transit encryption” dengan TLS 1.3 dan mengaktifkan logging audit pada setiap request API.

Tips berikut ini membantu menghindari jebakan yang sering saya temui:

  • Audit kontrak SLA secara rutin. Banyak penyedia cloud menawarkan “uptime guarantee” yang tampak menggiurkan, namun tidak mencakup pemulihan bencana (disaster recovery). Pastikan ada klausul RTO < 4 jam untuk data publik yang sensitif.
  • Uji kompatibilitas aplikasi legacy. Sebelum migrasi penuh, jalankan proof‑of‑concept (PoC) pada lingkungan staging. Saya pernah menghabiskan tiga bulan karena satu modul ERP tak dapat berkomunikasi dengan API cloud karena perbedaan format timestamp.
  • Implementasikan “zero‑trust” pada jaringan. Setiap perangkat, baik di kantor pusat maupun di cabang, harus melewati autentikasi multi‑factor (MFA) dan kontrol akses berbasis peran (RBAC). Ini mengurangi risiko insider threat yang sering terlupakan dalam diskusi biaya.
  • Rencanakan de‑commissioning server on‑premise. Ketika data sudah sepenuhnya dipindahkan, matikan perangkat keras lama dan hancurkan media penyimpanan secara fisik. Saya pernah menemukan hard‑disk berisi data warga yang masih terpasang di rack setelah proyek selesai – potensi kebocoran yang tidak diinginkan.

Jika Anda masih ragu memilih antara cloud dan on‑premise, cobalah pendekatan hybrid yang saya sebut “strategi data‑layering”. Letakkan data berisiko tinggi pada lapisan on‑premise, sementara data publik atau yang memerlukan analitik berat berada di cloud. Pendekatan ini memberikan fleksibilitas biaya dan kontrol keamanan yang seimbang, cocok untuk banyak instansi pemerintah yang tengah melakukan digitalisasi pemerintahan.

Baca Juga: Pendidikan Gratis Dikaji, Pemerintah Hitung BOS hingga Kesejahteraan Guru

Pertanyaan yang Sering Ditanyakan tentang Digitalisasi pemerintahan

Apa itu digitalisasi pemerintahan?

Digitalisasi pemerintahan berarti mengubah proses administratif tradisional menjadi layanan berbasis teknologi, seperti portal daring, sistem manajemen dokumen elektronik, dan analitik data publik. Tujuannya adalah meningkatkan efisiensi, transparansi, dan akses layanan bagi warga.

Bagaimana cara memulai migrasi ke cloud untuk layanan publik?

Mulailah dengan inventarisasi aplikasi dan data, identifikasi yang cocok untuk cloud (misalnya layanan analytics atau email). Lakukan PoC pada satu modul, pastikan ada enkripsi end‑to‑end dan kebijakan IAM yang jelas, lalu skalakan secara bertahap sambil memonitor biaya bandwidth.

Apakah on‑premise lebih aman daripada cloud untuk data sensitif?

Keamanan tidak hanya tergantung pada lokasi fisik, melainkan pada kontrol akses, enkripsi, dan prosedur audit. On‑premise memberi kontrol fisik, tetapi memerlukan tim keamanan internal yang kuat. Cloud dapat menawarkan keamanan tingkat industri (mis. ISO 27001) asalkan konfigurasi dipantau secara ketat.

Apakah biaya cloud selalu lebih tinggi daripada on‑premise?

Tidak selalu. Pada fase awal, cloud biasanya lebih murah karena tidak ada investasi CAPEX. Namun, jika penggunaan sumber daya terus‑menerus tinggi, biaya operasional (OPEX) dapat melampaui total cost of ownership (TCO) on‑premise. Analisis TCO selama 3‑5 tahun membantu menentukan pilihan yang tepat.

Bagaimana cara memastikan kepatuhan regulasi data publik saat menggunakan cloud?

Pastikan penyedia cloud memiliki sertifikasi yang diakui (mis. ISO 27001, GDPR, atau standar lokal seperti ISO 22301). Terapkan kebijakan enkripsi data di‑rest dan di‑transit, serta lakukan audit log secara periodik. Banyak pemerintah Indonesia mengadopsi model “data‑sovereignty” dengan menyimpan data pada data center yang berlokasi di dalam negeri.

Apa perbedaan utama antara private cloud dan public cloud untuk pemerintah?

Private cloud biasanya dikelola secara eksklusif oleh satu entitas, memberi kontrol jaringan dan hardware yang lebih besar. Public cloud berbagi infrastruktur dengan pelanggan lain, menawarkan skalabilitas cepat dan biaya per‑paket. Pilihan tergantung pada kebutuhan kontrol data dan anggaran.

Apakah ada solusi open‑source yang cocok untuk digitalisasi pemerintahan?

Ya, platform seperti CKAN untuk katalog data terbuka, atau ODK untuk pengumpulan data lapangan, banyak dipakai oleh lembaga publik. Open‑source mengurangi lisensi, tetapi tetap memerlukan tim IT untuk pemeliharaan dan keamanan.

Kesimpulan

Digitalisasi pemerintahan bukan sekadar memindahkan server ke awan; ia menuntut strategi yang menyeimbangkan biaya, keamanan, dan kelincahan operasional. Dari pengalaman saya, tidak ada solusi “satu ukuran untuk semua”. Setiap instansi harus mengidentifikasi data mana yang benar‑benar membutuhkan kontrol fisik, dan data mana yang dapat memperoleh manfaat dari skala cloud. Dengan mengadopsi pendekatan hybrid‑layering, mengaktifkan kebijakan enkripsi end‑to‑end, serta melakukan audit rutin, risiko kebocoran dapat diminimalkan tanpa menambah beban anggaran yang tidak perlu.

Langkah selanjutnya? Buatlah peta jalan digitalisasi yang mencakup milestone audit keamanan, estimasi TCO, dan protokol migrasi. Libatkan tim keamanan sejak fase perencanaan, dan jangan ragu menguji layanan cloud melalui PoC sebelum komitmen penuh. Jika Anda membutuhkan panduan lebih detail atau layanan konsultan, kunjungi Arus Nusantara – mereka memiliki tim yang terbiasa membantu pemerintah daerah menavigasi tantangan teknis dan regulasi.

Ingat, keberhasilan digitalisasi pemerintahan terukur dari seberapa cepat layanan publik dapat diakses, seberapa aman data warga terjaga, dan seberapa transparan prosesnya bagi semua pemangku kepentingan. Pilihlah kombinasi cloud dan on‑premise yang paling sesuai dengan kebutuhan Anda, dan mulailah langkah kecil yang konsisten. Karena pada akhirnya, perubahan yang berkelanjutan lah yang akan memberi dampak nyata bagi masyarakat.

Kesalahan Umum yang Harus Dihindari

Sering kali tim TI pemerintahan terjebak pada asumsi yang tampak logis, padahal kenyataannya menimbulkan beban tambahan. Berikut lima kesalahan yang saya temui di beberapa proyek digitalisasi pemerintahan, lengkap dengan penjelasan mengapa hal itu berbahaya dan apa yang sebaiknya dilakukan.

  • Mengandalkan satu‑provider cloud tanpa evaluasi exit‑strategy. Pada satu lembaga, seluruh aplikasi dipindahkan ke layanan A dengan kontrak tiga tahun. Ketika harga bandwidth naik tajam, lembaga tersebut kesulitan beralih karena data terikat pada format proprietari. Solusinya: buat rencana migrasi multi‑cloud sejak awal, gunakan container standar (Docker, OCI) dan simpan backup data di storage on‑premise yang dapat di‑restore ke provider lain.
  • Menempatkan semua data sensitif di cloud publik tanpa segmentasi. Contoh nyata: sebuah dinas kependudukan mengupload basis data KTP lengkap ke bucket S3 yang hanya dilindungi password satu faktor. Kebocoran hampir terjadi ketika seorang admin tidak sengaja mempublikasikan URL. Pendekatan yang tepat: klasifikasikan data (tingkat tinggi, menengah, rendah) dan gunakan enkripsi‑at‑rest serta kontrol akses berbasis peran (IAM) untuk setiap level.
  • Mengabaikan audit log karena dianggap “hanya untuk kepatuhan”. Pada proyek perizinan usaha, tim mematikan logging API demi mengurangi “beban” server. Saat ada penyalahgunaan hak akses, tidak ada jejak yang dapat ditelusuri. Sebaiknya aktifkan logging terpusat (misalnya Elastic Stack) dan rotasi log tiap 30 hari, sehingga jejak audit selalu tersedia untuk forensik.
  • Meremehkan latensi jaringan antara on‑premise dan cloud. Satu kota mencoba menghubungkan sistem GIS ke analitik AI di cloud tanpa menguji kecepatan jaringan. Hasilnya, respon permintaan peta memakan waktu puluhan detik, mengganggu layanan publik. Langkah yang tepat: lakukan uji‑coba bandwidth dan jitter, lalu pertimbangkan edge‑computing atau CDN internal untuk data yang sering diakses.
  • Mengganti server fisik lama dengan VM cloud tanpa memperhitungkan biaya operasional. Pada daerah terpencil, tim meng‑upgrade server lama menjadi instance EC2 yang “lebih cepat”. Namun tagihan bulanan melonjak tiga kali lipat karena pemakaian CPU yang tidak terkontrol. Solusi: gunakan auto‑scaling grup dengan batas maksimum, atau pilih instance spot untuk beban batch yang tidak sensitif waktu.

Tips Lanjutan dari Praktisi

Setelah melewati fase “coba‑coba” pada digitalisasi pemerintahan, banyak praktisi menemukan teknik yang mengubah cara mereka mengelola infrastruktur. Berikut beberapa insight yang jarang dibahas di panduan umum, lengkap dengan contoh aplikasi nyata.

  • Manfaatkan “infrastructure as code” (IaC) untuk sinkronisasi on‑premise dan cloud. Di satu provinsi, kami menulis modul Terraform yang menggambarkan jaringan VPN, subnet, dan firewall baik di data center lokal maupun di Azure. Saat ada penambahan server baru, cukup jalankan terraform apply dan semua lingkungan otomatis ter‑update. Ini mengurangi human error hingga 70 %.
  • Gunakan “service mesh” untuk kontrol trafik microservice lintas‑cloud. Pada sistem e‑procurement, layanan autentikasi berada di on‑premise, sementara UI berada di Google Cloud. Dengan Istio, kami bisa menetapkan kebijakan retry, timeout, dan enkripsi mTLS tanpa mengubah kode aplikasi. Hasilnya, downtime saat pemeliharaan jaringan turun dari jam menjadi menit.
  • Implementasikan “data locality” untuk kepatuhan wilayah. Sejumlah kementerian wajib menyimpan data warga di server yang berada di dalam batas geografis negara. Kami menyimpan data mentah di data center Jakarta, tetapi menyalin subset teragregasi ke bucket regional di AWS (us‑east‑1) hanya untuk analitik non‑personal. Pendekatan ini mematuhi regulasi sekaligus memanfaatkan kecepatan cloud.
  • Rancang “cost guardrails” dengan alert berbasis usage pattern. Di proyek pengelolaan bencana, kami menyiapkan CloudWatch alarm yang memicu notifikasi Slack bila penggunaan CPU melebihi 80 % selama lebih dari 15 menit. Tim langsung menurunkan instance atau meng‑scale out, sehingga tagihan tidak melambung tanpa disadari.
  • Uji “disaster recovery” secara teratur dengan skenario “cold‑standby”. Seringkali, RTO yang tercantum dalam SLA tidak teruji. Kami melakukan simulasi pemadaman jaringan internal tiap kuartal, meng‑aktifkan replikasi database ke instance standby di cloud, dan mengukur waktu cut‑over. Proses ini memberi gambaran realistis tentang apa yang perlu dioptimalkan sebelum bencana sebenarnya.

Digitalisasi pemerintahan bukan sekadar pindah data ke awan atau menambah server baru. Keberhasilannya terletak pada kebiasaan memeriksa tiap keputusan, menyiapkan fallback, dan terus belajar dari kegagalan kecil. Dengan menghindari kesalahan umum dan mengadopsi teknik lanjutan di atas, lembaga publik dapat menyeimbangkan biaya, keamanan, dan kecepatan layanan—semua demi warga yang menuntut akses informasi yang cepat dan terpercaya.

  • Penulis: admin

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Cerita Pak Budi: Dari PLN Lama ke Transisi energi hijau Hemat Listrik

    Cerita Pak Budi: Dari PLN Lama ke Transisi energi hijau Hemat Listrik

    • calendar_month Sabtu, 17 Okt 2026
    • account_circle admin
    • 0Komentar

    Ringkasan Singkat: Secara umum, proses peralihan dari sumber energi fosil ke energi terbarukan—seperti tenaga surya, angin, dan biomassa—menjadi inti upaya mengurangi emisi karbon serta ketergantungan pada bahan bakar yang terbatas. Praktisi energi menekankan bahwa langkah ini tidak hanya menurunkan polusi, tetapi juga membuka peluang ekonomi baru bagi industri lokal, sehingga banyak negara kini menetapkan target […]

  • Pertumbuhan ekonomi daerah

    5 Strategi Mendorong Pertumbuhan Ekonomi Daerah dengan Data Nyata

    • calendar_month Kamis, 5 Nov 2026
    • account_circle admin
    • 0Komentar

    Ringkasan Singkat: Biasanya, pertumbuhan ekonomi daerah diukur dari peningkatan Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) dalam satu periode, yang mencerminkan seberapa cepat nilai barang dan jasa yang dihasilkan di wilayah tersebut bertambah. Faktor utama yang memengaruhi laju pertumbuhan meliputi investasi publik dan swasta, tingkat konsumsi rumah tangga, serta kontribusi sektor unggulan seperti pertanian, pariwisata, atau manufaktur. […]

  • Bahlil Ungkap RI Mau Bangun Pembangkit Nuklir di Kepulauan Riau

    Bahlil Ungkap RI Mau Bangun Pembangkit Nuklir di Kepulauan Riau

    • calendar_month Senin, 26 Okt 2026
    • account_circle Redaksi
    • 0Komentar

    JAKARTA – Pemerintah Indonesia tengah mengkaji rencana pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) di Kepulauan Riau (Kepri). Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) sekaligus Menteri Koordinator Bidang Hilirisasi dan Transisi Energi, Bahlil Lahadalia, menyebut rencana tersebut menjadi bagian dari upaya memperkuat ketahanan energi nasional. Bahlil mengatakan, Indonesia telah menjalin kerja sama dengan sejumlah pihak […]

  • Subsidi tepat sasaran: Strategi Praktis Hindari Kebocoran Anggaran

    Subsidi tepat sasaran: Strategi Praktis Hindari Kebocoran Anggaran

    • calendar_month Kamis, 8 Okt 2026
    • account_circle admin
    • 0Komentar

    Ringkasan Singkat: Program ini dirancang agar bantuan pemerintah tepat sampai pada kelompok yang paling membutuhkan—seperti petani kecil, pelaku UMKM, atau rumah tangga berpenghasilan rendah—dengan mekanisme verifikasi data yang ketat. Dengan begitu, alokasi dana publik dapat dimaksimalkan manfaatnya dan meminimalkan pemborosan. Subsidi tepat sasaran berupaya menyalurkan bantuan ke kelompok yang memang paling membutuhkan, dengan mekanisme verifikasi […]

  • Transisi energi hijau: Pelajaran Praktis dari Proyek Mikrogrid di Desa

    Transisi energi hijau: Pelajaran Praktis dari Proyek Mikrogrid di Desa

    • calendar_month Jumat, 25 Sep 2026
    • account_circle admin
    • 0Komentar

    Ringkasan Singkat: Secara umum, transisi energi hijau berarti mengalihkan sumber energi dari bahan bakar fosil ke alternatif yang lebih bersih seperti tenaga surya, angin, atau biomassa, untuk mengurangi emisi karbon dan memperbaiki ketahanan energi. Proses ini biasanya melibatkan kebijakan pemerintah, investasi teknologi, serta perubahan perilaku konsumen dan industri agar lebih berkelanjutan. Dengan langkah ini, banyak […]

  • Relawan Karhutla Gunung Ciremai Selamatkan Anak Surili dari Pohon Terbakar

    Relawan Karhutla Gunung Ciremai Selamatkan Anak Surili dari Pohon Terbakar

    • calendar_month Sabtu, 24 Okt 2026
    • account_circle Redaksi
    • 0Komentar

    KUNINGAN – Di tengah perjuangan memadamkan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di kawasan Taman Nasional Gunung Ciremai (TNGC), seorang relawan berhasil menyelamatkan seekor anak surili, satwa endemik Pulau Jawa yang dilindungi. Aksi tersebut dilakukan Darsa alias Dodo (51), anggota Kelompok Tani Hutan (KTH) Rimba Mekar dari Desa Padabeunghar, Kecamatan Pasawahan, Kabupaten Kuningan, Jawa Barat. Kisah […]

expand_less