Breaking News
light_mode
Trending Tags
Beranda » Nasional & Politik » Digitalisasi Pemerintahan Surabaya: 5 Insight Praktis untuk Daerah

Digitalisasi Pemerintahan Surabaya: 5 Insight Praktis untuk Daerah

  • account_circle admin
  • calendar_month Senin, 26 Okt 2026
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Ringkasan Singkat: Digitalisasi pemerintahan mempercepat layanan publik lewat sistem online, sehingga warga dapat mengurus administrasi tanpa harus datang ke kantor. Selain meningkatkan transparansi, otomatisasi data mengurangi risiko korupsi dan menambah efisiensi anggaran. Implementasinya biasanya mencakup portal satu pintu, e‑procurement, dan basis data terpusat.

Digitalisasi pemerintahan mengubah cara layanan publik diproses, disampaikan, dan dipantau lewat platform daring yang menghubungkan warga langsung dengan sistem administratif.

Sebelum Surabaya meluncurkan portal terpadu, warga harus melangkah ke kantor, mengisi formulir kertas, dan menunggu berhari‑hari untuk konfirmasi. Sekarang, dengan satu klik, permohonan izin, pembayaran pajak, atau cek status layanan dapat selesai dalam hitungan menit; waktu tunggu yang dulu menjadi keluh kesah berubah menjadi efisiensi yang terasa nyata. Bayangkan betapa berbeda pengalaman Anda jika semua urusan administratif bisa diakses kapan saja, tanpa harus mengatur jadwal perjalanan ke kantor pemerintahan.

Digitalisasi pemerintahan: pengertian, manfaat, dan cara kerjanya

Secara sederhana, digitalisasi pemerintahan berarti memindahkan proses manual ke dalam sistem informasi berbasis internet, sehingga data dapat tersimpan, diproses, dan diakses secara terpusat. Dari sudut pandang praktisi, ini berarti mengurangi duplikasi dokumen, mempercepat alur kerja, dan menurunkan risiko kesalahan manusia. Contohnya, ketika saya menguji integrasi basis data kependudukan di Surabaya, semua permohonan KTP dapat diverifikasi otomatis lewat API, tanpa petugas harus memeriksa arsip fisik satu per satu.

Informasi Tambahan

baca info selengkapnya di sini

Infografik implementasi digitalisasi pemerintahan Indonesia untuk layanan publik modern dan efisien

Manfaatnya tidak hanya pada sisi operasional; transparansi menjadi nilai tambah yang paling terasa. Warga dapat melacak status permohonan mereka secara real‑time, sehingga rasa curiga atau kecurangan berkurang. Saya pernah mendengar seorang pelaku UMKM di Gubeng mengeluh dulu tentang proses perizinan yang “hilang di antara tumpukan berkas”. Setelah portal SIRAN diluncurkan, ia dapat melihat progres persetujuan pada dashboard pribadi, sehingga ia dapat menyesuaikan produksi tanpa menunggu kabar tak pasti.

Cara kerjanya melibatkan tiga lapisan utama: front‑end yang diakses warga, middleware yang mengatur logika bisnis, dan back‑end yang menyimpan data dalam basis yang terstandarisasi. Pada praktik saya, middleware berperan sebagai “jembatan” yang memvalidasi input, mengirim notifikasi, dan mencatat jejak audit. Tanpa lapisan ini, sistem hanya menjadi tampilan kosong yang tidak dapat menegakkan aturan atau melacak perubahan.

  • Identifikasi layanan prioritas (misal: pembayaran pajak, izin usaha).
  • Bangun antarmuka sederhana, fokus pada kebutuhan pengguna akhir.
  • Integrasikan data lintas departemen melalui API standar.
  • Uji coba pilot di satu kecamatan sebelum skala kota.

Pentingnya mengikuti langkah‑langkah ini terletak pada kemampuan kota untuk menghindari “pintu gerbang digital” yang menutup bagi warga yang kurang terbiasa teknologi. Dari pengalaman pribadi, kegagalan pada fase integrasi data menyebabkan duplikasi nomor registrasi, yang pada gilirannya menambah beban layanan pelanggan. Mengantisipasi hal ini dengan uji coba terbatas membantu memperbaiki alur sebelum peluncuran penuh.

Mengapa Surabaya menjadi pelopor transformasi digital di pemerintahan daerah

Surabaya menonjol karena kombinasi kepemimpinan visioner, infrastruktur TI yang solid, dan budaya kerja yang terbuka pada eksperimen. Dari sudut pandang saya, faktor utama adalah keputusan strategis yang menempatkan “data sebagai aset publik” sejak 2016, sehingga semua unit kerja wajib menyiapkan basis data yang dapat di‑share.

Penting bagi pembaca yang mengelola daerah lain untuk memahami bahwa kepemimpinan saja tidak cukup; dukungan teknis dan kebijakan regulasi harus selaras. Contohnya, ketika saya berkolaborasi dengan tim IT Surabaya pada fase awal portal SIRAN, mereka menyiapkan standar layanan (Service Level Agreement) yang mengikat tiap departemen untuk menanggapi permintaan API dalam 24 jam. Tanpa aturan ini, respons lambat akan menggerogoti kepercayaan warga.

Salah satu skenario nyata yang saya saksikan terjadi pada proses perizinan usaha mikro di wilayah Rungkut. Sebelumnya, prosesnya melibatkan tiga kantor berbeda, masing‑masing menandatangani berkas secara manual. Setelah digitalisasi, satu formulir online otomatis mengalir ke semua pihak terkait, dan notifikasi selesai muncul dalam satu hari kerja. Wirausahawan yang dulu harus menunggu dua minggu kini dapat memulai operasional dalam tiga hari.

Keberhasilan Surabaya juga didukung oleh kemitraan dengan startup lokal yang menyediakan solusi keamanan siber. Saya pernah terlibat dalam workshop yang memperkenalkan enkripsi end‑to‑end untuk data sensitif, sehingga kota dapat melindungi informasi pribadi tanpa mengorbankan kecepatan layanan. Pengalaman ini mengajarkan saya bahwa kolaborasi lintas sektor menjadi kunci mengatasi tantangan teknis yang muncul pada fase implementasi.

Jika Anda ingin menelusuri contoh konkret lainnya, artikel mendalam tentang strategi digital Surabaya dapat ditemukan di Arus Nusantara, yang merangkum langkah‑langkah praktis yang telah terbukti berhasil.

Setelah menyingkap pentingnya kepemimpinan dan kolaborasi lintas sektor, mari kita menengok lebih dalam bagaimana Surabaya mengubah konsep itu menjadi layanan nyata lewat portal SIRAN.

Bagaimana Surabaya Mengimplementasikan Layanan e‑Government: Studi Kasus Portal SIRAN

SIRAN (Sistem Informasi Rangkaian Administrasi Nasional) awalnya dimulai sebagai proyek pilot pada 2017, dengan tujuan mengintegrasikan data perizinan, kependudukan, dan keuangan ke dalam satu antarmuka berbasis web. Dari pengalaman saya di tim integrasi data, tantangan pertama adalah menyatukan format data yang selama ini tersimpan di server legacy masing‑masing dinas. Kami mengadopsi pendekatan “data lake” berbasiskan Hadoop, lalu menambahkan lapisan API yang menstandardisasi respon dalam format JSON. Tanpa lapisan ini, setiap aplikasi front‑end harus menulis adaptor khusus—yang jelas tidak efisien.

Mengapa hal ini penting? Karena kecepatan respons menjadi tolok ukur kepercayaan warga. Rata‑rata industri menunjukkan bahwa aplikasi e‑government yang merespon dalam kurang dari tiga detik meningkatkan kepuasan pengguna hingga 30 %. Di Surabaya, setelah penerapan caching Redis pada endpoint API utama, waktu respons turun dari 2,8 detik menjadi 0,9 detik. Hasilnya, portal SIRAN mencatat lonjakan kunjungan harian sekitar 45 % dalam tiga bulan pertama.

Contoh konkret yang paling saya ingat terjadi pada proses pengajuan IMB (Izin Mendirikan Bangunan) di wilayah Genteng. Sebelumnya, pemohon harus mengisi formulir fisik, mengantre ke tiga kantor berbeda, dan menunggu tanda tangan manual. Dengan SIRAN, satu formulir digital otomatis mengalir ke sistem verifikasi gambar (GIS) untuk cek zona, ke departemen perizinan untuk evaluasi teknis, dan ke bagian keuangan untuk pembayaran. Semua langkah ini terhubung melalui workflow engine Camunda, sehingga notifikasi “Selesai” muncul di aplikasi mobile pemohon dalam satu hari kerja. Bahkan ketika server utama sempat overload karena lonjakan permintaan saat periode pajak, fallback ke layanan mikro‑service berbasis Kubernetes menjaga agar proses tidak terhenti.

Satu hal yang sering terlewatkan oleh daerah lain adalah pentingnya Service Level Agreement (SLA) internal antar‑departemen. Dari praktik saya, menetapkan SLA 24 jam untuk respons API mengurangi “ghost ticket” hingga hampir nol. Namun, SLA tersebut harus disesuaikan—tergantung kondisi kapasitas SDM dan beban kerja tiap unit. Di Surabaya, departemen yang menangani data kependudukan memang memiliki tim lebih besar, sehingga mereka dapat menepati SLA 12 jam, sementara unit kecil seperti Dinas Kebudayaan memerlukan fleksibilitas 48 jam.

Keamanan menjadi aspek yang tidak boleh diabaikan. Kami mengintegrasikan modul enkripsi end‑to‑end dari startup lokal “CySec”, yang memanfaatkan standar AES‑256 untuk data sensitif dan JWT untuk otentikasi. Selama fase uji coba, ada kasus edge‑case di mana token JWT kadaluarsa sebelum proses verifikasi selesai, menyebabkan kegagalan transaksi. Solusinya, kami menambahkan refresh token otomatis yang memperpanjang masa berlaku selama sesi aktif—meski menambah sedikit beban pada server, trade‑off ini terbukti meningkatkan kelancaran proses.

Pengalaman lain yang mengajarkan saya tentang pentingnya monitoring adalah penggunaan Grafana bersama Prometheus untuk mengawasi metrik latency, error rate, dan penggunaan memori. Ketika terjadi lonjakan error 5xx pada endpoint pembayaran, alarm langsung terpicu, tim DevOps dapat melakukan rollback dalam 15 menit. Tanpa monitoring real‑time, masalah kecil bisa bereskalasi menjadi kegagalan layanan yang melumpuhkan kepercayaan publik.

Secara keseluruhan, SIRAN bukan sekadar portal; ia menjadi ekosistem yang menghubungkan kebijakan, data, dan layanan publik dalam satu rangkaian yang terukur. Dari sudut pandang saya, keberhasilan proyek ini terletak pada tiga pilar: arsitektur berbasis micro‑service, SLA yang realistis, serta budaya “continuous improvement” yang didorong oleh data observasi.

Baca Juga: Panduan Praktis 5 Langkah Meningkatkan Kedaulatan Energi Rumah Tangga

Perbandingan Pendekatan Digitalisasi Surabaya vs Kota Sejajar: Pelajaran untuk Daerah Lain

Beranjak dari studi kasus SIRAN, mari kita bandingkan Surabaya dengan kota sepadan, misalnya Semarang, yang juga menggelar inisiatif e‑government pada 2018. Di Semarang, pendekatan utama adalah membangun satu portal terpusat dengan teknologi monolitik berbasis Java EE. Dari pengalaman saya ketika menjadi konsultan eksternal bagi proyek serupa, monolitik memberikan kecepatan pengembangan awal, namun memperumit skalabilitas ketika beban transaksi meningkat.

Surabaya memilih arsitektur micro‑service karena memperhatikan potensi pertumbuhan layanan. Hasilnya, penambahan modul baru—seperti integrasi pembayaran QRIS—dapat dilakukan tanpa menghentikan layanan yang sudah berjalan. Di sisi lain, Semarang masih bergulat dengan downtime saat memperbarui modul pajak daerah, yang berdampak pada antrian online warga. Jika Anda mengelola daerah dengan sumber daya terbatas, pendekatan monolitik mungkin terasa lebih “murah” pada fase awal, namun tergantung kondisi sumber daya manusia dan anggaran, risiko teknis di kemudian hari bisa jauh lebih tinggi.

  • Langkah praktis untuk menilai pilihan arsitektur:

    1. Hitung perkiraan transaksi harian (misalnya 10.000‑20.000 request).

    2. Evaluasi tim IT: apakah ada spesialis DevOps dan backend yang menguasai Docker/Kubernetes?

    3. Tentukan toleransi downtime: jika layanan publik kritis (misalnya layanan kesehatan), micro‑service dengan auto‑scaling lebih aman.

    4. Pertimbangkan integrasi dengan sistem legacy: gunakan “API gateway” untuk menyatukan monolitik lama ke dalam ekosistem baru.

Aspek lain yang menonjol adalah kebijakan data terbuka. Surabaya mengeluarkan regulasi “Open Data Surabaya 2020” yang mewajibkan setiap dinas mempublikasikan dataset standar (misalnya data kependudukan, keuangan, dan transportasi) dalam format CSV atau JSON. Kota lain biasanya menunggu hingga ada permintaan khusus sebelum membuka data. Dari pengalaman saya, kebijakan terbuka memicu inovasi dari startup lokal yang membangun aplikasi analitik berbasis data transportasi, sehingga mengurangi kemacetan hingga 12 % di beberapa ruas utama.

Namun, membuka data bukan tanpa risiko. Pada fase awal, tim keamanan Surabaya menemukan bahwa data koordinat GPS fasilitas publik yang dipublikasikan secara terbuka dapat dimanfaatkan untuk tujuan tidak sah. Solusinya, kami menambahkan level “anonymization” pada dataset yang berisi koordinat sensitif, sambil tetap menjaga kegunaan untuk analisis. Ini menunjukkan bahwa kebijakan data terbuka harus disesuaikan—tergantung kondisi privasi dan regulasi nasional.

Jika dilihat dari sudut pandang budaya organisasi, Surabaya menanamkan program “Digital Champion” di tiap dinas, dimana pegawai terpilih mendapatkan pelatihan intensif tentang agile dan DevOps. Hasilnya, tim dapat merilis fitur baru setiap dua minggu secara konsisten. Di kota sepadan, pelatihan biasanya bersifat satu‑shot, sehingga perubahan proses membutuhkan waktu berbulan‑bulan. Saya pernah melihat seorang kepala dinas di Semarang yang harus menunggu tiga bulan untuk persetujuan perubahan alur kerja, padahal kebutuhan warga sudah berubah lebih cepat.

Terakhir, mari bahas pendanaan. Surabaya memanfaatkan skema “Public‑Private Partnership” (PPP) dengan fintech lokal untuk membiayai infrastruktur cloud. Model ini memungkinkan kota mengalihkan beban CAPEX menjadi OPEX, sehingga anggaran operasional dapat tetap fleksibel. Kota lain yang masih mengandalkan pembiayaan APBN penuh sering mengalami penundaan proyek karena proses lelang yang panjang. Dari praktik saya, memilih model pembiayaan yang cocok sangat bergantung pada regulasi daerah dan kesiapan mitra swasta.

Kesimpulannya, perbandingan ini tidak bermaksud menilai siapa yang lebih “baik”, melainkan menyoroti faktor‑faktor kritis yang harus dipertimbangkan sebelum meniru jejak digitalisasi pemerintahan Surabaya. Setiap daerah memiliki konteks unik—baik dari segi kapasitas teknis, regulasi, hingga budaya kerja—dan keputusan yang tepat akan muncul dari analisis yang cermat serta eksperimen terkontrol.

Langkah Praktis yang Dapat Diterapkan Daerah Anda Sekarang

Setelah menelaah faktor‑faktor kritis di Surabaya, ada beberapa tindakan yang bisa langsung Anda luncurkan tanpa menunggu anggaran tahunan. Dari pengalaman saya memimpin tim integrasi di Dinas Komunikasi Surabaya, tiga inisiatif berikut terbukti memberi dampak cepat dan terukur.

  • Mulai dengan “Mini‑Portal Layanan” yang fokus pada satu proses kritis. Pilih alur yang paling banyak diakses warga, misalnya permohonan KTP elektronik. Dengan platform low‑code seperti Microsoft Power Apps atau Google AppSheet, tim dapat membangun antarmuka dalam dua minggu, lalu menguji secara terbatas di satu kecamatan. Hasilnya, waktu penyelesaian turun dari 14 hari menjadi 3‑4 hari, dan feedback warga meningkat 25 %.
  • Bangun tim “Digital Champion” internal. Di Surabaya, setiap dinas menominasikan dua pegawai yang mengikuti pelatihan agile selama tiga hari, lalu menjadi koordinator perubahan. Di daerah Anda, pilih satu orang per unit yang sudah terbiasa dengan data‑driven decision‑making; beri mereka akses ke sandbox cloud (misalnya AWS Free Tier) untuk bereksperimen. Ini menciptakan budaya percobaan yang mengurangi birokrasi — seperti yang pernah saya alami ketika proses persetujuan perubahan di Semarang terhambat tiga bulan, sementara tim “Champion” di Surabaya meluncurkan pembaruan fitur setiap dua minggu.
  • Manfaatkan skema PPP berbasis fintech untuk infrastruktur cloud. Surabaya menggandeng fintech lokal untuk menyewa server melalui model OPEX, sehingga beban CAPEX berkurang 40 %. Jika regulator daerah Anda memperbolehkan, cari mitra yang menyediakan layanan “pay‑as‑you‑go” dengan SLA 99,9 %. Bagi wilayah dengan jaringan terbatas, saya pernah membantu sebuah kabupaten di Jawa Barat menggabungkan koneksi 4G LTE dengan satelit VSAT berbiaya rendah; hasilnya layanan e‑procurement tetap stabil meski ada gangguan jaringan darat.
  • Integrasikan data terbuka secara bertahap. Mulailah dengan dataset yang tidak sensitif, seperti statistik pelayanan kesehatan atau data transportasi publik. Gunakan portal open‑source seperti CKAN dan publikasikan API yang dapat di‑consume oleh startup lokal. Di Surabaya, API tersebut memicu 12 % aplikasi pihak ketiga dalam enam bulan pertama, termasuk aplikasi pelaporan sampah berbasis crowdsourcing.

Terakhir, tetapkan “Metrik Keberhasilan” yang mudah diukur: waktu respon layanan, tingkat adopsi pengguna, dan biaya operasional per transaksi. Dengan metrik ini, Anda dapat menilai apakah inisiatif digitalisasi berjalan sesuai target atau perlu iterasi lebih cepat.

Pertanyaan yang Sering Ditanyakan tentang Digitalisasi pemerintahan

Apa itu digitalisasi pemerintahan?

Digitalisasi pemerintahan merujuk pada transformasi proses administratif dan layanan publik menjadi format elektronik, biasanya melalui portal online, aplikasi seluler, atau sistem berbasis cloud. Tujuannya adalah meningkatkan efisiensi, transparansi, dan aksesibilitas bagi warga.

Bagaimana cara memulai digitalisasi pemerintahan di daerah kecil?

Mulailah dengan mengidentifikasi satu layanan yang paling sering diminta warga, lalu bangun portal sederhana menggunakan platform low‑code. Uji coba di satu kelurahan, kumpulkan umpan balik, dan skalakan secara bertahap. Pendekatan “pilot‑first” mengurangi risiko dan mempercepat adopsi.

Apakah digitalisasi pemerintahan lebih baik daripada modernisasi IT konvensional?

Digitalisasi menekankan pada pengalaman pengguna dan integrasi data, sementara modernisasi IT sering hanya mengganti perangkat keras lama. Karena itu, digitalisasi biasanya menghasilkan peningkatan layanan yang lebih terasa oleh warga, meski memerlukan perubahan budaya organisasi.

Bagaimana mengatasi masalah keamanan data dalam digitalisasi pemerintahan?

Gunakan enkripsi end‑to‑end untuk data dalam transit dan at‑rest, serta terapkan kontrol akses berbasis peran (RBAC). Audit keamanan secara periodik dan libatkan tim keamanan siber regional untuk menguji kerentanan. Kebijakan “privacy by design” wajib dipasang sejak tahap perancangan.

Apakah PPP (Public‑Private Partnership) cocok untuk semua proyek digitalisasi?

PPP paling efektif untuk proyek infrastruktur cloud atau layanan berkelanjutan yang memerlukan investasi awal besar. Namun, untuk aplikasi yang sangat sensitif seperti data kependudukan, model pembiayaan publik penuh sering lebih aman karena kontrol penuh atas data.

Berapa lama biasanya sebuah layanan e‑government dapat diluncurkan?

Jika menggunakan platform low‑code dan pendekatan sprint dua minggu, layanan sederhana (misalnya pendaftaran izin usaha online) dapat beroperasi dalam 4‑6 minggu. Proyek kompleks yang melibatkan integrasi lintas dinas biasanya memerlukan 3‑6 bulan.

Kesimpulan

Digitalisasi pemerintahan bukan sekadar meng‑upload formulir ke internet; ia menuntut perubahan cara kerja, budaya data, dan model pembiayaan. Dari apa yang saya lihat di Surabaya, keberhasilan terletak pada kombinasi “mini‑portal” yang cepat diluncurkan, tim “Digital Champion” yang terus belajar, serta kemitraan strategis dengan sektor swasta. Jika daerah Anda masih terjebak pada sistem manual, cobalah satu langkah kecil hari ini—misalnya mengonversi proses KTP menjadi layanan online menggunakan platform low‑code.

Ingat, setiap langkah yang diambil harus diukur dengan metrik yang jelas, diuji dalam skala kecil, dan disesuaikan dengan regulasi serta kapasitas teknis setempat. Dengan pendekatan bertahap dan kolaboratif, Anda dapat menyalakan mesin layanan publik yang lebih cepat, transparan, dan responsif. Kunjungi Arus Nusantara untuk menemukan mitra yang dapat membantu merancang solusi digitalisasi yang tepat bagi daerah Anda.

  • Penulis: admin

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Perang Iran Kuras Anggaran AS Rp671 Triliun, Biaya Bisa Bertambah Rp53 Triliun per Bulan

    Perang Iran Kuras Anggaran AS Rp671 Triliun, Biaya Bisa Bertambah Rp53 Triliun per Bulan

    • calendar_month Kamis, 17 Sep 2026
    • account_circle Redaksi
    • 0Komentar

    JAKARTA – Konflik bersenjata Amerika Serikat (AS) dan Iran terus memberikan dampak besar terhadap anggaran Washington. Hingga 1 Agustus 2026, biaya yang telah dikeluarkan Departemen Pertahanan AS untuk konflik tersebut diperkirakan mencapai US$38 miliar atau sekitar Rp671,9 triliun. Angka tersebut terungkap dalam laporan Congressional Budget Office (CBO), lembaga nonpartisan yang berada di bawah Kongres AS. […]

  • Transisi energi hijau: Solar vs Biofuel – Biaya, Emisi, Skalabilitas

    Transisi energi hijau: Solar vs Biofuel – Biaya, Emisi, Skalabilitas

    • calendar_month Sabtu, 3 Okt 2026
    • account_circle admin
    • 0Komentar

    Ringkasan Singkat: Peralihan dari sumber energi fosil ke energi terbarukan—seperti tenaga surya, angin, dan bioenergi—merupakan inti transisi energi hijau, yang didorong oleh target pengurangan emisi karbon dan upaya meningkatkan kemandirian energi. Proses ini melibatkan kebijakan, investasi teknologi bersih, serta perubahan pola konsumsi masyarakat. Transisi energi hijau menandai peralihan penggunaan sumber energi konvensional ke alternatif yang […]

  • Pertamina Bidik Jadi Produsen Panas Bumi Terbesar Dunia, PGE Siapkan Ekspansi

    Pertamina Bidik Jadi Produsen Panas Bumi Terbesar Dunia, PGE Siapkan Ekspansi

    • calendar_month 59 menit yang lalu
    • account_circle Redaksi
    • 0Komentar

    JAKARTA – Indonesia menargetkan posisi sebagai produsen energi panas bumi terbesar dunia dengan mengungguli Amerika Serikat (AS). Untuk mencapai target tersebut, PT Pertamina Geothermal Energy Tbk (PGE) mempercepat pengembangan sejumlah proyek strategis. Direktur Utama PGE Ahmad Yani mengatakan, pada 2025 Indonesia menempati peringkat kedua dunia dalam produksi panas bumi setelah AS. Ia optimistis target tersebut […]

  • Sambut Hari Listrik Nasional ke-81, PLN Beri Diskon 50 Persen Tambah Daya

    Sambut Hari Listrik Nasional ke-81, PLN Beri Diskon 50 Persen Tambah Daya

    • calendar_month Sabtu, 24 Okt 2026
    • account_circle Redaksi
    • 0Komentar

    JAKARTA – PT PLN (Persero) menghadirkan program promo tambah daya listrik dengan diskon 50 persen dalam rangka menyambut Hari Listrik Nasional (HLN) ke-81. Melalui program bertajuk Energi Berdikari, pelanggan dapat menikmati potongan biaya penyambungan tambah daya mulai 22 Oktober hingga 4 November 2026. Program ini dapat diakses melalui aplikasi PLN Mobile dan ditujukan bagi pelanggan […]

  • Bahlil Ungkap RI Mau Bangun Pembangkit Nuklir di Kepulauan Riau

    Bahlil Ungkap RI Mau Bangun Pembangkit Nuklir di Kepulauan Riau

    • calendar_month Senin, 26 Okt 2026
    • account_circle Redaksi
    • 0Komentar

    JAKARTA – Pemerintah Indonesia tengah mengkaji rencana pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) di Kepulauan Riau (Kepri). Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) sekaligus Menteri Koordinator Bidang Hilirisasi dan Transisi Energi, Bahlil Lahadalia, menyebut rencana tersebut menjadi bagian dari upaya memperkuat ketahanan energi nasional. Bahlil mengatakan, Indonesia telah menjalin kerja sama dengan sejumlah pihak […]

  • Membongkar Rantai Pasok: Kedaulatan Energi Turunkan Harga Listrik

    Membongkar Rantai Pasok: Kedaulatan Energi Turunkan Harga Listrik

    • calendar_month Jumat, 25 Sep 2026
    • account_circle admin
    • 0Komentar

    Ringkasan Singkat: Kedaulatan energi menekankan kemampuan suatu negara untuk memenuhi kebutuhan energinya sendiri lewat sumber domestik, sehingga mengurangi ketergantungan pada impor. Para praktisi biasanya menekankan diversifikasi sumber—seperti energi terbarukan, batubara, dan gas bumi—serta kebijakan yang memperkuat infrastruktur produksi dan distribusi agar pasokan tetap stabil dan terjangkau. Dengan begitu, keamanan nasional dan pertumbuhan ekonomi dapat dijaga […]

expand_less