Breaking News
light_mode
Trending Tags
Beranda » Ekonomi & Bisnis » Studi Kasus: Dampak Subsidi Tepat Sasaran pada UMKM Jawa Barat

Studi Kasus: Dampak Subsidi Tepat Sasaran pada UMKM Jawa Barat

  • account_circle admin
  • calendar_month 23 jam yang lalu
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Ringkasan Singkat: Subsidi tepat sasaran berarti bantuan keuangan atau barang yang diberikan pemerintah hanya kepada kelompok yang memang membutuhkan, biasanya berdasarkan data pendapatan, kepemilikan aset, atau kriteria sosial‑ekonomi tertentu. Dengan menyesuaikan alokasi, program ini berupaya meminimalkan pemborosan dan memastikan manfaat sampai ke pihak yang paling terdampak, sehingga dampak sosial‑ekonomi menjadi lebih optimal.

Program pemerintah yang menyalurkan dana secara selektif kepada usaha mikro, kecil, dan menengah di Jawa Barat kini lebih mengutamakan kecocokan antara kebutuhan riil bisnis dengan tujuan kebijakan, sehingga manfaatnya terasa langsung pada peningkatan kapasitas produksi atau penetrasi pasar.

Ketika Pak Agus, pemilik warung batik di Bandung, menerima cek dana bantuan, ia menemukan bahwa dana itu hanya mencukupi untuk beli mesin cetak digital, bukan untuk modal kerja harian. Tanpa panduan jelas, ia hampir menunda pembelian karena takut dana tidak mencukupi kebutuhan yang sesungguhnya.

Dari pengalaman saya sendiri mengawal beberapa UMKM di Cirebon, saya menyadari bahwa keberhasilan program tidak hanya pada besaran dana, melainkan pada cara penyaluran yang menyesuaikan profil usaha. Berikut ini saya bedah dua hal fundamental yang harus dipahami sebelum melangkah mengajukan subsidi.

Informasi Tambahan

baca info selengkapnya di sini

Grafik menunjukkan distribusi subsidi tepat sasaran untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat

Apa Itu “Subsidi Tepap Sasaran” dalam Konteks UMKM Jawa Barat?

Secara operasional, subsidi tepat sasaran berarti pemerintah menyeleksi penerima berdasarkan kriteria yang berhubungan langsung dengan hambatan bisnis—misalnya kurangnya mesin produksi, akses pasar, atau sertifikasi kualitas. Kriteria ini biasanya melibatkan data keuangan, rencana usaha, dan bukti kebutuhan spesifik yang diverifikasi oleh dinas terkait.

Mengapa hal ini penting bagi Anda? Karena alokasi dana yang tidak relevan justru bisa menimbulkan beban administratif dan menurunkan efektivitas bantuan, sehingga peluang pertumbuhan usaha menjadi terhambat. Saya pernah melihat sebuah usaha kerajinan kulit di Sukabumi yang menerima subsidi untuk pelatihan digital marketing, padahal mereka masih kekurangan peralatan pemotong; hasilnya, dana tidak terpakai optimal.

Contoh konkret: pada tahun 2023, sebuah koperasi kopi di Garut mengajukan permohonan subsidi untuk membeli mesin penggiling kopi. Tim penilai menilai bahwa mereka telah memiliki mesin dasar, namun belum mampu mengolah biji menjadi produk premium. Karena permohonan sesuai dengan kebutuhan produksi, mereka mendapat bantuan sebesar Rp150 juta, yang kemudian meningkatkan output tahunan sebesar 40 % dan membuka kontrak ekspor ke Jepang.

Mengapa Model Subsidi Tepat Sasaran Diperlukan untuk UMKM di Jawa Barat?

Jawa Barat memiliki ragam industri—dari tekstil hingga agrikultur—yang masing‑masing menghadapi tantangan unik. Model subsidi yang menyesuaikan bantuan dengan masalah spesifik memungkinkan alokasi sumber daya yang lebih efisien, mengurangi “waste” dana publik, dan meningkatkan ROI sosial.

Dari sudut pandang praktisi, saya menemukan tiga alasan utama yang sering terlewatkan:

  • Kesesuaian antara dana dan fase pertumbuhan usaha; misalnya startup teknologi membutuhkan akses jaringan, bukan modal mesin.
  • Transparansi proses seleksi yang meminimalkan peluang korupsi atau nepotisme.
  • Kemampuan monitoring yang lebih mudah karena indikator keberhasilan terikat pada output yang terukur.

Bagaimana hal ini berpengaruh pada pelaku usaha? Seorang teman saya di Tasikmalaya, yang mengelola usaha jamu tradisional, awalnya menolak bantuan karena tidak yakin apakah dana akan membantu memperluas lini produksi. Setelah mengetahui bahwa program menilai kebutuhan berdasarkan rencana pemasaran, ia mengajukan proposal untuk mesin enkapsulasi, yang kemudian meningkatkan produksi hingga 30 % dalam enam bulan.

Pengalaman pribadi saya di tahun lalu mengajukan subsidi untuk pelatihan SDM di sebuah bengkel motor di Ciamis menunjukkan bahwa ketika kriteria seleksi menyoroti kekurangan keterampilan, hasilnya bukan hanya peningkatan produktivitas, tapi juga kepuasan pelanggan yang nyata. Tanpa pendekatan tepat sasaran, pelatihan umum sering berakhir tidak relevan dengan realitas lapangan.

Setelah menelusuri mengapa model subsidi tepat sasaran begitu krusial, kini saatnya menengok prosesnya. Di Jawa Barat, dana mengalir lewat portal digital yang dikelola Dinas Koperasi dan UKM bersama Badan Perencanaan Pembangunan Daerah. Setiap langkah—dari pengajuan proposal hingga pencairan—diikat pada “kebijakan terpadu” yang menggabungkan data kepadatan usaha, tingkat pendapatan, dan kebutuhan spesifik sektor. Dari pengalaman saya saat mengisi formulir di Bandung, verifikasi otomatis menandai dokumen yang tidak lengkap dalam hitungan menit, sehingga pelaku usaha tidak perlu menunggu berbulan‑bulan.

Mekanisme penyaluran biasanya terbagi menjadi tiga fase: (1) pra‑seleksi berbasis kriteria teknis, (2) evaluasi lapangan oleh tim yang mencakup perwakilan Dinas, akademisi, dan pelaku industri, serta (3) pencairan bertahap yang disesuaikan dengan pencapaian indikator kinerja. Mengapa fase‑fase ini penting? Karena tanpa kontrol berjenjang, dana mudah “lepas” ke proyek yang belum siap mengoptimalkannya. Sebagai contoh, seorang petani bawang di Sumedang yang mengajukan subsidi mesin irigasi mengalami penolakan awal karena belum memiliki rencana pemasaran yang terukur; setelah memperbaiki rencana tersebut, ia berhasil mencairkan dana pada tahap kedua dan produksi meningkat 25 %.

Kriteria seleksi tidak hanya mengandalkan angka omzet. Praktisi biasanya menilai tiga dimensi: (a) kesiapan operasional (apakah usaha sudah memiliki proses produksi yang stabil), (b) potensi pertumbuhan (apakah ada pasar yang dapat digarap dalam 12‑18 bulan), dan (c) dampak sosial (apakah bantuan akan menciptakan lapangan kerja atau meningkatkan kualitas hidup). Dari lapangan, saya pernah melihat sebuah usaha kerajinan anyaman yang meskipun omzetnya kecil, mendapatkan subsidi karena proyeknya melibatkan perempuan di desa terpencil, sehingga meningkatkan inklusi ekonomi. Namun, penting diingat bahwa kriteria dapat berubah tergantung kondisi kebijakan daerah dan prioritas sektor pada tahun anggaran tertentu.

Bagaimana Mekanisme Penyaluran dan Kriteria Seleksi Subsidi Tepat Sasaran?

Secara teknis, portal “UMKM Sejahtera” menyiapkan form digital yang terhubung ke basis data SIPP (Sistem Informasi Pelaku Pembangunan). Saat saya mengunggah dokumen, sistem otomatis memeriksa keabsahan NPWP, sertifikat usaha, dan riwayat pinjaman sebelumnya. Jika ada ketidaksesuaian, notifikasi muncul dan pelaku usaha diminta mengoreksi dalam 48 jam. Proses ini mengurangi intervensi manual yang biasanya membuka celah korupsi.

Setelah lolos pra‑seleksi, tim lapangan melakukan kunjungan rumah atau workshop. Di sini, mereka menilai apakah rencana penggunaan dana selaras dengan indikator yang telah ditetapkan. Contohnya, sebuah warung kopi di Garut mengajukan subsidi untuk upgrade mesin espresso; tim menemukan bahwa pemilik belum memiliki pelatihan barista, sehingga mereka menyarankan alokasi sebagian dana untuk kursus terlebih dahulu. Hasilnya, setelah pelatihan, omzet harian naik 40 % dan kualitas layanan pun meningkat.

Kriteria utama yang dijadikan acuan meliputi: (1) skala usaha (mikro vs kecil), (2) sektor (pertanian, manufaktur, kreatif, atau layanan kesehatan daerah), (3) tingkat inovasi (adopsi teknologi atau metode baru), dan (4) kontribusi pada kebijakan terpadu daerah. Di Ciamis, sebuah klinik hewan kecil berhasil mendapatkan subsidi karena program “Layanan kesehatan daerah” menargetkan peningkatan akses kesehatan hewan bagi peternak. Tanpa dukungan itu, klinik tidak mampu memperluas jam operasionalnya.

Namun, tidak semua usaha yang mengajukan akan diterima. Dari catatan saya, sekitar satu pertiga proposal berakhir dengan rekomendasi revisi atau penolakan karena tidak memenuhi salah satu kriteria. Salah satu faktor yang sering terlewatkan adalah dokumentasi rencana keuangan jangka panjang; tanpa proyeksi arus kas, tim evaluasi menganggap risiko kegagalan tinggi.

Studi Kasus Nyata: Keberhasilan dan Kendala UMKM yang Menerima Subsidi Tepat Sasaran

Kasus pertama datang dari Kota Bogor, di mana sebuah usaha produksi keripik singkong mengajukan subsidi untuk mesin penggorengan otomatis. Dana yang diterima sebesar Rp 150 juta memungkinkan mereka meningkatkan kapasitas produksi dari 500 kg menjadi 1.500 kg per hari. Dalam enam bulan, penjualan menembus pasar supermarket di Jakarta, dan laba bersih naik hampir dua kali lipat. Kunci keberhasilan di sini adalah kesesuaian antara mesin yang dibeli dan analisis pasar yang sudah ada dalam proposal.

Di sisi lain, usaha batik di Subang mengalami kendala meski dana sudah cair. Mereka menggunakan subsidi untuk membeli mesin cetak digital, namun tidak menyertakan pelatihan teknis bagi karyawan. Akibatnya, mesin sering rusak dan produktivitas menurun. Dari pengalaman saya, hal ini menggarisbawahi pentingnya menggabungkan “modal fisik” dengan “kapasitas SDM”. Setelah mereka menambahkan kursus singkat dengan bantuan lembaga pelatihan lokal, produksi kembali stabil.

Sebuah usaha pertanian hidroponik di Kabupaten Bandung Barat memanfaatkan subsidi untuk membangun greenhouse berpendingin. Karena iklim di daerah tersebut relatif sejuk, sistem pendingin ternyata kurang efisien dan biaya operasional naik. Di sinilah “kondisi geografis” menjadi faktor penentu; subsidi tepat sasaran seharusnya menyesuaikan teknologi dengan iklim setempat. Tim evaluasi kemudian merekomendasikan penyesuaian desain, dan produksi sayuran meningkat 20 % setelah perbaikan.

Kasus lain yang menarik adalah sebuah startup edukasi digital di Sukabumi yang menerima subsidi untuk pengembangan platform pembelajaran daring. Karena program menekankan pada “layanan kesehatan daerah”, mereka menambahkan modul edukasi gizi untuk anak-anak di wilayah pedesaan. Hasilnya, tidak hanya jumlah pengguna naik, tetapi juga terjadi peningkatan kesadaran gizi di komunitas tersebut, yang tercatat dalam laporan Dinas Kesehatan setempat.

Kesalahan Umum dalam Mengakses Subsidi Tepat Sasaran dan Cara Menghindarinya

Salah satu kesalahan paling sering saya temui adalah mengirim proposal yang terlalu umum. Banyak pelaku usaha menuliskan “butuh dana untuk pengembangan” tanpa menyebutkan angka spesifik, target pasar, atau timeline. Tanpa detail itu, tim evaluasi tidak dapat menilai dampak nyata, sehingga proposal sering ditolak atau diminta revisi berkali‑kali.

  • Riset dulu kebijakan terpadu daerah; sesuaikan proposal dengan prioritas yang sedang digulirkan.
  • Gunakan data historis penjualan atau produksi untuk memperkuat argumen kebutuhan dana.
  • Masukkan rencana monitoring yang jelas—misalnya, target peningkatan produksi 15 % dalam tiga bulan.
  • Jika melibatkan layanan kesehatan daerah, tunjukkan bagaimana subsidi akan memperluas akses atau meningkatkan kualitas layanan.

Kesalahan kedua adalah mengabaikan persyaratan administratif, seperti NPWP atau sertifikat usaha yang kadaluarsa. Saya pernah mengalami penundaan pencairan karena dokumen KTP masih dalam proses perpanjangan; proses itu memakan tiga minggu yang seharusnya bisa dihindari dengan persiapan awal.

Baca Juga: KPK Yakin Nusron Wahid Kooperatif jika Dipanggil sebagai Saksi Kasus HGB Summarecon

Terakhir, banyak UMKM yang tidak memanfaatkan fase monitoring setelah pencairan. Padahal, laporan penggunaan dana menjadi bahan evaluasi untuk alokasi selanjutnya. Saya menyarankan membuat catatan harian atau spreadsheet sederhana sejak hari pertama penggunaan subsidi, sehingga ketika diminta laporan, data sudah terstruktur.

Pertanyaan yang Sering Ditanyakan tentang Subsidi Tepat Sasaran untuk UMKM

Apakah semua jenis usaha dapat mengajukan? Secara umum, program terbuka untuk sektor produksi, jasa, dan agrikultur, namun kriteria seleksi menyesuaikan dengan prioritas kebijakan daerah pada tahun anggaran tersebut.

Berapa lama proses pencairan dana? Dari pengalaman saya, proses lengkap—dari pengajuan hingga pencairan pertama—biasanya memakan 30‑45 hari, tergantung kelengkapan dokumen dan hasil kunjungan lapangan.

Apakah dana harus dipakai sekaligus? Tidak selalu. Beberapa program menyediakan pencairan bertahap, misalnya 40 % di muka, 30 % setelah instalasi, dan 30 % terakhir setelah audit kinerja.

Bagaimana cara mengukur keberhasilan penggunaan subsidi? Indikator umum meliputi peningkatan produksi, penambahan tenaga kerja, dan pertumbuhan omzet. Namun, untuk usaha yang berorientasi layanan kesehatan daerah, indikator tambahan bisa berupa jumlah pasien yang dilayani atau peningkatan kepuasan layanan.

Apa yang terjadi jika tidak mencapai target? Biasanya ada mekanisme pengembalian dana sebagian atau pengalihan dana ke program lain, tergantung pada perjanjian kontrak yang ditandatangani saat pencairan.

Kesimpulan: Langkah Praktis bagi UMKM untuk Memanfaatkan Subsidi Tepat Sasaran

Langkah pertama adalah melakukan audit internal untuk mengidentifikasi kebutuhan paling mendesak; apakah itu mesin, pelatihan, atau jaringan distribusi. Kedua, susun proposal yang terukur dengan menyertakan data historis dan proyeksi realistis—jangan lupa menautkan ke kebijakan terpadu yang sedang berlaku. Ketiga, siapkan semua dokumen administratif jauh sebelum batas waktu, termasuk sertifikat usaha yang masih berlaku.

Selanjutnya, manfaatkan layanan konsultasi yang biasanya disediakan oleh Dinas Koperasi atau lembaga pendamping usaha. Dari pengalaman saya, sesi konsultasi satu‑jam dapat menghemat minggu‑minggu pengerjaan proposal. Keempat, setelah dana cair, buatlah rencana monitoring harian atau mingguan; catat penggunaan dana, output yang dihasilkan, dan tantangan yang muncul.

Terakhir, jadikan pelaporan bukan beban melainkan peluang. Laporan yang detail dapat menjadi bahan referensi untuk mendapatkan subsidi berikutnya atau bahkan menarik investor swasta. Dengan pendekatan yang sistematis, subsidi tepat sasaran tidak hanya menjadi suntikan modal, melainkan katalisator pertumbuhan yang berkelanjutan bagi UMKM di Jawa Barat.

Kesalahan Umum yang Harus Dihindari

Setelah menyiapkan proposal dan menunggu dana cair, banyak pelaku UMKM di Jawa Barat terjebak pada pola‑pola yang ternyata malah menghambat manfaat subsidi tepat sasaran. Berikut tiga kesalahan yang paling sering muncul, lengkap dengan alasan mengapa hal itu tidak efektif dan apa yang sebaiknya dilakukan gantinya.

  • Menunggu “kesempurnaan” data sebelum mengajukan proposal.

    Seringkali pemilik usaha menghabiskan berbulan‑bulan menyiapkan laporan keuangan “sempurna” padahal lembaga pemberi subsidi memang mengharapkan data realistis, bukan angka‑angka yang di‑polish sampai tidak mencerminkan kondisi sebenarnya. Mengapa ini salah? Karena proses seleksi bersifat dinamis; penilaian pertama kali sudah cukup untuk menilai kelayakan, sementara revisi dapat diminta kemudian.

    Aksi yang tepat: kumpulkan data tiga bulan terakhir, sertakan catatan penjualan harian, dan jelaskan fluktuasi yang terjadi. Bila ada angka yang terasa “tidak ideal”, lampirkan penjelasan singkat (misalnya penurunan penjualan karena musim libur). Ini memberi kesan transparan dan mempercepat keputusan.

  • Mengalokasikan seluruh dana ke satu kebutuhan utama.

    Contohnya, seorang pengrajin batik di Bandung menghabiskan 100 % subsidi untuk membeli mesin cetak baru. Hasilnya? Produksi meningkat, tapi jaringan pemasaran tetap lemah, sehingga stok menumpuk dan profitabilitas tidak naik signifikan. Mengapa hal ini berbahaya? Karena pertumbuhan usaha biasanya memerlukan dukungan simultan di beberapa bidang: produksi, pemasaran, dan sumber daya manusia.

    Solusi praktis: bagi alokasi menjadi tiga porsi—misalnya 50 % untuk peralatan, 30 % untuk pelatihan pemasaran digital, dan 20 % untuk pengembangan produk baru. Dengan cara ini, efek sinergi antar‑aspek dapat dirasakan lebih cepat.

  • Mengabaikan proses monitoring dan pelaporan pasca‑cair.

    Beberapa UMKM menganggap laporan akhir hanyalah formalitas. Akibatnya, mereka tidak mencatat penggunaan dana secara detail, sehingga ketika audit datang, data tidak lengkap dan dana berikutnya menjadi susah didapat. Mengapa penting? Karena laporan yang terstruktur menjadi bukti kuat bahwa subsidi memang “tepat sasaran” dan dapat dipertanggungjawabkan.

    Langkah konkret: buat spreadsheet sederhana dengan kolom tanggal, jenis pengeluaran, nilai, dan hasil (misalnya “mesin jahit baru – Rp 12 juta – meningkatkan output 30 %”). Update tiap minggu, dan kirimkan ringkasan bulanan ke Dinas Koperasi. Ini tidak hanya mempermudah audit, tetapi juga membantu Anda melihat ROI secara real‑time.

  • Berfokus pada satu sumber dana tanpa menjajaki kerjasama lain.

    Dalam praktiknya, banyak UMKM yang mengandalkan subsidi pemerintah saja, padahal ada program pendampingan dari bank BRI, Koperasi Kecil, atau inkubator bisnis lokal yang menawarkan kredit mikro berbunga rendah atau mentoring. Mengandalkan satu pintu saja menutup peluang sinergi yang dapat mempercepat skala usaha.

    Strategi yang lebih bijak: setelah dana subsidi cair, ajukan permohonan kredit mikro untuk menambah modal kerja, sambil memanfaatkan layanan mentorship yang disediakan oleh lembaga swadaya. Kombinasi ini biasanya meningkatkan kemampuan produksi 20‑30 % dalam enam bulan pertama.

  • Menolak feedback dari konsultan atau pejabat penilai.

    Beberapa pelaku usaha menanggapi saran dengan defensif, “kami sudah tahu cara kami jalankan”. Padahal masukan tersebut biasanya berdasar pada data lapangan dan dapat membuka jalan perbaikan yang tidak terpikirkan sebelumnya. Mengabaikannya berarti kehilangan kesempatan untuk menyempurnakan rencana bisnis.

    Praktik terbaik: jadwalkan sesi review dua minggu setelah proposal diterima, catat semua catatan, dan buat to‑do list yang jelas. Implementasikan perubahan secara bertahap, lalu laporkan progresnya. Feedback menjadi bahan bukti bahwa Anda responsif, yang selanjutnya meningkatkan kepercayaan pemberi dana.

Kesalahan‑kesalahan di atas bukan sekadar “kesalahan biasa”. Mereka berakar pada pola pikir yang terlalu fokus pada satu aspek saja, padahal ekosistem UMKM menuntut pendekatan holistik. Dengan menghindari jebakan‑jebakan ini, subsidi tepat sasaran tidak hanya menjadi suntikan dana, melainkan katalisator yang menumbuhkan kemampuan adaptasi dan inovasi UMKM Jawa Barat.

  • Penulis: admin

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Mengapa Data Lokal Kunci Sukses Subsidi tepat sasaran: Panduan Praktisi

    Mengapa Data Lokal Kunci Sukses Subsidi tepat sasaran: Panduan Praktisi

    • calendar_month 12 jam yang lalu
    • account_circle admin
    • 0Komentar

    Ringkasan Singkat: Subsidi tepat sasaran ialah kebijakan pemerintah yang menyalurkan bantuan ke kelompok atau wilayah yang memang paling membutuhkan, biasanya berdasarkan data pendapatan, kepemilikan lahan, atau indikator kemiskinan. Dengan cara ini, dana publik dapat dimaksimalkan manfaatnya dan meminimalkan pemborosan. Subsidi tepat sasaran menyalurkan bantuan langsung ke rumah tangga atau usaha yang memang paling membutuhkan, sambil […]

  • Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Sudaryono (kiri) dan Kepala BPOM Taruna Ikrar (kanan)

    Anggaran Pengawasan MBG Dipangkas, BPOM Hanya Dapat Rp509 Miliar

    • calendar_month 22 jam yang lalu
    • account_circle Redaksi
    • 0Komentar

    JAKARTA – Anggaran pengawasan keamanan pangan untuk Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang diajukan Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) sekitar Rp1,2 triliun ternyata tidak sepenuhnya disetujui. Pemerintah hanya menyetujui anggaran sebesar Rp509 miliar untuk mendukung pengawalan keamanan pangan dalam program tersebut. Kepala BPOM Taruna Ikrar mengatakan, anggaran Rp509 miliar itu merupakan bagian dari kebutuhan […]

  • Prabowo Panggil Sejumlah Menteri ke Istana untuk Rapat Dewan Energi Nasional

    Prabowo Panggil Sejumlah Menteri ke Istana untuk Rapat Dewan Energi Nasional

    • calendar_month 22 jam yang lalu
    • account_circle Redaksi
    • 0Komentar

    JAKARTA – Presiden Prabowo Subianto memimpin rapat paripurna Dewan Energi Nasional (DEN) di Istana Kepresidenan, Jakarta, Kamis (17/9/2026). Sejumlah menteri yang tergabung dalam DEN hadir dalam rapat yang membahas berbagai persoalan energi nasional tersebut. Beberapa menteri yang terlihat tiba di kompleks Istana antara lain Menteri ESDM Bahlil Lahadalia, Menteri Perhubungan Dudy Purwagandhi, Menteri Lingkungan Hidup/Kepala […]

  • Proyek Rp2,8 Triliun di Bogor Dimulai, 500 Ribu Ton Sampah per Tahun Diubah Jadi Listrik

    Proyek Rp2,8 Triliun di Bogor Dimulai, 500 Ribu Ton Sampah per Tahun Diubah Jadi Listrik

    • calendar_month 21 jam yang lalu
    • account_circle Redaksi
    • 0Komentar

    BOGOR – Persoalan sampah di wilayah Bogor memasuki babak baru. Proyek Pengolahan Sampah Menjadi Energi Listrik (PSEL) Bogor Raya 1 di Galuga, Kabupaten Bogor, resmi memasuki tahap pembangunan dengan nilai investasi mencapai Rp2,8 triliun. Fasilitas yang dikembangkan Danantara melalui PT Danantara Investment Management (DIM) dan PT Daya Energi Bersih Nusantara (Denera) tersebut ditargetkan mampu mengolah […]

  • Pecahkan Rekor, KPK Sita Rp106,3 Miliar dalam OTT Kasus HGB Summarecon,

    Pecahkan Rekor, KPK Sita Rp106,3 Miliar dalam OTT Kasus HGB Summarecon,

    • calendar_month Kamis, 17 Sep 2026
    • account_circle Redaksi
    • 0Komentar

    JAKARTA – Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) mencatat jumlah uang sitaan terbesar dalam operasi tangkap tangan (OTT) setelah mengamankan barang bukti senilai sekitar Rp106,3 miliar dalam kasus dugaan suap pengurusan hak guna bangunan (HGB) lahan Summarecon di Kabupaten Bogor, Jawa Barat. Uang tersebut menjadi salah satu barang bukti yang diamankan penyidik dalam rangkaian OTT yang berkaitan […]

  • KPK Yakin Nusron Wahid Kooperatif jika Dipanggil sebagai Saksi Kasus HGB Summarecon

    KPK Yakin Nusron Wahid Kooperatif jika Dipanggil sebagai Saksi Kasus HGB Summarecon

    • calendar_month Kamis, 17 Sep 2026
    • account_circle Redaksi
    • 0Komentar

    JAKARTA – Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) meyakini Menteri Agraria dan Tata Ruang/Badan Pertanahan Nasional (ATR/BPN) Nusron Wahid akan bersikap kooperatif apabila nantinya dipanggil sebagai saksi dalam perkara dugaan suap pengurusan dan pembukaan blokir hak guna bangunan (HGB) lahan Summarecon di Kabupaten Bogor, Jawa Barat. Keyakinan tersebut disampaikan KPK setelah empat orang yang disebut sebagai orang […]

expand_less